Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
35. Karma "dosa" masa lalu.


__ADS_3

Sampai matahari terbit, Bang Sanca belum tidur dan masih terdiam memandangi wajah Fia. Matanya sembab dan sesekali air matanya masih menetes. Papa Zaldi sampai bingung tak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan menantunya, terlihat sekali stress menghias wajahnya.


"Sarapan dulu San, biar ada tenaga" bujuk Opa Rinto.


"Nanti saja Opa. Saya nggak lapar"


"Kamu harus makan, gimana mau jaga Fia kalau kamu lemas?" bujuk Mama Arnes.


"Saya lihat El dulu..!!" pamit Bang Sanca sedang tidak bisa mendengar arahan apapun. Yang ia cemaskan hanya bayinya Elcassa Armada Pandu Yudha.


...


Bang Sanca melihat inkubator bayinya sudah kosong. Darahnya seketika mendidih hingga ubun-ubun. Suami Arnes itu memarahi semua staff rumah sakit bahkan sampai anak buahnya sendiri hingga ada seorang di antaranya yang pingsan karena Bang Sanca menghajarnya.


"Bodoh kalian..!!! Kemana saja kalian semua..!!!!!" bentak Bang Sanca.


"Jangan San.. dia bisa mati. Istighfar..!!!!" Papa Zaldi memeluk menantunya. Ia takut menantunya akan mengikuti jejaknya menghilangkan nyawa orang karena terlalu emosional.


"Bayiku paa.. Mereka membawa anakku pergi. Aku mau cari anakku. Dia masih terlalu kecil" ucap Bang Sanca terdengar begitu hancur. Pikiran dan hatinya berantakan tak bisa berpikir jernih. Ia terpukul, kalut, bingung tak sanggup menerima kenyataan ini.


"Ayo San..!! Jangan seperti ini, kita laki-laki. Pikirkan bagaimana perasaan Fia saat mendengarnya" Papa Zaldi memberi kekuatan pada menantunya tapi sepertinya ucapan itu tidak benar-benar di dengarnya. Bang Sanca lemas dan tumbang di menubruk papa Zaldi.


:


Papa Zaldi, Opa Rinto, Bang Anjar dan Bang Garin berunding di dalam kamar rawat Fia sedangkan Bang Sanca masih bersandar lemah belum mampu berpikir dan bicara apapun.


"Apaa.. kita harus meminta bantuan Fia lagi?" tanya Bang Anjar pada Papa Zaldi.


Seketika amarah Bang Sanca memuncak kembali.


"Jangan libatkan istriku lagi dalam hal sekecil apapun dalam masalah ini. Aku sudah kehilangan anak, aku nggak mau kehilangan istriku juga..!!!!!!" bentak Bang Sanca.


"Iya le.. sudah jangan banyak pikiran. Tenangkan hatimu dulu..!!" kata Opa Rinto.


"Bagaimana aku bisa tenang Opa...!!!!!" Bang Sanca sudah berdiri bersiap menghajar Bang Anjar.


"Kendalikan emosimu. Papa lebih takut reaksi Fia" Papa Zaldi menahan amarah Bang Sanca.


Tak lama seorang anak buah memberikan surat untuk Bang Sanca. Dengan tangan gemetar Bang Sanca membukanya.


Anakmu akan ku didik agar bisa menjadi sepertiku. Kamu yang telah menipuku dengan semua janji manis mu. Kini kamu akan rasakan bagaimana rasanya tidak bisa menimang seorang bayi. Kamu.. telah membuatku kehilangan suami dan anakku yang masih ada dalam kandungan.


"Nelzii.. Ini pasti Nelzi. B*****t kamu Nelziii..!!!!!!!!" Bang Sanca meremas surat kaleng itu, wajahnya pucat dan penuh amarah.


"eegghh.." jantung Bang Sanca berdetak lebih kencang, nafasnya seolah terhenti saat menatap Fia yang masih terbaring lemah. Bayangan itu menghitam, gelap dan hilang.

__ADS_1


"Sancaaaa..!!!"


:


Bang Anjar dan Bang Garin melonggarkan pakaian Bang Sanca. Dalam keadaan tak sadar pun masih terdengar isakan sesak dari suami Fia itu.


Papa Zaldi pun terduduk lemas masih pening merasakan situasi ini sedangkan Opa Rinto berusaha tegar dan mengarahkan para anggota Bang Sanca.


"Cepat sadar dan tetaplah kuat le. Sesakit apapun hidupmu. Kamu harus jalani satu persatu ujian hidupmu. Papa tau hatimu sakit, tapi kamu harus bisa bangkit demi anak dan istrimu"


...


Sungguh tak ada perlawanan saat Fia amat sangat marah pada Bang Sanca, bahkan amukan Fia ia terima dengan lapang dada.


"Hilang??? Bagaimana bisa hilang???? Abang memang sengaja buat anak kita nggak ada hanya untuk selamatkan Fia khan?" pekik Fia terus memukul Bang Sanca.


"Fia nggak butuh nyawa ini. Fia hanya ingin anak Fia kembali..!!!!!"


"Abang minta maaf, Abang yang lalai" ucap Bang Sanca penuh sesal.


Fia melihat kertas kusut di saku baju Bang Sanca dan kemudian mengambil dan membacanya.


"Ulah apa yang Abang buat sampai perempuan ini mengambil anakku????" bentak Fia.


"Kamu tenang dulu dek..! Kita bicara baik-baik." bujuk Bang Sanca.


"Abang akan ceritakan kalau kamu sudah tenang. Kalau pikiranmu kacau.. semua akan berakhir buruk dek"


"Ceritakan sekarang..!!" ucap Fia tegas.


Bang Sanca ingin menyentuh tangan Fia, tapi istrinya itu menolaknya. Bang Sanca menghela nafas, menguatkan hati.


"Tiga tahun lalu, ada pemberontakan hebat di perbatasan timur. Abang di tugaskan mengarahkan beberapa anggota terpilih bersama Garin dan Dafa. Ada situs tertutup yang sulit kami buka hingga akhirnya Abang temukan nama Nelzi disana. Dia istri kedua Beno.. kepala pemberontak itu. Singkat cerita Abang dan Garin mendekati Nelzi hingga akhirnya wanita itu masuk perangkap. Segala upaya kami lakukan termasuk merayu Nelzi, Abang bergantian berbalas chat pribadi dengan Garin. Setelah beberapa lama, kami kopi darat.. dan suatu hari.. Abang dan Nelzi bermalam di sebuah penginapan......."


"Abang tidur dengannya???" Mata Fia mengawasi Bang Sanca.


"Nggak dek.. Demi Allah. Kamu dengarkan Abang dulu..!!"


Fia terdiam dalam dekapan Mama Arnes yang juga sudah ingin menangis tapi Papa Zaldi melarangnya.


"Abang mengajaknya mabuk dan mengorek cerita dari Nelzi. Abang tau mencari informasi dari seorang wanita itu tidaklah mudah. Abang mendekatinya dan membuatnya nyaman" ucap jujur Bang Sanca.


Papa Zaldi terdiam tak bisa menanggapi kejadian ini. Setiap pekerjaan pasti menimbulkan resiko.


"Masa lalu Abang membuat kita harus kehilangan anak. Apa saja yang Abang lakukan sampai Nelzi semarah ini?????" dada Fia terasa sesak tak tau bagaimana keadaan putranya di luar sana. Apakah bayinya akan baik-baik saja atau tidak.

__ADS_1


"Mamaaa.. suruh laki-laki ini keluar dari sini. Fia nggak mau lihat dia lagi..!!"


"Fia.. chat itu tidak hanya Sanca saja yang melakukannya.. tapi Abang juga" kata Bang Garin berusaha menengahi dan membujuk Fia.


"Tapi Abang menghabiskan malam dengan Nelzi. Mau itu pekerjaan atau tidak, laki-laki dan perempuan yang bersama.. tidak mungkin tidak menimbulkan rasa" jawab Fia.


"Abang nggak melakukannya Fia. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang Abang sentuh"


"Keluarlah Bang.. Fia nggak mau dengar apapun lagi.." teriak Fia. Opa Rinto menarik Bang Sanca agar menjauh dari Fia.


"Keluaarr..!!!!!" Fia berteriak histeris hingga asmanya kambuh lagi.


:


"Percuma kamu membujuknya sekarang. Kondisi Fia belum stabil, tidak akan ada yang masuk dalam pikirannya" bujuk Opa Rinto.


"Semua orang tau saya tidak melakukan apapun dengan Nelzi di kamar itu" jawab Bang Sanca.


"Opa tau, masalahnya adalah janji manis mu itu menghilangkan anakmu dan Fia tidak bisa menerima itu. Mana ada seorang ibu mau kehilangan anaknya"


"Saya yang salah Dan..!! Saya yang berlebihan dalam bercakap-cakap" sela Bang Garin.


"Aku sudah pernah bilang untuk mengontrol setiap ucapanmu..!! Wanita tidak akan bisa kau beri janji. Sekarang anakku hilang, istriku marah dan salah paham. Kau bisa menggantinya dengan nyawamu??????" bentak Bang Sanca.


"Maaf.. saya akan selesaikan semua masalah ini" jawab Bang Garin.


"Kau pikir semudah itu menyelesaikan kekacauan ini. Mendatangi nya tanpa persiapan matang sama saja kau mengantar nyawa. Kau mati konyol????"


Tak lama Papa Zaldi datang dan menengahi keributan itu.


"Jangan ribut lagi. Mental Fia sudah down. Dia meminta papa menyampaikan sesuatu padamu"


"Apa pa?" tanya Bang Sanca sendu.


"Fia menganggap kesalahanmu sudah begitu fatal, Fia ingin berpisah denganmu dan ingin papa memasukkan nya di kesatuan intai."


"Nggak pa.. ini nggak mungkin. Aku nggak setuju. Aku nggak mau pisah. Aku janji akan cari anakku sampai ketemu"


"San.. kita rundingkan hal ini lagi" Opa Rinto menarik lengan Bang Sanca agar cucunya itu bisa sedikit lebih tenang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2