
Saya harap pembaca Nara adalah pembaca yang netral. Dunia maya. Mata dimana-mana..!!!!.
🌹🌹🌹
Bang Sanca dan Bang Garin akhirnya terpaksa harus dengan gentleman menemui Pak Nainggolan. Bagaimana pun Bang Sanca adalah pemilik rumah sebelah meskipun Bang Garin yang sudah membuat kericuhan itu.
"Siap Danki.. tidak apa-apa. Namanya juga nggak sengaja." jawab Pak Nainggolan.
"Maaf pak, kira-kira berapa harus saya bayar kerugian bapak" tanya Bang Sanca.
"Ayamnya belum terlalu pintar seperti yang ada di kandang besi itu, tapi keduanya sudah belajar berkokok dan tajinya mulai panjang. Kalau Komandan tanya berapa harganya, satu ekor ayam jadi sepuluh juta rupiah Dan" jawab Pak Nainggolan menyesuaikan pasaran.
"Oohh tenang pak. Nanti Kapten Sanca yang bayar...!!" sambar Bang Garin.
"Weeehh.. cucukmu..!! Kamu mau lihat aku ribut gede-gedean sama Fia. Uang itu Fia yang bawa. Aku kalau mau pakai uang dengan nominal nggak wajar kudu lapor ibu negara dulu pot" jawab Bang Sanca.
"Please pot, aku bisa di bantai Esa"
"Makanya to bodooong.. kalau mau cari hal tuh mikirr..!!! Kalau jadi begini bagaimana?????" seketika Bang Sanca ikut stress memikirkan Bang Garin.
"Ayolah pot, kamu khan laki-laki favorit ku, impian ku" bujuk Bang Garin menendang-nendang kaki Bang Sanca dengan manja.
"Gila lu.. gue nggak mau kena kasus LGBT gara-gara lu" pekik Bang Sanca.
Pak Nainggolan pun terkikik melihat dua perwira yang sedang adu bahasa kalbu.
"Santai saja sama saya Dan. Terserah Komandan mau bagaimana menyelesaikan nya. Itu uang laki Dan"
...
Begitu sampai di tenda, Bang Sanca dan Bang Garin melihat para wanita sedang bermain Dakon sedangkan Esa sedang tidur karena perutnya sudah kenyang. Anaknya pun sudah terlelap.
"Sudah matang apa belum? Lapar nih?" tanya Bang Garin melihat ayam bakar yang di pegang Bang Ibra.
"Sedikit lagi Bang" jawab Bang Ibra.
"Urusan sudah selesai?"
"Sudah..." jawab Bang Garin sambil melirik Bang Sanca.
"Eehh.. ngomong-ngomong hari ini kita makan besar, karena kegagahan gue sudah berani sembelih ayam. Kita pesta..!!"
"Pesta gundhulmu njepat. Sopo sing bayar Iki" Bang Sanca membuang jaketnya di samping Fia.
__ADS_1
"Dek.. jangan marah ya. Abang talangi bayar ayam ini setengah" kata Bang Sanca agar Fia tidak kaget.
"Oohh.. berapa Bang?"
"Sepuluh juta" jawab Bang Sanca.
"Nggak salah Bang???????" pekik Fia.
"Sabar fi.. jangan marah. Abang ini sudah nolak mati-matian. Tapi dasar suamimu ini suka maksa, terpaksa lah Abang terima.. daripada dia depresi kebaikannya kutolak..!!" Bang Garin mulai berdeklamasi.
"Heehh bodong, dari tadi kutahan nih ya tanduk di kepala. Sekali lagi itu mulut bunyi, pala lu berasap..!!!"
"Aahh.. Sanca ngamuk melulu. PMS lu ya??" "Eeiittss.. ngomong-ngomong gue ulang tahun nih. Nggak ada yang rencana kasih hadiah gitu???" tanya Bang Garin sembari mencuil ayam yang masih panas.
Bang Sanca dan Bang Ibra pun saling pandang. Alis mereka pun terangkat.
"Oohh.. jelas ada donk"
Bang Sanca mengambil ponselnya lalu menghubungi Om Hega dan menjauh dari Bang Garin dan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi seolah tidak ada sinyal yang tersangkut disana.
...
Sekumpulan anak-anak Paud dan TK yang berjumlah kira-kira dua puluh orang sudah hadir di rumah Danki. Tak ada yang menyangka teras depan rumah Danki sudah di sulap jadi pesta indah khas bocah play group. Bang Garin ternganga karena sungguh tak percaya pesta ulang tahunnya akan 'semewah' ini.
Selamat.. ulang tahun untuk pak Danki..
Selamat panjang umur.. itu yang kunanti..
Selamat sejahtera.. pengen di gantii..
Selamat panjang umur, coba doa sendiri..
Mata Bang Garin terbelalak mendengar lagu itu tapi pasti lirik itu persembahan dari Kapten Sanca.
"Ya.. terima kasih anak-anak yang manis. Semoga doa yang 'baik' akan kembali pada yang 'mendoakan' " kata Bang Garin dengan senyumnya.
"Selamat ulang tahun pak Danki....!!!!!!" kata anak-anak polos yang tidak tau apa-apa itu.
"Sama-sama anak-anak manis" wajah ceria Dan Garin tiba-tiba saja menjadi tenar di kalangan bocil asrama Bang Sanca.
"Sana minta potong kue tart sama tante Esa, Tante Fia, sama Tante Ola." Bang Garin pun meninggalkan anak-anak yang rebutan kue tart bermotif Sponge Bob dari Bang Sanca.
"Eeehh Black.. kapan lu buka pendaftaran anggota baru?? Kenapa anggota gue jadi miniatur begini" bisik Bang Garin memprotes ulah Bang Sanca.
__ADS_1
"Ya waktu lu lengah. Gue buka pendidikan kilat" jawab Bang Sanca.
"Eehh.. ngomong-ngomong gue sama Ibra punya hadiah buat lu"
"Seriuss?"
Bang Sanca dan Bang Ibra saling pandang.
"Serius lah" jawab keduanya bersamaan.
:
Kue berukuran lumayan besar dibawa anak buah Bang Sanca dengan hati-hati. Foto khusus berwajah Bang Garin yang gagah perkasa. Bang Garin yang melihatnya pun teramat bangga melihatnya.
"Gantengnya guee..!!" ucapnya penuh kebanggaan.
"Iya dah, lu yang paling ganteng. Paham gue" kata Bang Sanca.
"Iya Bang. Mbak Esa aja sampai khilaf" sambung Bang Ibra.
"Sudah.. cepat nyalakan sumbunya"
"Lilin apa nih? kenapa pakai sumbu?" tanya Bang Garin.
"Buat lu segalanya spesial pot"
Bang Garin pun memantik korek dan menyalakan sumbu kue ulang tahun. Bang Sanca dan Bang Ibra menjauh membiarkan Bang Garin menikmati keindahan kuenya sendirian. Tanpa rasa curiga Bang Garin menunggu sampai sumbu tersebut habis dan.............
duuaarrrrr.....
craaaatttttt.....
"Yeeeaayy.. selamat ulang tahun Gar..!!!"
"Aseemm.. ambune pot. Kurang ajar.. ini tinta cumi atau got???? Sancaaaaaaaa....!!!!!!" baru kali ini Bang Sanca dan Bang Ibra melihat Bang Garin sampai marah karena di kerjai. Sekujur tubuhnya berwarna hitam legam karena kue yang di bawanya meledak, ada bau amis dan busuk disana yang membuat Bang Garin meradang.
.
.
.
.
__ADS_1