
"Kita makan dulu di puncak seperti waktu itu lalu kembali ke asrama.
Fia mengangguk pasrah padahal ia penasaran bagaimana caranya Bang Sanca mengobati dirinya.
...
Fia menggosokan kedua tangannya. Udara dingin agaknya membuat Fia sedikit duduk bersandar di belakang punggung Bang Sanca.
"Minum susunya dulu..!!" Bang Sanca menyodorkan segelas susu untuk Fia untuk mengurangi rasa dingin istrinya itu.
"Fia khan sudah bilang nggak suka susu. Memangnya Abang suka?" tanya Fia.
"Suka. Malah suka bangeeett" jawabnya santai tapi penuh arti.
"Hmm.. Bang, kalau sudah pacaran khan boleh pegangan tangan. Fia pengen lho Bang di gandeng seperti di TV"
"Lain kali kamu kurangi lihat TV. Setiap selesai lihat sinetron ada saja ulahmu" tegur Bang Sanca.
"Tapi kalau yang Fia dengar nih Bang, gandeng tangan istri, cium kening istri.. itu pahala. Kenapa Abang jarang gandeng tangan Fia? Kita sudah halal lho Bang" tanya Fia menuntut.
"Kamu sudah paham definisi halal dalam pernikahan?"
"Menyatukan dua insan manusia berbeda jenis dalam ijab dan qobul untuk menjaga kehormatan diri dan martabatnya, juga untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat. Di dalamnya ada kasih sayang, tolong menolong dan tanggung jawab" ucap Fia.
Bang Sanca menarik Fia agar bisa duduk dan bersandar di dada bidangnya.
"Itu jawaban yang benar. Menyatukan nya itu bagaimana?" tanya Bang Sanca perlahan agar sang istri tidak kaget.
"Berhubungan badan" ucap Fia lirih, sambil menunduk.. matanya membendung kesedihan. Ia melepaskan dekapan hangat Bang Sanca tapi pria itu tak melepaskannya.
Dalam hati Bang Sanca terasa terbolak balik.. berantakan, sesak tak karuan. Dirinya tak bisa menerka seperti apa sang istri sesungguhnya.
"Kamu pernah berhubungan badan?" tanya Bang Sanca hati-hati. Ada rasa sakit melebihi sakitnya pengkhianatan Rhea padanya. Pikirannya langsung tertuju pada Dafa.. atau Anjar.
Fia mengangguk pelan.
Sungguh hati Bang Sanca begitu sakit, terpukul hingga rasanya ingin bunuh diri mendengar sang istri pernah tersentuh pria lain. Tapi saat 'merasakannya' semalam, Bang Sanca semakin bingung pasalnya seorang gadis yang sudah pecah tak mungkin 'sesulit' itu ia belah.
Mata Bang Sanca memerah, air matanya hampir menetes.
"Sama siapa??"
"Bang Anjar" jawab jujur Fia.
Bang Sanca langsung lemas bersandar. Ia menguatkan batinnya sendiri. Dadanya terasa sakit dan panas. Logika dan hatinya berperang. Ingin tidak bertanya tapi hatinya penasaran, tapi semakin ia tau, hatinya terasa sakit luar biasa.
"Sekarang Abang suamimu. Kalau kamu sudah paham. Lebih baik kita mulai saja..!!" Bang Sanca meninggalkan uang di atas meja dan menggandeng Fia pergi meninggalkan cafe panggung tersebut. Tak tau apa yang di rasakan Bang Sanca, yang jelas saat ini ia ingin sekali menghajar pria bernama Anjar Kurniawan.
...
Bang Sanca membuka kaosnya dengan kasar. Ia langsung memepet Fia di dinding. Fia sangat kaget dengan perlakuan Bang Sanca.
__ADS_1
"Karburator Abang sudah bocor dari semalam. Tau begitu lebih baik Abang selesaikan saja" ucapnya dengan geram.
Bibir manis sisa rokok terasa kuat di bibir Fia. Bang Sanca sudah tidak tahan lagi, ia mengabsen lekuk tubuh istrinya bahkan mer***snya kuat hingga membuat Fia menjerit. Suara jeritan itu semakin menantang bagi Bang Sanca. Ia segera membawanya ke atas ranjang.
"Abang kenapa? Fia nggak mau Abang pegang-pegang" ucap Fia sesenggukan.
"Sama Anjar kamu nggak mau, kenapa sekarang kamu tolak Abang. Abang sudah nggak tahan Fia..!!!!" Bang Sanca melonggarkan ikat pinggangnya lalu menarik kedua kaki Fia, di singkapnya rok panjang itu tanpa berpikir panjang.
"Abaaaanngg.. Fia nggak mauuuu..!!!" pekik Fia dengan kuat, ia menangis sejadi-jadinya. Sekuatnya Fia menendang Bang Sanca meskipun suaminya itu tidak goyah karena tendangan yang tidak ada apa-apanya.
Bang Sanca masih terpaku berdiri melihat penolakan istrinya. Ada kejanggalan yang ia lihat. Fia menurunkan roknya lalu menutup dadanya dengan jilbab.
"Tidak ada yang boleh menyentuh dan melihatnya selain seorang ibu. Kenapa Abang memaksa untuk menyentuh dan melihatnya. Abang jahat. Itu dosaa..!!!" pekiknya histeris
Bang Sanca terhuyung bingung. Ia mengusap wajahnya. Selangkah, dua langkah Bang Sanca berusaha menyentuh tangan sang istri tapi Fia menepisnya. Fia menarik selimut dan menutupi wajahnya.
"Maafin Abang. Abang keterlaluan. Boleh Abang tanya dan bicara sesuatu?"
"Apalagi??"
"Kalau kamu nggak keberatan.. boleh tunjukan sama Abang bagaimana caramu berhubungan badan dengan Anjar?"
Fia sangat kaget, ia merasa malu dan terhina.
"Dengar dek. Abang nggak bilang kamu tidak pintar. Tapi ada salah paham di antara kita. Abang ini suamimu, sandaran hidupmu. Abang berhak tau segalanya tentangmu termasuk masa lalumu. Tidak ada niat mengungkit. Abang hanya ingin meluruskan" ucap Bang Sanca.
"Lakukan sama Abang..!!"
"Abang janji nggak akan marah atau memukul Fia?" tanya Fia begitu ketakutan.
Setelah beberapa saat, Fia meminta Bang Sanca untuk duduk kemudian Fia duduk di pangkuan Bang Sanca dan mengarahkan tangan kekar itu untuk memeluk pinggangnya.
"Bang Anjar suka menyelipkan tangannya di pinggang Fia"
"Lalu apalagi?" tanya Bang Sanca.
Fia melakukan apa yang pernah di lakukan Bang Anjar padanya. Fia menyerusuk ke sela leher Bang Sanca, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap perut rata miliknya lalu mel***t bibir dengan hangat hingga membuat mata Bang Sanca terpejam namun tiada yang seindah Bang Sanca lakukan padanya. Mata Bang Sanca terbuka begitu Fia menyudahi semuanya.
"Sudah" ucap Fia.
"Apalagi dek?"
"Sudah, setiap Fia bertemu dengan Bang Anjar. Fia selalu melakukan hubungan badan"
"Alhamdulillah Ya Allah.." Bang Sanca menyandarkan keningnya di bahu Fia penuh syukur. Ternyata pemahaman Fia saja yang salah.
Kini yang tersisa hanya pertanyaan.. bagaimana penangkapan Fia tentang ilmu pembelajaran yang di terima istrinya selama ini dan semua ini akan ia tanyakan di lain waktu karena keadaannya tidak memungkinkan.
"Fia mau pulang..!!" tangis Fia masih belum berhenti. Ia sangat kecewa dengan sikap Bang Sanca padanya. Ia menggoyangkan badannya di pangkuan Bang Sanca. Badannya lemas dan rasa malunya sungguh luar biasa.
"Ayo kita pulang..!!"
__ADS_1
-_-_-_-_-_-
Fia berlari masuk ke dalam rumah. Papa Zaldi, Bang Ibra dan Opa Rinto sampai kaget melihat wajah Fia yang sembab. Belum lagi wajah Bang Sanca sangat pucat pasi.
"Abang jahat ma. Fia nggak mau dekat Abang lagi..!!"
"Jahat apa sayang?? Bilang sama mama" bujuk Mama Arnes sambil membantu Fia melepas bajunya. Agaknya putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Bang Sanca pun menyusul masuk ke dalam kamar.
"Abang minta maaf dek..!!" ucapnya lagi. Sungguh Bang Sanca sudah sangat menyesal membuat istrinya syok seperti ini.
Fia menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
"Ada apa San? Kamu pukul Fia????" tanya Papa Zaldi karena melihat putrinya histeris.
"Nggak pa.." jawab Bang Sanca lemas.
"Papaa.. Abang pegang-pegang Fia. Abang jahat...!!!!!!!" pekik Fia lagi.
Semua mata tertuju pada Bang Sanca.
"Uusshh.. iya.. iya.. Papa sudah tau. Kamu sama mama ya. Papa bicara sama suamimu dulu"
...
"Ini yang papa takutkan Zal..!!!!!" Opa Rinto menegur keras Papa Zaldi setelah Bang Sanca menceritakan garis besar kemarahan Fia yang menjadi pertengkaran pertama dalam rumah tangga Bang Sanca dan Zafia.
"Salah kaprah aturanmu. Kamu balikan pemahaman Fia sampai dia tidak tau apapun. Kamu pikir ini bagus Zal??"
Bang Sanca terduduk lemas. Ia sampai mengompres keningnya menggunakan es batu. Dua hari gagal total menyentuh sang istri.
"Aku nggak mau putriku celaka pa" kata Papa Zaldi.
"Meskipun Fia baru tujuh belas tahun tapi saat ini Fia seorang Istri Zal. Tidak ada yang bisa merubah kenyataan itu. Kalau memang itu harus terjadi ya sudah.. terjadilah" Opa Rinto membuka pemikiran papa Zaldi yang terlampau menyayangi putrinya.
"Jangan dulu pa. Saya mohon jangan apa-apakan Fia dulu" pinta Papa Zaldi penuh permohonan.
"Kita sudah menyepakatinya. Jangan begitu Zal"
"Saya akan berusaha menahan diri, sekuat saya. Sambil memperbaiki keadaan yang sudah semrawut ini. Papa Zaldi tidak salah. Malah saya salut karena Papa masih punya perhatian terhadap keluarga terutama tumbuh kembang anak. Tidak seperti saya yang tidak di perhatikan. Ayah saya menikah lagi" ucap Bang Sanca sendu.
"Terima kasih San" kata Papa Zaldi.
"Iya pa. Sama-sama" jawabnya.
"Sshhh.. aduuuhh.. rasane" Bang Sanca memercing, ia belum begitu pintar mengatur emosinya.
.
.
__ADS_1
.
.