
Tolong hargai alur penulisan di cerita Nara manapun. Nara menulis menggunakan pikiran dan waktu. Jika tidak suka.. tolong lebih baik skip dan menghilang tanpa kata. Komentar tidak membangun bagi Nara barat nila setitik.. rusak susu sebelanga.
Terima kasih untuk dukungan pembaca setia Nara dan Nara menyuguhkan cerita bagi yang suka dan tidak takut konflik.
🌹🌹🌹
Malam hari.. Bang Sanca pulang ke rumah. Ia menarik nafas dalam-dalam agar tidak terlihat lemas di hadapan Fia. Ia tidak ingin Fia cemas atau stress memikirkan dirinya meskipun luka di tubuhnya tidak parah.
"Baaaaaaaa" Fia melompat mengagetkan Bang Sanca.
"Astagfirullah.. jangan loncat dek..!! Bagaimana sih kamu ini" tegur Bang Sanca.
"Abang kemana saja? Fia kangen" Fia memonyongkan bibirnya dan Bang Sanca sengaja menghindar.
"Iihh.. kenapa Abaaang??" Fia pun mulai jengkel.
"Masa di depan pintu. Kelihatan tetangga donk. Masuk yuk..!!" ajak Bang Sanca kemudian menutup pintu rumah.
Karena ulah nakal Fia, Bang Sanca pun jadi terpancing. Ia mengangkat rok Fia kemudian mengecup bibirnya.
Tangan Fia yang merajalela membuatnya semakin tidak tahan. Bang Sanca melepas paguttan nya.
"Anakmu dimana sayang? Jangan cari perkara sekarang" kata Bang Sanca.
"Jalan-jalan sama Papa karena Papa Mama hanya punya waktu sebentar disini" jawab Fia.
"Baguslah" Bang Sanca pun melanjutkan lagi.
"Sancaaa.. Saan..!!!!!" teriak Bang Garin sembari membuka pintu rumah Bang Sanca.
"Wedhus Gibas, duwe sopan opo nggak sih Gar?????" bentak Bang Sanca kelabakan menutupi tubuh Fia bahkan sampai memepet nya di tembok.
"Aaaahh.. nanti saja ngomelnya. Aku sakit perut" Bang Garin langsung melewati Bang Sanca dan berlari menuju kamar mandi.
Bang Sanca sampai meninju pintu kamar saking geramnya.
"Sudah Bang, sabar. Nanti khan bisa berduaan" kata Fia menenangkan Bang Sanca yang masih terpejam dengan emosinya.
Tak lama, Bang Garin keluar membenahi celananya sambil menatap mata Bang Sanca dan Fia secara bergantian.
"Kenapa kalian berdiri di depan pintu?" tanya Bang Sanca tanpa rasa bersalah.
Tak lama Bang Garin mulai paham saat melihat wajah geram Bang Sanca.
__ADS_1
"Oohh.. kalian mau adu banteng ya? Hahaha.. maaf, perutku ini tau saja kalau ada yang mau bahagia" kata Bang Garin dengan senyumnya yang begitu menyebalkan.
"Ngomong-ngomong.. kamu masak nggak Fi, Abang lapar"
"Lailaha Illallah.. Gariiiinn..!!!!!" Bang Sanca hampir melempar apa saja di sampingnya karena sudah kalap dengan tingkah Bang Garin.
:
"Ayo silahkan makan.. jangan sungkan-sungkan." Bang Garin menawari Bang Sanca dan Fia di rumah littingnya itu.
"Lama-lama gue banting juga lu Gar. Ini rumah gue, yang masak juga bini gue, kenapa jadi lu yang nawarin makan?" protes Bang Sanca.
"Nah lu jadi tuan rumah nggak cekatan, masa ada tamu malah lu maki-maki bukannya di suguhin minum, cemilan gitu" jawab Bang Garin.
"Tamu khan bawa berkah bro"
"Khususon lu.. lu itu tamu yang harus di pertimbangkan untuk di usir." ucap gemas Bang Sanca.
"Bang.. jangan marah terus aahh. Jangan sampai anak kita bentukannya kaya begitu" bisik Fia ikut cemas.
"Ngalah aja dah Bang"
Bang Sanca mengusap wajahnya.
Bang Garin terus saja tertawa melihat Bang Sanca dan Fia berbisik manja membicarakan tentang dirinya.
"San.. kita jodohin anak kita yuk..!!" kata Bang Garin.
"Aahh lu, jangan ikut campur sama masalah anak. Kalau kita jodohin terus anak kita ada rasa yang sama lain gimana? Mereka bisa tersiksa, hubungan mereka jadi tidak sehat, biarkan saja semua terjadi secara natural" jawab Bang Sanca.
"Lagian gue berat punya besan macam lu, gue bisa mendadak gila"
Sekali lagi Bang Garin tertawa renyah. Dalam kesalnya Bang Sanca.. dalam hatinya masih mengakui jika tak ada Garin di sampingnya.. mungkin dirinya tidak mungkin bisa bertahan pada tahap ini karena meskipun menyebalkan.. Bang Garin adalah sahabat terbaik yang pernah ia miliki.
"Fi.. Abang do'akan kamu tebal iman, kuat mental punya suami macam Sanca" kata Bang Garin.
"Gariinn.. harusnya itu omongan buat Esaaa"
Seketika Bang Garin lari dan langsung pulang setelah membuat keonaran di rumah Bang Sanca.
//
Esa duduk di sofa, ia mengusap perutnya yang sedikit lebih besar. Entah kenapa rasa lelahnya hari ini membuat perutnya terasa kram.
__ADS_1
"Kenapa dek?" tanya Bang Ibra melihat istrinya memercing sakit.
"Perut Ola kenapa sakit sekali ya Bang" kata Ola mengadu.
Bang Ibra merebahkan Ola perlahan lalu memijat badan Ola. Ia sangat paham kelelahan bumil apalagi tadi siang ada kerusuhan yang membuat Ola sangat ketakutan.
"Jangan pikirkan hal tidak penting, hal seperti tadi sudah biasa di sini."
"Ola hanya mencemaskan Abang."
"Suamimu ini sudah terlatih.. dan hal seperti ini sudah biasa. Kamu saja yang tidak biasa" jawab Bang Ibra.
"Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja" pinta Ola.
"Ya Allah dek.. kenapa sampai seperti ini sih. Abang janji, tidak akan lemah hanya karena serangan senjata." Bang Ibra mengecup kening Ola.
"Masa Abang harus buktikan bagaimana kuatnya Abang" bisik Bang Ibra.
"Abaaaanngg.. jangan mulai deh"
Bang Ibra tertawa melihat ekspresi Ola.
"Kenapa? sudah percaya kekuatan suamimu?"
"Amat sangat percaya Bang" jawab Ola.
Bang Ibra pun membawa Ola ke kamar.
...
Bang Sanca mondar mandir bingung di kamar. Fia sudah tidur nyenyak membuka kaki dan itu membuat pikirannya semakin kacau.
"Kalau aku bangunin, marah nggak ya?" Bang Sanca melongok memastikan posisi tidur Fia dari segala sudut.
"Ya masa aku main dakon sendirian. Gara-gara Garin nih" gerutunya gemas.
.
.
.
.
__ADS_1