Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
64. Menginjak tempat baru.


__ADS_3

Pesawat telah mendarat sempurna. Para perwira melaksanakan upacara singkat di dekat hanggar lapangan udara. Disana hanya Bang Sanca saja yang seolah tidak bisa berdiri dengan sempurna. Keringat dingin menetes membasahi kening dan wajahnya. Kakinya gemetar tak karuan.


"Kapten Sanca..!! Apa ada masalah?" tanya Dan Bayu Komandan Markas sebagai atasan tertinggi disana.


"Siap tidak..!!" jawab Bang Sanca sekuatnya. Malu sekali rasanya jika dirinya yang biasa sebagai ketua team pertahanan tiba-tiba mabuk perjalanan udara.


Belum sampai Komandan Markas menjawab lagi, Bang Sanca berlari dan berjongkok ke tepi lapangan dan kembali mengeluarkan isi perutnya yang sudah tidak ada apa-apanya itu.


Dan Bayu pun menghentikan kegiatan dan langsung menyapa Bang Sanca.


"Kenapa le? Kamu nggak fit?" tanya Om Bayu.


"Saya baik-baik saja om. Saya juga nggak ngerti nih.. kenapa jadi mabuk naik pesawat" jawab Bang Sanca berusaha kuat menegakkan badannya sendiri tapi sia-sia saja. Dirinya kalah dengan rasa pening dan tidak nyaman pada tubuhnya.


Sedangkan disana Fia makan dengan lahapnya karena Tante Mey membawakan nya nasi egg roll kesukaan Fia.


Om Bayu menoleh menatap Ryan yang tetap setia berjaga di belakang Bang Sanca meskipun suami Fia itu kadang berbuat 'jahat' padanya.


"Apa kabarmu Ry?"


"Baik Om" senyum Bang Ryan selalu melekat padanya meskipun banyak orang yang menyakitinya.


"Ayaah.. " Yuna putri Om Bayu bergelayut di lengan papanya.


Ryan langsung menundukkan pandangan saat Yuna meliriknya.


"Yuna nggak lulus test yah" jawabnya dengan sedih.


"Ya nggak apa-apa. Kenapa harus berkecil hati." kata Om Bayu menghibur putrinya.


"Mungkin.. rejekimu jadi istrinya tentara ndhuk"


"Nggak mau.. tentara itu brengsek semua. Nggak ada satupun yang bisa di percaya" jawab Yuna sembari melirik Bang Sanca.


Bang Sanca dan Bang Ryan seketika menoleh melihat Yuna.


"Aku tidak begitu lagi Yuna. Jangan sampai ucapanmu ini terdengar di telinga Fia. Habislah aku nanti jadi bulan-bulanan bumilku itu" gerutu Bang Sanca yang memang pernah mengenal Yuna.


"Ehm.. kalau kamu pernah sakit hati.. jangan menyamaratakan sikap dan sifat manusia. Itu semua berbeda" ucap Bang Ryan kemudian pergi meninggalkan Yuna.


Bang Sanca terdiam sesaat kemudian tersenyum penuh arti.


"Apa Fia Abang gombali juga??" tegur Yuna.


"Abang minta maaf Yuna. Soal Fia.. dia tidak tau apa-apa. Tolong jangan cerita macam-macam. Kehamilannya tidak begitu sehat."


"Jadikan Yuna simpananmu Bang..!!" kata Yuna.


"Huuussshh.. Yuna.. Meskipun bercanda nggak boleh bicara seperti itu. Fia bisa sakit hati kalau mendengarnya" tegur keras Ayah Bayu.


"Maaf yah" Yuna pun meninggalkan tempat Ayah dan Bang Sanca.


"Lihat itu San.. Bagaimana kalau sampai Fia tau. Kamu berani perang?" tanya Om Bayu.


"Di Medan perang berani om. Kalau sama Fia ya nggak lah" jawab Bang Sanca sambil mengusap perutnya.


"Gariiin..!!!!!" teriakan Bang Anjar membuat fokus semua orang teralihkan. Bang Garin mengejar mobil tangki avtur yang sudah melaju kencang.


Tak ayal para anggota mengikuti tangki itu mengira ada hal darurat yang terjadi. Suara sirine membahana memekakkan telinga.


"Ada apa itu?" tanya Om Bayu.


Bang Sanca memicingkan mata.


"Garin???"

__ADS_1


Melihat Bang Garin berlarian. Bang Sanca menjadi sangat cemas dan ikut panik takut terjadi sesuatu pada littingnya itu. Dengan sekuat tenaga, tak mempedulikan dirinya.. ia berlari mengejar Bang Garin.


:


"Ada masalah apa pot??" Bang Anjar terengah ketika akhirnya mobil tangki bahan bakar pesawat itu berhenti, sang mudi pun sampai ikut turun.


Bang Sanca sudah tidak sanggup lagi untuk bicara, wajah amat sangat pucat sekali.


"Guling gue tersangkut di belakang tangga tangki.. malah ada botol susu anak gue juga disitu. Bisa di cincang Esa nih kalau hilang" jawab Bang Garin tanpa rasa bersalah.


"Astagfirullah hal adzim.. Gariiiiin...!!!!!!!!" Bang Anjar begitu murka mendengar kejujuran Bang Garin.


"Haaahh.. " rasa lelah Bang Sanca semakin menjadi lelah saja.


bruugghhh..


Bang Sanca langsung tumbang karena kelelahan. Apalagi ia baru saja mendahulukan hal tidak penting dalam hidupnya.


"Garin.. kamu ikut ke ruangan saya nanti..!!" perintah Dan Bayu melihat semua keributan ini.


"Siap Komandan..!!"


-_-_-_-_-


"Saya pulang saja Om. Fia pasti bingung di rumah dinas sendirian kalau saya di rawat" kata Bang Sanca sembari berusaha melepas infusnya.


"Jangan coba-coba Sanca.. Semakin kamu melawan.. malah Tante akan buat kamu tidur..!!" ancam Tante Imey.


"Ryan...kamu ke rumah ya.. bantu Fia di rumahnya. Besok Sanca sudah boleh pulang kok"


"Nggak.. biar yang lain saja jaga Fia. Atau bawa Fia kesini..!!" pinta Bang Sanca.


Om Bayu dan Tante Mey saling bertatapan.


"Ryan.. jaga Abangmu ini. Bandel sekali dia" perintah Om Bayu memutuskan.


...


Karena sudah terlalu lelah, Fia tidur di ranjang Bang Sanca sedangkan Bang Sanca memilih tidur di kursi meskipun jarum infus masih tertancap di punggung tangannya.


Tinggal Ryan yang tidak bisa tidur, bolak balik ia mengontrol kondisi Bang Sanca. Abangnya itu masih demam setinggi keras kepala nya yang sulit di atasi.


"Fiaa..!!" ucapnya mengigau, tangan itupun masih siaga satu menjaga Fia.


Meskipun terasa pahit di dalam hati.. Bang Ryan tetap memeriksa kondisi Bang Sanca.


"Kenapa demamnya belum turun juga." gumam Bang Ryan.


"Sepertinya beban Abang lebih berat di batin. Saya tidak akan merebut Fia mu Bang.. Saya sanggup menahan semuanya asalkan Abang membahagiakan Fia. Kalau Abang membuatnya menangis.. tidak segan saya akan buat perhitungan dengan Abang" ucapnya kemudian menyuntikkan obat melalui jarum infus kemudian meninggalkan Bang Sanca.


Bang Sanca membuka matanya. Sejak Ryan bergumam tadi, suara gumaman yang berisik itu membuatnya terbangun.


Jelas hatiku sakit Ryan. Aku tidak pernah tau kedekatanmu dengan Fia ternyata bermaksud lain. Apa salah kalau aku ingin melindungi istriku dan pernikahanku. Sebelum kamu menjadi biawak.. aku sudah lebih dulu menjadi buaya. Aku tau rasa sayangmu itu bukan antara kakak dan adik.


***


"Ya Tuhan Garin.. nanti sore aku sudah keluar dari rumah sakit. Lagi pula kenapa kamu bawa singkong, jagung, ubi dan talas ke kesini.. hasil kebun siapa yang kamu bajak????"


"Yang penting khan aku bawa buah tangan" kata Bang Garin.


"Astaga.. kamu mau buat sakitku semakin parah?? Apa dikira aku ini mau gelar dagangan" kelakuan Bang Garin kadang membuatnya pusing.


Tak lama Fia masuk ke dalam kamar rawat Bang Sanca. Fia nampak menyangga perutnya saat masuk ke dalam kamar.


"Kenapa dek? Nggak enak badan? Ada yang sakit?" tanya Bang Sanca sambil mengarahkan Fia untuk duduk.

__ADS_1


"Fia hanya berjalan sampai depan, tapi rasanya punggung Fia sakit sekali Bang" jawab Fia.


"Sabar ya, tunggu keterangan dokter sebentar baru kita pulang. Atau kamu mau pulang sama Garin?" kata Bang Sanca memberi pilihan.


"Fia sama Abang saja..!!"


"Aduuuhh.. hari pertama yang sibuk di kantorku..!!" Bang Anjar akhirnya datang juga menjenguk Bang Sanca.


"Iya sama. Di kantor ku juga sibuk sekali" kata Bang Garin.


Tanpa terasa mereka mengobrol hingga dokter mengijinkan Bang Sanca keluar dari rumah sakit.


-_-_-_-_-


Bang Sanca melihat ada banyak seniornya di sekitar rumah sakit. Tidak mungkin dirinya mengenalkan Fia saat yang lain sedangkan tidak membawa pasangan.


"Kamu duluan ke mobil dek. Ada sopir yang jemput. Abang nggak lama, hanya menyapa senior sebentar saja..!!"


"Iya Bang"


Fia pun berjalan menuju mobil dinas yang terparkir di pelataran parkir rumah sakit. Tidak ada seorang pun disana.


Tiba-tiba saja ada yang menyapanya dengan ragu.


"Fia..?????"


Saat itu Fia menoleh ke arah suara orang yang menyapanya. Betapa terkejutnya Fia saat melihat pria yang kini ada di hadapannya.


"Baang.. Baaang Raiz???" ucap Fia terbata-bata melihat Bang Raiz yang kini sudah berubah total.


"Kamu ada disini?? Sama siapa?" senyum sinis Bang Raiz masih terngiang di pelupuk mata Fia. "Kamu masih cantik, sama seperti yang dulu Fia"


Ingatan Fia berhamburan berputar-putar di dalam kepalanya. Tiba-tiba ingatan buruk itu memberikan tekanan kuat dalam batinnya.


"Jangan..!!"


Fia berpegangan pada tiang lampu taman.


"Aarrgghh.."


Suara Fia membuat Bang Sanca dan rekan langsung menoleh. Mata Bang Sanca melotot kaget melihat Fia memegangi perutnya.


"Abaaang.." pekik Fia semakin histeris.


"Ya Allah Fiiaaa..!!!!" Bang Sanca segera berlari dan untungnya masih sempat menahan tubuh Fia.


Bang Sanca melihat nama dada pria di hadapannya. Raizul Faraz.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bang Sanca bernada keras penuh rasa tidak suka.


"Ijin.. Siap salah Dan.. Fia ini kenalan saya..!!" jawab Bang Raiz.


"Yang kamu bilang kenalan kamu ini.. istri saya Raiz..!! Perhatikan sapaan Nyonya Sanca dengan benar..!!" bentak Bang Sanca.


Raiz begitu terkejut hingga rasanya nyawanya nyaris melayang.


"Abaaang.. sakiiit" Fia meremas lengan Bang Sanca sekuatnya.


"Sabar... sabaar dek.. tarik nafas dulu.. Rileks.. Tenang sayang.. kamu aman sama Abang..!!" bujuk Bang Sanca.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2