
"Tolong ambilkan handuk Bang.. Fia lupa" kata Fia.
Bang Sanca pun segera mengambilkan handuk milik Fia kemudian menerobos masuk ke kamar mandi.
"Abaaaaaang..!!!!!" pekik Fia.
"Huuussstt.. nanti di gerebek lho kalau kamu teriak..!!!!!" Bang Sanca membawa Fia masuk ke dalam bathtub, ia mengecup kening Fia hingga merosot turun ke bawah lalu menyalakan air hingga penuh.
...
Kamu tidak akan pernah menjadi milikku Fia. Tapi aku ikhlas. Bahagialah kamu disana. Bang Sanca lebih pantas berada di sampingmu. Menjadi dokter mu sudah lebih dari cukup untuk Abang.
Bang Ryan berdiri dari duduknya. Ia harus segera kembali ke ruangan karena sudah pasti banyak pasien.
"Aduuhh.." pekik seorang wanita.
Karena tidak fokus, tak sengaja Bang Ryan menabrak seorang wanita, terlihat wanita itu sedang hamil.
"Maaf.. saya nggak sengaja"
"Saya yang salah pak. Maaf.. saya sedikit pusing" kata wanita itu.
"Mari saya bantu duduk..!!"
"Suaminya kemana Bu?" tanya Bang Ryan.
"Suami saya gugur dalam tugas dua bulan lalu pak" senyum wanita itu.
"Oohh.. maafkan saya. Lalu kesini dengan siapa?" tanya Bang Ryan lagi.
"Sendiri saja pak..!!" jawab wanita itu tidak berani menatap wajah Bang Ryan.
"Lalu ada tujuan apa kesini Bu? apa periksa kandungan?"
"Iya pak. Karena saya sendirian"
Bang Ryan melihat jam tangannya.
"Mari saya temani bertemu dokternya..!!"
...
"Fiaaaa..!!!!"
Bang Sanca sampai membanting tasnya karena Fia tiba-tiba pingsan di hadapannya.
"Kita ke rumah sakit dulu Gio..!! Saya takut ada apa-apa sama istri saya" perintahnya pada Om Gio.
"Siap Dan..!!"
//
"Bagaimana dok??" tanya Bang Sanca cemas.
__ADS_1
"Nggak apa-apa pak. Bawaan ibu hamil, asalkan tidak terlalu sering pingsan.. semua dalam batas aman" jawab dokter.
Bang Sanca langsung terduduk lega mengurai kelegaan.
"Begini ini yang buat Abang takut dek..!!"
"Fia khan baik-baik saja Bang. Hanya pusing sama badan tiba-tiba lemas" kata Fia.
"Bagaimana nih berangkat ke tempat yang baru, kuat nggak?" tanya Bang Sanca cemas sendiri.
Fia tersenyum melihat Bang Sanca yang hanya bisa memijat pangkal hidungnya karena bingung.
***
Pagi ini Fia berlinang air mata. Entah kenapa hatinya begitu sedih berpisah dari El.
"Papa akan segera bawa El ke sana. Kamu baik-baik disana sama suamimu.!! Jaga kandunganmu baik-baik..!!" kata papa Zaldi.
"Iya pa." Fia memeluk papa dan mamanya dengan erat. Ini kali pertama Fia berjauhan dari orang tuanya.
Bang Sanca, Bang Garin dan Bang Anjar sibuk dengan barang mereka masing-masing. Terlihat terjadi perdebatan sengit antara Bang Anjar dan Bang Garin di belakang body pesawat.
"Malu pot, jangan di tenteng kesana kemari..!!" tegur Bang Anjar.
"Nggak kelihatan. Ini Khan kecil..!!" Bang Garin menyambar benda kecil di tangan Bang Anjar.
"Kecil gundulmu..!!!!! Kalau nggak sedang seperti ini sih terserah mu. Ini baunya Nauzubillah.. Gariiiiinn..!!!!!"
"Esa simpan dulu Bang. Kalau Abang bawa kemana-mana nanti ketinggalan" alasan esa padahal sudah malu setengah mati dengan kelakuan aneh sang suami.
"Untung saja waktu pendidikan dia bisa bertahan. Itu guling di titipkan ibu kantin dan di cium setiap berpisah dari gulingnya itu. Sudah tua berkerak mainannya saingan sama anaknya" tegur Bang Sanca yang baru saja menaikan satu kardus barang pindahannya.
Baling-baling dan suara pesawat sudah begitu kencang terdengar. Papa Zaldi kembali memeluk Fia dengan erat.
"Jangan nangis.. Hanya sini situ saja tidak jauh. Kapan-kapan Papa sama mama main kesana ajak El" Papa Zaldi mengecup kening putri kesayangannya.
Fia berjalan pelan menghampiri Bang Sanca. Papa Zaldi pun berbalik meninggalkan Fia. Setetes air matanya tumpah juga tapi ia pun harus menyadari.. Fia sudah ada yang memiliki.
Setelah hatinya cukup tenang, papa Zaldi melihat penghormatan dari keempat perwira yang berdiri tidak jauh dari pesawat. Papa Zaldi pun membalasnya.
Fia terhuyung lemas menimpa bahu Bang Ryan tapi dengan sigap Bang Sanca menariknya.
"Kamu ini benar-benar ya dek. Abang kurang apa sih sampai lemas saja harus ke arah Ryan?" gumam Bang Sanca tidak tanggung-tanggung.
"Lu yang somplak. Mana ada orang lemas bisa memilih jatuhnya kemana? Cemburuan tapi nggak mau ngaku" tegur Bang Anjar.
Bang Sanca tidak peduli, ia langsung membawa Fia masuk ke dalam pesawat melewati body pesawat bagian belakang.
:
"Hhhkkk" Bang Garin dan Bang Anjar memijat tengkuk Bang Sanca. Entah bagaimana ceritanya, Fia yang lemas tapi sejak pesawat mengudara.. Bang Sanca yang terus saja mual dan muntah.
"Minum obat ini dulu Bang..!!" Bang Ryan memberikan tablet agar Bang Sanca bisa meminumnya. Tapi obat belum sampai tenggorokan, Bang Sanca sudah memuntahkannya.
__ADS_1
"Ada cara lain nggak Ry??" tanya Bang Garin.
"Di suntik anti muntah Bang..!!" jawab Bang Ryan.
"Ya sudah cepat suntik dia..!! keburu pingsan.. kita juga yang repot nanti..!!" ledek Bang Anjar.
Bang Ryan segera menyiapkan apa yang di minta Bang Anjar.
"Makanya.. banyak nyebut. Jangan cemburuan yang lu gedein. kalau itu suntikan isinya racun.. habis lah kau di tangan Ryan" kata Bang Garin memanasi Bang Sanca.
"Saya nggak sejahat itu Bang.. mana berani saya buat Bang Sanca seperti itu. Tapi kalau berulah, ya.. lumpuh bisa juga jadi solusi" jawab Bang Ryan santai sambil bersiap menyuntikkan obat ke bagian p****t Bang Sanca.
"Jangan suntik..!! Saya nggak mau..!!" Bang Sanca berontak sampai Bang Anjar dan Bang Garin kerepotan memegangi littingnya itu.
"Jangan buka sembarangan..!! Ini pelecehan..!! Awas ya kalian...!!" teriak Bang Sanca membuat heboh seisi pesawat.
plaaaakk..
Bang Garin menampar bibir Bang Sanca yang tidak bisa diam.
"Diam Sanca.. kalau kamu nggak sembuh apa kamu mau kalau Ryan yang menemani Fia????"
Seketika Bang Sanca diam dan membiarkan Bang Ryan menyuntiknya.
"Aaahh.." Wajahnya memercing merasakan sedikit rasa sakit.
Beberapa saat kemudian, rasa mual Bang Sanca sedikit berkurang.
"Naahh.. reda khan? Paling sebentar lagi lumpuh San.. Banyak dosa lu. Sudah mesum, cemburuan, merepotkan banget lu jadi laki" gerutu Bang Garin.
"Paa.. gendong adek dulu nih" kata Esa tiba-tiba langsung menyerahkan putranya pada Bang Garin. Suara Bang Garin langsung hilang tak berani menolak permintaan Esa.
"Jaga anak yang benar..!! Mendadak bisu khan lu..!!" balas bang Sanca yang jengah sedari tadi mendengar ocehan Bang Garin.
Mata Bang Sanca beralih pada Fia yang menggeliat duduk dengan tidak nyaman. Sekuat-kuatnya Bang Sanca bangkit menghampiri Fia.
"Apa yang nggak nyaman?"
"Punggung Fia sakit Bang" jawab Fia.
Bang Sanca melipat jaketnya dan perlahan membaringkan Fia.
"Kamu tidur saja.. satu jam lagi kita sampai. Abang temani disini..!!" kata Bang Sanca sambil mengusap sayang kening Fia.
Bang Ryan mengalihkan pandangannya pura-pura tidak melihat perhatian sayang Bang Sanca untuk Fia. Berusaha ikhlas memang terasa begitu berat.
.
.
.
.
__ADS_1