
"Devinisi kualat yang sesungguhnya. Makanya lu jangan suka umpani teman" kata Bang Sanca.
"Aahh elaahh.. Ribet dah urusannya kalau pak lurah lagi ceramah"
Beberapa orang anggota ramai-ramai mengangkat ban truk milik Kompi Bang Garin. Bang Garin berkacak pinggang di hadapan beberapa anggotanya.
"Kenapa bisa lalai seperti ini??? Itu bahaya..!!!!" tegur Bang Garin penuh wibawa.
"Kalian tidak cek mesin dan kondisi truk sebelum jalan??" tanya Bang Garin.
"Siap salah Komandan..!!"
"Kami sudah cek. Memang lalai kurang kontrol ban" jawab mudi truk.
"Saya geprek kalian semua di kompi..!!" bentak Bang Garin.
"Siap...!!"
"Nyaris jadi jenang gue pot, bisa viral gue kalau masuk berita. 'Ada tentara ganteng masuk jurang karena ban ngglinding'.. aduuhh.. harga diri gue pot..!!" gumam Bang Garin yang sebenarnya juga takut.
"Banyak dosa sih lu. Sesuai amal perbuatan tuh" jawab Bang Sanca.
***
Para anggota menyambut Danki dan Danton kompi yang baru. Memang kedatangan mereka ada keterlambatan dua hari karena pergantian pimpinan yang terlalu mendadak.
Para ibu pengurus ranting membantu Ibu Sanca dan Ibu Ibra. Mereka sudah paham bagaimana caranya menghormati Komandan baru mereka dan para anggota salut dengan kebesaran hati pemimpin mereka. Dan Sanca yang membela anggota mati-matian demi nama baik kesatuan kemudian Dan Ibra yang menyelamatkan harga diri seorang wanita.
Papa Zaldi dan Mama Arnes yang ikut mendampingi juga memiliki rasa bangga karena kedua pria itu sangat menghormati wanita. Mereka membawa El tapi belum mengijinkan untuk Bang Sanca membawa putranya itu.
Sertijab pun usai. Bang Sanca mengambil alih inces dari gendongan Fia begitu pula Bang Ibra yang meminta Nasya dari gendongan Ola. Bang Sanca berjongkok dan mengarahkan baby inces pada Abangnya. Tak di sangka El sangat menyayangi adik perempuan nya itu. Abang El mencium pipi adik kecilnya.
"Kalau yang ini, Abang El sayang nggak? Ini juga adiknya Abang El lho. Namanya adik Nasya" kata Bang Ibra memperkenalkan pada El.
Tangan Abang Ibra mengusap kening Nasya mirip apa yang biasa di lakukan Papa Sanca pada Mama Fia. Dengan penuh rasa sayang Abang El mencium kening itu saat baby Nasya menangis.
"Jangan nangis ya cantik, ada Abang El disini..!!" mendengar Itu Nasya hanya mencebik lalu tenang dalam pelukan Papi Ibra.
Sontak Bang Ibra tertawa terbahak.
"Bukan main, ilmu kanuragan papanya sudah turun." ledek Bang Ibra.
"Semua cewek boleh kamu gombalin kecuali Nasya.. Papi hajar kamu kalau berani macam-macam sama Nasya"
"El sayang adik-adik Piii.." jawab Bang Ibra.
__ADS_1
-_-_-_-_-
Sore telah tiba.
Bang Sanca pulang ke kediamannya bersama Fia sedangkan Bang Ibra menempati rumah di samping Bang Sanca. Senyumnya terbuka lebar saat Bang Sanca memberinya ijin tinggal bersama Ola dalam tanda kutip.
"Saya nggak akan ikut campur dalam urusan pribadi mu. Tapi hati-hati.. kamu juga Komandan disini..!!" kata Bang Sanca mengingatkan.
"Siap Abaaaanngg....!!!!"
...
Bang Ibra menghampiri Ola di dalam kamar. Ola menata pakaian nya dan pakaian Nasya di dalam lemari.
"Masukan baju Abang sekalian ke dalam lemari..!!"
"Abang mau tidur disini juga?" tanya Ola dengan wajah polosnya.
"Iya.. kalau Abang di mess siapa yang mau jaga kamu sama Nasya?"
"Apa kata orang-orang nanti Bang?" Ola mencemaskan nama baik Bang Ibra.
"Berkas kita sudah masuk. Tinggal akad saja dek"
"Abang main belakang ya sama pihak atas??" tanya Ola.
...
Fia melirik Bang Sanca yang sedari tadi sibuk sendiri sampai menghubungi rekan dan anggotanya di sana sini.
Bang Sanca kembali menghitung kardus barangnya, ternyata ada dua kardus yang tidak ada disana dan itu adalah seragam serta perlengkapan kerjanya.
"Abang ke rumah Ibra dulu..!!" pamitnya pada Fia.
"Ada masalah apa Bang?" tanya Fia.
"Abang cari kardus seragam. Masa Abang jadi pelupa dek" gumamnya.
"Cari pelan-pelan Bang. Ini Abang minum dulu..!!" Fia mengangsurkan air minum untuk Bang Sanca agar suaminya itu tidak terlalu sibuk. Sejak tadi Bang Sanca belum sempat beristirahat.
:
"Laahh.. kemana ya barangku?" gumam Bang Sanca saat menghampiri rumah Bang Ibra.
"Coba Abang tanya Bang Garin, siapa tau terbawa di truk Bang Garin tadi..!!" saran Bang Ibra.
__ADS_1
"Garin?? Apa iya terbawa sama Garin?"
~
"Bisa-bisanya kamu kirim balik ke pesawat. Itu pesawat khan mau lajur ke Papua pot..!!!!!" rambut Bang Sanca rasanya terbakar memikirkan kelakuan Bang Garin.
"Memangnya kamu nggak baca itu barang sudah kuberi tanda dan kuberi nama Kapten Sanca. Kenapa kamu lempar balik ke bagasi pesawat??? Terus besok pagi aku kerja pakai apa?? Dasternya Fia????? Apa sarung sekalian???" bentak Bang Sanca mencak-mencak kesal karena pakaiannya terbawa pesawat angkut militer hingga ke Papua.
"Yaelah San. Dua hari lagi khan pesawat itu balik ke Jawa. Santai aja lah tunggu nya. Sementara pakai baju olahraga juga bisa" Bang Garin menjawab seolah tanpa beban sembari membuka kulit kuaci.
"Heeh monyong.. pakaian olahraga juga ada di kardus itu.. enak-enakan ngunyah lu ya..!!"
"Nggak usah drama deh San. Pakai aja pakaian olahraga bebas.
"Nggak bisa gitu juga donk. Besok hari pertama gue kerja. Eehh tapi benar juga sih, terus adu skill di lapangan tembak"
"Maksudku, kalian mancing"
"Edaaann.. mancing kerusuhan kuwi pot, aseemm..!!!" Bang Sanca langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Santai Bang..!! Kita latihan tembak saja." kata Bang Ibra.
"Naahh itu, seragam Abang sudah di cuci Fia. Mudah-mudahan cepat kering Bang"
Bang Sanca menepuk dahinya, bisa-bisanya seragam kerjanya ikut melayang karena ulah Bang Garin.
"Sebenarnya dulu prestasi apa yang buat Garin lolos pendidikan. Bocor alus muter begitu" tak hentinya Bang Sanca menggerutu.
"Gelut aja yuk.. gemes gue mikirnya"
"Slow Bang.. Duel sama Fia aja..!!" Bang Ibra menyenggol lengan Bang Sanca.
"Malah buat Abang stress aja. Jalannya lagi di palang. Mana bisa di ajak tawuran"
"Abang mah taunya jalan tol. Jalan tikus khan ada Bang" kata Bang Ibra.
"Waahh.. apa-apaan nih. Nggak bener begini ini"
"Abang pulang sekarang ya...!!"
.
.
.
__ADS_1
.