Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
74. Ada apa?


__ADS_3

Dengan berbagai pertimbangan, membolak-balik pikiran dan memikirkan baik dan buruknya. Akhirnya Bang Sanca memutuskan Bang Raiz mengikutinya dan menitipkan Fia dalam penjagaan Bang Ryan selama tiga hari dirinya berangkat tugas. Bang Sanca menyerahkan pengawalan istrinya pada Om Hega dan Serda Indra disana.


...


Di sela waktu makan siangnya yang sudah lewat.. Bang Sanca menghubungi Fia. Namun belum ada jawaban dari sang istri yang membuat hati nya tidak tenang.


"Ijin Dan.. makan siang dulu..!!" sapa seorang anggota yang lebih 'senior'.


"Duluan saja dengan yang lain pak. Saya mau hubungi istri saya dulu" kata Bang Sanca.


Tak lama ponsel Bang Sanca berdering. Ada panggilan video call disana dari Bang Ryan.


"Assalamualaikum Bang.. cari Fia ya?"


"Iya.. mana mama inces?"


"Tidur Bang. Masa saya buka kamarnya. Tadi saya dengar ada dering berkali-kali.. saya yakin itu Abang. Setengah jam ke depan Abang hubungi Fia lagi.. mungkin Fia sudah bangun" jawab Bang Ryan.


"Apa Fia sakit?"


"Nggak Bang. Hanya murung saja. Mungkin rindu Abang" ucap Bang Ryan mengembangkan senyum tampan Bang Sanca.


"Saya ttip Fia betul ya Ry..!!!"


//


"Kamu kesini?" tanya Bang Ryan saat Yuna menyusulnya ke rumah Bang Sanca.


"Harusnya Yuna yang tanya.. Kenapa Abang disini?"


"Abang temani Fia. Bang Sanca yang minta."


"Bagaimana kalau Yuna bilang nggak boleh? Apa Abang tetap menemaninya?" Yuna terlihat sangat tidak senang dengan perlakuan Bang Ryan yang begitu perhatian pada Fia.


"Sini..!! Kita duduk dulu dan bicara baik-baik" Bang Ryan menggandeng tangan Yuna agar duduk bersamanya di ruang tamu Bang Sanca.


"Fia itu adiknya Abang dan akan selalu begitu. Fia sudah punya Bang Sanca yang sangat mencintai Fia, jangan kamu bawa-bawa lagi masalah garis keturunan itu. Abang tetap putranya Papa Rinto, Abangnya Fia.. apa kamu jelas?"


Yuna mengangguk meskipun hatinya belum pasti.


"Hmm.. akhir pekan nanti. Abang akan minta Papa Rinto kesini. Abang mau lamar kamu" ucap Bang Ryan.


Yuna menoleh menatap mata Bang Ryan. Ia seakan tidak percaya dengan pendengaran nya sendiri.


"Ini sungguhan Bang?? Tapi Bang.. bukankah Abang masih ikatan dinas?" tanya Yuna lumayan kaget.


"Lamaran sayang.. nikahnya nunggu satu tahun lagi. Kamu bisa sabar khan?"


Yuna kembali mengangguk.. ada seulas senyum dalam paras wajah cantiknya.

__ADS_1


Jangan kamu sakiti Fia ya dek. Abang nggak mau ada apa-apa sama Fia. Hubungan ini Abang ikhlaskan atas nama Allah. Biar nanti atas jalanNya yang mendekatkan kita berdua.


...


Bang Sanca merasa kesal karena Fia bercerita tadi Yuna sempat ada di rumahnya. Fia memang tidak menceritakan apapun tapi Hega dan Indra mengatakan hal yang sama tentang sikap Yuna disana. Hatinya semakin gelisah karena dua hari lagi dirinya baru akan kembali dari dinas luar.


Kenapa Yuna jadi begini? Hubungan ku dengan Yuna hanya lima bulan saja. Kenapa dia sampai seperti ini.. Apa dulu Yuna benar-benar ada rasa untuk ku sampai aku menyakiti hatinya.


***


Tiga hari sudah berlalu.


Bang Sanca pulang dari dinas luarnya. Saat turun dari truk.. Fia menyambutnya dengan senyuman manis. Namun senyum manis itu nampak berbeda menyimpan getir.


"Ada apa sayang? Abang ada salah sama kamu? Abang minta maaf ya..!!"


"Nggak ada salah kok Bang" jawab Fia masih mengembangkan senyumnya. Bang Sanca mengecup kening Fia tapi dalam hatinya masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi selama Fia ia tinggalkan sendiri disana.


...


braaakk..


"Ibuuu..!!!!!" pekik ibu-ibu pengurus cabang di ruangan Fia.


"Paakk.. ibu pingsan..!!"


Mendengar teriakan ibu-ibu di ruangan Fia. Bang Sanca membuang rangselnya lalu segera berlari menghampiri Fia.


:


Tak lama Fia tersadar. Seulas senyum masih tetap terlihat mengembang disana.


"Fia nggak apa-apa Bang..!! Perut Fia khan semakin besar.. makanya Fia lebih cepat capek"


Bang Sanca mengangguk tapi jelas sorot mata itu menimbulkan seribu tanya dalam hati. Tak hentinya Bang Sanca mengusap perut Fia.


***


Papa Zaldi datang ke rumah Fia. Peluk haru Fia bertemu papanya, tangisnya sesenggukan begitu sesak sampai akhirnya Fia kembali pingsan.


:


"Kenapa ini San? Kamu bertengkar sama Fia?"


"Nggak pa. Kami baik-baik saja. Belakangan ini memang Fia mudah pingsan. Saya sampai tidak berani masuk kantor karena takut Fia jatuh. Kandungan nya sudah mulai besar sekarang" jawab Bang Sanca.


"Ini Banyak pikiran San"


"Saya rasa juga begitu pa. Tapi saat saya tanya.. Fia nggak pernah mau menjawabnya." Jawab Bang Sanca.

__ADS_1


Papa Zaldi menepuk bahu menantunya. Ia paham sekali bagaimana ke khawatiran menantunya saat ini.


"Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang kita rundingan masalah lamaran Ryan dulu"


"Bisakah kalau saya minta langsung menikahi Yuna pa?" tanya Bang Ryan tiba-tiba mengagetkan seisi ruangan tak terkecuali Mama Arnes.


Fia sama sekali tak mengikuti acara keluarga tersebut karena terlalu sibuk berduaan dengan El di dalam kamar dan Bang Sanca sesekali melirik mengawasi istrinya itu. Meskipun Fia terlihat sehat, tapi ia tau saat ini Fia sedang tertekan.


"Kenapa dadakan begini Ry?? Nggak bisa begitu donk. Kamu masih ada ikatan dinas, lagipula kamu belum pengajuan dinas" jawab Papa Zaldi.


Melihat Bang Ryan yang menunduk seolah tak berani memandangnya lagi.. Mama Arnes menangis mendekap lengan Papa Zaldi. Kini Papa Zaldi lebih memahami situasinya.


"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah. Kenapa sampai seperti itu le? Apa papa mendidikmu seperti itu?"


Bang Ryan merangkak menunduk di kaki kedua orang tuanya.


"Ryan mohon maaf Ma.. Pa..!! Ryan memang anak yang tidak tau diri"


"Katakan sama mama.. kenapa kamu lakukan ini?" tanya Mama Arnes begitu sedih.


Bang Ryan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hanya tangisnya saja yang tumpah membawa ribuan tanda tanya bagi semuanya.


"Kita harus cepat selesaikan pa..!! Takut ada apa-apa" saran Bang Ibra.


***


Malam saat akan berangkat ke rumah Om Bima.. Fia menolak untuk ikut pergi mengantarkan Bang Ryan. Seluruh keluarga akhirnya kembali duduk. Oma Anye pun turun tangan menenangkan cucunya.


"Dek.. beberapa hari ini kamu terlihat aneh sekali. Saat ini Abang berhadapan dengan kedua orang tua mu bahkah di hadapan seluruh keluargamu. Katakan salah Abang biar Abang mengerti."


Kali ini air mata Fia meleleh.


"Tidak ada Bang. Sungguh"


"Kamu satu atap dengan Abang bukan satu dua hari saja. Kita makan bersama.. tidur pun di ranjang yang sama, tentu Abang paham ada yang kamu sembunyikan" ucap Bang Sanca.


"Fia ingin menutupnya rapat. Tapi kenapa tidak hentinya bertanya"


"Karena Abang suamimu. Abang berhak tau apa yang sedang kita hadapi"


"Sebenarnya.. kenapa Abang tidak mau tanggung jawab?" tanya Fia.


"Tanggung jawab????? Dalam hal apa???"


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan spoiler..!!!!!!


__ADS_2