Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
100. Ribet urusannya.


__ADS_3

Bang Sanca bergulat di ruang tengah bersama Abang El seperti bapak dan anak pada umumnya, bahkan Bang Sanca sampai bersembunyi di dalam lemari pakaian saat bermain perang-perangan.


"Jangan di dalam lemari donk Bang.. kotor...!! Main di halaman saja" pinta Fia.


Bang Sanca pun mengalah dan bermain bersama om-om remaja di barak. Para bujangan mendapat hiburan tersendiri saat bermain dengan putra pertama Danki yang begitu pintar.


"Abang main sini sama om. Om ajari merayap..!!" ajak Om Hega yang sangat menyukai anak-anak.


...


"Abang mengajak ku kesini karena Abang ingin dekat denganku khan?" tanya Wulan.


"Kamu jangan salah mengerti maksudku Wulan. Aku mengajakmu karena tau kamu sendirian. Rinka sudah tidak ada, kamu butuh biaya hidup. Abang hanya punya satu pekerjaan ini, tidak ada yang lain. Jika ada pekerjaan yang lebih layak, Abang pasti akan berikan pekerjaan itu"


Wulan tersenyum sinis.


"Secepat itukah Abang melupakan Mbak Rinka yang begitu mencintaimu. Wulan yang mencintai Abang, tapi Mbak Rinka yang dapatkan Abang. Sekarang Mbak Rinka tidak ada, kenapa Abang tetap tidak bisa mencintai Wulan?" teriak Wulan.


"Kecilkan suaramu atau Abang akan mengusir mu..!!" ancam Bang Ibra.


"Kenapa? Kau takut kebusukan mu dengan pelakor itu ketahuan.. haahh??? Sok suci.. Wulan mengajak Abang bermain belakang tapi nyatanya Abang memiliki anak dari wanita lain. P*****r sialan..!! Kalau kau memang ingin anak, dari dulu Wulan bisa memberikan nya untuk Abang"


Bang Ibra mencengkeram dagu Wulan dengan kencang.


"Berani kau ucap kata itu lagi, Abang pastikan denyut jantung mu itu akan berhenti berdetak. Bibirmu akan terbelah manis dengan ini .." Bang Ibra mengambil pisau lipat di saku celananya lalu menggoresnya di bibir Wulan.


"Ola itu ibu dari anak-anak Abang. Tak satu orang pun boleh mengatakan hal buruk tentang dia. Termasuk bibirmu yang sok tau itu. Asal kamu tau Wulan.. "


Wulan menepis tangan Bang Ibra dengan kesal.


"Urus anak Abang dengan baik atau kau akan menderita seumur hidupmu.. Wulan..!!!!!" ancaman Bang Ibra terdengar begitu menakutkan.


...


"Kenapa istri Abang murung begitu? Abang ada salah?" tanya Bang Ibra sembari menelusup ke sela leher Ola.


"Nggak ada Bang. Hmm.. Bang, apa Ola terlalu suudzon kalau berpikir Wulan terlalu agresif sama Abang" jawab Ola.


"Kamu cemburu? Kalau kamu nggak suka, Abang pulangkan saja dia kembali ke kampung" kata Bang Ibra masih juga belum melepaskan pelukannya dari Ola.


"Sepertinya Wulan sangat butuh pekerjaan Bang. Begini saja.. bagaimana kalau dia mulai bertingkah aneh, bisa Ola minta dia keluar dari rumah ini?" tanya Ola.


"Bisa donk. Itu terserah kamu sebagai Nyonya Ibra. Lakukanlah yang menurutmu baik" jawab Bang Ibra.


"Kalau sekarang, istri Abang ini mau di manjain nggak?"

__ADS_1


Ola tersenyum cantik memandangi wajah tampan Bang Ibra.


"Mau Pap.. Ola kangen" jawab Ola manja.


Bang Ibra tidak membuang banyak waktu, saat itu juga ia menyelesaikan tugas bersama Ola.


-_-_-_-_-


Bibi sudah terlihat akrab bersama El dan inces. Wanita paruh baya itu merawat anak-anak Bang Sanca dengan baik.


"Ibu, malam ini bibi masak apa?" tanya bibi.


"Sayur asem, ikan asin sama sambal aja bi" jawab Fia.


"Ibu biasa masaknya bagaimana?"


//


"Siapa yang masak?" tanya Bang Sanca di meja makan.


"Bibi yang masak pak. Kurang apa pak?" bibi begitu cemas melihat ekspresi wajah Bang Sanca.


"Duduk di depan Abang..!!" pinta Bang Sanca sambil sedikit menarik tangan Fia.


"Kalau kamu sudah kuat, masaklah buat Abang..!! Bibi yang potong dan siapkan bahan dan peralatan, kamu yang memasak dan membumbui masakan..!!"


Bibi mulai paham keinginan pria berjabatan paling tinggi di wilayah tempatnya tinggal. Pria itu tetap ingin istrinya yang melayaninya dalam hal apapun.


"Sudah minum obat?" tanya Bang Sanca.


"Masih ada flek" bisik Fia tidak enak membahas urusan rumah tangganya di hadapan bibi. Bibi pun meninggalkan Bang Sanca dan Fia.


"Makanya yang teratur minum obatnya biar cepat sehat lagi" jawab Bang Sanca mengembangkan senyum tapi dalam hati gundah gulana memikirkan Fia.


"Maaf ya Bang"


"Untuk apa? Kamu nggak salah" jawab Bang Sanca.


"Karena Fia masih sakit.. jadi Fiaa...."


"Kenapa pikirkan masalah seperti itu. Allah memberi sakit sebagai teguran agar kita lebih menghargai arti kesehatan. Hubungan suami istri memang penting, tapi lebih baik pikirkan kesehatan mu dulu. Suamimu ini juga tidak akan melewati batasan jika istrinya belum mampu. Nanti pasti ada saatnya kamu sembuh. Kamu harus optimis dan nggak boleh sedih" bujuk Bang Sanca membesarkan hati Fia.


***


"Apa Ib??? Wulan itu adik sepupunya Rinka?? Kenapa kamu bawa dia masuk dalam hidupmu lagi??" tegur Bang Sanca yang merasa Bang Ibra terlalu ceroboh.

__ADS_1


"Karena pesan terakhir Rinka Bang. Dia memintaku menjaga Wulan karena Wulan tak memiliki siapapun lagi. Tapi hati tidak bisa di paksa. Saat pertama kali melihat Ola, seperti ada dorongan dari dalam hatiku Bang untuk mendekati Ola" jawab Bang Ibra.


"Kau ini benar-benar cari mati. Kenapa tidak berunding dengan ku kalau memang saat itu kamu memang sedang bingung. Ini juga Abang mu" sesal Bang Sanca.


"Saya hanya teringat pesan terakhir Rinka Bang, tidak ada hal lain. Apa Abang ada ide lain, saya ingin memulangkan Wulan."


"Aaahh.. ikut pusing nih Abang" gerutu Bang Sanca sambil memijat pelipisnya.


-_-_-_-


Tak disangka Ola menolak Wulan untuk kembali ke kampung nya karena gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan. Jiwa polosnya tak bisa di perbaiki lagi.


"Ada apa Bang? Masa hanya karena makanan saja Abang mau memulangkan Wulan. Kalau Abang nggak suka sikapnya nanti Ola yang akan beritahu Wulan"


"Lebih baik kita jaga Nasya berdua saja. Anak masih satu, belum repot.. kecuali Fia dan Bang Sanca yang memang sudah punya dua anak." kata Bang Ibra sambil membuka kaos dan melonggarkan ikat pinggangnya.


"Abang suka sama Wulan? Apa Abang menyimpan sesuatu di belakang Ola?" tanya Ola seakan paham perubahan sang suami.


"Apa sih? Ya nggak lah. Ngawur kamu..!!" jawab Bang Ibra setengah membentak. Pertanyaan yang seharusnya hanya menjadi intern mereka berdua malah sampai harus terdengar Wulan yang sedang menggendong Nasya.


Karena merasa ada yang membela, Wulan membuka pintu kamar Bang Ibra tanpa mengetuk pintu lebih dulu padahal saat itu Bang Ibra sedang memakai celana pendek nya. Bang Ibra sangat kaget, ia langsung berdiri di belakang dan menutup bagian bawahnya menggunakan rok panjang Ola. Seketika Bang Ibra terbakar amarah tapi ternyata saat itu Ola yang berubah sangat marah melebihi apapun.


"Wulan.. kamu punya sopan atau tidak??? Bapak sedang ganti pakaian..!!!!!" suara Ola pun juga membuat Bang Ibra kaget karena tak menyangka reaksi Ola akan seperti ini.


"Maaf Bu, saya nggak sengaja" jawab Wulan kemudian tanpa bisa berkata apapun lagi segera keluar kamar.


Melihat reaksi istrinya, Bang Ibra pun tersenyum nakal.


"Dek, gimana nih.. Wulan terlanjur lihat Abang pakai dalaman aja" Bang Ibra memasang wajah tak bersalahnya.


"Makanya lain kali rangkap pakai celana pendek..!! Biasanya khan begitu" tegur Ola.


"Kali ini nggak biasa dek. Abang mau langsung saja" jawab jujur Bang Ibra sambil memeluk Ola.


"Abang bingung kalau dekat kamu, bawaannya pengen peluk terus. Sudah tau anak masih kecil tapi kok masih pengen buat kamu hamil lagi. Maaf sayangku..!!"


Ola menarik roknya dengan kasar lalu melirik Bang Ibra dengan tatapan begitu mematikan.


"Kok marahnya sama Abang? Dia yang ngintip.. bukan Abang yang pamer" Jawab Bang Ibra was-was.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2