
Bang Ibra menyelesaikan push up di ruang Bang Hisam.
"Siang kabur-kaburan, kemarin malah tidak kembali sama sekali. Kemana kamu???" bentak Bang Hisam yang sebentar lagi akan Sertijab komandan.
"Ijin Dan. Istri melahirkan" jawab tegas Bang Ibra.
"Melahirkan?? Calon istrimu baru 'tidak ada' tiga bulan yang lalu dan sekarang kamu bilang istrimu melahirkan. Kamu melakukan tindak asusila dengan warga sipil?" tanya Bang Hisam bernada keras.
"Siap salah Dan"
baaagghh.. buugghhh.. plaaakk..
"Memalukan, dimana otakmu Ibra??? Kalau kemarin calon istrimu masih ada, kasusmu akan semakin besar. Ini namanya perselingkuhan yang fatal Ibra..!!" bentak Bang Hisam.
"Atasan meminta seorang perwira mengisi kompi baru di pesisir. Tapi karena kamu sedang bermasalah.. Pindah kamu kesana..!!" perintah tegas Bang Hisam.
"Siap laksanakan Dan..!!"
"Ibraaa.. kamu kok bisa menyalahi aturan. Apa kamu nggak bisa menahan diri??" gumam sesal Bang Hisam sembari meneliti berkas Bang Ibra.
Bang Ibra sengaja diam seribu bahasa agar pengajuan nikahnya tidak berbelit.
"Tidak usah di teliti Bang, saya minta tanda tangan saja. Kasihan anak istri saya, biar punya status yang jelas"
"Pening kepala saya mikir kamu"
:
Bang Ibra bersandar pada dinding aula. Badannya remuk usai di hajar Bang Hisam. Dadanya terasa sesak.
Untuk istriku Ola dan anakku Nasya.. Papi akan berjuang sekuat tenaga demi kebahagiaan kalian. Nanti di tempat yang baru, kita juga buka lembaran baru. Papi sayang kalian.
Bang Ibra merosot tak sanggup merasakan badannya lagi. Nafasnya sudah putus sambung. Matanya terpejam.. ia memilih mengasingkan diri sementara waktu hingga tubuhnya terasa lebih baik.
...
Bang Sanca dan Fia sudah tiba di rumah Papa Zaldi sebelum mereka berdua berangkat ke tempat tugas Bang Sanca yang baru di pesisir pantai.
Fia melihat ada seorang wanita sedang menggendong bayinya yang baru lahir.
"Mbak Ola?" sapa Fia.
"Fia ya?"
Ola melihat seragam Bang Sanca dan melihat pangkat Kapten di kerah seragam suami Fia itu. Saat itu juga Ola bingung bersikap dan menempatkan diri berhadapan dengan suami Fia itu.
"Iya mbak, mana lihat cantiknya mbak..!!" Fia membuka bedong penutup baby Nasya. Ini baby ku mbak. Namanya Nimas Ayu Sedah Kamaratih.. Panggilannya Rara" kata Fia.
"Apa tidak ada panggilan yang lain?" tanya Ola.
"Kenapa? Buruk bagimu?" Bang Sanca membuat bibir Ola terdiam seribu bahasa. Ola sangat takut melihat wibawa kapten Sanca apalagi suami Fia itu langsung meninggalkan tempat tanpa basa basi.
"Nggak apa-apa mbak. Abang nggak marah, dia baik kok." kata Fia.
"Baik aja angker begitu. Gimana kalau marah" jawab Ola.
__ADS_1
Tak lama Bang Ibra datang, kedua pria itu saling berbincang sejenak, terlihat mereka berdua berunding membicarakan hal yang penting.
"Ehmm.. suamimu Kapten, apa kamu nggak takut hidup dengan perwira?" tanya Ola.
"Nggak mbak. Nanti Mbak Ola rasakan sendiri. Abang Ibra itu keras tapi penyayang kok" jawab Fia.
"Maksudmu? Apa Bang Ibra itu juga perwira???" tanya Ola tak bisa menerka.
"Iya.. Memang nya Abang nggak tau?"
Ola terperangah tak tau harus bicara apa. Melihat ekspresi Ola Fia menepuk bahu calon kakak iparnya itu.
"Bukan karena aku adik kandungnya, tapi.. Abangku itu tidak akan mengecewakanmu mbak"
:
"Masa? Abang baik la, memangnya kamu ngomong apa?" tanya Bang Ibra sambil menggendong dan menidurkan baby Nasya.
"Panggilan anak Bang Sanca khan Rara. Ola tanya.. apa ada panggilan yang lain? terus Bang Sanca tanya 'Kenapa? Buruk bagimu??', begitu Bang" kata Ola mengadu.
"Hahahaha.. lagian kamu kenapa tanya begitu. Panggilan Rara itu yang minta ibunya Bang Sanca, Abang mah pengennya si inces di panggil Freezia atau batu yang indah.. Baby Zeea . Tapi Fia nggak mau, seperti penyanyi dangdut katanya. Lihat saja gaya si inces. Itu Abang yang dandanin" jawab Bang Ibra.
"Apa bedanya sama Abang? Nasya juga pakai anting strawberry"
Bang Ibra hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...
"Saya juga kena tindak Bang. Kasus perempuan"
"Ola maksudmu?" tanya Bang Sanca.
"Tapi status Ola sudah pernah tercatat di daftar riwayat hidup"
"Sudah di hapus dari riwayat hidup. Karena keluarganya meminta begitu. Ola di buang dari keluarga, tidak pernah di nafkahi sejak awal kehamilan, tidak diperiksakan kandungannya dan di aniaya fisik serta mentalnya" jawab Bang Ibra.
"Astagfirullah.. sungguh keterlaluan keluarganya. Rasanya ingin kulibas saja"
"Iya Bang, Ola setiap hari menangis. Jujur awalnya aku kasihan Bang, tapi melihat bayinya dari layar USG, aku langsung jatuh cinta" ucap Bang Ibra.
"Sama bayinya apa sama mamanya?" ledek Bang Sanca.
"Lebih pro lah Abang. Hahahaha.." tawa renyah kemudian terdengar dari keduanya.
...
Ola menangis sambil menggendong Nasya. Tangisnya terdengar sedih hingga terisak. Saat Bang Ibra sudah selesai packing, ia menurunkan tas berisi baju Nasya dan beberapa potong pakaiannya, tangis Ola semakin terdengar pilu, ia pun menarik kopernya sambil menggendong Nasya keluar kamar.
"Eeehh.. mau kemana kamu dek???" tegur Bang Ibra.
"Ola pamit Bang, Ola tau Nasya dan Ola sangat merepotkan Abang"
"Astaga.. apa-apaan sih kamu ini"
"Abang minta Ola dan Nasya pergi khan?"
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. piye to dek. Abang itu pindah tugas sama Bang Sanca. Kamu ikut sama Abang. Makanya apa-apa itu tanya dek. Jangan asal nangis terus pergi"
"Baju Nasya kenapa di masukin koper Bang?"
"Abang khan sudah bilang kamu dan Nasya ikut Abang. Nggak mungkin khan pakaian mu dan Nasya Abang masukan di rangsel. Hancur lah bajumu yang berenda-renda itu"
"Haahh??" Bang Sanca kaget sampai melotot mendengar ucapan Bang Ibra.
"Waaahh.. kacau.. susah sempat kibar layar nih sepertinya"
Bang Ibra langsung mengalihkan ucapanya. "Bawa Nasya masuk kamar dulu. Panas disini..!!"
"Kamu itu sebenarnya sudah bilang apa belum kalau mau pindah tempat dinas. Kenapa Ola sampai histeris?" tegur Papa Zaldi.
"Iya pa, aku lupa bilang kalau pindah tempat dinas. Makanya dia kaget"
"Ibraaa.. sembrono banget sih kamu. Kasihan khan Ola" Mama Arnes menyusul Ola masuk ke dalam kamar.
"Nggak sengaja ma..!!" kata Bang Ibra.
***
Bang Sanca dan Bang Ibra berada dalam satu mobil. Mereka pergi membawa keluarga mereka masing-masing.
"Saya ijin langsung bawa Ola tinggal satu rumah bersama saya" kata Bang Ibra.
"Pelanggaran..!!" goda Bang Sanca.
"Saya punya anak bayi lho Bang" Bang Ibra terus memohon dengan cemas.
"Ola sama saya sampai kamu sah"
"Bang.. Ola ini rewel sekali lho kalau nggak ada saya" jawab Bang Ibra.
"Dalam pantauan mata saya, jelas sekali kamu yang rewel"
Bang Ibra duduk bersandar gelisah tanpa bisa berucap apapun sedangkan Bang Sanca tersenyum licik sudah bisa mengerjai kakak iparnya itu.
Tak lama ada panggilan telepon masuk dari Bang Garin.
"Apa sih ini bocah?" gerutu Bang Sanca tak ingin peduli dengan Bang Garin tapi lagi-lagi ponselnya bergetar.
"Apa sih?"
"Tolongin pot..!!!" kata Bang Garin di seberang sana membuat Bang Sanca dan Bang Ibra.
"Kenapa??"
"Ban truk gue ngglinding di jurang. Bantu cari donk..!!"
"Saran gue ya pot. Lu ganti itu ban sama donat yang lu beli di bandara tadi..!!" jawab Bang Sanca kesal.
.
.
__ADS_1
.
.