
"Ola berhak marah khan Bang?" tanya Ola dengan wajah kesalnya.
"Iya, marah lah.. itu hak mu..!!" jawab Bang Ibra.
"Kenapa Wulan berani sekali berbuat seperti itu?" tanya Ola.
"Nanti Abang ceritakan. Abang kangen kamu.. boleh donk Abang minta jatah" pinta Bang Ibra tanpa sungkan sedikitpun mengucapkan nya.
Mau tidak mau Ola tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Sekesal apapun dirinya, tapi kebutuhan biologis suaminya harus tetap terpenuhi.
***
Dua bulan ini Ola bersikap biasa saja pada Wulan. Setiap Bang Ibra pulang selalu menuju kamar mandi dengan cepat lalu segera masuk ke dalam kamar, itu pun selalu berdampingan dengan Ola karena Ola tau Bang Ibra begitu tidak nyaman bertemu Wulan.
...
Di tempat lain Bang Sanca hanya memangku laptop di pahanya. Matanya terpejam, bibirnya menghembuskan asap rokok ke segala arah, kepalanya pening tak karuan. Tiga cangkir kopi sudah habis di teguknya. Hatinya masih belum juga tenang.
Ini sudah dua setengah bulan sejak kejadian itu, tapi Fia masih saja belum sembuh. Lalu apa yang cocok untuk pengobatan Fia. Badannya semakin kurus, matanya cekung, wajahnya pucat. Aku sudah berusaha keras untuk menjaganya. Kalau Fia terus seperti ini, lama-lama dia bisa lemas.
"Abang masih kerja?" tanya Fia lalu duduk di samping Bang Sanca.
"Abang lagi nggak bisa mikir kerjaan dek" wajah Bang Sanca menunjukan kalau pria tersebut sedang mengalami banyak tekanan.
"Gara-gara Fia sakit ya Bang? Sebenarnya Fia sakit apa Bang?" Fia ingin sekali Bang Sanca lebih terbuka padanya.
Bang Sanca menghela nafas panjang. Tak tega.. tapi kali ini juga batas akhir dari kegundahan nya selama ini. Tangan kekarnya mengusap punggung Fia.
"Kamu kuat mendengarnya?" tanya Bang Sanca.
"Fia kuat Bang"
Bang Sanca menyandarkan punggung Fia pada dada bidangnya.
"Asma mu sudah semakin meningkat, juga ada polip di rahim mu. Tidak ada metode KB hormonal yang bisa kamu pakai. Abang berunding dengan mama, papa dan Ryan. Abang memutuskan untuk memasang penyekat di rahim mu, tapi seperti cerita mama.. ternyata benar metode ini tidak bisa di terima oleh tubuhmu, sampai sekarang kamu masih tetap sakit khan?"
Fia terdiam sejenak, selama ini suaminya sudah menyimpan beban ini sendirian, ia baru menyadari mengapa Bang Sanca tidak pernah menyentuhnya lagi meskipun saat ia sedang free.
"Terus kita harus bagaimana Bang?" tanya Fia juga bingung tak tau harus bagaimana memutuskan jalan keluar dari masalah ini.
"Ini juga yang buat Abang pusing. Semua serba salah. Kalau di pasang, kamu seperti ini.. kalau tidak di pasang.. bisa saja kamu hamil lagi. Terus terang Abang nggak siap, bukan karena tidak bisa membesarkan dan membiayai anak-anak kita, tapi lebih pada kesehatan mu. Abang tau hamil itu berat dan lelah."
__ADS_1
Fia mengarahkan wajah Bang Sanca agar bs memandang nya dengan jelas.
"Kita ke rumah sakit sekarang..!!"
"Mau apa?" tanya Bang Sanca bingung.
"Apapun kita tanggung berdua khan Bang. Bismillah saja jalani hidup ini" jawab Fia.
"Kamu yakin?" tanya Bang Sanca menegaskan sekali lagi.
"Yakin Bang"
-_-_-_-_-
"Pak.. Nasya nangis terus" Wulan mengadu pada Bang Ibra melalui sambungan telepon.
"Dapat darimana kamu nomer ponsel saya?" tanya Bang Ibra.
"Jangan pedulikan itu. Nasya nangis terus" jawab Wulan.
"Maminya kemana?"
"Entahlah.. sejak tadi meninggalkan anak ini. Jadi ibu kok nggak bertanggung jawab. Masa lebih penting urusan kantor daripada anaknya" gerutu Wulan.
"Kenapa kamu nggak ikut ke kantor, bukankah Nasya bisa lebih dekat dengan maminya"
"Nanti saja Wulan bawa ke kantor kalau Wulan sudah jadi maminya" jawab Wulan dengan tak tau malunya.
Bang Ibra mematikan sambungan telepon, ia tidak ingin menanggapi soal apapun tentang Wulan daripada akan menjadi salah paham untuk dirinya dan Ola.
Astagfirullah hal adzim.. Ola bisa ngamuk kalau tau semua ini.
Bang Ibra memijat kepalanya yang terasa berat lalu melanjutkan pekerjaan di ruangan kantornya. Namun setengah jam berlalu.. hatinya merasa tak tenang karena tadi ia sempat mendengar putrinya menangis.
...
Wulan memberikan susu botol untuk Nasya yang sedang dalam gendongan Bang Ibra. Putri kecil Bang Ibra langsung tidur dalam dekapan papinya.
"Kamu nggak kasih Nasya susu nya?" tegur Bang Ibra yang paham putrinya akan cepat tertidur saat sudah minum susu.
"Sore ini sengaja Wulan nggak kasih Nasya susu biar Abang pulang" jawab Wulan.
__ADS_1
"Apaaa??? Keterlaluan kamu Wulan..!!!!!" bentak Bang Ibra tak main-main.
"Kenapa Abang selalu menghindari Wulan. Tak bisakah kita bicara berdua baik-baik. Saat bersama Mbak Rinka Abang tidak menganggap Wulan ada, sekarang saat Mbak Rinka sudah tidak ada, Abang malah memilih wanita lain. Kenapa?? Apa kurangnya Wulan??? Wulan juga cantik, Wulan juga bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anak Abang" pekik Wulan tidak terima.
"Cukup Wulan..!!!! Jangan melewati batasmu. Kamu hanya ku anggap adik karena Almarhumah Rinka meminta seperti itu. Kalau saja tidak ada amanat Rinka.. Abang pun tidak ingin berurusan sama kamu" bentak Bang Ibra.
Tak lama Ola pulang dan melihat wajah Wulan dan Bang Ibra yang terlibat ketegangan.
"Ada apa. Suara Abang terdengar sampai jalan?" tanyanya pada Bang Ibra dan Wulan.
"Tanyakan sama dia. Berapa bulan dia ikut sama kita? Kenapa dia bisa punya nomer ponsel Abang dan sampai telat beri anak ku susu" Bang Ibra masuk ke dalam kamar masih tetap menggendong Nasya.
"Duduk..!!" perintah Ola.
Wulan duduk pada sofa yang di arahkan Ola.
"Kamu dapat nomer bapak darimana?" tanya Ola.
Wulan terdiam seribu bahasa tidak ingin menjawab pertanyaan Ola.
"Dari siapa Wulan???" tanya Ola lebih keras lagi.
"Dari Pak Indra" Jawab Wulan.
"Apa maksudnya? Lalu kenapa kamu lalai menjaga anak saya??"
"Saya lelah dan ingin punya waktu pribadi untuk saya sendiri Bu" Wulan menjawabnya seolah tanpa beban.
"Kamu ini bekerja Wulan. Lelah karena apa? Belanja pun kamu yang lakukan, saya bebaskan kamu berbelanja. Pulang pagi sampai malam juga sesuka hatimu. Apa saya kurang memberimu kelonggaran waktu untuk bersantai?" tegur Ola.
"Tapi saya lelah kalau belanja sendiri. Apa tidak bisa sekali-kali saya di temani bapak?"
Ola menatap ekspresi wajah datar Wulan. Ia pun menarik nafas panjang.
"Bang.. Abaaang.. Sini sebentar..!!" Ola memanggil suaminya.
Bang Ibra yang mendengar panggilan istrinya segera keluar dari kamar.
.
.
__ADS_1
.
.