Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
56. Cintanya Abang Sanca.


__ADS_3

"Kalau aku pernah melakukannya.. apa ini berarti aku sedang hamil?" gumam Fia dalam ketidak pastian.


Fia merenung seorang diri di kamarnya. Tak ada yang masuk dalam ingatannya selain pria bernama Raiz itu. Di antara tiga pria dalam hidupnya.. seumur hidup hanya Bang Raiz yang paling ia benci hingga seumur hidup ia tidak ingin melihatnya lagi.


Kesalahan terbesarnya adalah berhubungan dengan tiga pria dalam satu waktu, sedangkan Fia menaruh hati pada Bang Dafa dan Bang Anjar dalam usianya yang masih sangat belia. Ia belum bisa menguasai hati dan belum memahami arti sebuah hubungan. Dari ketiga pria yang di kenalnya, hanya Bang Dafa dan Bang Anjar yang memperlakukannya dengan baik dan tidak pernah melakukan hal buruk pada Fia, jika pun ada hanyalah sebatas kecupan singkat tak berasa di pipi Fia.. tapi mereka pula yang mengajari saling memiliki hubungan di belakang pasangan tanpa ketahuan. Kini ingatannya mencuat kembali pada Bang Raiz berganti pada ucapan Bang Ibra.


Kalau bukan Abang, Bang Ryan dan Papa yang memelukmu.. jangan ijinkan dia memelukmu kecuali jika dia menikahimu. Bisa hamil kamu nanti. Bayangkan saja bagaimana malunya Papa dan Mama kalau itu terjadi. Laki-laki nakal tidak meninggalkan bekas, tapi kalau perempuan sudah di peluk, bekasnya tidak akan hilang.


Badan Fia gemetar, apalagi saat merasakan ada yang berkedut kecil dalam perutnya. Ia seperti pernah bermimpi merasakan hal yang sama, Lamat ia memperhatikan dirinya dari pantulan cermin. Perutnya kembali berkedut keciil sekali.


Sekelebat ada bayangan pria yang memeluknya memberikan kehangatan dan kasih sayang. Ingatan itu kembali beralih pada sosok pria jahat yang menamparnya dengan kuat lalu menindihnya. Bayangan itu kembali lagi pada sosok yang tidak asing baginya. Lembut dan penuh kasih.


"Abang sayang kamu dek..!!"


Fia tersentak lalu meraba perutnya.


"Ini anak siapa?? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya????" Fia berteriak histeris. Fia memukuli perutnya dengan kencang hingga seketika perutnya terasa tercengkeram.


Bang Sanca yang baru datang membawa seserahan pernikahan jadi ikut terkejut dan panik. Dua hari lagi mereka akan menikah, tapi situasi saat ini belum stabil.


"Ibra.. kenapa Fia teriak begitu??" tegur Bang Sanca pada Bang Ibra yang juga baru datang dari mengasuh El. Bahkan beberapa hari ini tangan Bang Sanca belum sempat memeluk El yang pasti merindukan dirinya.


"Nggak tau Bang..!!" jawab Bang Ibra.


"Dek.. buka.. kamu kenapa??" Bang Sanca mengotak atik gagang pintu tapi percuma saja, pintu itu tidak bisa terbuka karena Fia menguncinya dari dalam. Teriakan histeris Fia tak ayal membuat Bang Sanca semakin kalang kabut.


"Deek..!!!!!!"


"Yaa Tuhan.. Apa yang Fia buat di dalam sana" gumamnya tak sabar.


Cukup lama tak kunjung mendapat respon, Bang Sanca bergantung di fentilasi kamar untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


"Astagfirullah hal adzim.. Fiaaa..!!!!!" Bang Sanca melihat Fia memukuli perutnya kemudian mencari sesuatu di dalam laci nakasnya.


Takut terjadi hal yang tidak diinginkan.. Bang Sanca melompat turun lalu mendobrak pintu kamar Fia.


"Fia kenapa Bang??" tanya Bang Ibra panik.


braaakk..

__ADS_1


Bang Sanca tak peduli dengan pertanyaan Ibra, yang terpenting saat ini adalah Fia.


Papa Zaldi dan Mama Arnes yang pulang istirahat siang pun tak kalah terkejut melihat keributan di rumahnya.


"Fiaaa..!!!" Bang Sanca menepis butiran obat yang sudah meluncur ke mulut Fia.


"Muntahkan..!!!" tangan Bang Sanca masuk ke kerongkongan Fia agar istrinya itu bisa memuntahkan obat tersebut.


"Hhkk.." Fia hanya mual tapi tak bisa memuntahkan obatnya.


Papa Zaldi sangat syok melihatnya, beliau sampai terduduk tak sanggup melakukan apapun.


"Papaaa.. papa jangan begini pa..!!" Mama Arnes berteriak histeris memeluk Papa Zaldi.


"Kemana pikiranmu, kenapa kamu minum obat itu??? Kamu nggak mikir anak dalam perutmu????" ucap keras Bang Sanca berusaha menyadarkan Fia dari kekalutan. Matanya berkilat marah. Ia marah.. stress dan sungguh tak kuat menghadapi ujian ini.


"Jadi benar Fia hamil khan Bang??? Fia tidak bisa mengingat siapa bapaknya. Bang Raiz memukuli Fia, dia memaksa Fia. Abang benci anak ini??" teriaknya tak terkendali.


"Jangan pernah kamu lukai anak ini. Dia anakku?? Anak Kapten Sanca.. Fiaaaa..!!!!!" bentak Bang Sanca. Ia memasukan lagi tangannya untuk mengeluarkan obat yang di telan Fia.


Dengan segala upaya keras akhirnya Fia memuntahkan tiga butir obat dari perutnya. Muntahan itu juga mengotori pakaian Bang Sanca. Tak menunggu waktu lama, Bang Sanca membawa Fia ke kamar mandi.


:


"Akan kubunuh orang-orang yang membuatmu seperti ini" teriak Bang Sanca tidak terima. Kesakitan Fia membuat dirinya hancur sehancur-hancurnya.


"Fiaa.. cepat sadar dek, Abang nggak kuat melihatmu seperti ini"


"Fia kedinginan Bang..!!" ucap Fia padahal Bang Sanca menguyur tubuh mereka berdua memakai air hangat.


"Abang lepas pakaiannya ya, kita cepat mandi, ganti pakaian di kamar..!!" ajak Bang Sanca sambil merapikan rambut Fia.


Fia mengangguk pasrah, berdiri cukup lama membuatnya pusing. Obat yang di minumnya tadi sudah bereaksi. Bang Sanca menyelesaikan acara mandinya dan segera mengajak Fia masuk ke dalam kamar.


:


"Nggak ada yang tersisa Bang. Lambungnya sudah aman"


"Anakku bagaimana?" tanya Bang Sanca masih cemas. Fia tertidur karena pengaruh obat tidur yang sempat tertelan.

__ADS_1


"Bedrest total ya Bang..!! Nggak apa-apa khan?" tak tega Bang Ryan mengatakannya, tapi ia punya kewajiban mengabarkan hal yang sebenarnya pada Bang Sanca.


"Nggak apa-apa. Seberat apapun pasti kulakukan. Hanya ini saja nggak berat Ry.. yang berat itu kalau ada apa-apa sama Fia dan anak ku"


"Jangan salah satu kali Bang. Please..!!" wajah Bang Ryan penuh dengan permohonan.


"Sanca.. apa tidak sebaiknya kamu berangkat dulu ke tempat tugasmu yang baru? Setelah Fia melahirkan baru menyusul mu kesana?" kata Papa Zaldi yang sebenarnya sangat cemas dengan keadaan Fia.


Hubungan suami istri memang bukan satu-satunya hal utama tapi sebagai pria tentu saja Papa Zaldi bisa merasakan beratnya hidup tapi jika pria tidak bisa sabar dan tidak bisa mengendalikan diri mengolah hasratt dalam diri maka hancurlah semua.


"Fia pasti kubawa Pa. Mana bisa aku meninggalkannya disini" jawab Bang Sanca.


"Ada papa mama dan Abang-Abang nya. Kalau dia disana pasti kamu tinggal kerja dan tidak ada teman bicara. Kalau disini ada Mama yang bisa menemani" alasan Papa Zaldi membujuk Bang Sanca secara halus.


"Tolong pa. Saya tau yang papa cemaskan.. dan saya akan berhati-hati mengontrol diri sendiri" Bang Sanca mengatakan sejelas-jelasnya tentang ketakutan Papa Zaldi.


"San.. sebagai seorang laki-laki, sebagai suami.. Tidak bisa dan tidak mungkin kita akan melampiaskan pada perempuan lain. Jangan karena tidak sanggup menahannya lalu kamu akan menyakiti badan dan batin Fia"


"Saya mengerti paaa..!!" jawab Bang Sanca sembari menyambar jaket di ujung ranjang.


"Mau kemana kamu San???" tanya Papa Zaldi melihat wajah panas menantunya yang tidak terkontrol lagi.


"Ada urusan sebentar..!!" jawab Bang Sanca ringkas.


"Ikuti Abang kalian..!!" perintah Papa Zaldi pada Bang Ibra dan Bang Ryan.


:


"Aku harus mencari dimana si Raiz ini? Berarti sekarang pangkatnya sudah Pratu. Sebenarnya apa yang dia lakukan sampai Fia setrauma itu. Efek hipnoterapi hilang, Fia kembali trauma.. tapi logikanya kalau Raiz macam-macam.. saat kusentuh Fia.. pasti dia ketakutan" gumam Bang Sanca sambil menghisap rokoknya di sebuah warung kopi kecil.


"Hhiiihh.. ada apa dengan hatiku?? jelas-jelas aku yang pertama untuk Fia. Ya Allah.. kenapa cemburu ku muncul di saat yang tidak tepat, setiap mengingat Fia aku selalu rindu" Bang Sanca mengusap wajahnya meredakan segala perasaan dalam dada. Ia melihat jam tangannya.


"Masih ada waktu beberapa jam. Lebih baik kuselesaikan sekarang..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2