
Bang Sanca menancapkan sendiri jarum infus di punggung tangan Fia. Gadisnya itu sudah dua kali sadar dan kembali pingsan apalagi saat melihat wajah Janet.
"Mbak ini benar-benar buat apesku. Fia juga lagi hamil mbak. Kok bisa mbak punya ide gila seperti itu tanpa tau sifat dan karakter Fia" tegur Bang Sanca.
"Maaf San. Nanti aku yang minta maaf sama Fia." kata Janet.
"Kau lihat sendiri lah. Begitu melihatmu saja istriku langsung syok dan tidak sadarkan diri. Bagaimana caramu bicara??"
"Sudah.. nanti Mas yang bantu kamu bicara sama Fia. Atas nama pribadi juga atas nama Janet, Mas minta maaf. Terus terang Janet tidak percaya kamu sudah menikah.. setelah namamu naik di kantor baru Janet percaya." jawab Mas Dwi.
"Aku cemas sekali sama Fia mas. Apalagi sedang hamil begini. Lihat Fia seperti ini rasanya aku yang mau mati"
"Kamu nggak boleh gitu dek. Fia belum pernah bertatap muka sama kamu. Dia bisa kaget dan berpikir macam-macam." tegur Mas Dwi melihat istrinya.
"Aku nggak sengaja mas" ucap sesal Janet melihat adik ipar tirinya tak kunjung sadar karena terlalu syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Mata Fia mulai terbuka, tatapannya langsung mengarah pada Janet hingga membuat perutnya kram.
"Dengar Abang.. Janet itu kakaknya Abang. Jangan pikir macam-macam..!!" Bang Sanca langsung mengatakannya agar Fia tidak kembali drop.
"Anjar dan Garin bisa jadi saksinya. Mereka ini pernah bertemu Janet..!!"
Fia masih kesal pada Bang Sanca. Apalagi melihat sosok Janet yang bersembunyi di belakang punggung seorang pria.
"Teruslah Abang bohongi Fia. Sampai kapan Abang terus bohongi Fia?? Fia benci dengan semua wanita-wanita Abaaang..!!" teriak kesal Fia sampai Bang Sanca harus memeluknya karena Fia begitu histeris.
"Sumpah demi Allah, Janet ini saudara Abang. Satu bapak beda ibu. Tolong tenang ya sayang..!! Abang sudah menikah sama kamu, masa lalu Abang.. sudah Abang biang jauh-jauh" bujuk Bang Sanca. Tangannya terus mengusap punggung Fia hingga istrinya itu tenang.
"Bener Fi, Janet itu selingkuhan Sanca..!!" kata Bang Garin.
"Ya Tuhan Gariinn.. kau ini pulang saja lah. Bikin runyam saja" amuk Bang Sanca.
Bang Garin tersenyum licik penuh kemenangan setelah berhasil memperkeruh suasana.
:
"Duduk dek..!!" Mas Dwi meminta Janet untuk duduk di sampingnya.
"Lain kali jangan begitu bercandanya. Mas lagi tidur kamu malah bertingkah. Wanita mana yang tidak kaget tengah malam datang membawa perut besar. Kalau kamu ada di posisi Fia.. kaget nggak??" tegur Mas Dwi menasihati istrinya.
"Iya mas, maaf" Janet menunduk lalu mengulurkan tangannya, Bang Sanca pun membantu Fia mengulurkan tangannya karena istri kecilnya itu masih enggan 'berbaikan' dengan Janet
"Ayo salaman, kenalan, baikan..!!"
"Kamu nggak mau baikan? Nanti di perbatasan,. kita satu kantor lho. Masa mau marahan terus. Ini khan kakak. Bukan musuhmu" bujuk Bang Sanca. Akhirnya Fia berbaikan juga meskipun masih terdengar isak tangis dari Fia.
__ADS_1
"Hhhh.. Dasar wanita..!! Tengah malam nih bikin ulah. Setiap Fia pingsan, jantungan aku mas..!" ucap Bang Sanca sembari mengusap dadanya yang masih berdegub tak jelas.
"Sabaar.. Mas juga baru merasakan punya istri hamil. Luar biasa bikin kepala pecah saja" kata Mas Dwi yang kini berpangkat Serka senior.
***
Pagi harinya, usai sarapan.. Fia berbincang dengan Mbak Janet di meja makan.
"Seharusnya kita pamit dulu ke ibu bapak mbak. Bukannya saat ini bapak sedang ada di rumah ibu Bang Sanca?" kata Fia saat mengajak mbak Janet menemui ibu mertuanya.
"Kalau ketemu ibu silakan. Tapi aku nggak mau ketemu bapak." jawab Mbak Janet.
Fia ternganga tidak tahu harus melakukan apa menanggapi respon dari Mbak Janet yang tidak ingin bertemu dengan bapak Bang Sanca.
...
"Kenapa sih Bang? Abang malu mengenalkan Fia sebagai istri Abang?" tanya Fia yang kemudian membantu Bang Sanca mengepack barangnya.
"Jangan bahas ini lagi. Kita ke rumah ibu hanya untuk pamitan dan tidak akan menginap" ucap jelas dari Bang Sanca.
-_-_-_-_-_-
Siang harinya Fia, Bang Sanca, Mas Dwi dan Mbak Janet sudah sampai di rumah ibu Bang Sanca. Ibu Bang Sanca menyambut dengan hangat kedatangan Fia.
"Benar-benar tidak berubah..!!" gumam Bang Sanca.
Fia hanya bisa menatap pemandangan yang menurutnya begitu janggal.
Sebenarnya ada apa? Kenapa Abang tidak pernah cerita kalau sebenarnya masih ada bapak? Apa ini bapak kandung Bang Sanca??
...
Setelah berbincang hangat bersama keluarga.. Fia masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Selama hamil memang ia sering merasakan kegerahan. Fia masuk ke dalam kamar lalu mengganti pakaiannya.
Tak lama terdengar suara pintu kamarnya terkunci, Fia diam saja karena mengira Bang Sanca yang mengunci pintunya.. ia pun sibuk sendiri memilih pakaian dan hendak memakai pakaiannya. Fia tidak menyadari bahwa yang masuk ke dalam kamar itu bukanlah Bang Sanca melainkan bapak mertuanya.
"Waahh.. pintar sekali Sanca mencari istri.. putih, mulus dan sangat menggiurkan. Kenapa kita nggak bertemu dari dulu. Kamu akan kujadikan istri keempat ku" suara itu mengagetkan Fia.
"Bapak???????" Fia menyambar apapun yang ada disana untuk menutupi tubuhnya. Fia melangkah mundur menghindari bapak mertuanya yang semakin mendekatinya.
"Jangan takut.. ayo sayang..!! menurutlah. Istri bapak sudah tiga, bapak sudah pengalaman. Bapak akan menyenangkanmu kalau kamu mau tinggalkan Sanca" ucap bapak mertua Fia. langkahnya oleng ingin menyergap Fia.
"Bapak.. jangaaan..!!!!"
"Abaaaaaang..!!!!!!!" teriakan Fia terdengar hingga sampai ke telinga Bang Sanca yang sedang berada di kebun memanen hasil kebun bersama ibu.
__ADS_1
Mata Bang Sanca beradu pandang dengan sang ibu.
"Fiaa?? Kenapa Fia teriak bu?" Bang Sanca segera berlari masuk di susul ibunya.
"Mas Dwi sama Janet kemana Bu?"
"Pamit ke rumah ibunya"
"Astaga.. jadi Fia sendiri????"
Begitu Bang Sanca sampai di depan kamar.. pintu kamar terkunci rapat, suara teriakan Fia semakin membuat Bang Sanca cemas. Tanpa pikir panjang.. Bang Sanca mendobrak pintu kamar sekuatnya hingga engselnya terlepas. Amarah di dada Bang Sanca memuncak saat melihat bapaknya memaksa Fia yang berusaha menutupi tubuhnya dengan seprei.
"B*****t.. Masih belum puas kau sakiti ibuku, sekarang kau masih mengincar istriku?????"
buugghhhh...
Bang Sanca menghajar bapaknya membabi buta. Bapak Bang Sanca benar-benar terkapar, mungkin nyaris meregang nyawa. Ibunya membantu Fia untuk berdiri tapi tenaganya tidak cukup kuat apalagi Fia terlihat sangat kesakitan.
"Fiaa..!!" Bang Sanca beralih membantu istrinya untuk berdiri.
"Apa yang sakit dek..!! Bilang sama Abang sayang..!!" rasa bersalah Bang Sanca tidak bisa di hindarkan lagi, paniknya seketika mencuat melihat noda darah di telapak tangannya.
Tak lama Mas Dwi dan Janet datang. Melihat pemandangan itu Janet seketika histeris dan pingsan.
Bang Sanca menunduk merasakan perih mengiris dalam hatinya.
"Ayo bawa istri kita ke rumah sakit dulu mas..!!"
Hati-hati sekali Bang Sanca membawa Fia di kamar sebelah lalu menggantikan pakaiannya.
...
Ponsel terjatuh dari genggaman papa Zaldi. Seketika ia bagai terkena serangan jantung mengingat masa lalunya bersama Arnes yang mengakibatkan bayinya tiada dan tragedi berdarah kematian Guntur terjadi ( Di Ujung Peluru 2 & 3 ). Rekan Serka Dwi kakak ipar Bang Sanca menghubunginya dan mengabarkan situasi yang tidak mengenakan itu.
Sanca.. jangan sampai kamu mengulang masa lalu papa karena amarahmu. Kasihan Fia..!! Papa mohon jangan le.. jangan..!!!!
"hhgg.." Papa Zaldi tumbang di teras depan kantornya membuat para rekan anggota begitu kaget.
.
.
.
.
__ADS_1