
".. Dan perkenalkan.. lady cantik di samping ini adalah mamanya anak-anak saya. Nyonya Sanca. Nanti silakan ibu-ibu berinteraksi secara pribadi dengan istri saya." kata Bang Sanca.
"Sebelumnya saya juga mohon maaf ya Bu kalau mungkin nanti istri saya ini suka ngomel. Namanya dua wanita jadi satu. Saya saja kadang suka pura-pura nggak dengar aja kalau Bu Danki ngomel. Galak bener Bu." ucap Bang Sanca setengah curhat dan langsung berhasil mengundang tawa seisi ruangan.
Disana Fia hanya menunduk sembari mencubit kecil pinggang Bang Sanca. Wajahnya bersemu merah karena malu.
"Naahh.. kalau begini ini pencitraan. Sampai di rumah saya kena todong"
Fia menutup wajahnya dan bersembunyi di belakang punggung Bang Sanca. Akhirnya Fia pun terpaksa memberi salam pada para anggota beserta istri karena Bang Sanca terus menggodanya. Banyak para anggota remaja yang sulit berkedip melihat paras ayu istri Danki. Tapi mereka masih cukup tau diri untuk mengkondisikan indera penglihatan agar tidak kurang ajar menatap istri Komandan mereka.
...
"Kita menyesuaikan kegiatan sesuai kebiasaan yang ada saja ya ibu-ibu." Fia menarik kursi di sampingnya.
"Mohon maaf ruang gerak saya sedikit terbatas ya ibu-ibu. Kandungan saya masih jalan empat bulan tapi saya sudah sering capek"
Ibu-ibu disana pun mengerti dengan kondisi Fia yang sedang berbadan dua. Tak lama pintu aula terbuka. Bang Sanca tersenyum manis melihat istrinya kemudian berjongkok di depan Fia. Mulutnya masih menjawab telepon dari seseorang di seberang sana tapi tangannya dengan cepat mengganti sepatu dinas Fia dengan sepatu tanpa hak warna hitam kemudian segera pergi dan tidak ingin mengganggu kegiatan istrinya.
Bisik gemas ibu-ibu melihat Danki yang dingin namun begitu sayang dengan istrinya.
"Pak Sanca pasti romantis kalau di rumah"
"Iya ya.. nggak kebayang bagaimana bahagianya Bu Sanca."
...
Fia berpegangan pada sisi tiang kanopi saat akan menuruti dua anak tangga. Nafasnya terasa sesak. Tadi pagi Fia mengira pakaian ini masih muat di badannya tapi ternyata ia salah.. memang seharusnya usia tiga bulan, ia sudah harus mengenakan seragam hamil.
"Aaahh." Fia sedikit terpeleset karena tidak memperhatikan langkahnya dengan benar.
"Hati-hati dek.." Bang Sanca menyangga kedua lengan Fia.
"Duduk disini..!! Kenapa nggak telepon Abang?" tanya Bang Sanca.
Bang Sanca mengeluarkan inhaler dari saku bajunya lalu membantu Fia memakainya. Ia melonggarkan pengait rok Fia lalu melonggarkan pengait di belakang punggung istrinya.
"Kalau yang ini jangan Bang..!! Malu banyak orang" tolak Fia.
Bang Sanca melepas seragam luarnya lalu menyampirkan di kedua bahu Fia. ASetelah Fia tampak lega, bumil cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu Bang Sanca.
"Capek sekalinya Bu Danki. Ada yang bisa di bantu Bu?" tanya Bang Sanca.
"Bisa.. tapi harus di selesaikan di rumah ya Pak Komandan..!!" kata Fia.
"Siaap..!!" senyum Bang Sanca terlihat sumringah mendengarnya. Imajinasinya sudah merantau membayangkan yang tidak-tidak.
"Pulang sekarang??"
"Iya Bang..!!" Fia berbisik lembut di telinga Bang Sanca.
Bang Sanca mengambil HT nya.
__ADS_1
"Kamu handle acara siang..!! Siang acara bebas ya..!! Bu Danki sedang tidak sehat.. kambuh mabuknya"
"Siap Bang" jawab letda Deni.
"Semoga mbak Fia cepat sehat..!!"
"Aamiin.. Do'akan saya lekas sehat juga..!!"
"Hahaha.. siap Bang.. semoga kewarasan tetap terjaga.."
"Heeeeehh.."
Bang Deni langsung mematikan sambungan teleponnya karena takut terkena omelan maut senior killer nya itu.
"Sempruul..!!" umpat kesal Bang Sanca.
"Ada apa Bang?" tanya Fia.
Senyum manis Bang Sanca seketika tertarik tinggi menghias wajah tampannya.
"Nggak ada.. ayo pulang" ajaknya.
"Abang gendong ya..!! Sepi nih"
...
"Jangan begini donk dek posisinya. Kamu nih kerjain Abang betul" wajah Bang Sanca di tekuk sembilan.
Setiap Bang Sanca bangkit bibirnya akan menyentuh bibir Fia. Dan istrinya itu akan tersenyum tersipu malu.
"Maunya inces di sayang-sayang nih buat papanya nggak kuat" ucapnya bangkit lagi sembari mengecup kening Fia.
Tangan Fia langsung bertaut di belakang leher Bang Sanca.
"Jangan inces nya aja donk pa. Mamanya juga"
Mata mereka saling memandang. Bang Sanca bisa merasakan kalau istrinya itu begitu menginginkannya. Bumil di usia kehamilan empat bulanan memang begitu luar biasa.
"Coba bilang lagi..!! Abang nggak dengar" kata Bang Sanca.
"Iihh Abang.. kalau nggak dengar ya sudah" Fia mulai cemberut karena merasa perasaan nya tidak langsung mendapatkan balasan.
"Abang mau kamu ucapkan lagi. Abang pengen istri Abang yang manja yang manja ini minta Abang sayang" ucap Bang Sanca.
"Di kamar ini hanya ada kita, masa masih mau malu-malu" bujuk Bang Sanca.
"Baaang.. Fia pengen main bilyard.. Abang mau ajarin?" suara Fia yang sensual begitu mengganggu kejantanan Bang Sanca.
Dalam posisinya, Fia pun bisa merasakan ada yang mengganjal di bagian yang ia duduki.
"Ayoo.. sini biar Abang yang kendalikan stik nya. Kamu diam saja..!! Stik ini masih sulit di arahkan"
__ADS_1
Entah siapa yang memulainya lebih dulu. Mereka berdua sangat menikmati setiap sentuhan.
"Eghmm..." Fia benar-benar merasa terbuai dengan perlakuan lembut Bang Sanca. Begitu pun dengan Bang Sanca yang melayang terbang merasakan pelayanan istri tercinta nya. Perlahan Bang Sanca mengarahkan Fia untuk berbaring di atas karpet kamarnya. Ia sudah mengejang tidak tahan untuk menyelesaikan.
"Fia nggak apa-apa Bang. Fia tau selama ini Abang berusaha keras untuk berhati-hati"
"Nggak bisa dek. Hati-hati pun tetap harus waspada. Kandungan mu ini lemah sekali" ucapnya sudah mengejang. Tangannya mengepal kuat.
Fia menggigit lembut bibir Bang Sanca membuat suaminya itu semakin melayang. Seakan lupa semuanya.. Bang Sanca menghentak kuat.
"Aduduuuhh.. maaf..!!" Bang Sanca kelabakan melihat Fia mencengkeram bahu nya.
"Kenapa?? Sakit ya??"
Pipi Fia bersemu merah.
"Nggak Bang. Main bilyard nya satu kali lagi boleh?"
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Sanca ambruk lemas di samping Fia. Beberapa hari ini ngidamnya bumil membuatnya kocar-kacir tak karuan.
...
dddrrtt..ddrrrtttt.. dddrrtt..
Ponsel Fia berdering. Ia segera mengangkat panggilan telepon dari Esa.
"Assalamualaikum.. kenapa Sa?"
"Wa'alaikumsalam.. Acara di tempatmu kapan selesai. Ini badan si kasep demam. Tolong minta Bang Garin untuk pulang ya..!!"
"Lhoo Saa.." Fia terpaku kebingungan. Ia pun menggoyang lengan Bang Sanca.
"Bang.. Abang..!! Bangun sebentar donk."
"Apa sayang?? Mau lagi ??" tanya Bang Sanca masih mengantuk dan letih.
"Apa sih Bang. Abang tau nggak Bang Garin dimana? Masa Esa bilang Bang Garin ikut acara kita"
Mata Bang Sanca langsung terbuka dan melihat jam dinding.
"Ya Tuhan.. jangan sampai Garin benar-benar berulah" gumamnya lirih sekali.
"Ada apa Bang?"
"Nggak ada apa-apa. Ini khan urusan Garin dan Esa. Urusan mu hanya sama Abang" ucap Bang Sanca sembari mencubit gemas dagu Fia.
.
.
.
__ADS_1
.