
Beberapa anggota team sudah ada yang berasal kusuk karena kurang lebih dua bulan ini Fia dan pelatih Sanca semakin dekat. Karena situasi semakin lama semakin memanas, Bang Garin mengumpulkan dan menegur seluruh anggotanya.
"Apa yang kalian lihat dan kalian dengar, tolong di redam sendiri. Karena jika tuduhan itu tidak berdasar maka jatuhnya akan sebagai fitnah" tegur Bang Garin.
"Siap salah Kapten..!!"
"Lanjutkan kegiatan kalian dan jangan mencoba menerka apapun disini. Jika sampai saya dengar lagi.. kalian akan berhadapan dengan saya..!!
:
Fia ingin sekali mandi tapi air sungai di hutan terlampau dingin.
"Mandi saja, Abang tunggu disini..!!" kata Bang Sanca.
"Apa disini aman Bang?" tanya Fia.
"Aman.. pakai sarung buatmu mandi, jangan asal..!!" Bang Sanca membuang puntung rokok lalu membenahi letak senapan laras panjang di punggungnya.
Bang Sanca menggeleng, prajurit yang sedang dalam penugasan kemungkinan besar jarang mandi dan hanya memikirkan pengamanan. Tapi posisi Fia saat ini adalah 'prajurit' tambahan yang dikirim dalam misi khusus.
Bukan hal mudah bagi Sanca melakukan tugas kali ini. Di samping ia harus menjaga dirinya sendiri.. sekarang dirinya juga harus menjaga sang istri dari incaran musuh.
Saat Fia melepas seluruh yang menempel di tubuhnya, insting predatornya mencuat dan tidak bisa di ajak kerjasama tapi ia segera menepisnya. Akalnya masih waras untuk tidak berbuat macam-macam di lingkungan garis merah.
"Abang nggak mandi?" tangan Fia pada Bang Sanca yang baru saja mengakhiri mode terbang setelah pikirannya melayang mengkhayal tentang si cantiknya Zafia.
Bang Sanca melirik ke sekeliling lalu mengaktifkan HT menghubungi Bang Garin.
"Saya sedang melaksanakan pengamanan di sekitar sungai. Jaga jarak aman, kosongkan lapangan sampai saya selesai patroli"
Bang Garin yang sedang membangun tenda sedang tidak konsentrasi karena sempat kepikiran dengan keadaan Esa yang ia tinggalkan dalam kehamilan menuju delapan bulan.
"Ada masalah apa pot? Ada yang mencurigakan?" tanya Bang Garin.
Tak ada lagi jawaban dari Bang Sanca dan itu membuat Bang Garin sangat cemas.
"Kalian lanjutkan..!! Juned jaga disini, saya cari Sanca" perintah Bang Garin.
"Saya ikut Bang..!!" Bang Ryan pun ikut mencemaskan keadaan Fia dan Bang Sanca.
:
Bang Garin sengaja berjalan senyap di semak, di sana matanya melihat dengan jelas Bang Sanca sedang bertelanjang dada dan bercumbu mesra dengan Fia.
"Ular jantan satu itu benar-benar harus di maki. Ternyata dia mengamankan akal sehatnya sendiri" gerutu Bang Garin.
Bang Ryan menarik lengan Bang Garin agar menjauh.
"Sudah Bang, yang penting mereka nggak macam-macam dan nggak mungkin mereka bertindak di luar batas. Hutan ini punya banyak mata"
"Itu jawaban khusus untuk sewajarnya pria, tapi kalau urusannya sama Sanca ya bisa belok. Kalau sudah dekat sama adikmu itu, imannya buyar" kata Bang Garin.
"Yang benar Bang? Masalahnya Bang Sanca sudah janji sama keluarga untuk tidak macam-macam selama misi ini belum selesai" Bang Garin mulai panik.
"Nggak usah pikirkan itu, pria punya seribu cara untuk berhati-hati. Ingat Ry.. Fia khan istrinya Sanca, wajar kalau mereka mungkin sampai melakukannya"
__ADS_1
"Ya Allah.." Bang Ryan mengusap wajahnya karena dadanya ikut berdesir ngeri.
:
"Astagfirullah hal adzim.. kamu kenapa to dek, kenapa jadi demam??" Bang Sanca tak bisa menyembunyikan kecemasannya merasakan demamnya Fia.
"Badan Fia sakit semua Bang. Fia capek" rengeknya manja.
"Kamu belum makan dek. Tadi ada buruan tuh. Makan dulu ya? Atau makan ransum?" tanya Bang Sanca.
Bang Ryan hanya melirik Bang Sanca dan Fia secara bergantian sambil memeriksa kondisi adiknya lalu memberinya obat.
"Sate ada bang?"
"Mimpi apa kamu sampai tanya sate di hutan? Ini di hutan dek. Makan pun seadanya" jawab Bang Sanca.
"Kalau nggak mau cari ya sudah, tapi jangan marah" kata Fia langsung cemberut mendengar jawaban Bang Sanca.
"Siapa yang marah.. Ya Allah. Inilah kalau bawa perempuan dalam tugas. Ada aja lah maunya. Makanya kalau ada pendidikan survival itu di pakai, bukan hanya di catat saja dalam buku" kepala Bang Sanca rasanya pening menghadapi Fia.
Fia pun menarik nafas. Ini memang pertama kali baginya masuk ke dalam hutan tanpa membawa ponsel dan meninggalkan gegap gempita kota besar.
"Maaf Bang" jawab Fia.
"Tidur kamu dek. Besok pagi kita jalan lagi" kata Bang Ryan menengahi ketegangan di antara dua orang di hadapannya.
***
Fia dan Bang Sanca sudah melacak koordinat musuh. Sedikit perdebatan di antara Bang Sanca dan Fia tapi akhirnya Bang Sanca yang benar dalam menghitung titik lokasi.
"Maaf Bang..!!"
Bang Sanca mengintai lewat teropong dari atas bukit mencari sebuah rumah yang selama ini di incarnya. Senyum pahit dan getir terasa menusuk hati. Rasa sesak merajai hati kala melihat sosok nan jauh disana.
"Ada apa Bang?" tanya Fia.
Bang Sanca memberikan teropong itu agar Fia bisa melihatnya juga.
"Lihat baik-baik apa yang ada disana..!!" ucapnya di samping telinga Fia.
Fia melihat sosok gemuk dan begitu lucu sedang berada dalam gendongan seorang wanita cantik yang tak hentinya tersenyum padanya.
"Siapa dia Bang?" tanya Fia dengan suara tercekat.
"Itu putramu, anak yang kamu cari selama ini. Elcassa Armada Pandu Yudha. Mereka disana memanggilnya.. Daud Ali" jawab Bang Sanca.
"Eeellll..!!!" teriak Fia histeris ingin berlari kesana. Bang Sanca pun segera mencegahnya.
"Kendalikan dirimu. Kalau mereka tau keberadaan kita, kamu tidak akan bisa memeluk anakmu selamanya. Kamu mau????" ucap keras Bang Sanca mengingatkan Fia.
"Kamu harus kuat..!!!" Bang Sanca memegang kedua bahu Fia agar istrinya itu tidak lemah.
Para anggota saling bertatapan menerka apa yang sebenarnya terjadi antara Kapten Sanca dan Fia.
doorr..dooorr..doooorrr..
__ADS_1
Terdengar bunyi suara tembakan memberondong ke arah mereka. Seketika sikap sigap siaga mereka langsung pada posisi masing-masing.
Para pasukan saling berbalas tembakan. Bang Sanca sedikit menekan kepala Fia yang kurang menunduk. Fia yang sudah lihai saja masih tetap membuat Bang Sanca cemas saat Fia menghindari tembakan musuh.
Tak di sangka seorang dari musuh menyergap dan menyerang Fia. Para anggota lain waspada dengan keadaan sekitar. Bang Sanca beralih bermaksud menyelamatkan Fia tapi langkahnya terhalang oleh seseorang yang juga langsung menyerangnya membabi buta.
Bang Sanca tak konsentrasi karena Fia sudah terhantam tepat mengenai dada atas dan perutnya hingga Fia terpelanting masuk terperosok ke dalam jurang.
"Fiaaaa...!!!!!!" Bang Sanca seketika itu juga memberondong lawan.
Teriakan Bang Sanca menimbulkan reaksi dari Bang Ryan yang akhirnya juga memberondong musuh membabi buta.
Musuh kocar kacir dan lari tunggang langgang tanpa bisa terkejar. Bang Sanca segera turun dalam kekalutannya mencari Fia.
Terlihat di bawah sana Fia tertelungkup sekuat tenaga berpegangan pada ranting.
"Dek.. pegang tangan Abang..!!!" Bang Sanca mengulurkan tangannya. Fia ingin menggapainya tapi rasa sakit yang teramat sangat, membuatnya tak sanggup bergerak.
"Sakit sekali Bang" ucap Fia pelan.
Bang Sanca tak mungkin menunggu istrinya menggapai tangannya lagi. Perlahan ia turun dan membantu Fia untuk naik.
"Aarrgghh.." pekik Fia sembari *******-***** lengan Bang Sanca. Bang Garin, Bang Ryan dan Bang Juned langsung menghampiri Fia bersama rekan satu team yang lain.
"Kenapa ini? Apa patah tulang?? Ini darah darimana??" Bang Sanca kebingungan bagaimana memeriksa kondisi Fia. Badannya meraba sela paha Fia.
"Kamu...!!!" tatapan mata Bang Sanca menatap Fia penuh kesal dan amarah.
"Fia hamil Bang. Ini bagaimana Abaang??" tanya Fia sambil terisak.
"Astagfirullah hal adzim Fiaaaa..!!!!" Darah Bang Sanca seketika naik di ujung kepala. Saking emosinya, Bang Sanca sampai menghantam pohon di samping Fia hingga tangannya terluka.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau ada anak Abang disana??? Apa maumu sebenarnya?? Kamu mau Abang tampar?????" bentak Bang Sanca kuat.
Ucapan Fia membuat seluruh anggota team kaget.
"Abaang.. sakiiit" Fia menggoyang lengan Bang Sanca.
Bang Sanca memejamkan mata untuk meredakan emosinya, ia langsung mengusap perut Fia.
"Sabar.. Abang masih mikir dek" ucapnya melunak.
"Ryan.. ada obat pereda nyeri?" tanya Bang Sanca pada Ryan yang sudah menatapnya dengan geram.
"Apa yang kutakutkan akhirnya sungguh terjadi Bang. Abang benar-benar tidak bisa di percaya. Lihat ulah Abang sudah mengacaukan semua" tegur Bang Ryan.
Bang Sanca mengusap wajahnya penuh sesal. Perasaannya sudah berantakan tak karuan.
"Sekarang yang terpenting Fia dulu. Urusan marahmu selesaikan denganku nanti" Jawab Bang Sanca pusing tujuh keliling menghadapi situasi ini.
.
.
.
__ADS_1
.