
Mobil panglima terparkir. Para anggota Bang Sanca berjajar rapi menyambut panglima dengan segala yel-yel yang mereka miliki. Dan Putra turun dari mobilnya dan tersenyum memandang Bang Sanca dan Bang Ibra.
Bang Sanca memberikan penghormatan. Ibu Chintya Putra juga turun mengikuti sang suami. Prosesi kecil sudah di lakukan. Ibu Putra mencium kening Fia dan Ola. Lalu meminta kedua istri perwira muda itu untuk berjalan di belakangnya dan mendampinginya.
Bu Mawir melihat Fia dan Ola tidak menolak perlakuan aneh dari istri panglima hingga Bu Mawir menarik tangan istri Danki dan Danton itu.
"Bu Sanca dan Bu Ibra jangan seperti orang kampung yang gila hormat ya. Yang paling pantas berjalan di samping Ibu itu saya. Buka ibu-ibu berdua ini" bisik Ibu Mawir dengan geram.
"Siap salah Ibu..!!" Fia yang hatinya sedang tidak dalam kondisi stabil, tak ingin peduli dengan ucapan Bu Mawir. Ia mencoba untuk mengalah dan tidak ingin memikirkan hal sepele.
....
Dalam rangkaian acara yang bergabung dengan dinas, Dan Putra sedang memberikan pengarahan pada para anggota.
"Kapten Sanca.. penting mana negara mu atau istrimu. Jika saat itu posisi istrimu dalam bahaya? Kamu sudah di sumpah untuk negaramu" tanya Dan Putra.
Walau hanya intern pribadi saja tapi hatinya begitu sakit. Tepat saat ini hatinya sedang gundah karena Fia sedang sakit dan malah mengandung buah hatinya.
"Ijin Panglima.. Saya hanya manusia biasa. Saya tidak bisa menjawabnya"
"Mungkin Ibu Sanca bisa menggenggam tangan suami agar lebih menguatkan..!!" perintah Panglima.
Fia pun menggenggam tangan Bang Sanca.
"Pandangi wajah istrimu Kapten dan katakan isi hatimu dengan jujur" kata Panglima menguji mental Kapten Sanca.
Baru beberapa detik Bang Sanca memandangi wajah Fia, dadanya terasa sesak dan sakit. Seketika ia memeluk Fia dan mencium sayang wajah istrinya. Ia kembali menatap wajah Panglima dengan tegar
"Lepas seragam pun saya ikhlaskan. Tanggung jawab saya di hadapan Allah lebih besar tuntutannya. Tolong di pahami.. Tak pernah saya mengecilkan profesi yang saya jalani. Menjadi seorang tentara adalah sebuah cara saya menjaga negara dan mencari nafkah halal untuk menghidupi anak dan istri saya. Tapi itu hanya sebuah profesi yang memperpantas diri saya sebagai seorang pria."
"Definisi kan arti keluarga terutama istri bagimu..!!"
"Nafas dan denyut nadi, tanpanya.. saya tidak terarah, dunia terasa hampa, berat untuk di jalani. Karena saya mulai sangat, sangat, dan sangat mencintai Ibu Danki saya ini dalam ikatan pernikahan.. Mohon Ijin dan mohon maaf Panglima, setelah saya resmi menjadi suaminya.. Tuhan mengirimkan saya perasaan yang luar biasa jadi.. di atas segalanya.. saya inginkan keluarga."
"Panjang lebar penjelasanmu Kapten. Jadi penting istri dan keluargamu?" tanya Panglima lagi.
"Siap..!!"
"Saya ijinkan Kapten Sanca dengan pilihannya. Tidak ada di dunia ini yang ingin mengantar nyawanya. Anda terlalu berat berpikir Kapten Sanca.. tapi saya katakan anda tidak munafik" kata Panglima.
...
Pertemuan mereka di tutup dengan acara ramah tamah yang santai karena Panglima melihat wajah Bang Sanca begitu murung tapi tetap berusaha baik-baik saja di hadapan semua orang.
Di sana Ibu panglima terlihat akrab dengan Ibu Danki dan Ibu Danton kompi. Hal itu menimbulkan kemarahan Ibu Mawir karena merasa tersaingi.
__ADS_1
"Bu Sanca.. Bu Ibra, bisa saya bicara sebentar?" Bu Mawir geram sekali melihat Ola dan Fia.
"Mohon Ijin Ibu, ada yang perlu saya sampaikan terkait kinerja kedua ibu perwira" kata Bu Mawir yang sebenarnya lebih tidak etis.
"Silakan Bu Mawir" kata Ibu Chintya Putra.
:
"Ijin Ibu.. saya tidak mungkin diam saja saat Ibu Panglima mengajak saya untuk bicara"
plaaaaakkk...
Tamparan keras melayang di pipi Fia.
"Ibu Sanca, seharusnya Ibu Sanca dan Ibu Ibra punya akal untuk menyodorkan saya bicara dengan Ibu Panglima. Saya yang lebih berhak bicara karena saya yang lebih tua" kata Bu Mawir.
Saking kerasnya tamparan, Fia sampai terhuyung dan berpegangan pada kursi di sampingnya. Ola yang baru mendalami menjadi bagian dari kepengurusan pun ikut syok.
"Siap salah Ibu" jawab Fia karena masih menjaga nama baik sang suami. Padahal dalam hati ingin sekali membalas perlakuan Ibu Mawir padanya.
"Kamu itu harus di ajarkan sopan santun dan senioritas. Benar-benar gila hormat ingin dekat dengan ibu panglima. Ingat, pangkat suamimu itu masih Kapten dan bisa membuang suamimu kemana saja" bentak Ibu Mawir.
"Ambilkan saya minum..!! Lelah saya mengajari anak-anak dungu seperti kalian" Bu Mawir duduk dengan membawa wajah marahnya.
"Benar-benar bodoh..!!" tanpa sadar teriakan itu menyadarkan Bang Sanca dan Bang Ibra. Ibu Mawir berteriak seperti orang gila dan melayangkan tamparan yang begitu keras ke pipi Ola dan Fia hingga kedua wanita itu jatuh tersungkur.
Bang Sanca dan Bang Ibra segera menghampiri istri mereka. Cemas melanda dalam hati sebab mencemaskan bayi dalam kandungan istri mereka.
Sebenarnya ibu Mawir kaget dengan perbuatannya sendiri tapi masih tertutup ego dan gengsinya yang tinggi.
"Olaa..!!" Bang Ibra kelabakan melihat Ola terus merintih sedangkan jantung Bang Sanca hampir berhenti berdetak melihat Fia hanya terdiam, tidak bereaksi dan hanya berwajah datar tak berekspresi.
Secepatnya Bang Sanca memeluk Fia, ia mengusap perut istri cantiknya.
"Jangan diam dek..!! Katakan sesuatu"
"Fia nggak berani bergerak Bang" jawab Fia lirih. Dari sikapnya.. jelas sekali Fia seakan menahan diri untuk tidak merintih, menangis ataupun mengeluh.
"Ada Abang dek..!!"
"Apa Abang bisa selamatkan anak kita??" bisik Fia.
Bang Sanca memercing dan menunduk melihat pakaian Fia yang kotor dan basah.
"Ya Allah.." rasanya Bang Sanca hampir pingsan. Wajahnya ikut memucat.
__ADS_1
"Hega.. siapkan mobil..!!" perintah Bang Sanca.
"Mohon ijin Panglima" Bang Sanca tidak peduli apapun lagi. Yang ia tau hanya keselamatan Fia dan bayinya.
"Bawa saja. Sekalian sama Ola. Om handle disini sama Papamu..!!" perintah Panglima.
Letkol Mawir tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya apalagi istrinya yang sudah bagai mayat hidup.
...
"Aman khan pot?" tanya Bang Garin yang entah sejak kapan ada di rumah sakit.
Tangan Bang Sanca dingin dan gemetar. Fia masih berada di dalam ruangan untuk di tangani dokter Alle.
"Jangan mengajak ku bicara. Aku cemas sekali memikirkan anak dan istriku" Rasa mual tak henti mengganggu nya.
Tak lama dokter Alle keluar.
"Abang harus membayar ku dengan mahal. Ini di luar prosedur Bang..!!" protes dokter Alle pada Bang Garin.
"Gampang.. Minta transfer an sm Kapten Sanca. Uangnya banyak. Tapi kerajaanmu beres khan?" tanya Bang Garin.
"Aman Bang.. Ini barang buktinya" dokter Alle menyerahkan bungkus saos dan kecap ke tangan Bang Sanca.
"Apa ini??" Bang Sanca tidak paham apa yang sudah terjadi.
"Abang tanyakan ke sahabat Abang ini..!!" jawab dokter Alle.
...
Bang Sanca tersandar lemas. Opa Rinto ingin tertawa tapi juga kasihan melihat cucu menantunya sampai seperti ini. Antara sadar dan tidak, tubuhnya pun demam.
"Kalian berdua khan bisa koordinasi sama Sanca. Kalau caramu seperti ini jelas Sanca syok. Cara ini tidak salah tapi juga tidak bisa di benarkan Gariin..!!" tegur Opa Rinto.
"Siap salah Opa. Tapi Bu Mawir memang harus di beri pelajaran"
Fia malah asyik mengunyah mangga padahal Bang Sanca berusaha keras untuk 'hidup'.
.
.
.
.
__ADS_1