
Tenda besar menghias halaman depan rumah Danki dan Danton. Kedua istri perwira itu begitu cantik tanpa cela. Syukuran kecil begitu ramai. Bang Sanca menggendong Abang Al yang sudah tertidur dalam dekapannya. Hanya saat seperti ini saja Bang Sanca bisa mencurahkan rasa sayangnya untuk sang putra.
Tak berapa lama Bang Sanca memberikan pada Bibi karena harus menyambut para petinggi. Fia pun sibuk dengan ibu-ibu yang lain.
...
Hari sudah semakin petang, rasa lelah dan penat melanda di hari yang begitu padat.
"Kamu masuk dan istirahat dulu..!!" perintah Bang Sanca pada Fia yang sedari tadi menggendong baby inces.
"Abang mau kemana?" tanya Fia.
"Masih banyak orang. Nanti Abang nyusul." Bang Sanca mengecup kening Fia.
Fia pun akhirnya masuk ke dalam kamar. Teringat olehnya kejadian semalam, Bang Sanca benar-benar membuatnya lelah. Senyumnya merekah cantik terbayang-bayang gagahnya Papa inces.
"Hhh.. mau gimana lagi" gumam Fia sembari mengembangkan senyumnya.
...
Bang Ibra masuk ke dalam kamar. Niat hati ingin merebahkan diri sebentar karena semalaman dia tidak tidur sama sekali, tapi begitu pintu terbuka betapa kagetnya Bang Ibra saat melihat rambut Ola tergerai melewati batas bahu dan hanya mengenakan pakaian dalam. Ola refleks terpekik dan berjongkok sedangkan Bang Ibra kembali keluar kamar dan menutup pintunya.
"Astagfirullah.." ucapnya masih mengingat Tuhan.
"Laahh.. kenapa aku keluar kamar???? Ola khan istriku.." gumamnya dengan hati berdebar.
"Kenapa aku ini. Semalam aku sudah ngintip, tapi kenapa sekarang jantungku nggak karuan seperti bocah kasmaran???"
Perlahan tapi pasti, Bang Ibra membuka pintu kamar. Mata Bang Ibra membulat besar melihat Ola memakai pakaian rangkap tiga dan itu pun begitu tebal.
"Ini di bumi dek. Abang nggak nikah sama astronot khan?" tegur Bang Ibra.
"Ehm.. Ola kedinginan Bang" jawab Ola tapi peluh sudah mengucur membasahi kening.
"Oohh.. Kalau begitu Abang matikan saja AC nya. Bang Ibra mengambil remot AC kemudian mematikan AC tersebut.
"Cepat tidur..!! Mungkin Abang kelainan, badan Abang kegerahan" Bang Ibra membuka kancing bajunya lalu menggantungnya. Ola menunduk takut sebab ini kali pertama ia melihat pria dengan badan sebaik Bang Ibra.
Ola semakin salah tingkah saat Bang Ibra hanya mengenakan celana pendek di hadapannya.
"Biasakan melihatnya. Seumur hidup kamu bebas menikmatinya" kata Bang Ibra.
Bang Ibra mencoba melepas pakaian Ola, tapi nampaknya.. istrinya itu begitu ketakutan. Si cantik Ola malah menangis sesenggukan menutupi wajahnya.
"Kenapa? kita sudah sah. Kamu nggak mau Abang melakukannya sekarang?"
"Maaf Bang.. Ola......."
__ADS_1
"Kenapa nangis.. Bilang sama Abang...!!"
"Selama menikah, Ola hanya melakukannya tiga kali. Setelah Ola hamil.. Almarhum suami Ola tidak pernah menyentuh Ola lagi dan di tiga kali itu.. Ola tidak pernah di perlakukan dengan baik, setiap hari dia hanya memukul dan..........." Ola semakin sesenggukan tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Kini ia mengerti apa yang di rasakan Ola. Tekanan batin yang pernah dirasakan Ola membuat istrinya itu menjadi sosok wanita yang penakut dan pendiam. Sebagai seorang pria, Bang Ibra tak sanggup membayangkan bagaimana kasarnya Almarhum suami Ola.
Bang Ibra mengangkat dagu Ola.
"Lihat mata Abang..!! Bangun..semua hanya mimpi. Mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi lagi. Kamu istri Abang, istri Lettu Ibra.. bukan istri Sertu Basri. Nasya itu anak Abang.. selamanya dia akan menjadi putri kecil Abang"
Ola memeluk erat Bang Ibra dan menumpahkan tangis pilu sekencangnya dan sekuat-kuatnya. Bang Ibra pun membawa Ola ke atas ranjang. Perlahan, dengan lembut.. Bang Ibra memagutt sayang bibir Ola tapi reaksi Ola masih begitu tegang bahkan mungkin bisa di bilang tidak pintar. Cara membalas perlakuan nya pun masih datar saja.
"Menurutlah.. Abang akan memberikan hakmu sebagai istri Abang.. dan Insya Allah Abang tidak akan melalaikan nafkah lahir dan batinmu"
Meskipun Ola masih gemetar ketakutan, ia mencoba untuk tenang.
"Boleh??" tanya Bang Ibra. Sebenarnya dalam hati Bang Ibra sudah sangat tidak tahan ingin melepas keperjakaan nya, tapi ia pun masih punya perasaan tidak tega melihat wajah takut Ola.
"Iya Bang.. Nggak apa-apa" jawab Ola mengijinkan.
"Yang beneer??? Kamu nggak takut?" tanya Bang Ibra sekali lagi.
Ola mengangguk mengiyakan.
"Abang cek lokasi dulu. Nanti kalau Nasya sudah besar.. Abang buatin adiknya Nasya" Bang Ibra mengambil sesuatu di lacinya.
"Abang bener mau pakai?" tanya Ola saat melihat benda yang di ambil Bang Ibra.
"Maafin Ola ya Bang..!!"
"Abang berusaha mengaturnya sebaik mungkin." Bang Ibra kembali membungkam bibir Ola. Tangannya sibuk menyelamatkan diri.
Lenguhan kecil Ola membuatnya lupa diri. Sejenak Bang Ibra memberi nafas untuk Ola, ditatapnya wajah cantik istri tercinta.
"Mungkin ini yang pertama buat Abang.. tapi Abang akan membuatmu melupakannya."
"Baaang..!!"
:
Suara berisik terdengar ribut di depan rumah.
"Mana Danki dan Danton mu??" tanya Papa Zaldi yang berlarian dari arah rumah transit.
"Ijin Dan.. ada di kediaman semua" jawab Om Hega.
"Panggil dulu...!!"
__ADS_1
"Tapi Dan..!!!"
"Ini darurat..!! Mereka mau rumah ini hangus terbakar???" bentak Papa Zaldi.
"Saya yang tanggung jawab..!"
"Siap..!!" Om Hega dan Om Indra berlari ke rumah komandan.
tok..tok..tok..
Terdengar suara Om Hega dan Om Indra yang sedang mengetuk rumah Bang Sanca dan Bang Ibra.
"Bang.. ada yang mengetuk pintu" Fia sedikit mendorong kedua bahu Bang Sanca.
"Biar saja. Tanggung dek" Bang Sanca semakin melayang tak peduli apapun lagi.
~
Bang Ibra ambruk, badannya lemas dan benar-benar lelah setelah menyelesaikan tugasnya sebagai suami Ola.
"Bang, ada yang panggil tuh" Ola menggoyang lengan Bang Ibra.
"Nanti sayang, capek sekali Abang.." jawab Bang Ibra langsung tertidur.
~
"Ijin Dan.. kebakaran..!!!!" teriak Om Indra.
~
Bang Sanca langsung berjingkat tidak jadi menyelesaikan pertempuran sedangkan Bang Ibra masih oleng masih mengumpulkan nyawa yang belum genap.
"Gendong anak dulu..!! Keluar lewat pintu belakang..!!" perintah Bang Ibra.
Kedua pria itu terburu-buru memakai pakaian dan segera berlari keluar.
"Astaga.. ada apa ini???? Kenapa sampai kebakaran????" Bang Ibra melompati pagar teras rumahnya dan memutar semua keran air di samping rumah Bang Sanca agar bisa lebih cepat membantu memadamkan api.
Disana Bang Sanca masih berpegangan pada dinding. Kepalanya terasa pening. Emosinya naik turun.
"Siapa yang terakhir ada disini?????" Dada Bang Sanca terasa sesak. Badannya masih tak karuan. Rasa kesal sudah membengkak di ubun-ubun merasakan hasratnyaa yang tidak tuntas.
"Ijin Dan.. saya tidak menuduh. Tapi........."
.
.
__ADS_1
.
.