Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
97. Hari yang membuat pusing.


__ADS_3

Bang Ibra pulang masih menyimpan kekesalannya. Mantan mertua Ola benar-benar membuatnya naik darah.


"Ada apa Bang? Apa ada pekerjaan yang tidak selesai?" tanya Ola yah tanpa sengaja melihat wajah kesal sang suami.


"Nggak ada apa-apa. Iya memang sedang ada banyak pekerjaan, biasalah adaptasi di kantor baru" jawab Bang Ibra. Dirinya sengaja tidak mengatakan apapun soal kedatangan mantan mertua Ola sebab tak ingin membuat istrinya terlampau sedih karena ulah mertuanya. Ia sudah meminta pada anggota nya agar tidak mengijinkan mantan mertua Ola dan siapapun yang akan membuat istrinya itu jadi tidak nyaman.


"Oya, apa tadi jadi imunisasi?" Bang Ibra baru mengingat kalau dirinya tidak jadi mengantar Nasya imunisasi.


"Sudah tadi sama Fia. Ibu bidan yang datang kesini" jawab Ola.


Bang Ibra langsung masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan Nasya. Badan gadis kecilnya itu sedikit gemetar. Bang Ibra menyentuh keningnya, ternyata gadis kecilnya sedang demam karena efek imunisasi.


"Sayangnya Papi demam ya nak? pahanya sakit? Sebentar ya, Papi bersih-bersih dulu. Nanti bobo' sama Papi"


:


Demam Nasya berangsur turun, Bang Ibra terus bertelanjang dada dan memeluk Nasya kecil. Memang tak ada ikatan darah di antara dirinya dan Nasya tapi rasa sayang Bang Ibra untuk Nasya gak kalah besar layaknya seperti ayah kandung.


"Jadi anak yang pintar ya nak. Sayangi Mami..!! Mami mengandungmu dengan susah payah" ucapnya lirih di telinga Nasya.


"Abang mau di masakin apa?" tanya Ola.


"Beli saja dek, nanti Abang titip Hega" jawab Bang Ibra.


"Kamu istirahat saja selagi bisa istirahat..!!"


"Ola nggak capek kok Bang" senyum Ola mengembang tapi tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya yang begitu terlihat jelas.


Baru saja Ola duduk, ia sudah menguap. Tak lama Ola benar-benar tertidur. Bang Ibra menggeleng tersenyum melihat tingkah Ola.


"Capek tapi nggak mau mengaku"


Sadar Nasya sudah tertidur pulas, Bang Ibra membaringkan Nasya di box bayi agar tidak mengganggu maminya yang sedang tidur. Bang Ibra pun kembali lagi lalu memindahkan Ola ke atas ranjang.


"Selamat tidur malaikat tak bersayap nya Abang. Nikmati hari-hari mu. Abang tidak akan mengganggu" Bang Ibra mengecup bibir Ola.


***


"Hmm.. Abang setuju dengan tindakanmu. Nanti kalau keluarga mantan suami Ola datang lagi.. Biar Abang yang beri pelajaran.. Ini adalah wilayah di bawah kepemimpinan Abang. Tetap Abang akan memberikan ketegasan pada mereka.


"Iya Bang..."

__ADS_1


tok..tok..tok..


"Masuk..!!" Bang Sanca memberikan ijinnya.


"Assalamualaikum.." teriak Bang Garin sekencang mungkin.


"Astagfirullah..." Bang Sanca sampai berjingkat kaget.


"Wa'alaikumsalam.... Aahh.. nggak ada makhluk lain nih selain lu?"


"Jangan begitu donk. Tamu itu rejeki" kata Bang Garin.


"Semua pasti rejeki, kecuali lu.... musibah"


"Ada job buat Danki, tapi 'di luar jalur'.. Mau terima tawaran??" tanya Bang Garin.


"Apa dan berapa bayarannya?" Bang Sanca mulai terpancing dan tidak bertele-tele.


"Gaji tiga juta satu hari"


"Hmm.."


"Ngajak ngobrol patung raksasa di ujung jalan desa. Siapa tau dia insyaf dan pengen balik ke jalan yang benar" jawab Bang Garin dengan wajah serius.


"Iidiihh.. si Abang. Laki-laki tuh harus penyabar, biar istri semakin sayang. Contoh nih gue. Laki-laki yang selalu jadi idola wanita" ucapnya dengan sombong.


"Cepat bilang..!! ada apa? Nggak usah pamer skill jadi buaya darat. Levelmu itu masih anak itik terjepit pagar" ledek Bang Sanca.


"Oke aku serius. Tolong supply pakan ternak untuk ayamku.. aku merintis usaha ternak ayam"


"Alhamdulillah.. gini khan aku jadi bangga" Bang Sanca tulus menyemangati sahabatnya itu.


"Berapa banyak aku harus kirim pakan ternak?" tanya Bang Sanca.


"Satu kilo saja. Aku punya ayam lima ekor" jawab Bang Garin tanpa rasa bersalah.


"Astagfirullah.. dosa apa sih aku ini. Keluar sekarang dan bicaralah baik-baik sama pohon cabe di luar sana..!!" emosi bang Sanca kembali tersulut.


"Hehehe.. gitu aja marah. Aku bercanda. Aku baru merintis dan hanya baru punya seribu ekor" kali ini ucap Bang Garin serius.


"Awas lain kali kalau macam-macam lagi.. Kuracun ayam-ayam mu" ancam Bang Sanca.

__ADS_1


"Iyaa.. paling ku balas pakai vitamin neraka"


Bang Sanca dan Bang Ibra hanya. Bisa mengelus dada menghadapi jahilnya Bang Garin.


"Gue kesini sekalian mau ajak kalian ke acara syukuran yang aku buat" kata Bang Garin.


"Memangnya ada acara apa?"


"Alhamdulillah aku sudah selesai baca komik detektif seroc hum dan aku sekarang jadi lebih cerdik."


Bang Sanca menunduk meremas rambutnya. Rasa kesalnya sudah di ujung kepala, banyak pekerjaan tapi sahabatnya itu terkadang benar-benar membuatnya semakin stress.


"Eehh bodong..!! Aku lagi nggak mood ribut. Kembali ke habitat mu sekarang juga..!!!!"


"Acara syukuran kecil-kecilan. Esa minta doa bersama agar usaha peternakan ini lancar, menghasilkan berkah untuk keluarga" kata Bang Garin.


"Datanglah bersama keluarga..!! Kurang baik apa aku mengundang kalian secara langsung. Inilah pria baik budi dan tidak sombong"


"Ngomong-ngomong aku juga baru ingat. Ada sampingan buat kita-kita yang butuh dana tambahan. Gajinya tiga juta lima ratus ribu satu hari"


"Waaahh.. apa? Aku mau?" mata Bang Garin langsung berbinar terang.


"Ndulang ( menyuapi ) komodo perempuan pakai jarimu..!!" kata Bang Sanca dengan wajah yang tenang.


"Sorry black.. seromantis apapun aku. Belakangan ini aku sudah beralih menjadi manusia yang lebih baik. Aku sudah belajar menjadi syeh" jawab Bang Garin meskipun sebenarnya dirinya pun kesal.


"Alhamdulillah.. tapi khusus untuk mu.. memang aku percaya. Jatuhnya 'syeh_tan' "


...


Bang Sanca baru menutup laptopnya, dan sudah beranjak pulang ke rumah. Tiba-tiba Om Hega terengah-engah melapor pada Bang Sanca.


"Ijin Dan.. Ibu dan Ibu Ibra......"


"Kenapa istri saya??" Bang Sanca begitu panik. Tak berbeda jauh.. Bang Ibra pun seketika ikut panik.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2