Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
72. Terganggu.


__ADS_3

"Om Hega sama Om Raiz nunggu di luar Bang. Mereka juga nggak bakalan macam-macam.


"Nggak bisa.. Abang ikut saja. Nggak ada yang ngawasin kamu disana. Kalau kamu sesak, ngantuk, sakit perut, pusing.. bagaimana?? Ada yang begitu itu.. ibu-ibu lebih mengutamakan teriak sambil merekam. Bukannya menolong malah mengabadikan lebih dulu"


"Ya sudah deh, terserah Abang"


Saat bersiap akan berangkat.. ada informasi untuk seluruh Komandan dari tiap jajaran untuk kumpul di kantor Markas. Bang Sanca menjadi gusar karena pastinya tidak bisa menemani Fia.


"Aduuhh.. Kenapa dadakan begini sih"


Bang Sanca menarik ponsel dari saku bajunya.


"Raiz.. kamu dan Hega jaga keamanan istri saya baik-baik. Jangan ceroboh.. terutama kamu Raiz. Sampai itu ibu Danki tergores sedikit saja.. urusan kamu sama saya di mulai.!!"


"Siap Dan.." jawab Bang Raiz.


-_-_-_-_-_-


Dan Bayu mengatur anggota dari setiap kompi yang ada untuk pengamanan tamu negara. Presiden beserta panglima akan berkunjung ke kota mereka.


"Untuk sniper bagian mu ya San..!!"


"Siap Dan"


Bang Sanca merasa cemas untuk tiga hari pekerjaan yang mengharuskan dirinya meninggalkan Fia.


"Garin.. kamu dengar apa perintah dari saya??" tanya Dan Bayu karena Bang Garin hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"Siap dengar.. Dan"


"Kamu harus fokus dengan pekerjaan mu. Jangan sembarang mengabaikan pekerjaan meskipun itu kecil."


"Siap..!!"


//


Bang Sanca melihat jam tangannya. Sudah mendekati waktu makan siang. Masih ada waktu untuk menyusul Fia ke rumah makan tempat istrinya berkumpul dengan para istri anggota lain. Tidak mungkin para ibu-ibu akan langsung masuk restoran. Pastinya mereka akan berjalan-jalan dan selfi dulu sebagai kenang-kenangan meninggalkan jejak disana.


"Masih ada waktu nih. Lebih baik aku lihat Fia disana"


...


Bang Sanca duduk menyendiri melihat Fia sudah akrab dengan para istri anggota lain. Senyum positif terpancar dari raut wajah sang istri yang nampak rileks berada di lingkungan barunya, tapi rasa kesalnya seketika mencuat tatkala Praka Raiz memandangi istrinya dengan tatapan tak wajar.


Om Hega menyenggol lengan Bang Raiz, nampaknya Om Hega cemas dengan tatapan mata Danki yang terus menuju ke arahnya.


"Bang.. jangan lihat ibu Danki terus. Itu tatapan mata Pak Danki seolah ingin menelan Abang bulat-bulat" bisik Om Hega.


Bang Raiz langsung menyadari kelakuannya yang tidak sopan sudah memandangi istri orang. Ia mengalihkan pandangan lalu menyeruput kopinya.

__ADS_1


Seorang pelayan membawa nampan lalu menurunkan makanan di hadapan Fia. Bang Sanca segera menghampiri pelayan tersebut.


"Ini apa mbak?"


"Sambal teri pak." jawab mbak pelayan.


"Ganti sambal tempe aja mbak.. istri saya alergi seafood, jangan terlalu pedas, nasi putihnya tambah lagi.. yang mau makan dua orang" kata Bang Sanca panjang lebar" Fia melirik Bang Sanca yang terlalu rumit memperhatikannya.


:


"Fia kenyang Bang.." bisik Fia.


"Si inces masih lapar. Kenapa mamanya ini rewel sekali. Makan yang banyak.. biar kuat hadapi kenyataan kalau kamu itu istri Abang" kata Bang Sanca.


Pelan-pelan dengan telaten Bang Sanca menyuapi Fia. Akhirnya dua porsi nasi benar-benar habis di bersih di perut Fia.


"Alhamdulillah.. habis juga khan"


Bang Sanca sama sekali tidak merasa canggung berhadapan dengan ibu-ibu. Sesekali mereka bercengkrama hangat. Terlihat sekali Pak Danki sangat menyayangi istrinya itu.


"Waahh.. nanti pasti putrinya Pak Danki cantik sekali seperti Ibu" kata Bu Cipto.


"Hehehe.. bisa saja Bu Cipto ini. Perempuan ya cantik. Masa ganteng" jawab Bang Sanca.


Seulas guyonan ringan sampai akhirnya Bang Sanca meninggalkan Fia lagi untuk bergabung bersama para anggotanya.


...


"Pelan sedikit bawa mobilnya. Buat si inces nih bukan perkara mudah" tegur Bang Sanca.


"Siap Dan..!!"


"Mulai sekarang, kamu dan Serda Indra saja yang ikut saya kemana-mana. Malas betul saya sama mantannya ini nih" ucap jujur Bang Sanca sambil melirik Fia tanpa ada yang di tutup-tutupi sama sekali.


"Nggak boleh gitu aahh.. Kenapa Abang bisa bilang begitu di hadapan anggota Abang" teguran Fia pun tidak ada yang di tutupi juga.


"Matanya yang melihatmu seperti tadi itu rasanya ingin kucolok. Tidak sopan sekali dia menatapmu seperti itu" ucap kesal Bang Sanca yang sangat di mengerti Om Hega.


Mungkin Om Hega pun akan marah juga jika istrinya mendapat tatapan aneh dan kurang ajar dari pria lain.


"Ijin Dan.. besok pagi sudah mulai?"


"Mulai hari ini..!!!!!" perintah Bang Sanca tegas.


...


Fia melihat wajah Bang Sanca yang masih saja masam. Bang Sanca membuka pintu rumah dengan kasar dan meninggalkan Fia usai membukakan pintu mobil untuk istri tercinta.


"Aawwhh.."

__ADS_1


Bang Sanca menoleh kaget melihat saat mendengar pekik suara Fia.


"Apa dek??" langkah cepat Bang Sanca menghampiri Fia.


"Mau jatuh." jawab Fia.


"Kalau jalan itu di lihat baik-baik. Apa sih yang kamu pikir? Masih ingat Raiz???" tanya Bang Sanca dengan nada keras.


Fia menepis kasar tangan Bang Sanca yang memeganginya. Langkah yang tadinya pelan kini berubah kencang malah sampai tersandung.


"Teruskan saja ngambek begitu..!! Kalau ada apa-apa sama inces.. Abang hajar juga kamu" bentaknya semakin kesal.


Sesaat kemudian Bang Sanca mengusap dadanya. Ia menyadari bentakannya pada Fia pasti akan berakhir pertengkaran. Baru kali ini dirinya merasakan sakit dalam hati yang begitu menyakiti hati tapi tetap saja ia enggan menyebutnya dengan rasa cemburu meskipun jelas ia seorang pria yang sangat pencemburu.


"Eehh dek.. Mau kemana kamu?" Bang Sanca kelabakan saat melihat Fia menangis dan mengemasi barang nya.


"Mau cari Bang Raiz. Kata Abang khan Fia selalu mengingatnya, padahal belum tentu Abang lupa kenangan indah sm Mbak Rhea dan Mbak Yuna" jawab Fia.


"Apa kamu tau isi hati Abang?? Apa kamu percaya kalau isi hati Abang hanya ada kamu?" tanya Bang Sanca.


"Nggak..!! Karena Abang juga nggak percaya kalau Fia hanya sayang sama Abang" jawab Fia sembari kembali memasukan barangnya ke dalam koper.


Bang Sanca memegang tangan Fia dan mencegah istrinya yang terus memasukan barang ke dalam koper.


"Bisa nggak sih perempuan itu kalau marah ancamannya nggak minggat dari rumah?" bisik Bang Sanca di telinga Fia.


"Abang maunya apa?" lirik Fia yang masih kesal.


"Ya apa gitu lho Neng. Asalkan jangan pergi dari rumah"


"Apa maksud Abang?? Abang ngajak gelud??" tanya Fia sinis.


"Ya kalau kamu paksa sih Abang mau bilang apa" jawab Bang Sanca sambil tersipu tersenyum nakal.


"Tapi inces lagi ngambek sama papanya"


Bang Sanca mengeratkan pelukannya.


"Ya sudah.. papa minta maaf sama mama dulu, baru ke inces. Maaf ya ma.. Jangan pergi"


Entah mengapa hati Fia yang semula kesal menjadi melunak tapi ia enggan menunjukkan pada Bang Sanca.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2