
"Ngawur kamu..!! Ya nggak lah. Sudah terlanjur ya sudah. Yang salah kita. Anak nggak tau apa-apa. Itu juga karena Abang yang kurang kontrol"
"Terus kenapa Abang nggak suka???" tanya Fia.
"Bukan nggak suka sayang. Siapa yang nggak suka kalau istri hamil. Hanya saja kamu tau sendiri keadaanmu sekarang. Jelas Abang kepikiran kamu, kesehatanmu sama si kecil. Kamu itu baru saja operasi. Ini beresiko tinggi. Nyawamu taruhannya dek" jawab Bang Sanca terang-terangan
"Saat kita melakukannya, Fia sudah sadar dengan resikonya Bang. Fia nggak apa-apa. Apa sekarang Abang mau bilang kalau saat itu Abang nggak berpikir panjang dan hanya ingin 'melepaskannya' saja?" tanya Fia mencecar Bang Sanca.
Fia semakin menangis kencang membuat Bang Sanca tidak tega.
"Sudah donk nangisnya sayang..!! Abang sayang dedek kok" bujuk Bang Sanca akhirnya mengalah.
-_-_-_-_-
Papa Zaldi berjalan mondar-mandir kesana kemari. Sesekali matanya melirik Fia yang memeluk Bang Sanca dengan manja dan wajah takut Ola yang memeluk Bang Ibra.
"Ini memang urusan rumah tangga kalian, mau punya anak tiga, empat, lima.. itu terserah kalian. Tapi jaraknya itu lho le.. kamu nggak kasihan sama anakmu? Bisa-bisanya Danki sama Danton balap liar"
Bang Sanca dan Bang Ibra menunduk tak berani menatap wajah papanya. Opa Rinto malah santai saja sambil bermain bersama El, Nasya dan inces.
"Jangan bahas ini lagi. Punya anak itu keputusan mereka. Syukuri dan jalani saja hidup ini" kata Opa Rinto.
"Ya memang pa, tapi temponya ini lho"
"Biar sekalian capeknya Zaldi" jawab Oma Anye.
Bang Sanca mengusap wajahnya, cemasnya terasa berat berlipat-lipat menyesakan dada. Rasanya ia menusuk dirinya sendiri saking kalutnya menghadapi masalah ini.
"Bang..!!" Fia menggoyang lengan Bang Sanca.
"Dalem..!!"
"Mau tuyul berendam sama guling. " kata Fia merajuk.
"Alaah gustiiii.. mulaiii" Bang Sanca menggeleng menepuk dahinya.
"Iya sabar.. coba kalau mau ngomong khan enak to cah ayu. Ini ada lagi nggak? Sekalian jalan..!!"
"Pasukan b*d**x lagi rapat"
"Oke sayang.. tapi jangan tanya ya kemana Danki pulang sampai subuh"
Wajah Fia seketika berubah jadi kusut.
"Iyaa sayangkuuu" Bang Sanca mengambil ponselnya lalu menghubungi Om Hega dan Om Indra.
"Indra.. tolong ajak Hega cari pesanan istri saya sekarang juga..!!"
"Ijin Dan.. Ibu minta apa?"
__ADS_1
"Tolong belikan............"
...
Bang Sanca masih sibuk di kompi bersama Bang Ibra. Mengingat keadaan istri mereka yang kebetulan 'bengkak' dadakan, tidak mungkin untuk mereka meminta kedua bumil itu bekerja hingga malam hari sampai-sampai pekerjaan bumil, juga harus mereka yang menangani.
"Ini sudah selesai Bu. Nanti saya bawa pulang biar di tanda tangani istri saya, besok saya bawa kesini lagi."
"Siap bapak. Hmm.. Ijin Pak.. kalau boleh tau.. ibu sakit apa?" tanya Bu Salman.
"Nggak sakit Bu. Alhamdulillah isi lagi" jawab Bang Sanca dengan senyumnya yang tampak cemas.
"Oohh.. Alhamdulillah Pak.. Rejeki itu pak"
"Nggih Bu Salman. Tapi istri saya khan baru tindakan operasi, saat ini pasti sangat beresiko karena lukanya belum sembuh total. Ini juga salah saya Bu." tak sengaja Bang Sanca mengungkapkan kegundahan perasaannya.
Pak Salman pun mengambil alih curhatan itu karena beliau usai merampungkan taman untuk penyambutan komandan. Bang Sanca meminta tenda untuk di geser mengarah langsung ke gedung mengingat belakangan ini daerah mereka sudah sering hujan.
"Ijin Dan.. kalau boleh saya beri masukan.. jangan menganggap hal ini terlalu berat. Stress nya Danki bisa menambah stressnya ibu. Dulu saya pun mengalaminya Dan. Namanya rejeki dari Tuhan.. mau bagaimana lagi, apa mau kita tolak."
"Saya sadari itu pak. Nggak mungkin saya mau enaknya saja. Sudah lega, tapi nggak mau hasil perbuatan saya. Sebagai seorang suami, itu adalah tanggung jawab saya" jawab Bang Sanca.
"Benar Dan, tentang kesehatan ibu.. Komandan tenang saja. Jaman sekarang pengobatan sudah semakin canggih. Jangan terlalu jadi pikiran, nanti komandan bisa sakit"
"Terus terang sekarang saja saya nggak doyan makan. Kasihan lihat istri saya pak" ucap jujur Bang Sanca.
"Sabar Dan" Pak Salman mencoba menguatkan Bang Sanca.
...
"Ya maaf sayang, namanya juga keliling dulu sama mikir kamu maunya apa" kata Bang Sanca membujuk Fia yang sudah tidak menginginkan makanan itu lagi.
"Ini ngidam apa ngerjain Abang sih? Kemarin kamu nggak apa-apa. Sudah tau hamil kok aneh-aneh saja mintanya"
"Nggak tau, Semuanya juga tiba-tiba pengen aja lihat Abang susah. Lihat Abang susah tuh hati Fia bahagia" jawab Fia dengan semua ucapan polosnya.
"Yo wes kalau itu bisa buat bumil Abang tersayang bahagia. Mau di kerjain bumil seperti apa juga Abang ikhlas"
...
Bang Ibra baru pertama kali ini merasakan momong bumilnya. Sejak tadi tangannya terus membelai sayang disana sini.
"Kamu nggak ngidam seperti Fia dek?" tanya Bang Ibra.
"Memangnya kalau Ola minta macam-macam boleh Bang?"
"Boleh donk. Nggak masalah" jawab Bang Ibra.
"Ola pengen makan sagu khas Papua"
__ADS_1
"Oke siap sayang. Besok itu barang paling ori pasti sampai disini." janji Bang Ibra sebab besok ada rekannya yang datang dari Papua.
Tengah malam ia menghubungi rekannya, meskipun ia harus mendapatkan cacian antar sahabat.. ia tak peduli, yang penting Ola bisa merasakan sagu khas Papua.
***
Pagi hari mereka sudah bersiap pergi ke kompi. Anak-anak aman dalam asuhan bibi, Opa Rinto, Oma Anye, Papa Zaldi dan Mama Arnes.
"Fia sudah rapi Bang?" tanya Fia memperlihatkan riasan wajahnya pada Bang Sanca.
"Sebenarnya tanpa make up pun kamu cantik, tapi riasan kamu kali ini benar-benar sangat cantik. Abang saja rasanya nggak kuat, bawaannya pengen gigit kamu" jawabnya sambil merapikan posisi kerudung Fia.
"Lain kali jangan terlalu banyak pakai make up. Abang nggak mau ada pria lain yang memandangmu penuh nafsuu. Cukup Abang saja yang punya rasa itu" Bang Sanca mengecup bibir Fia.
Fia tau suaminya sedang menginginkan nya, tapi keadaan mereka yang sudah sangat rapi tidak mungkin untuk di bongkar.
"Fia sudah cantik nih Bang" protes Fia.
"Abang bisa atasi"
...
Bang Ibra kesal sekali, Berkali-kali ia menghubungi seniornya itu tapi tidak ada tanggapan sama sekali padahal panglima sudah ada dalam perjalanan.
"Astagaaa.. mati kah Abang ini??? Kenapa panggilan telepon ku tidak di jawab juga? Apa mungkin masih sempat tebar pupuk? Nggak mungkin lah. Ini hari penting..!!"
Tak lama Bang Sanca datang mengendarai motor membonceng Fia. Fia turun perlahan, terlihat alas handuk menjaga duduknya. Setelah itu Bang Sanca memarkir motornya dan kembali berlari berkumpul bersama anggotanya.
"Abang darimana?? Panglima sudah di jalan..!!!" tegur keras Bang Ibra karena ini semua dalam hal pekerjaan.
Bang Sanca mengatur nafasnya yang terengah-engah berpegangan pada kedua bahu Bang Ibra.
"Sorry bro..!!"
"Keringat Abang.. Haduuuuhh...!!" Fia mengarahkan wajah Bang Sanca agar bisa menghapus keringat di kening Bang Sanca.
"Aduuhh.. lututku rasanya mau lepas" gumam Bang Sanca lirih ia berjongkok menormalkan nafas.
"Jangan keras-keras Bang, nanti terdengar sama yang lain" tegur Fia.
"Saya sudah dengar. Keterlaluan kalian..!!" Bang Ibra berucap geram namun meminimalkan suaranya.
Terdengar bunyi sirine, tanda Panglima akan memasuki kawasan Ksatrian. Bang Sanca segera berdiri. Aura tampan dan berwibawa tak pernah lepas dari suami Fia.
.
.
.
__ADS_1
.