Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
105. Hasil dari kerja keras.


__ADS_3

Bang Sanca mengajak Bapak dan Ibu Mawir untuk membicarakan masalah kinerja Fia.


"Mohon ijin tanpa mengurangi rasa hormat, tolong ibu tidak berteriak pada istri saya.. istri saya dalam keadaan sedang tidak sehat tapi sudah berupaya semaksimal mungkin dalam kegiatan ini" kata Bang Sanca menengahi ucapan Bu Mawir yang terus saja bicara.


"Kalau tidak mau di tegur ya jangan berbuat ulah" jawab Bu Mawir dengan sinis apalagi Fia kini duduk sambil setengah bersandar menyangga kening di belakang punggung Bang Sanca. Fia memegangi perutnya.


"Kalau istri saya salah pasti akan saya tegur tanpa kecuali" jawab Bang Sanca.


"Abang.. Fia mual" bisik Fia di belakang punggung Bang Sanca.


"Kamu ke belakang dulu. Nanti Abang nyusul" Bang Sanca balik berbisik.


Fia pun secepatnya berlari menghindar tempat 'sidang' di taman.


"Naahh.. lihat itu pa, istri Danki dan Danton menghindar. Tidak sopan..!!!!" ucap Bu Mawir.


Bang Sanca sudah mengepalkan tangan, hatinya sudah panas dan ingin membalas tapi tak lama kemudian Om Hega datang menghampirinya dan membisikan sesuatu di telinga Bang Sanca. Suami Fia itu pun berlari meninggalkan para tamunya dan menemui Fia.


:


"Astagfirullah hal adzim.. kebanyakan rujak kamu dek. Lambungmu nggak kuat itu..!!" Bang Sanca memijat tengkuk Fia. Beberapa saat kemudian Fia memeluk dan bersandar di dada Bang Sanca.


"Fia nggak kuat jalan Bang" ucap lirih Fia.


Secepatnya Bang Sanca membawa Fia ke ruangannya. Di ruangan itu dengan telaten Bang Sanca merawat Fia hingga mualnya berkurang, ia sendiri sampai tak merasakan punggungnya sendiri yang terasa mau patah tanpa sebab.


tok.. tok.. tok..


"Masuk..!!"


Bang Ibra membuka pintu ruangan Bang Sanca. Fia tergeletak lemas tanpa daya membuat kedua pria itu cemas bukan main.


"Letkol Mawir mau meninggalkan tempat, saya sudah handle tapi Ibu Mawir ingin kepulangannya hari ini di abadikan dan Danki beserta istri yang mengantar"


"Fia nggak kuat bangun, kesini saja sama saya" jawab Bang Sanca.


"Saya sudah bilang Bang tapi masalahnya Ibu Mawir akan menaikan masalah ini di pengurus istri kesatuan atas karena beliau merasa di abaikan di Kompi ini. Fia dan Ola akan jadi korban. Kalau saya mah santai saja Bang tapi kita nggak bisa ikut campur urusan ibu-ibu. Nggak etis lah Bang. Serba salah kita ini" kata Bang Ibra ikut pusing tujuh keliling.


Bang Sanca menoleh melihat Fia yang masih terpejam.


"Dek, Abang minta waktu sebentar.. lima menit saja sama Ola antar jailangkung itu pulang" bisik Bang Sanca lembut.


...


Tiga kali mengubah gaya membuat Fia dan Ola setengah mati menguatkan diri. Bang Sanca dan Bang Ibra sedari tadi ikut melirik cemas.

__ADS_1


Begitu mobil melaju cepat keluar dari kesatrian.. Fia dan Ola pingsan bertabrakan.


"Astagfirullah hal adzim.. Fia..!!!! Kamu kenapa to dek"


"Ola.. sayang..!!" Bang Ibra menepuk pipi istrinya itu.


"Hega, tolong panggilkan orang kesehatan..!!" pinta Bang Ibra.


:


"Ijin.. Haid istri lancar Bang?" tanya dokter Enzi.


"Kamu tanya ke siapa?" tanya Bang Sanca.


"Tanya ke Abang berdua ini"


"Hmm.. seingatku kalau Ola lancar" jawab Bang Ibra.


"Aduuhh.. Fia khan sakit. Mana Abang ingat' jawab Bang Sanca.


"Hhmmm... berhubung dari kemarin gejala yang Abang infokan kurang lebih nya sama. Jadi Abang Mbak Ola dan Mbak Fia coba ini..!!" kata Bang Ibra.


"Maksudmu Ola hamil?" mata Bang Ibra membulat besar tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Aku nggak perlu lah. Fia itu masih pengobatan. Nggak mungkin dengan obat yang cukup keras, Fia bisa hamil" kata Bang Sanca.


"Siap Bang, itu semua terserah Abang saja. Tapi feeling saya sebagai dokter jarang meleset" jawab dokter Enzi.


Bang Sanca cuek tak peduli dengan kata-kata dokter Enzi dan terus berusaha menyadarkan Fia.


"Masa sudah dua kali punya anak, aku tetap bodoh" gumam Bang Sanca.


"Abang merasa bablas nggak?" tegur Bang Ibra.


Disini hati Bang Sanca terbolak balik bingung dan cemas.


"Ya nggak tau, kalau ada yang salto juga pasti di luar kendali Abang"


Kedua pria itu langsung lemas duduk bersamaan.


"Kalau anak Abang sudah besar sih nggak apa-apa. Ini masih sebesar kelingking, dan lagi Fia itu sedang tidak sehat"


Mata kedua pria itu saling pandang. Lalu mereka berdua membuang nafas panjang. Ekspresi keduanya penuh sesal.


"Alaah.. Ono bapake" kata Bang Sanca menutup rasa frustasinya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Abang berdua membawa nyonya masing-masing ke rumah sakit..!! Masih buka nih Bang" saran dokter Enzi.


...


"Allahu Akbar.. piye iki Bang????" Bang Ibra terpekik panik saat hasil USG Ola menunjukan hasil positif.


"Ya sudah.. jaga lah. Anakmu itu" kata Bang Sanca yang sedang menemani Bang Ibra dalam satu ruangan bersama Fia.


Bang Ibra sampai menunduk dan menangis menciumi perut Ola. Tak menyangka kekesalannya saat itu malah mendapatkan rejeki seperti ini. Bibirnya terbungkam sulit untuk bicara. Hatinya masih tidak percaya akan benar-benar menjadi seorang ayah yang sesungguhnya.


"Bang Sanca silakan istrinya gantian saya USG" kata dokter Alle setelah Ola turun dari ranjang.


"Nggak perlu.. istri saya nggak apa-apa" tolak Bang Sanca yang sebenarnya setengah mati ketakutan kalau Fia kembali mengandung benihnya.


"Cemen sekali Abang ini. Ayolah Bang..!! Biar hati Abang juga tenang" bujuk Bang Ibra.


Bang Sanca terdiam beberapa saat.


"Ya sudah lah, naik sana" ucap Bang Sanca meskipun terdengar ragu.


Perawat pun membantu Fia untuk naik ke atas ranjang lalu mengoles gel di atas perut Fia. Dokter Alle melihat dari layar monitor.


"Naaahh.. anak siapa nih??" tanya dokter Alle.


"Haaahh.. Ya Allah.." Bang Sanca langsung terduduk lemas di kursi. Wajahnya pun memucat. Sebisa mungkin ia menenangkan diri.


"Aduuuhh le.. kenapa kamu loncat duluan???" gumamnya pelan.


Bang Ibra yang tadinya resah tak karuan malah jadi tertawa terpingkal melihat wajah stress Bang Sanca.


"Darimana Abang tau? Belum kelihatan Bang"


"Tanyakan sama adikmu ini, selama jadi suaminya Abang pernah 'kerja' tanggung nggak?"


Tapi berbeda dengan Fia yang akhirnya membuat semua orang terdiam. Fia sampai menangis melihat ekspresi wajah suaminya.


"Ini masih kecil sekali Bang. Mau di buang?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2