Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
40. Persiapan


__ADS_3

Bang Sanca mengusap wajahnya. Kali ini dirinya kembali menyelesaikan Fia tanpa tanggung. Terbersit rasa was-was dalam hatinya tapi ia melakukannya sebagai seorang suami.


"Dek..!!"


"Jangan sentuh Fia lagi" pekiknya sambil menahan rasa sakit.


"Maaf..!! Abang nggak sengaja" Bang Sanca merasa sangat bersalah karena menyadari kali ini sedikit berbuat kasar pada istrinya. Di dekapnya sang istri dalam pelukannya.


"Abang butuh istri Abang yang seperti dulu. Ceria, dan tidak sekasar ini"


"Abang tau Fia kasar dan sudah tidak menyenangkan lagi seperti dulu. Lantas kenapa Abang masih mencari Fia. Fia bukan kriteria Abang lagi"


"Kamu harapan Abang, tidak ada lagi yang Abang inginkan selain kamu. Hidup matinya Abang" kata Bang Sanca membujuk rayu Fia.


"Simpan kata-kata Abang. Ucapan yang sama, yang pastinya selalu Abang ucapkan untuk semua perempuan di luar sana."


"Kalau cemburuan itu tidak usah bertingkah. Kamu sudah kuat kalau Abang merayu wanita lain??" tanya Bang Sanca.


"Fia nggak peduli" jawabnya masih keras hati.


"Baiklah kalau itu maumu" sengaja Bang Sanca pergi dan memberi waktu pada Fia untuk berpikir. Hati yang sudah terlanjur sakit memang sulit untuk di obati. Tapi sebagai seorang suami, pantang baginya untuk melarikan diri dari masalah saat sang istri sedang berada di titik terendahnya. Ia memahami ketidak ikhlasan Fia karena ia lalai menunggui bayinya hingga hilang entah kemana. Fia memang ikhlas menukar nyawanya demi putranya, tapi ia pun tak rela kehilangan salah satunya.. Fia dan El adalah nyawanya. Mungkin jika saat itu Fia tak ada lagi di dunia ini, ia akan memilih mengakhiri hidupnya. Bukan karena tidak memikirkan nasib El, tapi jiwanya yang telah mati kehilangan Fia sudah menghilangkan separuh nyawanya.


Fia tertelungkup di atas ranjang menangisi semua ini.


"Maafkan Fia yang keras kepala Bang. Fia memang kecewa karena Abang menghilangkan anak kita. Tapi lebih daripada itu, Fia tidak ingin Abang terlibat dengan semua masalah Fia. Mereka mengincar Fia, bukan Abang. Fia ingin Abang tetap hidup.. tanpa ada gangguan dari pihak manapun"


***


Hari ini tepat seminggu setelah pelantikan, Komandan sudah memutuskan untuk memberangkatkan pasukan dalam misi termasuk Fia.


Saat briefing sedang di lakukan. Badan Bang Sanca terasa menggigil. Ia sudah was-was sakaunya kambuh di saat yang tidak tepat. Masih dalam rasa tidak nyamannya, tiba-tiba Fia ambruk ke arahnya membuatnya kaget setengah mati.


:


"Kenapa Ry? Aman nggak"


"Sementara hanya masuk angin biasa Bang. Sekarang khan masuk musim hujan. Abang tegang sekali. Kalau nggak Abang colek.. nggak perlu lah Abang cemas seperti ini" jawab Bang Ryan.


Dada Bang Sanca langsung terhantam kuat. Ini menjadi urusan pribadinya. Mana mungkin ia mengumbar hal seperti ini. Ia hanya menyunggingkan senyum tanpa berani banyak menjawab.


...


"Bawa perlengkapan wanita dek. Di hutan nggak ada yang jual pembalut. Mau pakai akar rotan kamu disana?" kata Bang Sanca.


Fia masih tertegun mendengar ucapan Bang Sanca. Tapi kemudian ia memasukan barang itu juga.


"Dek, punya lebihan pembalut nggak?"


"Mau apa?? Abang dapat tamu??" ledek Fia.

__ADS_1


"Buat bahu Abang nih, sama buat alas sepatu" kata Bang Sanca.


"Oohh.. Ambil nih" Fia mengeluarkan lagi pembalut yang sempat ia masukan.


"Pakaikan donk. Abang nggak tau cara pakainya" alasan Bang Sanca.


Fia sedikit membungkuk membuka kancing baju seragam Bang Sanca dan sedikit menurunkan kerah bajunya. Perlahan Fia memasang pembalut itu di kedua bahu Bang Sanca. Wajah mereka begitu dekat. Bang Sanca yang tidak bisa di beri perhatian seperti ini seketika menuntut hal lebih. Bibirnya mengincar bibir manis Fia.


"Jangan nakal Bang. Kita mau berangkat"


Bang Sanca menarik Fia agar duduk di pangkuannya.


"Kapan kamu mau ikhlas lakukan kewajibanmu. Kita ini masih sah sebagai suami istri. Satu bulan setelah malam itu Abang nggak mengganggumu lagi. Sekarang Abang beri kamu pilihan.. kamu menyerah tanpa syarat atau Abang paksa kamu lagi?"


Fia mendekatkan bibirnya pada Bang Sanca, satu persatu ia membuka pakaiannya dan menarik kedua tangan Bang Sanca agar bisa menyentuhnya dengan bebas. Sekujur tubuh Bang Sanca rasanya lemas bagai tersengat aliran listrik. Tubuhnya memanas dan menegang. Nafasnya memburu, ia benar-benar bertekuk lutut di hadapan Fia yang sudah mengambil alih dirinya.


"Hari ini Fia ikhlas Bang. Entah apakah besok kita bisa dekat seperti ini lagi atau tidak" jawab Fia.


Bang Sanca tidak mempedulikan apapun, rasanya pikirannya blank. Yang ada di kepalanya hanya berduaan bersama Fia, gemas ingin merengkuh Fia.


"Kamu ngomong apa sih? Ayo cepat..!! Kang Badrun sudah ngamuk ini"


...


Bang Sanca tidur memeluk senjatanya dan sudah tidak peduli apapun lagi, ia tak menyadari Fia yang tengah mabuk di atas pesawat.


Bang Sanca terbangun dan segera membantu Fia.


"Tabok sini kalau berani" ucapnya sambil melirik Bang Garin dengan kesal.


"Kamu minum obatnya nggak?" Bang Sanca memijat tengkuk Fia.


"Minum Bang" jawab Fia.


"Obatnya nggak cocok kali ya. Dasar ndeso" ledek Bang Sanca.


Bang Juned merasa panas dengan kedekatan Fia dan Bang Sanca. Ia pun menghampiri Fia bermaksud membantu gadis yang sudah menarik perhatiannya itu.


Begitu Bang Juned mau menyentuh Fia, tangan Bang Sanca menghalanginya.


"Saya hanya mau membantu Fia Bang" kata Bang Juned.


"Ini urusan Abang Jun. Kamu jangan disini..!!"


Juned yang tak mempedulikan ucapan Bang Sanca semakin membuat suami Fia itu murka. Bang Sanca menarik kerah seragam Juned dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar.


"Peringatan untukmu Juned..!! Kalau kau masih bertingkah.. sampai disana Abang rendam kamu di kubangan..!!" ancam Bang Sanca.


"Siap salah Abang" jawab Bang Sanca sembari mundur daripada harus bermasalah dengan ular mematikan itu.

__ADS_1


:


Tak lama sudah waktunya untuk terjun. Droping Zone sudah hampir terlihat. Bang Sanca sangat cemas melihat Fia sepertinya semakin tidak kuat dengan suasana penerbangan di pesawat angkut itu.


"Kamu terjun sama Abang saja dek. Abang takut kamu pingsan dan parasutmu tidak terbuka" kata Bang Sanca.


"Fia sudah pernah terjun paralayang Bang" jawab Fia.


"Ini bukan jarak pendek ndhuk..!! Ini ketinggian tujuh ribu lima ratus feet. Bukannya bukan pintu langsung engklek. Ngawur kamu" tanpa banyak bicara, Bang Sanca secepatnya langsung menggandeng peralatan terjunnya dengan Fia.


Dalam hitungan menit, mereka berdua melompat. Di hitungan detik parasut terbuka. Baru kali ini Fia melihat pemandangan indah dari atas langit. Semua terlihat hijau, ada tebing karang dan garis sungai yang meliuk indah.


"Suka nggak?" tanya Bang Sanca sedikit berteriak.


"Suka Bang" jawab Fia.


"Disini.. di sekitar lokasi ini kita akan mencari El" kata Bang Sanca.


"Kita akan membawanya pulang"


"Iya.." jawab Fia


Tak lama mereka mendarat. Bang Sanca melepas dan menarik parasutnya, melipat dan menghilangkan jejak kehadirannya kemudian diikuti yang lain.


...


Para anggota berjalan mengikuti Bang Sanca menuju tempat yang aman sesekali bersenda gurau agar tidak merasakan ketegangan suasana perang.


"Kita istirahat disini saja sambil melaksanakan strategi yang sudah kita susun.


"Siap Kapten..!!"


//


Fia menoleh kesana kemari. Disana ia perempuan satu-satunya dan itu berhasil membuatnya bingung untuk melakukan apapun.


"Kenapa dek?" tanya Bang Sanca seolah paham kegelisahan istrinya.


"Bisa antar ke sungai Bang?"


"Ayo.. cepat bawa barangmu.." kata Bang Sanca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2