Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
22. Demi bumil.


__ADS_3

Malam hari Bang Dafa mengajak Bang Anjar, Bang Hisam dan Bang Garin sebagai saksi.. bertandang ke rumah Bang Sanca untuk meminta maaf atas segala keributan yang sudah terjadi.


Bang Sanca dan Bang Dafa sama-sama menunduk, memakai masker dan tidak saling menatap.


"Saya kesini, atas nama pribadi.. sekaligus atas nama istri saya Rhea. Meminta maaf atas kelalaian saya dalam mendidik istri saya sampai merugikan istrimu. Untuk itu, besok saya dan Rhea akan menyelesaikan masalah ini di kampus" kata Bang Dafa.


"Saya tidak bisa menjawab apapun, semua tergantung keikhlasan istri saya Zafia karena masalah ini bukan masalah sepele. Kamu pernah menjadi bagian dari hidup Fia dan kini saya yang melengkapi serta memenuhi hidupnya. Bisa kamu bayangkan bagaimana sakit hati istri saya? Saya pun juga sakit karena sempat membentak istri saya Daf"


"Untuk apa hidup mencari musuh. Tidak inginkan kita hidup tenang dan damai? Umur manusia tidak ada yang tau. Apa sampai kita masuk ke liang lahat akan menyimpan kebencian? Bang Dafa sudah memiliki Rhea, Fia sudah ikhlaskan itu semua. Sekarang Fia sudah ada dalam penjagaan Bang Sanca. Fia harap.. kita bisa menjalani hidup kita masing-masing. Semua sudah ada jalan hidup masing-masing. Litting adalah saudara satu jiwa.. lalu kenapa kita tidak bersaudara saja mbak Rhea?"


Seketika Rhea berlutut dan menangis memeluk kaki Fia. Ia benar-benar menyadari kesalahannya.


"Sekarang aku sadar kenapa Bang Sanca bersikap seperti itu padaku. Aku terlalu sombong dan berbangga diri. Aku kurang bersyukur dan terlalu banyak menuntut. Jujur aku malu Fia.. umur tidak menjamin kedewasaan seseorang. Kamu memang pantas menjadi istri seorang perwira"


"Sudah mbak Rhea, mbak Rhea pun pantas.. buktinya mbak tahan mendampingi Abang selama tujuh tahun lamanya"


"Astagaa.. kenapa semua perempuan selalu mengoreksi masa lalu. Nanti dia yang buat, kita juga yang kena damprat" gumam Bang Sanca.


"Abang nggak suka Fia bicara terus terang?" tanya Fia.


"Takut ketahuan diaa.. pacarnya banyak Fi. Sampai sekarang tuh Sanca masih komunikasi sama si tentara wanita itu" sambar Bang Garin yang kemudian mendapat tatapan mata dari semuanya termasuk Rhea.


Seketika Garin terdiam dan berhenti tertawa, sungguh ia lupa kalau Fia telah menjadi istri Bang Sanca.


"Kau mau buat aku mati di tawur Fia.. haahh???" Bang Sanca menyepak kaki Bang Garin dengan kesal.


"Tenang Fia. Pacar Bang Sanca memang banyak, tapi semua tidak serius kok. Semua hanya jadi hiburan aja. Bang Sanca kalau sudah sayang.. nggak akan main hati. Tapi mungkin Abang dulu juga nggak pernah beri hatinya untuk aku" kata Rhea mengusap perut Fia.


"Maafin Abang Rhea. Abang juga pernah salah sama kamu" kata Bang Sanca merasa tidak enak.


"Sekarang itu semua jadi urusanku black. Biar aku yang penuhi semua" kata Bang Dafa. Rhea pun tersenyum mendengarnya.


"Thanks bro.." Bang Sanca memberikan kepalan jarinya tanda persahabatan.


Bang Anjar tersenyum meskipun getir terasa menusuk hati. Tapi melihat Fia bahagia.. hatinya pun ikut bahagia. Sungguh Fia adalah gadis yang begitu ia cintai.


"Baiklah kalau begitu, semua masalah sudah clear. Besok Dafa dan istri menemui orang bernama Jaya di kampus untuk menyelesaikan semuanya. Segala salah paham dalam hubungan kalian telah usai. Kita sama-sama dewasa dalam menyikapi setiap masalah. Hargai pasangan masing-masing dan tetap jaga tali silaturahmi" pesan Bang Hisam selaku Danyon.


Bang Hisam membuka maskernya, beliau lupa ada dua calon bapak yang masih sensitif dengan bawaan bayi.

__ADS_1


"Hhkkkk.." Bang Sanca dan Bang Dafa lari kocar-kacir keluar rumah mengambil tempat. Saat keduanya saling lirik, rasa mual begitu hebat menyerang, mereka berdua kembali mual tak karuan.


"Pergi Daf..!!"


"Kamu yang geser, aku nggak kuat gerak..!!" jawab Bang Dafa.


Seperti biasa Bang Sanca dan Bang Dafa sudah tersulut emosi jika mereka berdua saling bertemu wajah.


"Jangan di lihat lah Bang. Abang mau wajah kita seperti Bang Dafa??" kata Fia sambil membantu sang suami yang sudah lemas.


"Aku tabok nih kalau Abang masih lihat-lihat Bang Sanca" ancam Rhea.


Setelah kedua pria tersebut memakai maskernya, rasa mual itu pun perlahan hilang.


Bang Anjar dan Bang Garin memutuskan kedua pria labil itu tetap saling memakai masker kemana pun berada. Daripada kedua pria itu saling bertemu wajah kemudian mual.


***


Usai apel pagi di jam landai, Bang Sanca menemui papa mertuanya di kantor markas. Papa Zaldi masih terdiam belum mau mengatakan sebab berhentinya Fia membantu pihak militer juga tidak setujunya Fia masuk sekolah khusus.


"Saya ini suami Fia pa. Saya berhak tau segalanya hal tentang istri saya bahkan dengan masa lalunya sekalipun. Tapi kalau papa tidak mau bicara ya tidak masalah. Saya akan pergi bawa Fia pergi..!!" ancam Bang Sanca.


Papa yang buat saya nggak bisa mengerti. Fia istri saya dan saya akan melindungi Fia dengan nyawa saya.


"Apa kamu mencintai putri saya??"


"Seperti papa mencintai mama Arnes. Setulus hati, dengan jiwa raga akan papa berikan bukan. Jika papa tidak percaya saya. Lebih baik papa tusuk saya, karena saya sangat mencintai putri papa. Cinta saya tak cukup kuat tanpa restu papa mama. Saya tidak sanggup hidup tanpa Fia" Bang Sanca melepas kopel lalu melepas sangkur dari tempatnya dan meletakkannya di hadapan papa Zaldi.


"Tindakanmu ini tidak gegabah untuk usia pernikahan yang baru seumur jagung?" tanya papa Zaldi.


"Apa butuh alasan bagi papa untuk mencintai mama Arnes? Ini sudah bukan waktuku untuk bermain-main lagi pa. Cinta itu tanpa alasan. Tak tau bagaimana datangnya, saya juga tidak tau alasannya kenapa saya sangat mencintai Fia. Saya bertekuk lutut di hadapan putri papa" jawab Bang Sanca.


Papa Zaldi duduk di sofa mengingat kisahnya. Memory tentang peristiwa penculikan Fia masih membekas dalam dadanya. Putrinya yang polos itu sama sekali tidak memahami jika dirinya sedang di culik dan malah mengira sedang di ajak jalan-jalan oleh orang baik hati.


"Dua tahun lalu, saat Fia berusia lima belas tahun. Kelas tiga SMA dan baru lulus. Fia di culik karena memecahkan lokasi koordinat *******. Titik itu sudah berhasil papa pecahkan, tapi titik pastinya hanya bisa ditemukan Fia, dan kamu tau.. penyelamatanmu di sarang ******* dua tahun lalu. Fia lah yang memecahkannya" kata Papa Zaldi.


"Dan di tahun pertama itu banyak teror menghampiri Fia, sampai Opa Rinto pun ikut menjaga Fia"


"Astagfirullah.. itu kelompok yang sangat berbahaya pa. Saya hampir mati di buatnya Mudah-mudahan semuanya sudah aman dan tenang. Sekarang saya sudah tau alasannya, saya akan jaga Fia lebih ketat lagi" Bang Sanca ikut cemas dengan kondisi saat ini apalagi kini Fia sedang mengandung buah hatinya, rasa cemas itu semakin berlipat-lipat.

__ADS_1


***


Bang Sanca, Bang Dafa, Rhea dan Fia menemui Pak Jaya di ruang rektor. Pak Jaya tidak terima dengan penjelasan Rhea pasalnya ia sudah membayar Rhea sejumlah lima ratus ribu rupiah.


"Dan lagi. Bu Rhea ini pernah 'tidur' dengan saya..!!" ucap Pak Jaya dengan nada dan marah dengan tidak terima menunjuk-nunjuk wajah Rhea.


Sungguh saat itu Bang Sanca dan Bang Dafa kaget sekali tapi kini Fia bersandar lemas dalam dekapan Bang Sanca, tak sanggup merasakan dirinya yang sudah di permalukan habis-habisan. Tak satu dua orang yang tau perihal ini tapi sebagian besar 'warga' kampus sudah terlanjur tau 'keburukan' Fia.


"Benar itu dek?" tanya Bang Dafa.


Rhea berlutut di kaki Bang Dafa. Ia mengangguk membenarkan kata-kata Pak Jaya.


"Sejak kapan?"


"Sejak masih bertunangan dengan Bang Sanca" jawab Rhea takut.


"Maafin Rhea Bang..!!"


"Apalagi yang kamu lakukan terhadap istri Abang Rhe??" tanya Bang Sanca menahan sakit hatinya. Hatinya memang sangat sakit. Tapi lebih sakit merasakan tuduhan tak berarah untuk istrinya.


"Rhea bilang, Fia hamil nggak ada bapaknya dan jadi simpanan om-om" Rhea menangis sejadi-jadinya disana.


"Astagfirullah hal adzim Rheaaa.. keterlaluan kamu..!!!!!" bentak Bang Sanca.


Seisi ruangan merasakan aura panas dan mencekam dari seorang Kapten Sanca, tak terkecuali Pak Jaya yang kini juga jadi tersangka.


Bang Sanca sudah ingin melampiaskan amarahnya, tapi tiba-tiba Fia merasakan sesak hingga tak sanggup membuka matanya ia meremas dadanya dengan kuat, perutnya menegang hebat.


"Fia malu Bang.. Fia maluuuu..!!"


"Fiaa.. Dek..!!" Bang Sanca segera mengambil inhaler di tas kecilnya dan memberikannya pada Fia.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2