
"Baiklah Opa, Papa boleh membawa El" jawab Fia dengan berat hati.
"Kamu serius dek????" tanya Bang Sanca.
"Sebelum Fia hamil, Fia sudah ingatkan Abang kalau mungkin hal ini bisa saja terjadi, tapi Abang seolah menutup mata. Fia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Abang karena Fia pun nggak melarang Abang" kata Fia terlihat lebih pasrah tapi tak tau dengan hatinya.
"Kamu bagaimana dek?" tanya Bang Ibra.
Ola langsung memeluk Bang Ibra dan terisak di pelukan suaminya itu.
"Ola juga ikhlas Bang"
"Ikhlas kok nangis, ingusnya kemana-mana ini lho sayang" kata Bang Ibra yang sebenarnya juga sangat sedih.
"Mungkin ini terbaik Opa. Jujur saat ini kami juga bingung, anak-anak masih kecil tapi mamanya sudah hamil lagi. Tapi kalau ada luangnya waktu tolong di bawa kesini Opa" Bang Ibra pun akhirnya ikut pasrah dengan keputusan Opa Rinto.
"Baiklah, besok akan ada orang yang membawa anak kalian. Jarak hanya dua jam saja. Opa sendiri yang akan sering membawa mereka menemui kalian"
Fia dan Ola memeluk suami mereka masing-masing. Sungguh semua ini adalah pilihan yang sulit dalam hidup mereka.
"Kalau nggak kuat bilang saja. Sebelum El dan inces di bawa pergi" kata Bang Sanca.
"Fia kuat kok Bang. Semua demi anak-anak. Fia takut kalau lagi mabuk anak-anak nggak terurus" jawab Fia.
Bang Sanca pun mengembangkan senyumnya.
"Kami sudah ikhlas Opa"
***
Fia dan Ola menahan tangis sekuatnya demi sang buah hati. Ia menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa memberikan kasih sayang yang tulus untuk mereka karena keadaan mereka yang begitu payah. Sesaat tadi peluk sayang kasih seorang ibu ia curahkan untuk putra putri tercinta mereka. Ketiga kesayangan kecil sudah bersama ketiga perawat yang akan membantu Oma dan Opa.
Selepas mobil Opa Rinto dan Oma Anye pergi, pecahlah tangis Fia dan Ola. Fia sampai tak sanggup berdiri dan Ola sudah terdiam tanpa suara.
"Iki piye to dek. Uwes to nangise. Abang sudah tenan ndhuk" bujuk Bang Sanca.
"Cabut yuk Bang, ajak mereka jalan-jalan" saran Bang Ibra.
"Nggak mau, Fia mau tidur." jawab Fia.
"Ola juga mau tidur saja Bang" jawab Ola lemah.
"Besok saja. Mereka masih adaptasi dengan suasana baru yang sepi. Kamu juga harus paham psikis ibu hamil itu berbeda dengan wanita pada umumnya" kata Bang Sanca.
"Siap Bang, saya paham"
"Eeehh begini saja.. kita buat sate saja yuk di belakang rumah, buat tenda. Refreshing dulu kita..!!" ajak Bang Sanca.
__ADS_1
"Ayo Bang..!! para princess dadakan santai saja di tenda. Nanti Abang dah" bujuk Bang Ibra.
-_-_-_-
Fia dan Ola sudah menyiapkan bahan untuk mereka membuat api unggun dan acara malam ini. Setelah usai semua, Bang Sanca menyambar gitarnya dan duduk di samping Fia. Ia memetik gitar merayu sang istri membiarkan Bang Ibra sibuk dengan perapian nya.
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
Akankah nanti terulang lagi
Jalinan cinta semu
Dengarlah bisikku, bukalah mata hatimu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Tak akan ada cinta yang lain
Pastikan cintaku hanya untukmu
Pernahkah terbersit olehmu
Aku pun takut kehilangan dirimu
"Ayune.. bojone sopo iku Ib..????" ucapnya sembari mencubit gemas dagu Fia.
"Istri Kapten Sanca kalau nggak salah" jawab Bang Ibra.
"Berarti benar donk..!! Coba sini Abang cek dulu, ori nggak" Bang Sanca menubruk dan menggelitik pinggang Fia dengan nakal.
"Assalamualaikum..!!!!!!" sapa seseorang yang jelas sudah mereka kenal.
"Wa'alaikumsalam.. Ya Tuhan kamii.. bumi gonjang-ganjing, kena kutuk apa sampai kedatangan raja lelembut begini" gerutu Bang Ibra.
"Wa'alaikumsalam.. tumben kesini, ada apa pot?" tanya Bang Sanca dengan perasaan tidak enak.
"Gue mau minta makan.. Esa nggak masak" jawab Bang Garin.
__ADS_1
"Apa gue bilang. Ada aja khan." Bang Ibra mulai menghela nafas.
"San.. ada baiknya begini ini lu ambil f***a, gue khan tamu" kata Bang Garin.
"Bener banget, tamu kagak di undang" Bnag Sanca berdiri dan mengambil minumannya.
"Nah gini khan sopan lu ada tamu"
"Eehh sayangnya Abang duduk aja di tenda, biar dua ajudan Abang yang kerja.
Esa hanya bisa menggeleng melihat tingkah suaminya.
"Kalau nggak ingat kata 'konco', wes tak bandem kowe pot." kata Bang Sanca.
"Terus saya mau bilang apa Bang" Bang Ibra pun ikut frustasi.
"Baca ayat kursy, aura nya sudah aur-auran" jawab Bang Sanca.
"Hahaha.. bisa aja lu puji gue" sungguh Bang Garin yang tak tau malu itu membuat kedua rekannya mengurut dada saking kesalnya.
...
"Laah.. lu bawa ayam pot.. tadi beli??" tanya Bang Sanca yang melihat Bang Garin menenteng dua ekor ayam yang sudah di sembelih.
"Nggak. Ada dua ekor ayam di sebelah, ku kira ayam mu pot? ku sembelih lah"
"Coba angkat..!!" pinta Bang Sanca.
"Ini" Bang Garin mengangkat ayamnya tinggi-tinggi.
"Lahdalaahh pot, itu ayamnya Pak Nainggolan..!!!!!!" Bang Sanca sampai berjingkat melihat dua ayam jago milik Serma Nainggolan.
"Naahh.. macam mana pula..?????"
"Iisshh lu mah buat perkara bae pot. Itu ayam aduan kesayangan tetangga gueee" Bang Sanca rasanya sudah ingin mengajak rekan seperjuangan nya itu adu banteng.
"Gue ganti dah.." kata Bang Garin merasa tidak enak.
"Anak ayam gue baru menetas, gue ganti itu aja gimana??" tanya Bang Garin ikut bingung.
"Ayam jago aduan mau lu ganti ayam betina petelur, moncong kau aja jadi berutu nya" jawab Bang Sanca dengan ubun-ubun yang memanas.
.
.
.
__ADS_1
.