Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
88. Cerita keluarga.


__ADS_3

"Uuuhh.. perih dek" Bang Sanca menggelinjang saat Fia merawat lukanya.


"Tahan sedikit Bang. Tiga hari sudah nggak terasa kok sakitnya." bujuk Fia.


Bang Sanca mengatur nafasnya. Sang istri saja bisa melaluinya dengan sabar, luka kecil ini pun tak akan menjadi masalah baginya.


"Iya dek"


"Abang tidur saja temani Rara. Fia mau siapkan barang yang mau kita bawa."


"Nanti saja kalau Abang sudah baikan. Kamu juga harus jaga diri. Lukamu lebih dalam. Jangan terlalu capek. Kita tidur saja sama-sama..!!" ajak Bang Sanca.


***


"Dek..!!" Bang Ibra mencari Ola ke seluruh sudut ruangan tapi bumil itu tak kunjung ia temukan.


"Kemana Ola? Apa dia mau kabur dariku?" gumamnya sambil kembali mencari Ola.


Tak lama pintu belakang terbuka, Ola masuk membawa keranjang besar berisi pakaian kering. Tangannya mengusap peluh yang membasahi kening. Bang Ibra segera menghampiri dan mengambil keranjang di tangan Ola.


"Abang khan sudah bilang, kumpulkan saja pakaiannya, nanti Abang bawa ke loundry. Pakaian yang Abang tinggal disini kenapa kamu cuci juga..!!" tegur Bang Ibra.


"Ola pengen gerak Bang. Biar persalinan nanti lancar." jawab Ola.


"Abang tau, tapi nggak usah terlalu memaksa begini dek." wajah Bang Ibra menunjukkan bahwa ia sangat tidak suka Ola melawan perkataan nya.


"Maaf Abang.. lain kali Ola nggak akan sibuk lagi kalau Abang nggak suka"


"Hmm.." ucap ringan Bang Ibra masih berwajah masam.


"Abang mau makan nggak? Ola masak ayam suwir sama urap sayur. Abang mau?" tanya Ola sembari mendinginkan hati Bang Ibra.


"Abang nggak suka urap" jawabnya.


"Coba dulu lah Bang. Sayur enak kok" bujuk Ola.


:


Ola tersenyum karena akhirnya Bang Ibra mau makan urap sayur buatannya bahkan sampai habis tanpa sisa. Dengan tangannya sendiri Ola menyuapi Bang Ibra.


"Tambah lagi?"


"Iya, ambil lagi dek..!!" jawabnya sambil memantau informasi di group.


Matanya langsung terbelalak membaca informasi bahwa Bang Sanca akan di mutasi ke daerah pesisir Jawa. Berita penusukan sudah tersebar di seluruh kalangan anggota. Banyak protes pro dan kontra yang terjadi di luar sana.


"Ada apa Bang?" tanya Ola.


"Adiknya Abang mau pindah ke pesisir Jawa. Nanti kalau sudah datang, Abang kenalkan ya?" jawab Bang Ibra.


"Iya Bang. Ya sudah.. ayo makan lagi..!!" Ola menyuapi Bang Ibra lagi.


"Kamu sudah makan?"


"Nanti, setelah Abang makan"


"Laahh.. gimana sih kamu ini. Jam berapa ini.. sudah waktunya makan siang kamu belum makan. Anak Abang lapar lho ini" Bang Ibra mengambil piring di tangan Ola lalu berganti menyuapi Ola, ia menyambar sendok yang ada di meja makan. Disana Ola melihat tangan Bang Ibra yang kasar dan sepertinya lecet karena terlalu banyak bekerja keras.


"Tangan Abang kenapa?" tanya Ola.


Bang Ibra melihat telapak tangannya yang kasar.


"Ini usaha Abang untuk menghalalkanmu. Kerja keras buatmu sama anak-anak nanti"


Air mata Ola langsung membendung dan hampir menetes tapi Bang Ibra menghapus nya.

__ADS_1


"Ya Allah.. susah sekali bilang sama kamu ya. Jangan nangis. Nanti anak Abang cengeng."


Tapi percuma saja, air mata Ola kembali meleleh mendengar ucapan Bang Ibra untuknya.


"Ola nggak nangis kok Bang" ucapnya sambil menghapus air mata.


"Iya nggak nangis. Cuma mewek aja" ledek Bang Ibra.


"Sudah Bang, Ola sudah kenyang. Mau ngepel lantai"


"Nanti Abang saja yang ngepel, licin dek..!!"


Ola menghela nafas panjang, Bang Ibra memang selalu protektif padanya membuat nya benar-benar mati kutu.


:


Bang Ibra mengawasi Ola yang berjongkok berjalan mundur mengepel lantai rumah. Pandangan mata Bang Ibra tak pernah beralih dari Ola karena mencemaskan bumilnya itu.


"Sudah dek..!!" Bang Ibra menarik lengan Ola agar berhenti bergerak.


"Cuci tangan dan kakimu terus lanjut istirahat di kamar..!!"


Bang Ibra sungguh tidak tega melihat usaha Ola agar persalinannya lancar. Hatinya ikut tersentuh.


Ola bangkit perlahan dari posisinya. Seketika perutnya kram, matanya berkunang-kunang dan terhuyung.


"Naahh.. Apa Abang bilang..!! Pusing khan? Bandel sih kamu" tegur Bang Ibra kemudian mengantar Ola mencuci tangan.


Ola melirik mencuri pandang ke arah Bang Ibra tapi pria itu pura-pura tidak tau, ia ingin menikmati wajah cantik Ola saat meliriknya.


"Masuklah ke kamar, Abang mau bereskan perabotan tadi" pinta Bang Ibra.


"Bang.. Boleh Ola minta sesuatu?" tanya Ola.


"Apa?"


"Boleh donk. Sebentar lagi Abang carikan" jawab Bang Ibra.


"Tapi nyolong di tetangga"


"Allahu Akbar.. jadi apa anak Abang ini" Bang Ibra menepuk dahinya.


...


"Paakk.. Buuu.. permisi.. saya mau nyolong mangga sama pepayanya" teriak Bang Ibra sembari tangannya memetik saat si empunya rumah belum mengijinkan.


Tak lama seorang pria botak keluar dari dalam rumah. Bang Ibra lumayan kaget saat pria berkumis tebal itu melihatnya dengan tatapan tajam. Nyalinya ciut melihat badan tambunnya, tapi demi Ola di tepis rasa malu itu sebab posisinya saat ini sedang memakai celana loreng yang pasti menunjukkan identitasnya sebagai tentara.


"Itu masih muda pak"


"Iya pak, mohon maaf saya langsung mengambilnya.. istri saya ngidam pengen mangga dan pepaya hasil nyolong" jawab Bang Ibra merasa tidak enak ( masa tentara nyolong ).


Tawa pria botak itu langsung membahana.


"Ambil saja pak. Satu rumah jarang ada yang mau mangga dan pepaya. Mudah-mudahan istri bapak senang ya. Sehat terus sampai lahiran"


"Aamiin.. terima kasih banyak pak" jawab Bang Ibra.


:


"Mau lagi?"


"Nggak bang" jawabnya padahal Ola baru memakan masing-masing dua iris buah dan itu tak sebanding dengan rasa malu Bang Ibra saat nyolong mangga.


"Bukan main.. nyolong nya sampai di pelototi orang, makannya hanya dua iris" gumam bang Ibra.

__ADS_1


"Maaf ya Bang"


"Nggak apa-apa.. demi anak.. apa sih yang nggak" jawab Bang Ibra mulai nakal menggombal.


Ola tersenyum menunduk malu melihat ekspresi jahil Bang Ibra.


***


"Diam dulu Bang..!!" Bang Ryan kewalahan mengganti perban Bang Sanca karena seniornya itu sedikit pobhia dengan kain perban yang berwarna putih bersih itu.


"Pakai plester saja Ry..!!"


"Abang.. ini bukan luka gores kena duri. Mana bisa di tutup pakai plester aja" jawab Bang Ryan.


"Luka Abang mau di tutup pakai kain kasa atau lap kompor ini??" ancam Fia karena Bang Sanca tidak bisa diam.


"Pakai kaos kaki ku aja Fi." sambar Bang Garin.


"Yang ada gue infeksi" gerutu Bang Sanca.


"Makanya Abang diam. Pakai kain kasa ini aja. Kalau Abang masih banyak tingkah.. Fia tutup pakai lap kompor.!!"


"Ya sudah Ry.. cepat..!!" perintah Bang Sanca.


"Aku yang bantu potong perekatnya..!!" kata Bang Garin. Saking terburu-buru nya, tak sengaja tangan Bang Garin menyenggol iodine di tangan Bang Ryan hingga menetes di luka Bang Sanca.


"Aaarrghh.. Astagfirullah.. Gariiiiiiiinn..!!!!!! Awas lu yaaa..!!!!!!!" pekik Bang merasakan perih yang luar biasa.


"Aduh pot. Maaf.. nggak sengaja..!!"


"Abaang.. mending Abang minggir dulu dah."


Bang Garin segera meninggalkan kamar Bang Sanca sebelum sahabatnya itu benar-benar marah padanya.


"Jangan usil Bang, biar kita bisa packing barang." kata Fia mengingatkan Bang Sanca.


***


Pagi itu Ola sedang mengepel lantai di rumahnya, semalam hujan lumayan deras membuat rumahnya basah. Bang Ibra belum sempat tau ternyata rumah yang ia sewa untuk Ola terdapat kebocoran dimana-mana


Membawa perut yang begitu besar membuat apapun yang ada di depannya tidak terlihat dengan jelas hingga kakinya tidak sengaja menginjak sikat sepatu Bang Ibra yang tidak sengaja tertinggal.


"Aaaaaahh.." Ola terpeleset dengan posisinya yang terduduk.


Bersamaan dengan itu, Bang Ibra lewat saat sedang berlari pagi bersama anggotanya. Entah mengapa dalam hatinya menjadi sedikit cemas memikirkan Ola. Ia berbelok masuk dan memastikan sendiri keadaan Ola meninggalkan anggotanya yang terus berlari menuju Batalyon.


Begitu masuk di ruang tengah, ia melihat Ola memercing kesakitan.


"Olaaa..!!!!!" Bang Ibra berlari menghampiri Ola yang sudah sulit bergerak.


"Abaang.. tolong Ola..!!"


"Iya dek.. Kita pindah ke kamar dulu..!!" Bang Ibra mengangkat Ola dan memindahkan Ola ke dalam kamar.


"Eghh.." Ola mengejan saat merasa ada dorongan dari dalam perutnya.


"Astagfirullah.. piye Iki Ya Allah..!!" Bang Ibra kelabakan tak karuan sampai tangannya gemetar.


"Dek.. bisa tunda dulu sampai adzan nggak mulesnya?? Abang deg-degan ini dek" kata Bang Ibra kebingungan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2