Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
19. Saat bersamamu.


__ADS_3

Bang Sanca sibuk memesan ranjang karena takut Fia akan masuk angin jika harus tidur tanpa ranjang. Tak tanggung-tanggung, Bang Sanca memesan ranjang king size tanpa memperhatikan ukuran kamar.


"Abang, kalau pesan ranjang king size, kamar kita terlalu penuh. Box nya dedek di letakan dimana Bang?" sahut Fia saat Bang Sanca sedang menelepon.


"Nggak jadi pak, biar istri saya saja yang tentukan ukurannya" kata Bang Sanca lalu menyerahkan ponselnya pada Fia.


"Hallo pak........"


-_-_-_-_-


"Haduuh.. kamu duduk dek. Jangan wira-wiri di belakang punggung Abang. Kalau tersenggol bagaimana? Abang lagi sibuk...!!"


Sore itu beberapa orang om-om remaja ikut sibuk membantu Bang Sanca. Sebagian barang inventaris ia masukan di gudang batalyon karena Bang Sanca mengubah rumah nya menjadi senyaman mungkin untuk bumil.


Fia pun memilih duduk di teras rumah sambil menunggu Bang Sanca menata barang.


Rhea mengikat rambutnya dan berdiri melipat kedua tangannya bersandar di dinding teras rumah.


"Kamu nggak lihat suamimu sibuk? Kenapa diam saja seperti putri?"


"Bang Sanca memintaku duduk"


"Oya, Bang Sanca itu suka solidaritas dan kerjasama. Memang ya kalau usia perkenalan masih seumur jagung pasti tidak bisa mengetahui apa yang disukai pasangannya" kata Rhea.


"Waaahh.. terima kasih banyak atas infonya ya mbak Rhea. Tapi mau bagaimana lagi. Abang terlalu sayang sama anaknya. Jadi kalau Fia banyak gerak.. Abang cemas sekali" jawab Fia dengan wajah polosnya.


"Kamu hamil??" tanya Rhea tidak percaya.


"Iya nih mbak. Maaf mbak, apa mungkin karena lihat mbak terlalu biasa ya, jadi lihat saya yang punya aset menantang.. buat Abang jadi lupa daratan. Aduuhh.. nggak enak nih saya ngomongnya" ucap Fia semanis mungkin tapi sangat menusuk hati Rhea.


Begitu Rhea ingin membalas omongan, Fia mulai memasang aksinya.


"Aaahh.. Abaang..!!" panggil Fia. Benar saja.. Bang Sanca langsung berlari meninggalkan pekerjaannya menemui Fia.


"Kenapa dek? Apa yang sakit??" reaksi Bang Sanca membuat Rhea tercengang sebab dulu apapun yang terjadi pada dirinya, Bang Sanca tidak pernah berlebihan seperti itu.


"Sepertinya Fia nggak kuat jalan deh Bang. Perut Fia masih kram" rengeknya manja.


"Ayo kita pindah ke kamar. Sudah Abang bereskan semua. Kamu istirahat saja. Jangan banyak gerak lagi dek" ucap Bang Sanca cemas.


Tanpa memperdulikan Rhea disana, Bang Sanca membawa Fia ke dalam kamar.


...


Bang Sanca bercengkrama dengan para anggotanya, tiap sepuluh menit pak Kapten akan mengecek keadaan Fia melalui pesan singkat. Jika tidak ada balasan, Bang Sanca akan memastikan keadaan Fia di dalam kamar.


Kenapa pesanku nggak di balas. Apa Fia jatuh?

__ADS_1


Para tamunya sudah pulang, secepatnya Bang Sanca masuk ke dalam kamar. Nafasnya pun lega melihat sang istri sedang tidur pulas dan cantik.


"Gadis kecilku.. kamu pasti capek...!!" tangan kekarnya menyelimuti tubuh Fia lalu memijati kaki istrinya.


"Ayu tenan bojone Om Sanca"


Perlahan rasa lelah Bang Sanca merangkak naik. Tubuhnya ngilu, sakit hingga ke tulang. Bang Sanca bangkit dan mengambil rokok di dalam nakas.


:


Bang Sanca menyulut rokok dan menghisapnya. Ada rasa berbeda yang ia rasakan dari sebatang rokok itu. Badannya tetap sakit malah semakin sakit.


Apa dosisnya harus kutambah? Tapi nggak mungkin.. aku harus mengurangi, bukannya menambah.


Bang Sanca membongkar sisa rokoknya. Ternyata isinya bukan yang biasanya.


"Pasti Fia...!!" Ia frustasi dan menggelinjang kesakitan. Tidak ada rasa marah pada sang istri karena sudah mengerjainya, tapi badannya sudah luar biasa kesakitan.


Fia membawa arang aktif lalu meminumkan pada Bang Sanca. Badan suaminya sudah bergetar panas dingin tak karuan.


"Kamu mau buat Abang mati??????" tanya Bang Sanca dengan wajah marah yang memuncak.


"Abang harus berusaha sembuh..!!" kata Fia membujuk Bang Sanca.


"Jangan pernah kamu ikut campur dalam urusanku..!!" Bang Sanca mencekik leher Fia dengan kuat, tapi istrinya itu tidak melawan kemudian Bang Sanca pun membenturkan kepala Fia ke dinding. Di sela suaranya yang nyaris hilang. Fia memeluk Bang Sanca lalu mengarahkan tangan kekar itu ke perutnya.


"Ingat anak Abang. Ayo sadar Bang..!!!"


:


"Dek.. Fia sayang.. Ya Allah.. apa yang aku lakukan tadi???"


Bang Sanca membawa Fia ke kamar dan membuka pakaian istrinya. Di lihatnya dengan teliti satu persatu tubuh Fia. Sudah banyak memar terutama di bagian perut.


"Astagfirullah hal adzim.. Abang lakukan apa sama kamu dek? Bilang sama Abang..!!"


"Nggak ada Bang. Abang hanya nggak sengaja" Jawab Fia.


"Kenapa kamu nggak pukul Abang pakai apa saja yang ada di sekitarmu????"


"Sudahlah Bang, jangan bahas ini lagi. Fia nggak apa-apa. Sekarang tolong ambilkan buah putri saljunya. Anak Abang pengen ngemil..!!" tak butuh waktu lama Bang Sanca mengambil apel merah dari dalam lemari es lalu mencucinya sampai bersih dan membawanya ke kamar.


:


"Mau apa lagi dek?" wajah Bang Sanca sendu menatap wajah Fia yang begitu tabah menerima dirinya yang begitu buruk jauh dari bayangan seorang imam yang baik.


"Mau Abang temani Fia tidur disini..!!" pinta Fia.

__ADS_1


Bang Sanca secepatnya naik ke atas ranjang dan memeluk Fia dari belakang dengan erat. Rasa bersalah, sesal, sedih, sakit berkumpul menjadi satu dalam dadanya.


"Kuatkah kamu menjalani hidup ini bersama Abang? Abang suami yang begitu buruk untuk kamu dek"


"Fia kuat Bang.. nggak apa-apa asalkan jangan ada nama Rhea lagi dalam hidup Abang, Fia nggak suka" jawab Fia.


"Begitupun sebaliknya dengan Abang, tolong jangan ada nama Dafa dan Anjar lagi. Mereka berdua sumber penyakit jantung Abang" kata Bang Sanca menyerusuk ke belakang tengkuk Fia.


"Dek.. si Juno sakit nggak? kita mandikan yuk..!!"


"Sumpah ya Abang ini nggak tau situasi" ucap kesal Fia.


"Yeeee.. memangnya Abang ajak apa? Mama Juno sekarang sudah pinter ngebayangin yang nggak-nggak ya" ledek Bang Sanca.


"Mandi kita say.. Apa mau mandikan Juno sekalian?" bisik Bang Sanca membuat Fia salah tingkah.


***


Bang Sanca sudah rapi dan bersiap berangkat kerja. Rambutnya sudah mengkilat mengikuti alur. Jambul depan sudah tegak menambah aura tampan sang DanPom. Hari ini pengajuan nikahnya sudah di terima meja bagian personel dan tinggal menunggu persetujuan Danyon.


"Nanti sore ke rumah sakit dek. Buat laporan kesehatan" kata Bang Sanca.


"Fia khan sudah hamil Bang. Mau apalagi yang di periksa?"


"Tidak hanya itu saja yang di butuhkan, tapi cek kesehatan juga di perlukan sebagai lampiran di berkas. Cepat selesai lebih baik dek. Abang capek semua orang mempertanyakan statusmu" jawab Bang Sanca yang sebenarnya sangat cemas mendengar desas desus cerita tentang Fia yang sudah hamil di luar nikah. Meskipun dirinya memiliki bukti bahwa Fia hamil disaat mereka sudah menikah tapi tetap saja Bang Sanca cemas dengan keadaan Fia dan bayinya nantinya.


Fia mengangguk paham. Perutnya sudah keroncongan tapi ia sedang tidak selera dengan masakannya sendiri.


"Fia lapar Bang"


"Mau Abang belikan apa? Kamu makan roti dulu. Selesai apel Abang belikan pesananmu..!!" kata Bang Sanca sembari merapikan kopel dan dahrimnya.


"Nggak mau springbed. Fia mau nasi hepatitis, kedelai salah kodrat, sama rambut mama"


"Astagfirullah hal adzim.. mending Abang jinakin bom dah daripada mikir maumu itu. Tinggal bilang mau apa kok masih buat Abang mikir sih dek" protes Bang Sanca.


"Abang nggak mau nih nurutin maunya si Juno? Papa jahat tuh dek"


"Lagian apa lagi itu nasi hepatitis, besok lagi kamu minta lambung kurap. Lama-lama Abang ambeien mikir sandi mu itu." kata Bang Sanca jadi emosi.


"Dedek di perut Fia khan Abang yang tanam"


"Ini lagi... Abang gigit baru tau rasa kamu ya. Siapa kemarin yang nantang pengen di hamilin?????" tanya Bang Sanca sudah berkacak pinggang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2