
Harap kebijakan dalam membaca...!!!!
🌹🌹🌹
"Jangan di masukan ke hati Bang..!!" kata Bang Ibra.
"Abang sudah tau kelakuan dia. Tapintolong lah ada apa-apa itu koordinasi. Kita tidak kerja sendirian. Kita berkelompok dan saling cover. Litting itu adalah saudara tidak sedarah. Coba bayangkan bagaimana kalau saudara mu tertimpa masalah..!!"
"Saya ngerti Bang"
Bang Garin duduk menyusul di samping Bang Sanca dan suami Fia itu hanya meliriknya saja.
"Kurang tiga hari lagi. Jangan terlalu tegang bekerja. Sekali-kali lepaskan penatmu. Kamu memang komandan yang luar biasa"
"Apa maksudmu?" tanya Bang Sanca.
"Aku juga rindu sama Esa, sama jagoanku. Tapi konsentrasi itu penting bro.. Kamu terlalu tegang. Santai sedikit lah" Bang Garin sangat memahami rasa rindu dan cemas di hati sahabatnya itu, tak pernah Bang Garin lihat sahabatnya itu sebucin ini dengan wanita yang di cintai nya.
"Kopi satu Bu..!! Kapten Sanca yang bayar semua ya..!!" ucap Bang Garin di hadapan tiga puluh anggotanya yang sedang bersantai.
"Terima kasih komandan..!!!" sorak sorai para anggota begitu riuh ikut menggoda Komandannya yang kaku.
Lirikan Bang Sanca kembali menyisir raut wajah Bang Garin yang masih tega mengerjainya bahkan ketika mereka berada di warung kopi.
"Hari ini kalian boleh habiskan isi warung ini" perintah Bang Sanca membuat para anggota terdiam.
"Saya serius..!!"
"Horeeee.. Terima kasih banyak Komandan..!!"
***
Senyum Kapten Sanca baru terlihat sore hari ini. Hari ini kepemimpinan nya akan kembali setelah satu bulan ini di tangani langsung dalam pengawasan markas.
Tak berbeda dengan Bang Sanca. Rona bahagia juga terpancar dari wajah Bang Ibra karena besok dirinya akan menikahi Ola.
"Yang buat besok malam di pikir besok saja. Yang penting sah dulu..!!" tegur Bang Sanca sanca saat melihat ketegangan di wajah kakak iparnya.
"Nggak lah Bang, saya mah nggak kepikiran sampai sana" jawabnya namun tidak bisa menyembunyikan wajah tegangnya.
"Ayo angkat barang ke truk. Mau cepat kawin nggak?"
"Siaap..!!" Bang Ibra mengangkat rangsel yang ia bawa dengan cepat.
-_-_-_-_-
Fia bingung karena dirinya juga harus mengungsi di rumah transit karena rumahnya sendiri sedang di bongkar atas permintaan Danki. Dirinya hanya bisa pasrah menurut padahal suaminya belum datang.
Tak lama beberapa truk memasuki kawasan Kompi. Fia tak tau perubahan suaminya yang kini memiliki wajah yang semakin menggelap karena terpapar sinar matahari. Rambutnya gondrong berantakan.
Fia celingukan mencari keberadaan Bang Sanca namun tidak menemukan suaminya itu.
"Cari siapa Neng?" sapa Bang Sanca.
__ADS_1
"Abaang?? Kenapa gosong begini Bang??"
"Abang kerja to Neng, bukan jadi model iklan handbody" jawab Bang Sanca.
"Hmm.. itu rumah kita di apa-in sih?" tanya Fia masih tidak paham.
"Masa cuma Ibra aja yang nikmati malam pengantin. Kamu mau nggak di manjain Abang?" bisik nakal Bang Sanca kemudian meninggalkan Fia dengan pipi memerah.
...
"Mau kemana?" tanya Papa Zaldi.
"Mau lihat Nasya pa"
"Lihat Nasya atau mamanya Nasya?? Nggak boleh, tunggu sampai akad nikah besok..!!" Papa Zaldi melarang keras putranya untuk mencuri waktu menemui Ola.
Dengan menyimpan wajah kesal Bang Ibra meninggalkan Papa Zaldi. Acara besok memang tertutup dan tidak ada yang tau acara apa yang di adakan para komandan. Yang para anggota tau, komandan mereka sedang mengadakan syukuran kelahiran putri Danki dan Danton.
...
Bang Ibra menoleh kesekitar, semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Bang Ibra memanjat pintu kamarnya untuk mengintip calon istrinya itu. Tak di sangka tanpa sengaja Bang Ibra melihat Ola sedang berganti pakaian.
"Aduuuuh.. berkah atau musibah nih kalau begini?" gumamnya pelan.
Bang Ibra sudah memahami kalau dirinya salah tapi matanya enggan melewatkan rejeki yang ia dapatkan hari ini. Bukannya menghindar, matanya semakin melotot melihat Ola dari lubang ventilasi.
"Heehh Ibra.. kenapa kamu panjat????" tegur Papa Zaldi yang berjalan melewati kamar Ola.
"Aahh.. anu.. ini pa. Mau tutup lubang ventilasi biar AC nya nggak ngowos" jawabnya mencari alasan.
"Ada saja akalnya cari jalan. Ini sudah malam. Besok pagi sudah sah. Masa bujangan tunggu beberapa jam saja nggak kuat"
"Iyaa pa.. aku pergi nih"
...
Bang Ibra duduk di samping rumah Bang Sanca. Sendirian merokok tanpa teman disana. Tak lama telinga nya menangkap suara yang antara familiar dan tidak di telinganya. Entah jiwa ingin taunya atau pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Ia mengintip dari celah dapur.
"Fia masih takut" ucap jujur Fia sembari melepaskan paggutan hangat dari Bang Sanca. Fia yang manja masih mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Sanca.
"Takut apa? Kamu pasti minta lagi" Bang Sanca menaikan dress Fia yang sudah di posisi kan duduk di atas meja. Terlihat Bang Sanca sudah begitu tidak sabar dan menuntut balasan hangat dari Fia.
"Malam ini jangan nggak selesai lagi. Abang nggak sanggup kalau harus puasa lagi. Dua bulan lewat sayang..!!!" pintanya karena memang sudah merindukan Fia.
Gemuruh di dada Bang Ibra semakin bertalu membuatnya semakin gelisah tak karuan. Tubuhnya menegang, pikirannya kacau balau.
"Aaahh.. kesini pengen tenang malah pikiran jadi ruwet. Gara-gara Abang nih" gumamnya lirih.
"Tapi ngomong-ngomong, pintar juga Abang merayu. Fia anteng begitu"
"Haduuuhh.. Astagfirullah..!!! Setan..!!!!"
***
__ADS_1
"Fia capek Abaang..!!"
"Abangmu mau nikah, ayo cepat mandi terus sholat..!! Perias sudah mau datang kesini dek..!!!" Bang Sanca membangunkan Fia yang seakan tidak sanggup membuka mata.
"Lima menit lagi..!! Fia pusing"
"Duuhh.. alamat telat iki" Bang Sanca memijat badan Fia. Istrinya itu benar-benar kelelahan karena ulahnya semalam.
...
Mata Bang Ibra terlihat cekung. Sampai detik ini dirinya belum bertemu Ola sama sekali. Ia hanya bisa mendengar suaranya melalui panggilan telepon tanpa melihat wajah 'istri' maupun putrinya.
"Kenapa matamu seperti panda? Nggak tidur?" tanya Bang Sanca.
"Belum tidur sudah mimpi buruk Bang" jawab Bang Ibra.
"Kok bisa?"
"Iya Bang. Semalam ada biawak kasak kusuk di dapur, mungkin mau nyuri ikan. Padahal banyak orang di luar" jawab Bang Ibra.
Bang Sanca kaget bukan main tapi ia masih bisa mengendalikan diri.
"Biawaknya sudah terlatih dan teruji." bisiknya pelan di telinga Bang Ibra.
"Cepat masuk..!! Halal itu enaakk..!!"
Bang Ibra melirik Bang Sanca yang terus meledeknya.
"Kalau saja Nasya sudah besar, pasti kubobol sekarang juga Bang" ucapnya dengan sombong.
"Buktikan..!!" Bang Sanca tertawa sembari menghampiri Fia yang ternyata kembali tertidur di sudut ruangan.
...
"Sah.."
"Alhamdulillah.." Bang Ibra mengusap air matanya. Mulai detik ini statusnya bukan seorang bujangan lagi. Dulu ia sangat ingin Rinka duduk di sampingnya, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Kini dalam hatinya ia tekankan kuat untuk mencintai Ola. Wanita yang di kirim Tuhan sebagai pengganti laranya atas kepergian Rinka. Wanita itu tidak memiliki siapapun, hanya wali hakim yang menjadi penolong wanita yang akan ia cintai seumur hidupnya.
Mama Arnes membimbing langkah Ola. Sungguh sempurna tanpa cela di mata Bang Ibra. Meskipun hanya berbalut kebaya sederhana, semua tak memudarkan aura cantik istri Lettu Ibra.
Kaki Ola lemas menghampiri Bang Ibra sampai Bang Ibra sendiri yang harus menjemputnya. Tak disangka Ola berlutut memeluk kaki Bang Ibra.
"Terima kasih.. Terima kasih banyak Abang mau menerima wanita seperti Ola. Tak tau bagaimana caranya Ola membalas kebaikan Abang yang sudi menerima Ola yang tidak sempurna ini". ucap Ola terisak.
Bang Ibra memegang kedua tangan Ola lalu mengajaknya berdiri di hadapannya.
"Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna tak terkecuali Abang. Mungkin kamu adalah jodoh yang tertunda dari Tuhan. Abang memilih mu untuk menyempurnakan ibadah Abang. Mulai sekarang.. berdirilah di samping Abang. Temani Abang menjalani hari-hari hingga nafas ini terhenti. Terima kasih kamu bersedia hadir dalam hidup Abang" Bang Ibra mengecup kening Ola dengan sayang.
"Abang sayang kamu istriku..!!"
.
.
__ADS_1
.
.