
Fia menyeruput jus pesanannya. Ia memercing merasakan hal yang asing dalam lidahnya.
"Rasanya kok begini Bang??" protes Fia. Wajah Bang Sanca sudah waspada melihat ekspresi Fia yang tidak suka.
"Ada yang salah?" tanya Bang Sanca.
"Salah donk Bang. Ini nggak enak. Rasanya seperti pisang goreng yang mentah" jawab Fia tidak puas.
"Abang saja yang habiskan..!! Fia nggak mau lagi"
"Tuh khan, kalau ada bagian yang salah selalu Abang yang kena imbasnya" kata Bang Sanca.
Mata Fia langsung memerah tidak terima.
"Abang minum sekarang. Pasti enak lah. Pesananmu apa yang nggak enak" Bang Sanca menghibur diri sendiri yang sebenarnya sedang kacau seolah Fia akan meracuni dirinya.
Tanpa banyak cakap Bang Sanca segera menenggaknya daripada harus berdebat dengan sang istri.
"Hhkkkk.." jus pisang tanduk itu rasanya sudah melawan tak ingin masuk ke dalam kerongkongan Bang Sanca.
"Enak Bang?" tanya Fia.
"Heemb.." jawab Bang Sanca sembari memercing susah payah menelan jus pisang tanduk itu.
Minum aku rasanya mau muntah, nggak di minum Fia jadi marah. Ya Tuhan.. tolong aku dalam situasi menegangkan ini.
"Habiskan Bang.. biar sehat. Sepertinya Abang suka sekali jus pisang itu" kata Fia.
"Hmm.. Fia mau lemon tea aja Bang"
gleeekk..
Mata Bang Sanca melotot tajam.
"Aaarrghh.. kamu ini memang pandai sekali buat Abang puyeng. Tadi di tawari nggak mau, sekarang malah minta"
"Yang minta si dedek lho Bang..!! Abang mau marah sama dedek??"
Bang Sanca tak menjawab lagi. Percuma dirinya berdebat dengan bumil. Pasti tidak akan ada habisnya.
"Ayo Bang..!! Fia sudah pusing nih..!!"
"Iyeee.. bawel..!!" Bang Sanca segera berjalan ke kantin dan membeli lemon tea pesanan Fia.
:
Pengarahan dari perwira rohani sedang di laksanakan. Giliran terakhir adalah giliran Bang Sanca membaca doa dan ayat suci.
__ADS_1
"Dan itu artinya adalah sebaik-baik nya suami adalah pria yang bisa memuliakan istrinya" kata perwira rohani.
"Jadi kalau kalian berniat menyakiti seorang wanita ingatlah.. kalian juga terlahir dari seorang wanita"
Disinilah Bang Sanca dengan sifatnya yang keras dan kaku bisa menitikan air mata. Tangannya mengusap punggung Fia dengan sayang.
:
Kini giliran mereka akan melanjutkan ke persyaratan selanjutnya. Saat melewati lapangan menuju kantor markas, pandangan Fia terasa berkunang-kunang. Ia sedikit menarik lengan Bang Sanca agar memperlambat langkahnya.
Bang Sanca menoleh karena merasa Fia menarik lengannya.
"Kenapa?"
"Jalannya pelan sedikit Bang..!!" pinta Fia memercing kepanasan.
Tak tega melihat istrinya kepanasan, Bang Sanca merangkul dan menutupi bagian atas kepala Fia dengan punggung tangannya agar panas matahari tidak menerpa wajah Fia. Perlahan mereka kembali berjalan melewati lapangan.
"Masih kuat nggak?" tanya Bang Sanca.
"Iya.. masih"
...
Mama Arnes meminta para calon Nyonya perwira untuk menyanyikan lagu hymne dan mars yang biasa di nyanyikan oleh para istri anggota.
"Tidak hafal mars dan hymne.. Bu Sanca?" tegur Mama Arnes secara resmi sesuai aturan kedinasan.
"Ijin Ibu.. saya....." Fia sulit untuk konsentrasi. Keringat pun mengucur dari dahinya.
"Ibu Sanca. Hymne dan mars itu wajib di hafal istri anggota di luar kepala agar bisa mengerti namanya" tegur Mama Arnes lagi.
"Siap salah ibu"
"Ulang sekali lagi" Mama Arnes merasa malu dan kesal. Mars dan Hymne seharusnya sudah melekat di telinga hingga tertanam di dalam pikiran Fia sebab saat Fia kecil Mama Arnes sering sekali mengajak Fia ikut kegiatan pertemuan istri anggota. Bahkan segala hal tentang persatuan istri anggota pun Fia paham, tapi Mama Arnes sungguh tidak mengerti sikap Fia kali ini. Bang Sanca yang duduk di sofa merasa cemas dengan sikap Fia.
Fia mencoba mengulang menyayikan hymne. Baru beberapa bait di nyanyikan.. tubuh Fia terasa semakin lemas, pandangannya seketika kabur. Ia berusaha keras untuk bersuara tapi tubuhnya menolak sejalan dengan pikirannya.
"Fiaaaa..!!" Bang Sanca sigap berlari menghampiri Fia saat istrinya itu tumbang. Mama Arnes tak kalah kaget dan ikut menolong Fia.
:
Bang Sanca melepas seragam luarnya dengan kasar. Rasa paniknya yang luar biasa sudah membuatnya tidak peduli lagi apakah baju itu rusak atau tidak. Gelisahnya membuat Bang Sanca menghubungi beberapa dokter sekaligus.
"Mana dokternya?? Kenapa tidak datang juga? Fia belum sadar" gumamnya cemas.
"Sabar San. Dulu pertama Mama mu hamil Ibra malah sering pingsan buat papa nggak karuan. Mungkin Fia seperti mamanya" kata Papa Zaldi.
__ADS_1
"Masa begini terus pa. Bayiku sudah kurang kuat, masa masih harus di tambah mamanya yang sakit"
Tak lama empat dokter datang dan bingung siapa di antara mereka yang akan memeriksa kondisi Fia.
:
"Fia dehidrasi dan kurang oksigen Bang, yaa.. bisa jadi bawaan hamil juga" kata seorang dokter.
Bang Sanca melirik Ryan meminta penjelasan yang lebih pasti.
"Benar Bang. Fia memang kurang oksigen dan dehidrasi. Setiap ibu hamil pasti mengalami gejala yang berbeda" kata Bang Ryan.
"Tapi kalau sering pingsan.. bahaya atau tidak?" tanya Bang Sanca.
"Ya kita pun harus ekstra menjaganya"
Bang Sanca mengangguk membuang nafas kelegaan tapi dalam hatinya tetap was-was.
Perlahan Fia membuka matanya. Ia heran melihat ada banyak orang di dalam ruangan itu sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya Fia.
"Anakmu ngajak main bola" jawab Bang Sanca.
"Ooohh.." Fia baru menyadari jika dirinya tadi sempat pingsan dan akhirnya batal melanjutkan syarat pengajuan nikah.
"Kita nikahnya bagaimana Bang? Abang jadi nikahin Fia khan? Abang harus tanggung jawab"
"Kamu ini pertanyaannya seperti perawan aja. Ya jadi lah. Tanpa ada acara seperti ini juga khan kamu sudah istri Abang. Proses ini hanya di undur saja sampai kamu sehat lagi" jawab Bang Sanca. Raut wajah Fia tampak pias dan sedih, baginya pengajuan nikah ini lumayan berat.
"Apa sih yang kamu pikirkan??"
"Nggak ada Bang" Fia menunduk tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
Mengingat istrinya yang begitu polos, Bang Sanca mulai paham jalan pikiran istri nya.
"Astaga Tuhan.. jangan bilang kamu pikir Abang nggak mau tanggung jawab sama anakmu itu"
"Abang nggak niat lari khan?" tanya Fia dengan raut wajah lugu.
"Allahu Akbar.. pulang aja yuk..!! Duel maut kita. Gemas banget Abang dengarnya" ucap Bang Sanca tak peduli rekannya yang masih berada disana.
.
.
.
__ADS_1
.