
Bang Sanca berjaga di luar mobil sembari menghisap rokoknya. Pakaiannya masih basah sedangkan Fia berganti pakaian di dalam mobil. Bang Sanca menggeleng kepala, tersenyum geli mengingat apa yang Fia ucapkan tadi.
Buat apa mengintip. Kalau istri ku yang mau.. Mau lihat ya lihat saja, mau pegang ya pegang saja.. bahkan kalau kamu memintanya, pasti aku beri tanpa penolakan, malah senang sekali kalau istriku mau terbuka.
"Abang senyum kenapa?" sapa Fia sembari mengintip dari balik jendela.
"Astagfirullah hal adzim, kamu suka sekali kalau di suruh ngintip ya" Bang Sanca mengusap dadanya.
"Abang itu kenapa? Senyum sendiri, kesambet pohon bakau ya Abang?" selidik Fia karena melihat raut wajah Bang Sanca yang gelap bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Nggak apa-apa. Awas.. Abang mau ganti baju..!!" kata Bang Sanca langsung naik ke dalam mobil dan menutup gorden mobilnya.
"Kenapa tadi nggak sekalian ganti baju Bang???" tanya Fia heran.
"Kalau Abang ikut masuk.. siapa yang akan menjagamu? Lagipula Abang masih merokok. Sesak nafas kamu nanti kalau Abang di dalam" jawab Bang Sanca kemudian melepas pakaiannya.
Bang tau istri kecilnya melirik ke arahnya. Kelakuan Fia itu seketika membuat gairahnya mencuat. Pikirannya sudah keriting mengkhayal yang tidak-tidak
"Bang.. Fia lapar. Di sekitar sini ada makanan apa ya?" Fia bertanya namun bergumam sendiri mengalihkan perhatiannya.
"Kita cari penginapan dulu. Abang nggak puas kalau badan hanya di siram air galon" jawab Bang Sanca sembari mempercepat memakai pakaian.
...
Bang Sanca membuka kan pintu untuk Fia. Pemandangan alam pantai sungguh indah. Bang Sanca meminta kamar dengan full kaca dan bisa tertutup di siang hari. Fia sangat bahagia dan segera berlari ke arah balkon.
Bang Sanca menutup pintu kemudian menyusul Fia.
"Kamu suka?" tanyanya sambil memeluk Fia ke dalam dekapannya. Angin malam lumayan kencang.
"Suka sekali Bang.. ini indah. Terima kasih banyak Abang" Fia membalas pelukan hangat Bang Sanca.
"Sama-sama. Kamu nggak pengen mandi dulu? apa air galon tadi sudah menghilangkan air asin di badanmu? Buaya itu suka mencium aroma wangi yang asing. Bagaimana kalau buaya itu mengincarmu?"
"Tapi Fia pengen tidur Bang. Rasanya lelah sekali dalam perjalanan"
Bang Sanca tersenyum manis, rasanya sungguh kasihan melihat sang istri tapi tingkah Fia saat seolah tantangan telak baginya.
"Bang.. gendong..!! Fia nggak kuat jalan.. lapar"
Tanpa menunggu lama Bang Sanca segera membawa Fia ke atas ranjang. Bang Sanca mengambil gagang telepon kamar hotel, tapi Fia mencegahnya.
"Tutup semua tirai kamarnya Bang..!!"
"Kamu nggak mau makan malam sambil lihat pemandangan?" tanya Bang Sanca.
"Ehmmm.. Fia......" Fia menarik bahu Bang Sanca dan membisikan sesuatu di telinga suaminya.
__ADS_1
"Haduuhh.. Abang nggak berani dek"
"Tapi Fia lagi mau Bang" rengek Fia, tangannya sudah menjelajah kesana kemari.
"Ayoo paaa....!!!!!"
"Weess... angel. Di turuti bahaya, nggak di turuti kok cenat cenut"
"Paaaaa..."
Bang Sanca tersenyum nakal, ia membuka pakaiannya dengan tidak sabar.
"Siap sayang.. gaass poooollll, tabrak wae"
...
Tas berserakan disana sini. Bang Sanca mencari obat milik Fia. Istrinya itu nampak merintih kesakitan padahal dirinya sudah berusaha berhati-hati.
Ting..tong..
Suara petugas restoran datang mengantarkan pesanan Bang Sanca.
:
"Bagian mana yang sakit dek. Jangan buat Abang cemas..!! Setengah mati ini Abang kepikiran" tanya Bang Sanca sambil menyuapi Fia.
"Kamu sih.. Buat apa bertingkah seperti tadi?? Bahaya tau nggak"
"Abang juga nggak nolak khan?" balas Fia.
"Aseemm.. Mau nolak bagaimana?? Kucing nggak mungkin nolak di sodorin ikan" jawab Bang Sanca.
"Tapi Fia seksi nggak Bang??" tanya Fia masih sempat-sempatnya menggoda nakal.
"Mantaap dek. Bikin Abang mabuk kepayang. Mmuaahhh. Ha-ha-ha" jawab Bang Sanca. Raut wajahnya tidak bisa di bohongi, Fia sudah semakin membuat dirinya tidak bisa melihat wanita lain lagi.
Fia menunduk, gadis om Sanca itu begitu tenang dan terlihat lebih dewasa.
Semoga tidak akan pernah ada bayangan masa lalu dan hanya ada Fia dalam hati Abang.
"Abang hanya mencintaimu.. dan akan selalu begitu" ucap Bang Sanca seolah mengerti isi hati Fia.
"Terima kasih Bang"
Bang Sanca membalasnya dengan senyuman.
***
__ADS_1
Siang ini Bang Anjar, Bang Garin dan Bang Sanca duduk Bersama. Mereka sedang merundingkan masalah kepindahan ke tempat tugas yang baru.
"Kita 'lepas masa lajang' dulu lah sebelum berangkat ke tempat tugas yang baru" ajak Bang Garin.
"Setuju..!!" jawab Bang Anjar.
"Aku nggak setuju. Pergi main tanpa ajak istri bisa bahaya" jawab Bang Sanca.
"Cemen lu San. Biasanya kalau urusan begini lu pasang badan. Sejak nikah sama Fia, lu jadi penakut" kata Bang Garin.
"Bukan penakut. Menghargai istri. Mereka sudah lelah mengurus rumah, urus anak. Lu mah enak. Anak masih bayi, lah aku ada satu anak batita, satu lagi masih di perut. Mana Fia sekarang gampang drop. Masa iya kutinggal"
"Kita nggak akan macam-macam disana. Hanya nongkrong di kafe sambil dengarkan live music saja." ajak Bang Anjar.
"Kafe itu khan banyak cewek genitnya bro."
"Oke.. buat seru-seruan. Kalau ada yang nyangkut di antara kita, taruhannya satu kali uang jabatan kita di tambah rokok satu slop.!!" ujar Bang Garin semakin gencar mempengaruhi.
Bang Sanca berpikir sejenak.
"Hmm.. ayo berangkat..!!"
-_-_-_-_-
"Malam ini ada rapat dadakan soal perpisahan dan membahas keberangkatan." pamit Bang Sanca membujuk Fia.
"Tapi Fia lagi pengen di temani Abang"
"Sebentar aja kok dek. Yaa..!!"
...
Bang Anjar dan Bang Garin berduet menyanyikan lagu, tinggal lah Bang Sanca mengopi sendiri di mejanya.
"Saya duduk disini ya mas."
Bang Sanca menoleh ke sekitar.
"Masih banyak bangku mbak" jawab Bang Sanca.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan suka spoiler..!!