
Fia memeluk El sedikit mengangkatnya, menghadang Nelzi menusuk Bang Sanca. Pisau tajam itu menembus perut Fia.
Tubuh itu perlahan turun, pandangannya menggelap.. ia menciumi putra pertama kesayangannya. Mata Bang Sanca merah berkaca-kaca di penuhi amarah, Ia menembakan peluru berkali-kali di tubuh Nelzi hingga wanita itu tumbang. Matanya menatap Bang Sanca dengan lekat.
"Dalam hidup, aku tidak pernah mencintai pria seperti aku mencintaimu bahkan tidak sebesar aku mencintai suamiku. Aku mencintai anakmu seperti aku mencintai diriku sendiri. Maaf.. aku mengganggu kebahagiaanmu" ucap Nelzi sebelum matanya benar tertutup.
"Bolehkah aku memegang tanganmu sebelum aku pergi?"
Bang Sanca mendekap Fia, Bang Garin mengambil alih El dari gendongan Fia dan Bang Ryan memeriksa kondisi adik perempuan kesayangannya.
Amarah Bang Sanca sudah tidak berlogika. Ia menembak seorang anak buah kepercayaan Nelzi kemudian mengambil parang di tangannya. Tangan Nelzi yang menggapai Bang Sanca tidak di pedulikannya. Parang itu mengayun lalu menebas leher wanita itu hingga terlepas dari raga. Sungguh kali itu para anggota melihat seorang Kapten berdarah dingin.
Darah menyebar kemana-mana.
"Abaaang..!!!" seketika pandangan Fia kabur karena terlalu syok tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Nyawa Nelzi habis seketika dan para pemberontak itu di amankan pihak terkait yang telah di hubungi.
...
Bang Sanca histeris menangis meraung di atas helikopter. Para anggota team ada yang mengajak El bermain agar tidak mengganggu papanya yang sudah hampir gila hilang akal karena tak sanggup melihat Fia dalam penyelamatan.
Dokter serba salah dalam menangani istri Kapten Sanca. Ingin melakukan apapun tapi Kapten Sanca mendekap istrinya dengan kuat.
"Kamu jangan banyak gerak San. Kamu juga luka, tembusnya dalam..!!!!" Bang Garin sampai kewalahan menenangkan rekan seperjuangan nya itu. Wajah Bang Sanca sudah seperti mayat hidup, darahnya kembali tembus dan jahitannya terbuka.
"Mereka boleh menyakitiku. Aku juga rela kalau mereka meminta nyawaku. Tapi mereka sudah menyakiti istriku..!!!" ucapnya masih belum mau melepaskan Fia.
"Beri penenang saja Bang..!! Sanca juga butuh istirahat" pinta Bang Garin pada seniornya.
"Aku nggak mau. Jangan coba-coba kamu ya..!!"
Dokter pun segera mengikuti anjuran Bang Garin karena itu memang jalan satu-satunya agar Bang Sanca tenang.
Akhirnya setelah mendapatkan penenang, Bang Sanca tertidur di samping Fia yang juga dalam penanganan Bang Ryan.
"Tiga hari ini dia juga tidak tidur karena mencemaskan Fia Bang. Mana ada yang tau kalau pusing mualnya setiap hari itu ternyata gara-gara Fia hamil" kata Bang Garin ikut prihatin.
Dokter tersenyum menggeleng melihat ocehan Bang Garin.
"Oya.. kemarin istrimu ke rumah sakit sendiri. Dia mengeluh perutnya sakit. Sepertinya sudah ada tanda mau melahirkan"
Bang Garin langsung melotot, wajahnya kaku tak berekspresi. Sesaat kemudian ia tak sadarkan diri menimpa Bang Sanca.
***
Tengah malam para anggota satgas tiba di markas. Fia dan Bang Sanca di larikan kerumah sakit. Suster juga mendorong Bang Garin di kursi roda karena kembali mendengar Esa akan melahirkan.
Papa Zaldi dan Mama Arnes berlari ke rumah sakit. Mereka berdua langsung mengambil cucu pertama mereka seakan lupa putri dan menantunya sedang terluka parah.
__ADS_1
"Cucuku mirip aku ma." kata Papa Zaldi.
"Mirip Mama donk pa" protes Mama Arnes.
"Jagoan Oma mau susu??" Mama Arnes langsung memberi cucunya susu botol karena tau betul cucunya pasti sangat lapar.
Terdengar teriakan dari ruangan. Bang Sanca kembali histeris dan mengamuk mencari Fia yang tidak ada di dekatnya. Papa Zaldi segera menghampiri sumber keributan itu.
"Kamu jangan teriak seperti Tarzan. Ini rumah sakit Dan..!!" tegur Papa Zaldi.
"Fia dimana? El dimana? Bayiku bagaimana pa?????"
Papa Zaldi bingung dengan maksud Bang Sanca.
"Bayi yang mana? El baik-baik saja. Fia sedang di tangani dokter dan Ryan"
Tak lama Ryan keluar dari ruang tindakan dan melepas maskernya.
"Ya bayinya Bang Sanca pa, yang masih ada di dalam perut Fia"
Papa Zaldi mengacak rambutnya dengan gemas.
"Ya Allah Sancaaaa... kamu ini benar-benar keterlaluan ya..!!!" bentak Papa Zaldi sampai emosi.
"Papa.. dimana mereka????" tanya Bang Sanca tak karuan.
"Sudah.. Sanca juga tidak salah" kata Opa Rinto menengahi.
...
Bang Sanca duduk perlahan. Dadanya pun masih terasa sakit, tapi semua akan terasa lebih sakit jika tidak bisa menyelamatkan istrinya.
"Anakku bagaimana Ry?" tanya Bang Sanca sembari mengusap perut Fia
"Aman Bang. Lewat layar USG sudah lima minggu. Abang harus lebih menjaganya dan hati-hati" jawab Bang Ryan.
"Hanya sekedar peringatan saja Bang. Kandungan Fia kali ini sedikit lemah"
"Iya.. Abang ngerti. Abang akan menjaganya baik-baik" senyum Bang Sanca terasa pahit untuk dirasakan.
Di sudut sana Papa Zaldi dan Mama Arnes berebut menjaga El. Mungkin benar apa yang di katakan orang. Kasih sayang untuk cucu, di atas segalanya.
"Panggil Daddy ya, kalau Opa terlalu tua buatku Ma. Aku ini masih gagah. Tidak kalah dari menantumu yang asal cetak gol itu" gerutu Papa Zaldi masih tidak terima kalau Sanca sudah membuat Fia hamil lagi.
...
Bang Sanca menggenggam erat tangan Fia. Perlahan ada gerakan yang sejak tadi ia tunggu. Fia sadar juga.
"Abaang... El mana?" tanyanya sesaat membuka mata. Suaranya masih lemah dan berat.
__ADS_1
"Huusstt.. sekarang anakmu disita Daddy dan maminya. Kamu tenang saja jaga si kecil kita" jawab Bang Sanca berbisik lembut di telinga Fia.
"Dia baik-baik saja khan Bang?" Fia begitu cemas dengan kandungannya.
"Alhamdulillah dia sehat, nggak terpengaruh dari dunia luar" sementara hanya itu saja yang bisa terlontar dari mulut Bang Sanca. Ia masih belum tega mengatakan hal yang sebenarnya karena tidak ingin membuat Fia lebih stress lagi.
"Sekarang kita makan ya. Dari kemarin kamu nggak makan. Kasihan si dedek. Biar cepat besar dia"
...
"Ayo dek.. Semangaaaaaaaaattttt.. Komando..!!!!" teriak Bang Garin di ruang bersalin. Setengah mati ia gugup menemani Esa yang akan melahirkan.
"Berisik Abaang..!!" Esa pun sampai ikut berteriak kesal.
"Abang gugup dek..!!" kata Bang Garin.
"Aduuh Bu bidan.. itu apa????" pekik Bang Garin heboh sendiri satu ruang bersalin.
"Itu kepala si dedek pak"
"Ya Allah.. toloong..!!!!!!" untuk kesekian kalinya Bang Garin lemas tak sanggup melihat perjuangan Esa. Ia ingin sekali menemani sang istri. Tapi apa daya.. mentalnya tidak begitu kuat untuk hal yang satu ini.
...
"Bang, Fia pengen............."
"Astagfirullah hal adzim.. jangan pakai sandi dek..!! Abang nggak kuat mikirnya" protes Bang Sanca.
"Fia belum selesai bicara Bang. Abang curigaan aja. Fia pengen makan capcay seafood" jawabnya dengan jelas.
Bang Sanca menghela nafas lega.
"Sama guling ijo tenggelam ya Bang..!!"
Seketika refleks Bang Sanca menepak sisi meja.
"Podo wae ndhuk..!!"
"Sayang anak nggak??" tanya Fia memasang wajah cemberutnya.
"Yo sayang to, anak bojo mesti kesayangan" jawab Bang Sanca mencolek dagu Fia dan menyunggingkan senyumnya padahal dalam hati menggerutu dan berpikir keras mencari guling ijo yang tenggelam.
.
.
.
.
__ADS_1