
Masuk konflik berat. Yang tidak bisa santai.. harap skip ☺️🙏.
🌹🌹🌹
"Tenang saja. Masa kecilku jago bidik mangga" jawab Bang Garin.
"Mangga kau banggakan, aku saja yang bisa panjat pepaya, nggak sombong..!!"
Tak lama ada beberapa orang keluar dari ladang yang cukup luas.
"Astagfirullah.. apa ini?? Kamu hati-hati dek. Tetap di belakang Abang..!!"
Fia mengangguk menyiapkan pistolnya.
Bang Sanca memperhatikan istrinya. Fia memang sanggup bertarung, tapi keadaanya yang sedang hamil pasti membuat pergerakan Fia menjadi terbatas.
tok..tok..tok..
Di depan sana ada seseorang berkerubut selimut dan terjatuh, beberapa orang menolongnya.
Bang Sanca menghubungi beberapa anggota lewat pesan suara yang ia kirimkan ke pihak Batalyon.
"Tolong pak, ibu saya butuh tumpangan" pinta seseorang berteriak dari luar sana.
Bang Sanca dan Bang Garin kembali saling bertatapan.
"Heii.. apa kalian tidak punya perasaan??" bentak orang itu.
"Buka dulu Bang, tapi kita jaga-jaga" kata Fia.
"Tapiiii....."
Bang Garin membuka kunci otomatis. Tombol baru saja terbuka.. berondongan peluru sudah melesat ke segala penjuru. Pintu bagian belakang terbuka. Pria itu menarik Fia dengan kasar.
"Fiaaaa..!!!!!!!"
"Jangan sentuh dia...!!!!! urusanmu dengan saya.. bukan dengan dia" ucap Bang Sanca sembari keluar dari dalam mobil.
Bang Garin menutup mobil dengan rapat lalu menyiapkan sesuatu disana.
"Sekarang ku tunjukan keahlianku. Kalian tak tau, masa kecilku bisa menghias kue tart mama"
:
"Kalian ini pengacau. Harus di binasakan..!!"
Bang Sanca menodongkan pistolnya tapi pria itu secepatnya menodongkan pisau di leher Fia membuatnya tidak bisa berkutik.
"Hahaha.. ternyata pak tentara lemah dengan seorang wanita" ucap pria itu kemudian menepak perut Fia. Teriakan Fia menimbulkan amarah Bang Sanca.
"Sergap dia..!!"
Mobil bang Sanca terbuka, ia mengenakan rompi anti peluru dan menembakan saus sambal ke mata musuh memakai 'pistol' yang sudah di modifikasi sesuai rakitannya.
Sekuat tenaga Fia menghajar para 'preman' itu dengan jurusnya yang mulai ngawur tak terarah. Ia menyerahkan pistolnya pada Bang Garin.
buugghhh..
Sebuah tendangan kencang tepat mengenai perut Fia.
"Egghmm.. Abaang..!!!" Fia ambruk memegangi perutnya.
__ADS_1
"Deek..!!!!"
Serangan demi serangan terus menerjang. Konsentrasi Bang Sanca mulai terpecah.
"Perempuan itu yang sok tau itu sudah membocorkan aset kami dan bertahun-tahun kami menjadi incaran." ucap seorang pria dengan garang.
"Kau dan kelompokmu sudah merusak anak bangsa." Bang Sanca tak terima dan menghajar mereka membabi buta begitu pun dengan Bang Garin yang membidik para musuh menggunakan ketapel dengan gayanya yang gagah.
Seseorang dari mereka akan menghajar Fia lagi tapi Bang Sanca segera mengambil balok kayu dan menghantam tengkuk pria tersebut.
Tak lama para anggota berdatangan dan para musuh itu berhamburan.
"Fiaaa.." Bang Sanca segera menghampiri istrinya.
"Abaang.. sakit sekali..!! Si dedek nggak gerak Bang" kata Fia melemah.
"Kita ke rumah sakit. Tenanglah.. anak kita pasti baik-baik saja" kata Bang Sanca menenangkan Fia padahal dalam hati kecilnya sudah cemas luar biasa.
"Kalian ke rumah sakit. Papa handle lokasi..!!" perintah Papa Zaldi saat melihat Fia terkapar kesakitan.
...
Bang Garin gemetar melihat pakaian Fia sudah banyak noda darah.
"Nggak konsen lah aku San. Rasanya mau pingsan"
"Sampai sempat kau pingsan di sini.. kuhajar kau sampai jadi dodol" ancam Bang Sanca dengan keras.
"Buka mata dan kemudikan mobil dengan benar..!!"
//
Dokter Endang menggantikan rekan Bang Sanca karena sedang berada di luar kota. Alat USG menunjukan bahwa bayi yang ada dalam kandungan sudah sedikit melemah karena mengalami pendarahan.
Bang Sanca melihat Fia begitu kesakitan. Tangannya yang sudah tercakar Fia pun tidak ia pedulikan lagi.
"Ya Allah Abaaang..!!!!" Fia meremas kuat jemari Bang Sanca. Pria itu hanya bisa meringis karena yang ia rasakan pastinya tak sebanding dengan apa yang dirasakan sang istri.
"Jangan banyak teriak dek. Nanti tenagamu habis" Bang Sanca begitu terpukul. Pakaian dan tangannya pun kotor terkena noda.
"Perut Fia sakit sekali, terasa sampai bawah" ucapnya sembari menahan rasa sakit.
"Abang tau, sabar ya sayang. Kamu mau jadi seorang ibu. Maafin Abang nggak bisa berbuat banyak untuk kamu" Bang Sanca mencium kening Fia sambil mengusap perut istri kecilnya.
"Bagaimana pak?" tanya dokter Endang sudah akan menangani Fia.
Batinnya sebagai seorang suami bergejolak. Disisi lain ada anak yang harus di selamatkan tapi dengan situasi yang ia dapatkan tadi, dirinya meragukan kekuatan seorang Fia. Bang Sanca memejamkan matanya batinnya terasa begitu sakit tak bisa memilih. Fia yang begitu polos sungguh telah merubah dunianya. Baby Juno yang begitu ia nantikan kehadirannya apakah sungguh akan pupus detik ini juga. Dirinya pun mengingat saat berdua dengan Fia dan tanpa ia sadari sudah membuat baby Juno ada di perut ibunya.
Jemari Bang Sanca mengepal kuat. Pedih teramat pedih ia rasakan. Sungguh ia tak sanggup merasakan sakit di relung hatinya.
"Selamatkan istri saya..!!"
"Abaaang.. biarpun Fia harus mati.. Fia ingin anak ini hidup dan melihat dunia. Kenapa Abang sekejam ini??" teriak Fia tak terkontrol lagi.
"Kalau Abang tidak menyelamatkan anak kita, Fia tidak akan pernah mau menjadi istri Abang lagi..!!!" ancam Fia dalam kekalutan batinnya.
"Cepat lakukan dok..!!" perintah Bang Sanca seolah tidak mendengar ucapan Fia.
Dokter melakukan tindakan untuk Fia. Fia yang sudah lemas tidak bisa banyak menolak.
...
__ADS_1
Bang Sanca memegang kedua pergelangan Fia dengan kencang.
"Bisakah kamu nggak semarah ini sama Abang??? Hati Abang sakit sekali, nggak bisa memilih antara kamu atau anak kita. Kalau saja ada pilihan yang lebih baik daripada ini, Abang lebih baik mati. Kalian berdua sangat berharga" Bang Sanca menunduk tak kuat menatap mata Fia. Ia paham karena selama ini Fia yang begitu menginginkan hadirnya si buah hati di tengah mereka tanpa seorang pun yang tau bahwa dirinya pun begitu menginginkan seorang anak dari Fia bahkan sejak dirinya belum mengucapkan janji suci.
Fia melemah tak sanggup berkata apapun lagi. Rasa sakit luar biasa hilang dan timbul begitu menguras tenaganya.
Disana Bang Sanca mengusap punggung Fia yang sesekali menarik nafas lalu membuangnya.
"Fia nggak mau kehilangan anak ini Bang" ucap Fia terbata. Nafasnya mulai berat, ingin mengungkapkan segala perasaan tapi bibirnya tak lagi sanggup bicara. Sekuatnya ia mengejan namun gagal.
Bang Sanca mendekap dan menciumi wajah Fia. Sebagai seorang pria dirinya benar-benar tidak tega melihat perjuangan seorang istri yang mempertaruhkan nyawa hidup dan mati demi nyawa lain yang akan lahir ke dunia.
"Abang tau pasti sakit sekali, tapi semampumu.. berusahalah untuk tidak menyerah, anakmu ada dalam perjuanganmu dek..!!" Tetesan air mata tak bisa ia tahan.
Selamatkan anakku Bang..!!" Ini kali pertama ia melihat suaminya yang garang itu meneteskan air mata. Dengan satu tarikan nafas panjang.. Fia mengejan kuat dan akhirnya lahirlah seorang jagoan dari rahim Zafia.
Sesak itu langsung mendera. Mata lentik itu tertutup sempurna.
"Fiaaaaaa...!!!" pekik Bang Sanca.
"Sabar pak.. istri bapak baik-baik saja" kata dokter Endang.
Bang Sanca tersandar di dinding, ia meremas dadanya dengan kuat.
"Bagaimana anak saya?"
"Alhamdulillah pak, bayi bapak masih bisa di selamatkan tapi harus dengan perawatan ekstra dan masuk inkubator" jawab dokter Endang.
"Alhamdulillah Ya Allah" Bang Sanca bisa sedikit bernafas lega.
"Lalu istri saya?" tanya Bang Sanca sambil melihat bidan yang sedang menangani Fia membuatnya meringis tak tahan.
"Istri bapak, punya riwayat asma yang berat. Kami masih mengusahakan yang terbaik dan semaksimal mungkin"
Bang Sanca terisak sesak memeluk Fia.
"Fiaa.."
"Fiaaaaaa"
...
Bang Sanca menghapus air matanya melihat bayinya tidur di inkubator dengan banyak alat menempel di tubuhnya.
"Sabar le, semua akan baik-baik saja..!!" Papa Zaldi sebisa mungkin menenangkan Bang Sanca.
"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri"
"Iya pa"
Tak lama ada seorang perawat memberi susu formula untuk bayinya. Tetes air mata itu kembali tumpah. Fia belum sadar juga untuk melihat bayinya.
"Ternyata kamu pintar buatnya. Anakmu ganteng" kata Papa Zaldi.
"Iyalah pa. 'Bisa' siapa dulu" jawab Bang Sanca.
"Woo.. edaan"
.
.
__ADS_1
.
.