
Sedari tadi Bang Sanca membuntuti kemanapun Fia pergi hingga Fia merasa jengah Bang Sanca mengikutinya.
"Bisa tidak kalau Abang duduk saja. Nggak usah mengikuti Fia terus. Fia malas sekali Abang ikuti kemana-mana" kata Fia.
"Masa ikut saja nggak boleh? Apa Abang harus mengikuti Rhea atau Yuna?" tanya Bang Sanca.
deg..
Hati Fia terasa sakit mendengar perkataan Bang Sanca yang tidak berperasaan tapi ia menahannya.
"Masih diam dek? Benar nih Abang boleh mengikuti Rhea?" tanya Bang Sanca lagi.
"Silakan..!! Itu semua terserah Abang. Fia tidak ingin memaksa pria yang tidak tulus mencintai Fia, tapi ingat Bang.. ada dua hati yang kecewa nantinya. Fia dan anak gadis Abang ini. Putri kandung Kapten Sanca. Cepat sana temui Mbak Rhea atau Mbak Yuna" jawab Fia dengan tenang sambil mengusap perutnya.
"Sayang.. Abang nggak bermaksud begitu. Abang khan hanya bercanda. Kenapa semua hal kamu ambil hati" kata Bang Sanca.
Fia mengambil ponselnya lalu menghubungi Bang Ryan.
"Bang Ryan.. ke rumah Fia sebentar donk..!! Fia pengen ketemu Abang"
"Kenapa dek?" tanya Bang Ryan karena tidak biasanya Fia menghubunginya.
"Fia kangen Abang" jawab Fia.
"Opo sih?? Lambene" Seketika Bang Sanca menyambar ponsel di tangan Fia dan mematikannya.
"Kenapa Abang ambil?" tanya Fia.
"Bilang kangen di depan Abang. Kangen sebagai adik atau sebagai wanita??" emosi Bang Sanca kembali meningkat.
"Seperti rasa Abang untuk Mbak Rhea dan Mbak Yuna" jawab Fia.
__ADS_1
"Nggak usah ngayal kamu. Abang sudah nggak ada lagi rasa sama mereka dan juga masa lalu tidaklah penting dalam hidup Abang. Dari dulu pun rasa Abang untuk mereka tidak sedalam rasa Abang untuk kamu" kata Bang Sanca dengan jelas.
"Lalu apa tujuanmu?? Apa bagus kalau sudah buat suami jadi cemburu?" ucap keras Bang Sanca.
"Oohh.. Abang bisa cemburu juga? Fia kira sikap Abang selama ini hanya syarat saja sebagai suami Fia. Sebatas melindungi dan sedikit rasa sayang" dengan santainya Fia meninggalkan Bang Sanca.
"Ngomong apa kamu ngawur begitu. Apa harus Abang katakan hal seperti itu? itu semua hal natural yang alami di rasakan manusia. Seperti ABG labil aja kamu minta kata-kata cinta, cemburu, sayang" kata Bang Sanca kesal.
"Oke.. tapi jangan salahkan Fia kalau ada pria lain yang mengucapkannya. Kata-kata itu mungkin tidak begitu penting bagi Abang, tapi kata yang sepele itu bisa membangkitkan rasa yang nyaris rapuh"
Saat sedang fokus dengan perdebatan mereka, suara ketukan pintu sudah terdengar kencang di telinga. Bang Sanca meninggalkan Fia kemudian membuka pintu depan. Ingin tidak percaya tapi sungguh yang ada di hadapannya kini memang benar-benar Bang Ryan.
"Fia kenapa Bang? Sakit lagi?" tanya Bang Ryan.
"Masuklah.. dia baik-baik saja" jawab Bang Sanca dengan wajah masamnya.
"Tunggu Bang.. Ada apa? Apa saya berbuat salah hari ini?" Bang Ryan merasa sangat bersalah.
"Nggak.. aku yang salah" jawab Bang Sanca kemudian kembali masuk ke dalam rumah.
"Ada ribut apalagi kamu sama Abang? Jangan suka memanasi hati suami mu. Pekerjaannya bukan hal yang mudah di kerjakan semua orang. Emosinya mudah tersulut. Nyawa lho dek taruhannya. Pahamilah.. pria itu makhluk egois, tapi percayalah.. Mereka mencintaimu dengan caranya" kata Bang Ryan menasihati Fia.
"Fia hanya sedikit kesal saja sama Abang. Ucapan Fia kadang suka buat Fia sakit hati"
"Lain kali jangan curhat sama laki-laki lain ya kalau ada masalah antara kamu dan Bang Sanca. Abang bukannya tidak mau dengar curhatan adik sendiri.. tapi alangkah baiknya kamu bicara berdua dengan Abang. Ungkapkan segala apa yang ada dalam hatimu. Bicara berdua juga bisa semakin mendekatkan mu dan Abang" saran Bang Ryan.
Bang Sanca hanya mendengar percakapan 'adik kakak' itu. Ada rasa kelegaan karena Ryan tidak seburuk yang ia kira meskipun dalam hatinya masih tetap waspada.
...
Bang Sanca merokok di belakang rumah sambil memonitor acara besok. Meninggalkan Fia selama tiga hari sungguh membuatnya cemas. Ia tidak ingin Raiz ada disana tapi tak ingin juga Bang Ryan yang menjaga Fia.
__ADS_1
Fia meletakan kopi di samping Bang Sanca. Sekilas Bang Sanca melihatnya.
"Besok berangkat jam berapa?" tanya Fia membuka percakapan.
"Setelah subuh. Mau titip apa setelah Abang selesai tugas?"
"Kembalilah tanpa kurang suatu apapun" Fia menyandarkan kepalanya di bahu Bang Sanca.
Tangan Bang Sanca memindahkan cangkir kopi yang ada di tengah mereka berdua kemudian merangkul bahu Fia agar bisa lebih dekat dengannya.
"Abang minta maaf, Abang sayang kamu dek"
Fia menutupi bibirnya tertawa geli mendengarnya. Suaminya itu jarang sekali mengucapkan kata sayang. Kini yang di lihatnya adalah wajah lucu Kapten Sanca padahal Fia tau suaminya itu sedang serius.
"Apa ada yang lucu?" tanya Bang Sanca bingung.
"Sudahlah Bang.. Abang memang tidak bakat merayu dengan kata-kata. Fia tidak akan meminta kata-kata itu seperti ABG labil" jawabnya seakan menyindir Bang Sanca.
"Abang nggak mau ada laki-laki lain yang mengucapkannya" jawab Bang Sanca.
Kedua bola mata Bang Sanca menatap lekat pada Fia.
"Sekali-kali Abang mau jadi buaya daratmu. Kamu pengen khan Abang gombalin?"
"Apa mengucapkan cinta dan sayang itu gombal?" Fia mendekatkan wajahnya lebih mendekat pada Bang Sanca.
"Tentunya kamu berbeda dengan semua wanita yang pernah singgah dalam hidup Abang. Dulu Abang memang selalu mengumbar kata, tapi sama kamu.. tidak bisa hanya dengan kata. Kamu adalah istri dan kamu belahan jiwa. Mana bisa Abang menyamakan ibu dari anak-anak Abang dengan wanitanya Abang terdahulu. Apa itu belum cukup untuk membuat mu percaya.. ibu Danki?"
.
.
__ADS_1
.
.