Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
120. Kurang sigap.


__ADS_3

Masih dalam keributan mereka berdua, terdengar lagi suara baku tembak. Bang Sanca membiarkan saja semuanya sampai akhirnya Bang Garin menyambar HT nya yang ada di atas meja.


"Waspada..!! pimpinan saya ambil alih. Bagi dua pasukan, satu tim jaga di ring luar, satu tim lagi jaga bagian dalam..!!" perintah Bang Garin.


Bang Sanca masih ternganga belum memahami sampai akhirnya Bang Garin turun dari ranjang dan memakai perlengkapannya. Ia menyentuh bahu Bang Sanca.


"Kamu pulang dulu. Pastikan Fia dan Ola baik-baik saja. Ini bukan rekayasa dariku. Kali ini sungguhan." kata Bang Garin.


Melihat keseriusan sahabatnya itu Bang Sanca dan Bang Ibra segera meninggalkan tempat tanpa berdebat.


:


Dari atas bukit ada suara berondongan peluru. Bang Sanca semakin cemas dan kalang kabut berlari kesana kemari mencari Fia.


"Astagfirullah.. kamu dimana dek?" gumam Bang Sanca.


Bang Ibra pun tak kalah panik mencari Ola dan putrinya.


"Olaaaaa....!!!!!" teriaknya kebingungan.


"Abaaaaang.. Ola disini..!!" teriak Ola menjawab panggilan Bang Ibra.


Bang Sanca semakin cemas karena Ibra sudah bisa menemukan Ola sedangkan dirinya belum bisa menemukan Fia.


"Ya Tuhan.. kemana istriku?" Ia mempercepat langkahnya mencari Fia. Air matanya sudah menetes.


~


Terdengar suara mengeong di balik pohon matoa bersahutan dengan deru suara hujan peluru.


"Bang.. sini deh Bang..!! Kita bawa kucing ini pulang..!!" sapa Fia yang kebetulan saat itu melihat Bang Sanca setengah berlari dan wajahnya nampak panik.


Refleks Bang Sanca menoleh dan melihat Fia sedang menggendong anak kucing. Suara berondongan peluru semakin kencang. Bang Sanca berjalan cepat, ia menggendong putranya dan langsung memeluk Fia dan putranya dengan erat.


"Alhamdulillah Ya Allah.. terima kasih banyak" Bang Sanca menciumi wajah Fia. Air matanya sudah berlelehan dan Fia hanya berkedip-kedip.


doooor..


Bang Sanca menyerahkan putranya dan berbalik badan melindungi Fia.


doooor...


Sekali lagi terdengar suara tembakan.

__ADS_1


"Hwaaaa.. Abaaang..!!!!!" jerit suara Fia karena kaget karena melihat asap di dada Bang Sanca.


"Siapa main petasan sebesar ini?? Bahayaa..!!" tegur Fia sampai kemudian Bang Sanca menarik tengkuk Fia lalu membungkam bibir istrinya.


~


"Hhhssttt.. diamlah dan jangan bersuara" Bang Sanca melepas paguttan nya setelah Fia tenang.


"Fia hanya mau tau.. siapa yang bermain petasan di kompi? Atau syuting nya sudah mulai?" tanya Fia melihat Bang Sanca memercing sampai menggigit bibirnya.


Tepat saat itu ada laporan dari Bang Ibra.


"Pergerakan Finish"


"Alhamdulillah.." Bang Sanca terduduk lemas. Kemudian mengambil HTnya.


"Tolong bagian kesehatan, saya ada di sebelah taman.. terkena duri. Cepat ya..!!" pinta Bang Sanca mulai melemah.


"Bantuan segera datang"


Fia memperhatikan Bang Sanca dari atas sampai bawah.


"Abang kena duri dimana? Sini.. Asya bawa peniti" kata Fia sambil mengambil peniti di balik list bajunya.


:


"Astagfirullah.. Abaaang..!!!!!!" Fia begitu kaget saat rompi terlepas, ada noda merah mengotori pakaian Bang Sanca. Fia terhuyung sampai akhirnya Bang Ibra menahan tubuh adiknya.


"Fiaa.. ini rompi hanya untuk simulasi.. makanya masih bisa tembus. Kalau yang kita punya, khusus untuk pertahanan.. tidak akan bisa tembus." kata Bang Ibra menenangkan adiknya.


"Iya Fi santai saja. Suamimu masih banyak dosa, makanya peluru saja malas berurusan sama dia" dengan santainya Bang Garin berceloteh.


"Jadi ini tadi nggak jadi buat video ya Bang?" tanya Fia masih dengan polosnya.


"Ya nggak jadi. Suamimu ini nggak bisa di ajak kerjasama. Coba kalau nurut.. nggak akan jadi begini" jawab Bang Garin.


plaaakk...


Fia langsung menepuk paha Bang Sanca dengan kencang.


"Coba Abang nurut Bang Garin.. nggak mungkin petasan itu nyasar. Abang tau nggak bahayanya main petasan. Anak kita saja tau yang mana barang bahaya"


"Ya Allah Ya Tuhanku.. Abang ini sakit dek, kenapa di omelin terus sih. Kamu ini percaya Abang atau Garin?" tanya Bang Sanca.

__ADS_1


"Bang Garin" jawab Fia cepat.


"Benar-benar sudah keblinger kamu berguru sama dia" gerutu Bang Sanca.


...


Setelah dengan berbagai cara membujuk Fia, akhirnya istri cantik Bang Sanca itu mau pulang juga. Saat itulah bagian kesehatan baru berani memasang infus karena Bang Sanca melarang agar istrinya tidak cemas.


"Sakit bro?" tanya Bang Garin.


"Nyeri sekali. Untung hanya serempetan peluru saja. Coba kalau tembus.. bisa mati gue" jawab Bang Sanca.


"Kontak senjata sudah terjadi tiba-tiba. Apa kita masih harus latihan kesigapan?" tanya Bang Garin serius.


"Harus tetap di laksanakan. Begitu ada kejadian seperti ini, kita baru menyadari pasukan kita tidak siap. Maklum saja.. di kepemimpinan yang lalu kurang sekali latihan tapi kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Hal seperti ini tetap bisa terjadi di manapun" Bang Sanca begitu prihatin dengan keadaan kompinya dan kompi Bang Garin.


"Bagaimana kalau besok kita mulai latihan" saran Bang Sanca.


"Kamu itu belum kuat, mikir sedikit lah. Nggak lucu banget lagi latihan terus komandannya pingsan. Masalahnya lu berat banget bro.. banyak dosa. Malas gue tolongnya. Gue ini orang penting.. nggak sempat urus hal remeh macam itu." kata Bang Garin mulai membangkitkan emosi Bang Sanca.


"Iya bener.. Lu orang penting. Penting untuk di buang" Bang Sanca pun terpancing ucapan Bang Garin.


"Bang.. sudah Bang, jangan di tanggapi omongan Bang Garin. Jaga saja kesehatan Abang" bujuk Bang Ibra.


"Aahh sudahlah.. Abang ke toilet dulu. Lihat wajah Garin tiba-tiba jadi mules" Bang Sanca pun beranjak dari tempat tidur menuju toilet.


~


"Lailaha Illallah.." sekembalinya dari toilet Bang Sanca hanya bisa menggeleng karena tempat tidurnya sudah di tempati pasien baru. Bang Garin tidur nyenyak, suara dengkurnya tak kira-kira, kakinya terbuka memenuhi satu ranjang pasien di ruang kesehatan sedangkan Bang Ibra juga sudah tidur di sofa.


Kini tinggal lah Bang Sanca sendiri duduk di kursi samping tempat tidur.


"Sebenarnya siapa pasiennya? Kenapa jadi aku yang duduk disini" gerutu Bang Sanca sambil sesekali mengusap dadanya.


"Kalau bukan teman.. sudah ku racun kau Gar.. hiiiiiihh..!!!!!!" saking gemasnya, Bang Sanca sampai ingin menutup wajah Bang Garin dengan bantal.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2