
"A*u.. c*k.. koclookk.. Iki opo sih. Lulusan terbaik pendidikan nggak iso pecahkan penjaluke bojo.. Iki piye critane???" gumamnya frustasi.
"Lama-lama aku telan racun tikus juga nih"
"Kenapa kamu?" tanya Anjar menemui Bang Sanca. Wajah panas Bang Sanca seketika tak bisa di sembunyikan.
"Aku kesini bukan mau menantangmu adu panco. Slow saja itu wajahmu..!!!"
"Terus mau apa? aku sibuk" jawab Bang Sanca.
"Maaf San.. aku benar-benar nggak tau kalau Fia istrimu. Aku juga nggak mau lah kalau nyamber bini orang" kata Bang Anjar.
"Hmm.." jawab Bang Sanca singkat.
Tak lama Bang Dafa melintas di hadapan Bang Sanca dan Bang Anjar. Tiba-tiba Bang Dafa merasa pening luar biasa begitu pun Bang Sanca yang langsung berbalik badan dan muntah tak karuan. Jadilah dua calon bapak ini mendadak bersaing ketat mabuk-mabukan.
:
"Apa-apaan kalian berdua ini??" tegur Bang Garin.
"Aku nggak mau lihat Sanca" kata Bang Dafa.
"Kau kira aku senang melihat wajahmu itu, apalagi kumismu itu" Bang Sanca yang emosi sudah ingin menghajar Bang Dafa, begitu pun dengan Bang Dafa yang melihat wajah Bang Sanca juga tersulut emosi.
"Ada apa ini?" tanya Danyon dengan gagahnya.
"Hhkk.. " Bang Sanca dan Bang Dafa kembali muntah hebat saat melihat Bang Hisam.
"Aduuh Bang, tanpa mengurangi rasa hormat.. pergilah Abang lalu mandi air kembang. Mereka berdua kena tulah istri hamil Bang. Mabuk parah lah mereka lihat Abang, mungkin Abang di pandangnya macam t*i yang harus di enyahkan" kata Bang Garin.
"Hei Garin.. Kurang ajar sekali kau ini..!!" tegur Bang Hisam.
Mata Bang Sanca dan Bang Dafa menatap Bang Hisam dengan penuh rasa jengkel.
"Ehm.. saya pamit pulang dulu. Mau bantu istri cuci piring..!!" pamit Bang Hisam menghindari tatapan mata Bang Sanca dan Bang Dafa.
"Sudahlah broo.. tolong aku saja..!!" pinta Bang Sanca pada para sahabatnya.
...
Bang Sanca meletakkan semua pesanan istrinya di atas meja.
"Ada yang kurang Bu DanPom ku tersayang?"
Fia melihat bungkusan yang di bawa Bang Sanca. Ada nasi kuning, mie tektek dan susu kedelai.
__ADS_1
"Nggak ada Bang" jawab Fia dengan senang hati.
Bang Sanca ingin mengecup bibir Fia, tapi si cantiknya yang lugu itu menghindar dan memalingkan wajahnya.
"Ada apa?"
"Sebut dulu password nya..!! atau denda dua puluh ribu..!!" ancam Fia.
"Ya Allah gustiiiiii.." Bang Sanca mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Hmm.. ambil semua, habiskan..!! Abang bobol sandinya, tapi kamu harus di hukum karena sudah nyusahin suami..!!" tak banyak buang waktu, Bang Sanca mengangkat Fia sampai ke kamar.
-_-_-_-_-
Hari sudah siang saat Fia dan Bang Sanca bangun dari tidurnya. Mereka bersiap berangkat ke rumah sakit tentara untuk cek kesehatan.
Saat sedang membenahi jilbabnya, ponsel Fia bergetar. Matanya melirik ponsel tapi sesaat kemudian tangan itu gemetar membaca pesannya.
"Ada apa?" tanya Bang Sanca.
"Nggak ada apa-apa Bang" secepatnya Fia memasukan ponsel ke dalam tasnya.
Bang Sanca merasa ada yang tidak beres dengan istrinya tapi ia masih menahan diri demi bumilnya.
...
"Siap Bang.. Fia khan sudah saya nikahi" Bang Sanca juga mempertegas ucapannya agar tidak kembali salah paham.
Dari ruangan itu Bang Sanca bisa melihat Fia sedang menerima telepon dan menghapus air matanya. Badannya tetap terlihat gemetar.
Ada apa dengan Fia? Sikapnya aneh sekali.
Bang Bayu mengingat belakangan ini Fia bersikap aneh. Ia mengira sikap anehnya hanya bawaan dari bayinya tapi sekarang rasa aneh itu begitu terasa.
"Ini sudah saya sah kan. Silakan kamu bawa ke Batalyon. Yaa.. walaupun terlambat, tapi selamat menempuh hidup baru ya San...!!" kata Bang Andri.
"Siap Abang. Terima kasih banyak"
"Ijin pamit mendahului Bang"
Bang Sanca pun keluar dari ruangan dan menghampiri Fia. Baru menyentuh bahunya.. Fia sudah kaget sampai berjingkat.
"Kamu itu kenapa? Bilang sama Abang..!!" tanya Bang Sanca ketika Fia terburu-buru menyimpan ponselnya.
Melihat itu, Bang Sanca langsung menyambar ponsel Fia dan mencari ada informasi apa di dalamnya.
__ADS_1
"Jangan Bang. Kembalikan ponsel Fia..!!" Fia terlihat begitu panik saat Bang Sanca melihat semua isi ponselnya.
Bang Sanca melirik Fia sekilas lalu menggandengnya ke dalam mobil menahan geram dan emosi yang memuncak dalam dada.
:
"Sejak kapan dosenmu yang bernama Jaya itu suka mengancam mu seperti itu?" tanya Bang Sanca masih merendahkan suaranya.
"Baang..!!" Fia tak tau harus memulai mengatakan semuanya darimana sebab ia sangat takut Bang Sanca akan marah padanya.
"Kamu mau bilang baik-baik atau Abang bunuh si Jaya itu..!!!!" ancam Bang Sanca.
"Fia pernah menolak Pak Jaya untuk menemaninya jalan-jalan, karena hal itu.. Pak Jaya memberi Fia nilai D padahal Fia sudah mengerjakannya dengan benar" kata Fia terbata sambil menatap mata Bang Sanca.
"Apalagi? Kenapa dia sampai mengajakmu menyewa kamar di hotel????" bentak Bang Sanca.
"Fia memintanya untuk meneliti kembali hasil pekerjaan Fia, tapi Pak Jaya bilang hasil tugas Fia salah semua. Kalau Fia ingin nilai bagus.. Fia....."
"Tidur sama dia????" jawab Bang Sanca.
Fia menangis menutupi wajahnya.
"Kamu bodoh atau bagaimana?? Kamu sudah punya suami. Kenapa nggak bilang kalau kamu menghadapi masalah seperti ini????" Bang Sanca menghantam kemudi mobilnya dengan keras.
"Abang sakit hati Fia..!!! Bagaimana bisa ada banyak pria b******n di sekitarmu??? Cukup Abang saja pria b*****nmu..!!"
Mendengar bentakan Bang Sanca membuat perut Fia seketika kram. Ia sangat takut dengan kemarahan Bang Sanca.
"Maaf Abang, Fia takut Abang marah"
"Abang akan lebih marah kalau kamu bohong sama Abang" amarah itu begitu menggelegar sampai Fia tak tahan mendengarnya. Asma Fia kambuh seketika.
"Fiaa.. sudah jawab semuanya Bang. Fia menolak pergi sama pak Jaya" jawab Fia sekuatnya. Ia meremas dadanya yang terasa sesak.
"Fiaaa.. dek..!!!" Bang Sanca panik saat melihat Fia meraba dashboard mobil mencari sesuatu.
"Ya Allah dek.. Abang lupa bawa inhalermu" Bang Sanca panik melihat wajah Fia semakin memucat.
.
.
.
.
__ADS_1