Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
44. Ribet dan ribut.


__ADS_3

"Kenapa nggak minta tolong anggotamu San?" tanya Bang Anjar yang menjenguk Fia bersama dengan Rhea ke rumah sakit. Bang Anjar menggendong Baby Anggara sedangkan si cantik Putri Bang Anjar sedang memeluk Rhea seolah tidak ingin berpisah.


"Nggak apa-apa. Biar anakku puas kalau tau bapaknya yang carikan apa maunya" jawab Bang Sanca.


"Iya, tapi ingat kesehatanmu juga donk. Kamu sendiri terkena luka tembak di dada. Bukannya di rawat malah kelayapan"


"Di dada apanya? Hanya terserempet di tengah ketiak" jawab Bang Sanca berkilah sambil menyenggol kaki Bang Anjar karena memang Bang Sanca merahasiakan hal ini dari Fia.


Bang Anjar langsung paham saat Fia menatap keduanya dengan tajam.


"Ora Fi.. Guyon..!! Suamimu ini kebal tembakan. Kamu tabok saja dia masih utuh kok" ralat Bang Anjar langsung mendapat lirikan tajam dari Fia.


"Nih pisang ijo nya. Tenggelam sempurna..!! Habiskan ya, biar anak Abang pinter" kata Bang Sanca sambil menyiapkan pisang ijo itu.


"Eegghh.. hhuuuhh.." sesekali Fia masih merintih kesakitan.


"Aduuhh.. masih sakit sekali ya dek? Abang panggilkan dokter ya..!!" Bang Sanca mulai panik kalau Fia sudah mulai merintih seperti ini.


"Fia nggak bisa gerak aja Bang..!!"


"Oohh.. iya, jangan banyak gerak..!! sini Abang bantu. Mau duduk ya?" dengan sigap Bang Sanca membantu Fia untuk duduk kemudian membantu Fia untuk makan. Tangan Fia masih lemas belum bisa mengerjakan apapun.


Tak lama pintu terbuka, terlihat Esa mendorong Bang Garin yang duduk manis di kursi roda sambil menggendong bayinya.


"Aaiisshh.. setan betul kau pot. Buatnya saja kau kuat lahir batin, begitu lahir nyalimu kabur tertiup angin" ucap Bang Anjar.


"Kau boleh adu aku dengan hal lain, tapi jangan yang ini" kata Bang Garin.


"Sini lihat cewekku yang baru. Cantik khan? Heii San.. kau bakat buat anak perempuan atau tidak?" ledek Bang Garin.


"Kau pikir ini lomba bikin bolu kukus, bisa pilih warna pink atau hijau..!! Yang paling penting itu......." Bang Sanca menoleh melirik para wanita disana secara bergantian.


"Istrimu puas atau tidak" bisik Bang Sanca.


"Kalau begini caranya, lu yang setan..!!" ucap Bang Anjar jadi emosi.


"Kalau sudah begini.. mending aku pamerkan sekalian. Aku mau menikahi Rhea"


Bang Sanca dan Bang Garin saling pandang. Kemudian mereka berjingkrak girang.


"Kita kacaukan malam pertamanya" kata Bang Sanca dengan ide jahilnya.


Tapi tiba-tiba Bang Sanca berhenti bertingkah. Ia meremas dadanya.


"Naahh.. rasakan.. kualat...!! Itulah ciri makhluk iri dengki. Orang mau ibadah malah mau di gagalkan. Makan tuh hukuman Tuhan" gerutu Bang Anjar sambil membantu Bang Sanca duduk.


Fia yang masih duduk disana jadi ikut panik melihat wajah kesakitan Bang Sanca.

__ADS_1


"Abang kenapa?"


"Biar saja Fi.. mabuk dia gantikan kamu" kata Bang Garin menengahi pembicaraan.


"Lho Bang, kata Abang.. Bang Sanca tertembak" sela Esa yang tidak mendapatkan briefing dari Bang Garin.


Seketika Bang Sanca meraup wajahnya dengan kesal. Mau bagaimana lagi. Esa dan Fia memang sebelas dua belas. Sama saja polosnya.


Fia cemberut melirik Bang Sanca.


"Hayooo.. Abang bilang apa kemarin. Kalau ada sesuatu yang belum jelas, jangan buru-buru marah." kata Bang Sanca kemudian melirik Fia yang mulai marah.


Fia langsung terdiam, bukannya tidak jadi marah tapi ia menunggu saat yang tepat suatu hari nanti untuk benar-benar marah dan membalas Bang Sanca.


"Fi.. kamu nggak mau lihat anakku? Ganteng lho" Bang Garin menyela suasana panas itu. Tatapan mata itu langsung tertuju pada Bang Garin.


"Ganteng.. mirip aku" ucapnya nyengir kuda salah tingkah.


***


Si kecil El sudah mulai terbiasa dengan Bang Sanca dan Fia tapi ternyata putra pertama Bang Sanca itu lebih dekat dengan sang Daddy dan Mami. Satu minggu di rumah sakit, El sudah tak bisa lepas dari Daddy Zaldi sampai kadang Daddy-nya harus membawa El ke kantor atau ikut Mami dalam kegiatan kepengurusan.


"El mau pulang sama Daddy atau sama Papa?" tanya Bang Sanca.


Si kecil El belum bisa menjawab tapi ia merentangkan tangan meminta gendong pada Daddy-nya.


"Kamu jaga Fia saja. Papa mau bawa El pulang. Sekarang El ini jadi anak bontot papa. Jangan macam-macam kamu ya..!!" kata Papa Zaldi.


"Kalau mama mu mau sudah papa gas dari kemarin. Tiap pesan di tolak terus" Papa Zaldi menciumi wajah El yang masih kental dengan aroma minyak telon.


"Dari Fia umur dua tahun, permintaan papamu nggak masuk akal pikiran. Kata Papa mu, pengen bayi tapi wajahnya seperti anak timur. Bagaimana ceritanya bapak ibunya Jawa tapi pengen wajah anak timur yang manis menggemaskan" gerutu mama Arnes.


"Nah sekarang ada gantinya ma. Wajah Sanca khan sangar, Jawa tapi manisnya dapat seperti orang timur, namanya julukannya saja si black, Ambon Jawir.. ya papa ambil lah si El" jawab Papa Zaldi.


"Wajah ini buat putri kesayangan papa tergila-gila lho" kata Bang Sanca sambil menata pakaian Fia untuk di bawa pulang.


"Iihh nggak. Abang yang godain Fia duluan sampai Abang ajak Fia ke hotel setelah dari cafe puncak" ucap Fia tanpa rem.


Papa Zaldi dan Mama Arnes saling pandang mendengar perdebatan anak dan menantunya.


"Kamu itu selalu ceroboh San..!!!" tegur Papa Zaldi.


***


Tiga hari kemudian Bang Sanca, Bang Garin dan Bang Anjar mendapat panggilan dari Bang Hisam terkait pengajuan nikah mereka. Bang Garin dan Bang Sanca sudah kembali ke Batalyon setelah melaksanakan penugasan.


"Kamu sudah lama menunggu Bang..!!" protes Bang Sanca.

__ADS_1


"Benar Bang. Saya mau menikahi Rhea. Janda dan duda terlalu lama membuat kepala saya pusing" kata Bang Anjar.


"Esa baru melahirkan Bang, saya butuh kejelasan status anak" Bang Garin tak kalah lantang.


"Yang paling berat itu saya. Terlanjur kebobolan saya Bang, Fia sudah hamil lagi" sambar Bang Sanca sudah pusing.


"Ya Tuhan.. kalian ini buat saya pusing saja. Kamu lagi San.. masalah belum selesai kenapa malah kamu tambahi lagi" Kepala Danyon mau pecah rasanya.


"Sudah berapa bulan?"


"Ijin.. Sekarang delapan minggu Bang" jawab jujur Bang Sanca.


"Astagaaaa... Tuhan. Besok bawa Nyonya kalian kesini." perintah Danyon.


"Siaap.. terima kasih..!!" ketiga perwira itu menegakan badannya memberi hormat.


***


Fia memakai seragamnya berada di Batalyon bersama Rhea dan Esa. Paparan sinar matahari yang panas membuat Fia sesak dan kepanasan.


"Duduk dulu. Danyon masih ada tamu. Ada anggota yang menyerahkan berkas pengajuan nikah juga" kata Bang Sanca sembari mengajak Fia untuk duduk.


"Bang.. Fia mau es kopi" bisik Fia sambil mengatur duduknya.


"Nggak boleh"


"Jus pisang tanduk?" tanya Fia.


"Tanduk Abang mau?? Ada nih nganggur. Nggak boleh, apalagi kamu ini, segala pisang tanduk di minta. Lemon tea aja ya..!! Abang belikan di kantin." jawab Bang Sanca memberi tawarannya.


Fia menggeleng karena inginnya sekarang hanya minuman yang ada di pikirannya. Wajahnya murung dan hanya menunduk diam saja. Kelakuan Fia terang saja membuat Bang Sanca tak tega.


"Titip istri sebentar..!! Saya mau beli jus pisang tanduk" Bang Sanca menekankan kata terakhirnya.


...


"Pakai pisang ini pak? Mana bisa" tanya pedagang jus di depan lapak Batalyon.


"Saya tau ini nggak bisa, Jus ini pesanan Ibu Komandan saya. Cepat buat..!!"


"Ini nggak enak pak" kata pedagang jus mengingatkan.


"Ya Tuhan.. saya tau..!!! Jangan buat saya kena masalah karena kamu sok benar ya..!! Saya saja berusaha tegar meskipun malu setengah mati" Bang Sanca sudah geram karena pedagang itu banyak bicara disaat antrian mulai panjang di belakang Bang Sanca.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2