
Nara sudah menyelipkan adegan yang rata-rata selalu pembaca sukai.. jadii.. jangan ribut lagi ya..!! Ada saat nya adegan romantis Nara selipkan😌🥰.
🌹🌹🌹
"Oohh.. suami saya nggak pernah kasar Bu. Memang sampai sekarang keadaan nya masih adaptasi dan belum stabil." jawab Fia.
"Sejak kapan Bu?"
"Sejak saya hamil Bu Budi" jawab Fia lagi.
Pikiran Bu Budi berkelana. Berarti sejak kehamilan baby Rara Danki berubah menjadi seorang pemabuk.
"Yang sabar ya Bu..!! Mudah-mudahan ibu selalu kuat dan tabah" kata Bu Budi yang di aalah artikan Bu Budi sebagai sebuah doa agar dirinya dan bayinya akan selalu sehat.
"Terima kasih banyak ya Bu atas doa dan perhatian nya"
"Ijin Bu, Sama-sama ibu."
...
"Sudah kenyang Bang? Minum obatnya..!!"
"Sudah dek. Sebentar lagi minumnya. Abang masih eneg. Kalau terlalu penuh jadi mual lagi." jawab Bang Sanca.
"Abang makan terlalu sedikit. Mana ada tenaga Bang"
"Nggak apa-apa. Yang penting bukan kamu yang merasakan seperti ini. Lebih baik kamu makan yang banyak. Jangan sampai seperti ini. Kasihan anak kita. Abang khan nggak bawa apa-apa, tapi kamu bawa anak. Jadi jangan sampai sakit" kata Bang Sanca. Satu minggu ini dirinya berusaha akrab dengan rasa mual yang teramat menyiksa. Meskipun badannya remuk, ia ikhlas demi anak dan istrinya.
...
"Nanti kita tunggu arahan dari Ibu ya... sekarang Ibu masih menyuapi Bapak. Bapak sedang tidak sehat." Bu Salman mengambil alih kegiatan karena Ibu Ibra sedang berada pada kunjungan kerja bersama Danton sedangkan Ibu Danki masih ada sedikit kesibukan.
"Hmm Bu Salman.. apa tidak sebaiknya kita memberi tahu suami-suami kita agar bisa sedikit bereaksi terhadap sikap Pak Sanca. Apa baik jika komandan mabuk terus setiap hari?? Yaa.. meskipun komandan menjalankan tugasnya dengan baik khan kesannya tidak baik jika dilihat anggota sendiri" ucap Bu Budi mencoba memberikan masukan.
Sebagian anggota yang tidak mengetahui duduk persoalannya jelas membenarkan ucapan Bu Budi tapi bagi yang paham dengan kondisi Bapak komandan jelas hanya bisa menarik nafas panjang.
"Bu Budi tau nggak, kalau Ibu sampai dengar semua ini, kasihan.. beliau akan sedih karena kita membicarakan beliau dari belakang. Jangan lah kita mengurusi urusan larang lain Bu.. apalagi kita tidak paham apa yang sebenarnya terjadi" tegur Bu Salman.
"Ini semua karena kita kasihan dengan ibu ketua kita, setiap hari bapak mabuk-mabukan. Kalau si kecil Rara melihatnya kasihan lho Bu Salman."
__ADS_1
Tak lama Fia memasuki ruang kantornya dan mendengar semua perkataan Bu Budi. Wajahnya terlihat datar dan biasa saja, di belakangnya berdehem Bang Sanca yang mengikuti langkah Fia.
"Jadi begini yang di lakukan ibu-ibu semua di belakang istri saya?" tegur Bang Sanca. Papa El itu menghubungi Bang Indra.
"Tolong kumpulkan jajaran kita, bergabung bersama beberapa ibu perwakilan pengurus..!! Sekarang juga..!!!!"
:
"Apakah baik membicarakan komandan sendiri?? Semua ada aturannya ya Pak.. Bu..!!!!" tegur keras Bang Sanca yang sesekali menghirup aroma minyak angin agar tidak mual dan menumbangkan wibawanya.
Semua anggota tertunduk karena saat ini Kapten Sanca benar-benar marah.
"Memang benar dua minggu ini saya selalu dalam keadaan mual dan mabuk berat. Ini memang resiko yang harus saya terima dari Tuhan karena saya minta seorang bayi lagi dari rahim istri saya" ucap tegas Bang Sanca.
"Jadi tolong jangan bicara macam-macam yang membuat istri saya down..!!"
"Siap komandan..!!"
"Jangan siap-siap saja..!! Sampai kapanpun tolong di terapkan sikap saling menjaga lisan..!! Dan satu lagi.. Istri Danton juga sedang di beri titipan. Saya hanya minta doanya yang terbaik dan jangan budayakan menggunjing karena saya paling tidak suka. Kalau saya tau ada suara sumbang lagi di sekitar saya.. suami ibu-ibu sekalian akan saya lempar ke daerah yang lebih pelosok lagi..!!" ancam Bang Sanca.
"Bang sudah.. jangan marah terus..!! Seharusnya tadi di sampaikan lewat group saja. Kenapa harus merepotkan semuanya. Ada ibu-ibu yang putra putrinya masih kecil" bisik Fia membujuk dengan sabar sebab kalau Bang Sanca sudah marah, angin ribut pun kalah.
"Mulut Fia juga begitu? Abang menyamakan mulut Fia dengan ibu-ibu itu?" Fia pun menyambar tasnya dan dengan cepat sengaja meninggalkan Bang Sanca agar perhatian suaminya itu teralihkan, disana Bang Ibra langsung mengambil alih acara.
"Yaa.. sama seperti yang Danki arahkan tadi, saya juga kecewa dengan berita miring yang ibu-ibu ini belum jelas darimana sumbernya................."
~
"Sayaaang.. maaf dek.. Abang nggak sengaja..!! Maksud Abang bukan begitu"
"Kalau sudah begini bilangnya nggak sengaja padahal dalam hati sudah benar-benar bilang kalau mulut perempuan hanya buat stress apalagi Fia yang suka debat dan adu mulut sama Abang" ucap Fia panjang lebar tanpa titik koma.
"Tergantung adu mulut nya bagaimana" Bang Sanca menyentil hidung mancung Fia dengan lembut.
"Cari lalapan yuk..!! Ada bibi sama Oma Opa buyutnya" ajak Bang Sanca yang membuat Fia berkedip-kedip. Secepatnya Bang Sanca menggandeng tangan Fia masuk ke dalam mobil.
~
"Seperti yang Danton sampaikan ya, ibu-ibu khusus nya.. saya minta tolong sekali untuk menjaga lisan, karena dari lisan itulah pribadi kita terlihat, disana kita tidak hanya menjaga diri sendiri tapi juga orang di sekitar kita dari pengaruh dunia luar. Bisa di pahami ya ibu-ibu" ucap Ibu Ibra dengan santun.
__ADS_1
Bang Ibra sampai terpaku melihat wajah cantik dan lembut perangai istri tercinta nya itu. Senyum tampannya pun merekah hingga Om Hega menegurnya.
"Ijin Dan.. setelah ishoma ada kegiatan apa? Danki tidak merespon pesan" tanya Om Hega.
"Acara bebas saja, terserah kalian asal jam usai.. semua harus apel sore. Saya mau pulang, istri saya capek sekali hari ini" jawab Bang Ibra memberikan arahan.
"Siap Danton..!!"
...
Fia semakin cemas karena arah mobilnya melaju menuju arah kota.
"Katanya mau cari lalapan Bang?"
"Iya sabar. Sekali-kali petik di tempat lain biar dapat rasa baru" jawab Bang Sanca.
"Memangnya mau makan lalapan apa Bang? Di sekitar kita juga banyak. Abang mau cari dimana" Fia mulai ribut menyadari perjalanan mereka semakin jauh.
"Rawa-rawa" jawab Bang Sanca singkat.
"Nggak mau aahh Bang..!!" tolak Fia.
"Cckk.. nanti kamu pasti suka, disana ada wisata yang kamu suka"
"Apa Bang? Kita jarang lho jalan-jalan" tanya Fia.
"Kebun terong"
tik..tok.. tik..tok..
Fia masih terdiam menerawang di mana Bang Sanca akan membawanya ke sebuah kebun yang membuatnya penasaran.
.
.
.
.
__ADS_1