
Bang Sanca mencoba menghubungi Bang Garin tapi nomer ponselnya tidak aktif. Ia pun berinisiatif menemui Bang Anjar untuk di ajak mencari Bang Garin.
"Abaaaanngg..!!!!" Baru saja membuka pintu rumahnya, terdengar suara teriak kencang dari Fia.
Bang Sanca segera berlari ke ruang tamu, disana Bang Garin sudah menimpa Fia dan keduanya hampir terjatuh.
"Apa-apaan kamu ini Gar???? Kamu mabuk ya????" tegur Bang Sanca sembari menarik badan Bang Garin yang memeluk Fia. Bang Garin bertelanjang dada menenteng bajunya, rambutnya berantakan, celana panjangnya tidak terpasang rapi.
"Kamu masuk dek..!! Buat susu jahe untuk Garin..!!"
"Heh bodong..!! Sadar kamu..!!! Tak kaplok lho Gar..!!!!!!!"
//
"Sanca.. habislah aku..!! Tolong aku San"
"Cerita yang benar Garin. Kalau sepotong cerita begini mana kami tau maksudmu??" kata Bang Anjar.
Ketiga pria ini ribut sendiri di belakang rumah Bang Sanca.
"Esa tanya ke gue. Lu kemana nggak pulang. Kenapa lu bawa nama gue????" tegur Bang Sanca kesal.
"Ke tempat teman perempuan mu itu ya??"
"Kalian jangan semakin membuatku pusing..!! Aku kerampokan" jawab Bang Garin.
"Haaahh.. kerampokan dimana?? Culun banget sih lu. Perwira sampai kerampokan" Bang Anjar sampai menjitak kepala Bang Garin saking gemasnya.
"Aku di tipu dia An.. aku nggak nyangka dia mempermainkan aku" Bang Garin memercing sakit saat Bang Sanca mengompres dadanya.
"Anakmu demam. Kamu malah berulah. Sebenarnya apa yang kamu lakukan sampai lupa jalan pulang????" rasanya Bang Sanca ingin menampar wajah Bang Garin sampai memar juga.
"Yang benar San?? Semua barangku hilang. Apes banget aku"
"Cepat bilang atau sepatu ini melayang di wajahmu..!!" bentak Bang Sanca.
"Aku janjian sama si Zefa.. terus kami jalan-jalan ke tempat karaoke. Kami menghabiskan waktu dan....."
"Aaahh.. setan.. kau pasti..." Bang Anjar rasanya tak sanggup membayangkan ulah apa yang sudah di perbuat Bang Garin.
"Nggak.. seingatku nggak..!!" ralat Bang Garin.
"Kau ini tidak hanya pantas di maki, tapi kau ini sudah layak untuk di binasakan. Bagaimana bisa kamu bertindak tanpa berpikir" tegur keras Bang Sanca.
"Kamu pulang dulu..!!! Esa sudah menunggumu..!!" saran Bang Anjar.
"San.. pinjami aku uang. Uangku ludes semua..!!"
"Astagfirullah hal adzim pot.. sanggup hidup lu????" gumam Bang Sanca benar-benar gemas.
***
Fia mulai kesulitan mengatur posisi.. berdiri ataupun duduk selalu serba salah baginya. Sudah tujuh kali take video tapi tidak ada satu pun yang bagus.
__ADS_1
"Sudah dulu ya om. Saya nggak kuat.." kata Fia kemudian mengatur nafasnya kembali.
Ia menghubungi Bang Sanca karena tiba-tiba mengidam ingin makan sesuatu.
"Bang.. cepat ke tempat Fia..!!" pintanya.
"Kenapa dek? Abang masih ada giat lapangan. Bisa setengah jam lagi?" tanya Bang Sanca yang saat itu sedang berada di atas tower untuk bersiap turun.
"Aahh.. Ya Allah.." pekik Fia kemudian sambungan telepon itu terputus.
"Dek.. Fiaa..!!!!" Bang Sanca mulai cemas.
"Astaga.. ada apa ini" secepatnya Banh Sanca meluncur dari atas tower kemudian melepas perlengkapan tempurnya.
"Kenapa Bang?" tanya Letda Deni.
"Istriku Den"
Bang Sanca pun berlari sekencang-kencangnya menuju arah ruang Ibu ketua ranting.
:
Banyak ibu-ibu di dalam ruangan itu semakin membuat Bang Sanca tak karuan. Bang Sanca sampai terpeleset hingga pinggangnya terkilir.
"Fiaaaa..!!" teriaknya terengah-engah.
"Apa Bang? Kenapa teriak begitu sih?" tegur Fia.
"Terus kamu kenapa???" tanyanya panik.
"Ya Tuhan.." Bang Sanca langsung terduduk lemas menyandarkan kepalanya di sofa ruangan Fia.
Bang Deni segera mengambilkan seniornya itu minum.
"Rileks Bang.. slow.. mbak Fia nggak apa-apa" tangan Bang Deni mengambil map tipis lalu mengipasi Bang Sanca yang masih terlihat tegang.
"Baang..!!" Bang Deni menepuk pipi Bang Sanca dengan kencang.
"Eeehh.. Pak Sanca..!!!" pekik riuh ibu-ibu melihat Bang Sanca semakin lemas.
"Balsem..!!" jerit khas ibu-ibu seketika membahana seisi ruangan.
"Aduuhh.. saya mual sekali Bu. Permisi..!!" Bang Sanca sekuatnya berlari menuju toilet. Fia pun mengikuti langkah Bang Sanca.
Tangannya yang tidak seberapa membantu memijat tengkuk suaminya dengan lembut.
"Dua hari ini Abang nggak mau sarapan. Akhirnya masuk angin begini khan..!!"
"Nggak enak makan dek. Rasanya makan pisang sama pepaya sudah paling enak"
"Abang sudah macam burung aja. Suka pisang sama pepaya" kata Fia.
"Ya karena burungnya yang paling kamu suka" jawab Bang Sanca membuat Fia menarik bibirnya hingga tersungging manis.
__ADS_1
...
Bang Sanca menggelinjang di ranjangnya. Sakit di pinggang, punggung, perut begitu menyiksanya. Belum lagi sebenarnya ia kehilangan 'pemasok obat penetral' untuk penopang hidupnya. Bukan hal mudah melewati masa penyembuhan yang begitu panjang.
Dalam hal ini, Bang Sanca jauh lebih pintar mengendalikan diri daripada Papa Zaldi. Bang Sanca lebih teratur mengatur emosinya.. hanya saja kadang konsentrasi nya terpecah karena terlalu fokus dengan Dia. Sekarang ia harus mengurangi dosis karena tidak sembarang bisa mendapatkan obat tersebut.
"Abang butuh apa? Biar Fia ambilkan."
"Nggak usah dek. Kamu istirahat saja. Si inces pasti capek sekali. Jaga baik-baik anak kita." kata Bang Sanca kemudian menarik tangan Fia agar merebahkan diri di sampingnya.
"Jangan buat Abang panik lagi. Abang benar-benar takut dek"
"Waahh.. Abang beneran takut Fia kenapa-kenapa??" tanya Fia dengan wajah polosnya seolah tanpa dosa.
Bang Sanca menggeleng menghela nafasnya.
"Abang takut kamu todong beli rok lagi. Kamu lihat itu... kita pindah rumah yang paling banyak baju siapa? Dua lemari full bajumu saja tapi masih sempat bilang.. 'Bang.. Fia nggak punya baju' " jawab Bang Sanca sembari menirukan gaya bahasa Fia.
"Masa Fia begitu Bang?" tawa Fia pecah melihat raut wajah Bang Sanca.
"Iyalah. Ibu Danki mana ada salahnya. Bu Danki salah tetap saja Pak Danki yang tanggung jawab"
Bang Sanca mendekap Fia, tangan usilnya pun menggelitik pinggang Fia. Terdengar jerit manja dari istri kecilnya. Bang Sanca seakan melupakan sejenak beban pikirannya. Si cantik Fia sungguh mengalihkan perhatiannya.
Sedang asyiknya bermesraan berdua, ponsel Bang Sanca berbunyi. Ada nama Garin bodong disana. Bang Sanca meletakan ponselnya dengan malas. Kemudian bersiap melanjutkan memagutt bibir Fia kembali.
"Angkat lah Bang..!! Siapa tau penting"
"Penting kamu donk sayang" ucapnya tak mau tau. Di sambarnya bibir manis Zafia yang membuatnya tidak tahan.
Fia pun tenang dan tidak berani melawan lagi, membiarkan Bang Sanca fokus dengan mainannya.
:
"Aseemm.. opo sih iki????" Bang Sanca menggerutu karena getaran ponselnya sangat mengganggu konsentrasi nya. Bang Sanca menenangkan diri saat kebersamaan nya dengan Fia belum sepenuhnya usai.
Dengan membawa rasa dongkol meradang di ubun-ubun, Bang Sanca pun menarik diri. Baru kali ini terlihat wajah kesal Fia yang langsung turun dari ranjang.
Melihat kekesalan sang istri membuat Bang Sanca tersulut emosi.. Ia pun menjawab panggilan telepon dari Bang Garin.
"Ada apa????" sambarnya tanpa berucap salam.
"San.. tolongin gue donk..!! Esa kabur dari rumah"
"Lu yang ribut, kenapa gue yang di cari??? Asal Lu tau ya, gara-gara lu.. harga diri gue sebagai laki-laki di pertaruhkan" ucap keras Bang Sanca.
"Esaaa.. Ya Allah.. dimana kamu dek??" tanyanya bergumam kebingungan.
"Astagaaa.. fungsi lu jadi suami tuh apa sih Gar????" Bang Sanca mengacak rambutnya. Kini ia pun tak kalah berantakan karena ia pun juga berhadapan dengan ngambeknya makhluk indah ciptaan Tuhan bernama Zafia.
.
.
__ADS_1
.
.