
"Ya sudah silakan mbak" Bang Sanca memilih menghindar karena wanita itu sedang hamil. Bang Sanca juga sedang merokok.
"Terima kasih pak..!!" wanita itu segera berterima kasih saat Bang Sanca menjauhinya.
"Sama-sama"
:
"Saya duduk disini ya..!!" kata seorang wanita berpakaian minim tiba-tiba duduk di samping Bang Sanca.
"Maaf.. saya nggak tertarik sama wanita" jawab Bang Sanca asal.
Wanita itu terus memperhatikan gerak gerik Bang Sanca yang duduk menyendiri. Tak lama Bang Garin memeluk Bang Sanca lalu mencium pipinya dengan gemas.
Dalam hati, Bang Sanca mengumpat kesal.. tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghindar.
...
"Kenapa sinyalnya berhenti di cafe kota ya?" gumam Fia yang sengaja ingin tau keberadaan Bang Sanca karena dirinya sedang ingin nasi uduk.
Fia menghubungi Rhea dan Esa. Kedua ibu muda yang kini menjadi sahabatnya itu pun mengira para suami sedang berada di kantor.
:
"Aku hubungi temanku yang kerja di cafe itu ya..!!" Rhea pun menghubungi rekannya yang bekerja di kafe sesuai petunjuk dari Fia.
Fia dan Esa menunggu kabar dengan cemas. Sampai akhirnya teman Rhea mengkonfirmasi kalau memang ada ketiga pria yang di sebutkan ciri-ciri nya berada disana.
"Yaa.. suami kita memang ada disana" kata Rhea.
Wajah ketiga wanita itu sudah datar dan kesal memikirkannya.
...
"Perasaanku nggak enak pot. Lampu teras mati semua. Nggak biasanya nih lampu mati" Bang Sanca melongok dan mengintip ke arah rumahnya. Mereka bertiga sempat 'minum' meskipun tidak sampai mabuk. Itulah yang membuatnya cemas.
"Mungkin mereka tidur, kita khan punya bayi" jawab Bang Garin.
"Iya.. Rhea khan lagi isi. Dia pasti capek sekali"
"Gila lu ya.. Lu juga tanam modal???" Bang Sanca melotot mendengar pengakuan Bang Anjar, ia tak habis pikir dengan kelakuan Rhea yang berlaku terlalu berani dan sembrono.
"Yang penting khan kunikahi San"
"Halaah.. terserah mu saja lah. Itu urusan rumah tanggamu. Yang penting aku aman saja dengan Fia" kata Bang Sanca tak ingin memusingkan masalah Rhea dan Anjar. Sekarang dirinya hanya cemas setengah mati takut Fia tau ijinnya hari ini tidak sesuai fakta.
__ADS_1
Bang Sanca memarkir mobilnya di garasi. Anjar dan Garin sudah turun dengan santainya tanpa beban, Bang Sanca pun akhirnya ikut turun hingga lampu lapangan menyorot ketiga pria tersebut.
"Inilah juara satu, dua dan tiga lomba gelud sama istri" Esa membuka suaranya.
Bang Garin langsung ternganga bingung, Bang Anjar menggaruk kepalanya salah tingkah sedangkan Bang Sanca bersandar di belakang mobilnya membawa wajah pucat dan lemas.
"Abang nggak mikir ya sudah mau punya anak lagi..!!" tegur Rhea.
"Mana duit taruhannya???" tanya Fia.
Bang Sanca langsung menyerahkan seluruh uang taruhan itu tanpa sisa, bahkan sampai dompetnya pun ia serahkan.
"Ini.. nggak ada lagi" Bang Sanca menunjukan isi kantongnya yang memang kosong.
"Sudah mau punya anak lagi saja Abang masih bertingkah" ucap Fia sambil memelototi suaminya. Bang Sanca langsung menunduk tak menatap Fia lagi.
"Abang di ajak Garin" jawab Bang Sanca.
"Aahh.. sama saja..!! Kalau Abang bisa menolak nggak mungkin Abang ikut-ikutan. Dasar Genk berang-berang" Fia sangat kesal melihat ketiga pria tersebut.
"Lu ini pot biang masalahnya" gerutu Bang Sanca melirik Bang Garin.
"Semua salah.. cepat pulang...!!" ucap Rhea yang juga sedang kesal.
...
"Dek.. Jangan diem donk..!! Abang belikan makanan ya?" bujuknya sudah kesekian kalinya.
Segala usaha Bang Sanca masih sia-sia. Fia malah mengeluarkan bantal dan selimutnya. Kalau sudah seperti ini, sulit sekali untuk membujuk istri cantiknya itu.
Malam ini Bang Sanca terpaksa tidur di ruang tamu. Malam yang dingin harus ia nikmati sendirian karena sang istri sedang murka.
Sial sekali aku malam ini. Semua gara-gara Garin. Kenapa juga aku menuruti nya.
***
Ketiga perwira sedang berada di kantor Markas bersama Bang Hisam. Danyon menampar pipi ketiga perwira itu sekencangnya. Ketiga pasang mata itu melirik gadis berpangkat Serda duduk di sofa dan dua orang perwira.
"Apa-apaan kalian?? Apa benar kalian ini sebenarnya pasangan menyimpang??" tanya Bang Hisam.
"Menyimpang apa Bang?" Bang Sanca tidak paham dengan maksud Bang Hisam.
"Kalian bertiga ini memiliki hubungan terlarang khan?"
Papa Zaldi menggeleng mendengar keributan yang pastinya hanya salah paham saja.
__ADS_1
"Nggak Bang, nggak mungkin lah saya mau sama begituan" kata Bang Garin melirik Bang Sanca.
"Pedang saya masih berfungsi normal. Masih doyan ngebajak sawah daripada adu keris" sambar Bang Sanca.
"Iya Bang. Saya juga begitu" kata Bang Anjar cemas mendengar tuduhan itu.
"Panggil istri mereka..!!" perintah Pak Zaldi secara profesional.
...
"Pak Sanca mengakui sendiri bahwa beliau tidak tertarik dengan wanita" kata Serda wanita disana.
"Astaga.. saya mengatakannya karena saya nggak mau ada kontak apapun sama kamu semalam. Saya takut istri saya salah paham karena semalam saya keluar.. ijinnya rapat" akhirnya terpaksa Bang Sanca mengakui semua daripada suasana semakin memanas.
"Baiklah..!! Ibu-ibu tolong jawab dengan jujur. Ini intern dan tertutup, kasus ini tidak akan ada yang tau selain kita. Kalian tau khan belakangan ini banyak juga hal yang menyimpang di kalangan kita." Dan Zaldi membuka perselisihan siang ini.
"Saya belum menikah dengan Pak Anjar. Jadi saya tidak tau bagaimana kelakuan beliau di luar sana" kata Rhea sengaja untuk menghukum Bang Anjar.
Disana Bang Anjar hanya bisa melirik karena tidak mungkin dirinya bersitegang dengan Rhea apalagi soal kehamilannya yang pasti menimbulkan kekacauan.
"Saya juga tidak tau, bisa jadi selama ini Pak Garin dekat dengan Pak Sanca mengingat kedekatan mereka" ucap Esa.
Wajah Bang Garin dan Bang Anjar nampak datar tak berkutik, istri-istri mereka sungguh keterlaluan sudah menyudutkan mereka hingga terjepit dan terpojok.
"Bagaimana Bu Sanca?" tanya Dan Zaldi.
"Saya memang melihat perubahan suami saya yang aneh pak. Mereka ini selalu bertiga seperti orang kembar sial. Mungkin saja benar jika mereka ada hubungan di belakang"
"Dek.. Apa-apaan sih jawabnya? Abang nggak kelainan ya" protes Bang Sanca tidak terima.
Fia diam seolah tuli tidak mau mendengar protes Bang Sanca dan hanya menganggapnya angin lalu.
"Kamu jangan menyudutkan Abang donk dek. Ini bukan bahan bercandaan. Kasus lni sedang marak. Salah ucapan, kamu bisa menyeret opini yang tidak benar" kata Bang Sanca.
"Ijin Dan.. proses saja kalau memang ada buktinya. Apalagi suami saya memang bilang kalau beliau tidak doyan perempuan" Fia begitu puas membanting Bang Sanca di hadapan komandan. Niat jahilnya apalagi kalau bukan karena jengkel melihat sang suami yang sudah membohonginya semalam.
"Heehh.. Nggak doyan perempuan bagaimana maksudmu? Memangnya dua tembakan Abang kurang mantap sampai kamu hilang ingatan?? Sampai di rumah.. Lihat saja kamu nanti" ancam Bang Sanca tak main-main.
Papa Zaldi menghela nafasnya. Mau tidak mau.. Papa Zaldi juga yang harus menyelesaikan masalah ini.
.
.
.
__ADS_1
.