Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
51. Cemburunya Kapten Sanca ( 1 ).


__ADS_3

"Aduuuhh toloooong..!!!" Bang Sanca menggelinjang tak karuan.


"Hhhkkkkk..."


Sudah hampir satu jam Bang Sanca mual hebat. Beberapa anggota sampai harus turun tangan membantunya.


gubraaakk...


Bang Sanca tumbang menabrak pot di depan toilet.


"Pooott.. ampun dah lu..!!" pekik Bang Garin sambil membantu Bang Sanca bangkit.


...


"Masuk angin lu ya??" tanya Bang Anjar yang membantu memakaikan perban di kening Bang Sanca yang terluka.


"Nggak, hanya tiga hari ini nggak bisa tidur. Fia marah terus, aku galau. Rasanya kok sakit di hati.. di musuhi istri sendiri" jawab Bang Sanca .


Entah kedua rekannya harus ikut bersedih atau tertawa mendengar pengakuan Bang Sanca, pasalnya pria kaku ini sampai sakit dan meleleh memikirkan istri kecilnya.


"Jangan di pikir dalam. Namanya saja istri hamil, pasti ada saja hal tak terduga yang di buatnya termasuk ngambek karena hal yang sebenarnya tidak begitu fatal" kata Bang Anjar.


"Sakit hati gue.. di tolak istri sendiri" jawab Bang Sanca.


"Naaahh.. paham gue sekarang. Di tolak A I U E O khan lu??" sambar Bang Garin.


"Sama gue juga di tolak.. makanya gue semalam memilih luluran sama pakai masker mengalihkan gabut gue. Biar lupa kalau bini lagi ogah lihat wajah gue yang ganteng ini"


"Bangkeeee.. yang begitu jangan lu siarkan dodooll..!!!!!" kesal sekali Bang Sanca mendengar kepedean Bang Garin.


"Iya aja dah San. Emosi gue jadinya" gumam Bang Anjar.


...


Fia mengerjakan tugas kampusnya. Sampai sore hari ia masih berkutat dengan laptopnya. Punggung terasa pegal, kepala pening, mata pedih.


"Tugasku banyak sekali. Persiapan skripsi ternyata sulit sekali" Fia bersandar sambil mengusap perutnya yang sudah terlihat.


"Capek ya nak? Maaf ya.. kamu mama ajak mikir. Mama harus lulus jadi sarjana biar Papamu nggak malu sudah memilih Mama" gumamnya. Tak lama usapannya itu membuatnya mengantuk, ia pun tertidur dalam posisi bersandar di sofa.


Entah sejak kapan Bang Sanca berada disana. Ia melipat kedua tangan di depan dada, menyandarkan sebelah lengan pada sisi bingkai pintu.


"Gadisku yang bodoh. Cinta itu tidak memandang kamu sarjana atau tidak. Yang Abang butuhkan adalah istri yang mampu Abang percayakan untuk membimbing anak-anak kita dalam keimanannya, pembentukan mentalnya.. tanpa bantuan mu.. Abang tidak akan pernah mampu mendidiknya sendirian. Apapun adanya kamu, Abang sangat menyayangimu" Bang Sanca mendekati Fia lalu mengecup kening dan bibirnya sekilas dengan sayang.


"Istri Om Sanca. Nggak boleh lemah.. harus kuat..!!"


Bang Sanca melirik pekerjaan Fia. Tak menunggu waktu lama, perlahan Bang Sanca mengangkat Fia.. memindahkannya ke dalam kamar.


...


"Abaaaanngg.. mana File nya Fia?????" pekik Fia membuat Bang Sanca sigap terbangun meskipun nyawanya belum genap tiga puluh persen.


"Nggak usah teriak kenapa sih Neng? Abang nggak tuli sayang" jawab Bang Sanca.

__ADS_1


"File Fia mana Bang?? Itu Fia kerjakan dua hariiii" kata Fia panik bukan main.


"Laaahh.. itu file penting??? Semalam Abang hapus dek. Mana tau itu barang penting" jawab Bang Sanca memasang wajah tanpa dosa.


Allahu Akbar.. apa itu dek??"


"Kenapa Abang nggak tanya dulu?? Itu akan jadi bahan skripsi Bang. Fia capek buatnya" Emosi Fia seketika mencuat, ia menangis sekencang-kencangnya memikirkan File yang sudah di 'hilangkan' Bang Sanca.


"Abang nggak sengaja dek. Makanya kalau di ajak bicara tuh nanggapin, bukan malah tutup pintu" tegur Bang Sanca.


"Fia kesal sama Abang.. Abang sering bohongi Fia" tangisnya semakin menjadi.


Fia pengen cepat lulus Bang, kuliah disini butuh banyak tenaga.. capek sekali Fia mikirnya, kenapa malah Abang hilangkan?????" Fia membereskan laptopnya lalu masuk ke dalam kamar.


Bang Sanca tersenyum nakal, puas sekali rasanya bisa mengerjai istrinya. Dengan mencari perkara seperti ini sudah bisa di pastikan Fia akan berbicara dengannya meskipun harus dengan tarik urat leher.


...


Fia keluar kamar saat Bang Sanca sedang mengaduk kopi hitamnya. Istrinya itu sudah sangat cantik, rapi dan wangi. Mata Bang Sanca melihat penampilan Fia dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Mau kemana kamu??"


"Rahasia" jawab Fia.


"Kemana?? Atau nggak usah pergi" tanya Bang Sanca.


"Mau ketemuan sama dosen Fia"


"Laki atau perempuan??"


"Pembangkang namanya kalau keluar rumah tanpa ijin suami. Dosa dek..!! Kamu mau nurut Abang atau tetap pergi??" teriak keras Bang Sanca memanggil Fia sore itu.


"Deeekk..!!!!" teriak Bang Sanca namun dirinya tak di dengar lagi.


"Ya Tuhan.. lama-lama stress aku. Hamil anak kedua ini judesnya bukan main. Nggak bisa salah sedikit sudah runyam jadinya" kelabakan Bang Sanca mencari kunci mobilnya mengikuti Fia yang sudah naik ojeg yang padahal sesuai aturan.. tidak ada yang bisa masuk sembarangan kecuali Fia menjual namanya seperti ini untuk memasukan orang luar.


...


Bang Sanca benar-benar melihat Fia menangis menunjukan laptopnya pada seorang pria. Bang Sanca memakai topi dan duduk berlawanan arah tepat di belakang Fia.


"Nggak usah nangis. Di cek dulu yang benar..!! File yang kamu kirim kemarin, sudah saya terima" kata pria itu membujuk Fia yang sedang menangis.


"Minum dulu..!! Kasihan bayimu" pria itu menyodorkan segelas minuman pada Fia.


"Tapi tanpa tugas ini, nggak bisa naik jadi bahan skripsi khan pak"


Pria itu menggenggam tangan Fia, tapi Fia menariknya.


"Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu? belakangan ini saya lihat kamu sering bersedih."


Bang Sanca mengarahkan ponselnya agar bisa melihat apa yang di lakukan pria tersebut pada Fia.


Lambe codhot.. bisa-bisanya dia tanya begitu sama istri orang. Minta di tumbuk rupanya"

__ADS_1


Bang Sanca berdiri dari duduknya dan langsung menarik tangan Fia.


"Ayo pulang..!!"


Mata Fia melotot tak menyangka ada Bang Sanca disana.


"Fia belum selesaikan tugas"


"Nanti di kerjakan di rumah" kata Bang Sanca dengan hati yang panas.


"Pulang atau Abang panggul.!!!!" ancam Bang Sanca.


"Jangan kasar pak" cegah pria yang bersama Fia itu.


"Diam kamu..!! Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya" bentak Bang Sanca pada dosen Fia.


:


"Abang kenapa marah-marah. Bikin malu Bang..!!!!!"


"Yang malu khan kamu.. Abang nggak" jawab Bang Sanca tak mau tau.


Fia semakin kesal dan berjalan meninggalkan Bang Sanca.


Astaga.. bagaimana caraku membujuk Fia.


"Tunggu dek.. apa itu di belakang pohon..!! Ngikutin kamu ituu...!!" tunjuk Bang Sanca pada sebatang pohon di belakang mobilnya.


"Abaaang aaahhh.. Apa sih??" jantung Fia terasa terlepas dari raga. Ia berbalik badan tapi tidak berani menoleh ke arah manapun.


"Astagfirullah.. opo kuwi dek..!!"


Fia setengah berlari, secepatnya memeluk Bang Sanca dengan erat.


"Takuuuuuut.. ada apa sih Bang?? Ayo pulang..!!!" ajak Fia sembari berjingkat-jingkat.


"Sebentar dek.. lepas dulu..!! Abang nggak bisa lepas tenaga dalam ini lho" bujuk Bang Sanca bernada panik.


"Nggak mauuuuu.. Ajak Fia donk Bang..!!" Fia sudah berteriak ketakutan.


"Nggak bisa sembarangan adu tenaga dalam dek, bahaya..!! Abang harus ke penginapan dulu"


"Ikuuuutt.. pokoknya ikuuuutt..!!!!" pekik Fia tak mau melepaskan pelukannya.


Bang Sanca tersenyum nakal. Akal liciknya bermain lincah.


Kena kamu..!! Makanya jangan macam-macam.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2