
Fia melahap semua yang di belikan Bang Sanca termasuk roti berbentuk ikan tapi tetap saja Fia hanya terdiam membawa wajah murungnya.
Prada Hega dan Bang Raiz hanya bisa terdiam sambil menyantap lagi makanan mereka. Kedua ajudan Bang Sanca itu tak paham apa yang terjadi. Mereka hanya menerka kalau Bang Sanca adalah suami yang terlalu menekan, memaksa, galak, dingin dan pelit.
"Sate kerang dan rica kerang ini berapa sih harganya. Bisa belikan kita tapi tidak mau belikan istrinya. Jangan-jangan perwira kere. Hanya cari muka saja agar dapat simpati anggota" bisik Bang Raiz pada Prada Hega.
"Ijin Bang.. seperti nya Dan Sanca bukan pelit, tapi lebih terlihat seperti melindungi ibu" jawab Prada Hega juga sembari berbisik.
"Aaahh.. kamu memang tidak pengalaman. Kau tau.. dulu pacarku ada empat. Termasuk ibu Danki itu tergila-gila padaku" ucap Bang Raiz dengan sombongnya.
"Laki-laki kalau melarang wanita membeli ini dan itu berarti dompetnya cekak"
Prada Hega hanya mengangguk saja menanggapi senior nya meskipun rasanya ada yang janggal.
Tak lama Bang Sanca menghampiri bangku Prada Hega dan Bang Raiz.
"Saya titip istri saya sebentar. Saya mau ke toilet. Jangan biarkan dia beli apapun tanpa seijin saya..!!" perintah Bang Sanca.
"Siap Dan" jawab kedua ajudan.
Bang Sanca setengah berlari agar tidak terlalu lama 'mengendap' di toilet.
Bang Raiz berinisiatif membelikan makanan untuk Fia. Setelah beberapa saat Bang Raiz kembali membawa satu porsi sate kerang, sambal kerang dan kepiting goreng.
"Ijin Ibu.. silakan di coba makanan khas daerah sini. Di jamin ibu pasti ketagihan" kata Bang Raiz.
Fia deg-degan.. cemas melihat Bang Raiz kembali mengajak Fia. Di tahannya dengan kuat perasaan trauma dan takut seperti pesan Bang Sanca padanya. Ia harus bisa menunjukan dirinya sebagai Nyonya Sanca.
"Maaf om. Saya nggak bisa makan-makanan ini. Suami saya melarangnya" tolak Fia menyingkirkan makanan itu dari hadapannya.
Bang Raiz yang sok tau kembali menyodorkan makanan-makanan itu.
"Ijin.. ini bapak yang memesankan"
"Benarkah?"
"Benar Bu"
Fia yang saat itu memang sedang mengidam.. segera menyantap satu tusuk sate. Rasanya yang sangat enak begitu terngiang di rongga mulutnya. Ia pun mencoba satu persatu makanan itu.
"Lihat.. punya perempuan itu harus modal" bisik Bang Raiz pada Hega. Raiz tersenyum menang karena berhasil membuktikan
"Astagfirullah.. dek.. kenapa kamu makan itu???" Bang Sanca mengambil makanan dari tangan Fia.
Bang Sanca mencari obat di sakunya dan tas kecilnya.
"Aduuuhh.. mana ya..!!"
"Ijin Dan.. Bisa saya bantu..!!" kata Hega.
"Bantu saya cari obat alergi..!!" Bang Sanca melempar tas pinggang nya ke tangan Hega, ia segera memberi Fia minum.
"Kenapa kamu nggak dengar kata Abang??? Makanan ini bahaya dek??" bentak Bang Sanca langsung membuat Fia takut.
__ADS_1
Benar saja, tak menunggu waktu lama nafas Fia terasa sesak. Sekujur badannya seperti panas.
"Abaang.. Fia sesak..!!"
Hega kelabakan mencari obat sedangkan Bang Raiz terpaku bingung tak tau apa yang terjadi.
"Ijin Dan.. ada satu butir tapi remuk sama ada satu obat lagi Dan" kata Hega sambil menyerahkan obat itu pada Bang Sanca.
"Mana..!! Biarlah remuk, asalkan masih bisa di minum"
Bang Sanca menyambar obat itu lalu menuangnya di sendok, secepatnya Bang Sanca meminumkan pada Fia.
"Paahiiiit.." kata Fia.
"Kalau manis namanya madu. Telan atau Abang hajar betul kamu dek..!!" perintah Bang Sanca.
gleeekk..
"Jangan sampai kamu muntahkan..!!"
Fia meremas dadanya dengan kuat. Ibu pemilik warung tenda sampai ikut bingung karena ada kejadian mengagetkan di warung nya.
"Fia nggak bisa nafas Bang..!! Perut Fia sakit..!!" Fia gelisah tak bisa memposisikan dirinya dengan benar.
"Iya sayang. Tahan sedikit lagi, obatnya masih proses" Bang Sanca berusaha menenangkan Fia.
Karena terlalu sakit dan nyeri.. Fia sampai tak sadarkan diri.
Bang Sanca dengan cepat mengeluarkan uang di kantong dan membayar makanan Fia.
"Sudah di bayar bapak itu" kata ibu pedagang.
Bang Sanca melirik sekilas tapi ia segera sigap mengangkat Fia ke mobil.
"Hega.. hubungi dokter terdekat..!!"
"Permisi pak..!! Saya dokter" kata seorang pria disana.
"Tolong di cek dok. Istri saya sedang hamil" kata Bang Sanca dengan cemasnya.
:
"Untung saja bapak cekatan, istri bapak sudah baik-baik saja"
"Alhamdulillah..!!"
Bang Sanca bersandar lemas di jok belakang mobilnya. Tangannya mengusap lembut kening Fia yang membaringkan kepala di pangkuannya.
:
plaaaakk..
"Lancang kalian berdua...!!" bentak Bang Sanca menegur dua ajudan di samping mobilnya.
__ADS_1
"Istri saya punya asma dan alergi. Ide siapa tadi..!!"
"Siap salah Dan..!!" Bang Raiz dan Hega diam seribu bahasa.
"Kalian laki-laki khan?? Cepat bilang.. Siapa yang lakukan dan apa maksud tujuannya berbuat seperti itu..!!" Bang Sanca begitu marah di hadapan kedua ajudannya.
"Ijin Danki.. saya yang lakukan" kata Bang Raiz dengan berani.
"Kamu?? Apa tujuanmu??"
"Siap salah Dan..!!"
"Kamu memang salah..!! Mencelakai istri saya adalah kelakuan yang sangat berani.. berani mati..!!!" bentak Bang Sanca dengan emosi sudah di ujung tanduk.
"Baang..!!" panggil Fia.
"Iya sayang..!!"
Bang Raiz dan Hega sampai melotot karena Komandannya itu sampai melembutkan suaranya, tak lagi bernada keras di hadapan istrinya.
"Mau kemana? Jalan-jalan lagi? Belanja? atau mau beli makanan?" tanya Bang Sanca.
"Beli seafood lagi Bang?"
Seketika Bang Sanca langsung melotot tak suka.
"Seafood level 10. Om-om itu saling menyuapi dan harus habiskan seafood nya." kata Fia yang tau betul Bang Raiz tidak bisa makan makanan pedas.
"Oohh.. oke..!!"
Bang Sanca berkacak pinggang di hadapan Bang Raiz dan Hega.
"Maaf ya.. sepertinya inces saya rewel pengen kenalan sama om-om asuhnya. Dia minta saya traktir kalian seafood level 10. Tolong di bantu ya..!!"
"Siap Dan.. dengan senang hati" jawab Hega tanpa masalah berarti.
:
"Kita romantis ya Bang..!! suap-suapan" kata Hega yang langsung mendapat tatapan kesal dari Bang Raiz
Bang Raiz yang tidak suka pedas hanya bisa menahan rasa terbakar di mulutnya
"Iya Heg.. Romantis. Besok saya carikan kamu lawan tangguh untuk makan seafood ya" Bang Sanca tersenyum puas melihat Raiz tidak kuat makan pedas.
"Lain kali kalau kamu macam-macam sama istri saya lagi.. saya pastikan granat yang akan masuk dalam perutmu..!!" ucap Bang Sanca tanpa ampun.
.
.
.
.
__ADS_1