
Fia menunggu Bang Sanca hingga larut malam. Tak ada tanda bahwa suaminya itu akan pulang. Sejak tadi hatinya gelisah.
Tak lama pintu rumahnya terbuka tapi yang ada disana malah Papa Zaldi tanpa memberi kabar datang di tengah malam.
"Papa.. kenapa nggak kasih kabar kalau datang?" tanya Fia sambil celingukan mencari kemungkinan mamanya datang bersama Papa Zaldi.
"Papa datang sendiri. Mama sama anak-anak di rumah" jawab Papa Zaldi.
Mendengar itu, nampaknya Fia sedikit peka dengan keadaan yang mungkin saja terjadi.
"Bang Sanca kenapa pa?"
Papa Zaldi menatap mata putri kesayangan satu-satunya itu. Mau tidak mau ia harus jujur daripada Dia harus mendengar dari mulut orang lain dan membuat putrinya itu semakin syok.
"Suamimu sedang di tahan di kantor POM"
"Apaaa??? Kenapa sampai bisa di tahan pa?" tanya Fia lumayan kaget.
"Ada salah paham saja. Ini ada surat dari suamimu. Saat ini ponselnya sedang disita untuk penyelidikan. Abangmu menitipkan surat ini. Percayalah Sanca akan segera pulang, dia hanya ingin kamu sehat dan tidak banyak pikiran. Proses ini memakan waktu paling lama tujuh kali dua puluh empat jam. Mudah-mudahan bisa lebih cepat dari itu" jawab Papa Zaldi sambil menyerahkan sepucuk surat untuk Fia
Fia membuka surat dari Bang Sanca.
Fia istri Abang tersayang.
Maaf untuk janji yang tidak tertepati hari ini, jujur Abang ingin pulang setelah lelah seharian bekerja tapi ternyata Abang ada 'tugas tambahan'.
Sayang..
Kadang masih terbayang dalam benak Abang saat-saat dulu sulitnya mendapatkan mu. Kamu adalah black Opal terindah yang Abang miliki, merangkai detik demi detik waktu hingga kata Papa tertanam dalam diriku. Kamu wanitaku yang luar biasa.
Malam ini indah sayang, tapi tak seindah bayangmu di peluk ku. Kurindu senyum istriku yang menguatkan ku. Maafkan kebodohanku yang membuat detik waktu bersamamu terbuang sia-sia.
Terima kasih telah memilihku yang kecil, yang masih membawa tangis beriringan denganmu. Kamu tak akan pernah terganti.
Fia memeluk surat itu. Saat ini ia sedang berusaha menata hati dan pikirannya.
"Sebenarnya apa yang sudah Abang lakukan sampai bisa seterpuruk ini Pa? Seumur hidup, Fia baru melihat Abang begitu tersiksa" tanya Fia.
"Danyon meminta suamimu mengawal tanpa tau visi dan misinya. Suamimu menurut begitu saja tanpa penulusuran. Tak di sangka, Danyon mengatas namakan penyelundupan hewan di lindungi untuk di kirim ke luar negeri serta membuka akses perjudian di lingkungan militer, di lokasi dalam kepemimpinan Sanca." ucap Papa Zaldi menjelaskan.
__ADS_1
"Papa menangkap respon lambatnya Sanca karena suamimu itu sangat kurang istirahat dan terlalu banyak pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya"
"Benar pa, Abang memang tidur.. tapi kualitas tidurnya sangat kurang. Lebih banyak terbangun" jawab Fia.
"Papa maklumi itu Fia. Tapi hukum tidak akan mentoleransi kesalahan. Militer yang bersinggungan dengan hukum dan perjudian hukumannya juga sangat berat" kata Papa Zaldi.
"Besok temani Fia temui Abang ya Pa..!!" ajak Fia.
"Iya..!!"
***
Papa Zaldi dan Fia turun dari mobil, tak lama sebuah mobil terparkir di samping mobil Fia. Sosok tegap memakai kacamata bulat dan membawa dua buah koper besar di tangannya.
"Bang Garin????" sapa Fia.
"Ayo masuk..!! Abang keluarkan suamimu sekarang juga..!!" ajak Bang Garin.
"Tapi Gar..."
"Tenang Dan.. saya selesaikan semua" jawab Bang Garin dengan tegas.
:
Bang Garin membuka dua buah koper di hadapan komandan POM.
Komandan POM seketika gelisah karena mengira Bang Garin membawa bukti keterlibatan nya dalam melindungi Danyon.
"Kita bicarakan lagi Pak Garin. Ini khan hanya intern dalam sendiri. Tidak usah naik ke atas lah..!!" ucapnya lebih kalem.
"Baiklah, kita nyemil dulu..!!" Bang Garin memutar kopernya yang ternyata hanya berisi puluhan donat kentang.
"Silakan makan dulu, perut kenyang.. pikiran tenang..!! Coba tolong keluarkan Kapten Sanca dari 'kamarnya'..!! Untung litting saya itu sedang bawaan lemas. Kalau otaknya lagi encer.. habis sudah satu kantor ini di acak-acak nya"
Komandan yang pangkatnya lebih tinggi dari Bang Garin itu pun sampai bertekuk lutut kalau berhadapan dengan prajurit yang terkenal suka mengerjai orang. Salah-salah berhadapan dengan keluarga besar Satriyo bisa bermasalah seumur hidup selain dalam karir, bisa saja tuntutan malu akan di sandangnya sampai mati.
"Cepat bawa Kapten Sanca kesini..!!" perintah komandan POM pada anak buahnya.
:
__ADS_1
Baru saja Bang Sanca berjalan beberapa langkah, tubuhnya sudah oleng dan lemas.
"Sancaaa..!!" Bang Garin menolong sahabatnya itu yang seperti orang sedang teler berat.
"Aduuuhh.. sudah kayak anak gadis PMS aja lu, pakai lemes badan. Nggak sadar diri lu. Siapa mau angkat badan seperti beton listrik begini" gumam Bang Garin.
Bang Garin pun memapah Bang Sanca di bantu seorang anggotanya keluar dari ruang pemeriksaan tahanan.
"Abaaang..!!!!"
"Bang Sanca kenapa.. Bang Gariin?" pekik Fia yang sejak tadi menunggu Bang Sanca di luar ruangan.
"Nggak usah cemas, dia hanya cari perhatian mu saja. Biasa.. suami manja" jawab Bang Garin dengan santai sambil menabok pipi Bang Sanca yang setengah sadar.
"Mabuk lem suamimu Fi.. jelek banget telernya. Hahahaha.." ledek Bang Garin.
:
Papa Zaldi berjalan sambil tertegun. Ajaib.. kasus Bang Sanca tidak jadi naik ke permukaan dan BAP baru naik hari ini bahkan langsung naik sampai atas.
"Dan.. ini menantu menyusahkan mau di bawa pulang atau di tinggal di jalan??" Bang Garin menyapa Papa Zaldi.
"Terserah lah kamu apakan, saya cuma heran dengan berita acara perkara yang rancu" jawab Papa Zaldi.
"Hmm.. saya sudah telepon Opa Satriyo, beliau meminta tolong anggotanya untuk menangani semua ini dan semalam di selidiki memang aneh. Jadi sampailah kita pada tahap ini. Subuh tadi baru selesai" kata Bang Garin.
"Oohh.. Bantuan Om Satriyo.. pantas. Senior Papa mertua tuh. Kita kurang teliti dan panik duluan. Sanca sudah stress dan hancur sekali kemarin. Buat saya ikut kepikiran"
"Sebenarnya semua mudah untuk di pikir.. Hanya saja Pak mil ini yang bikin repot seantero jagat. Kenapa nggak pakai otaknya itu, dasar bawaan bayi. Kalau sudah lahir.. Om Garin duluan yang ajak gelud" kata Bang Garin menggerutu.
"Eehh San.. banyak dosa sih lu, sesuai nih sama amal perbuatan lu. Sekali-kali sungkem lu sama gue..!!!"
Bang Sanca sudah bolak-balik hampir ambruk karena terlalu lemas.
"Lihat lu Gar.. gue sehat nanti.. habis lu..!!" ancam Bang Sanca lirih sekali.
.
.
__ADS_1
.
.