Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
9. Lebih parah dari ujian Nasional.


__ADS_3

Bang Sanca meneguk salivanya dengan kasar. Sebenarnya dirinya kuat jika harus menahan perasaan karena dirinya belum pernah 'menandai' wanita termasuk pada Rhea sekalipun. Tapi jika satu kali ia kebablasan dan merasakannya, sudah pasti akan sangat berbahaya untuk Fia. Terlebih ia cemas kalau sampai candunya tidak akan cukup baginya karena ia akan selalu terbayang sosok Zafia.


"Ya nanti kalau kamu sudah siap. Kalau sudah waktunya pasti kamu hamil juga" jawab Bang Sanca setenang mungkin.


"Sudahlah kita bahas ini kalau Abang sudah pulang dinas luar. Hanya satu Minggu saja. Baik-baik kamu di rumah. Jangan macam-macam selama Abang tinggal. Kalau mau kemana-mana minta di antar Ibra..!!"


...


"Hai dek.. Kamu mau kemana? Abang antar ya?" Bang Anjar duda anak satu itu kembali menyapa Fia.


"Mau ke kampus Bang" jawab Fia datar.


"Abang butuh bicara sama kamu"


"Fia nggak mau Bang..!!"


"Apa Fia sudah punya kekasih?" tanya Bang Anjar.


"Iya Bang.. sudah" Fia pun berlalu pergi.


"Dek, apa kita bisa seperti dulu. Kamu menjalin hubungan dengan Dafa, tapi juga bersamaku. Abang nggak pernah takut siapa sainganku, yang penting kamu sama Abang. Selama janur kuning belum melengkung. Kamu masih sah kudapatkan" kata Bang Anjar.


"Terserah apa kata Abang. Fia nggak peduli. Fia nggak mau lagi urusan sama Abang"


"Dulu itu Abang menikahi almarhumah istri Abang bukan karena Abang menghamilinya. Tapi dia mengancam ingin bunuh diri kalau tidak Abang nikahi" jawab Bang Anjar.


"Cukup Bang. Fia sadar siapa diri Fia. Jangan ganggu hidup Fia lagi. Kini Fia sudah memahami baik dan buruknya pria dan wanita dalam menjalani sebuah hubungan"


***


Lima hari berlalu. Bang Sanca sudah tiba dan langsung masuk ke dalam mess nya untuk menenangkan diri.


"Ada kabar apalagi tentang putri Komandan?" tanya Bang Sanca pada Sertu Gio.


"Ijin Dan. Selama Komandan pergi. Pak Anjar gencar mendekati mbak Fia" jawab Sertu Gio mengatakan apapun sesuai pengamatannya.


Bang Sanca terdiam. Tapi di dalam hatinya geram meledak-ledak pasalnya Anjar adalah mantan pacar Dia dan kini telah menjadi seorang duda. Niatnya untuk beristirahat menjadi batal karena mencemaskan Fia.


...


Bang Sanca menunggu Fia di rumah Papa Zaldi karena istrinya itu memintanya agar menunggunya di sana saja.


"Setiap hari kamu pulang kesini nggak apa-apa San, atau weekend kamu tidur disini sama Fia" sapa Papa Zaldi sambil membawa dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk menantunya.


"Gampang pa. Biar saya di mess dulu. Oya pa. saya mau bawa Fia jalan-jalan"


"Ya sudah bawa saja. 'Hati-hati'..!!" tak ada ketegangan yang berarti seperti awal ketegangan mereka berdua. Kini Papa Zaldi pun sedikit lebih slow dan menyadari jika putrinya sudah ada yang memiliki.


Mata Papa Rinto tertuju pada rokok yang dihisap Bang Sanca. Raut wajah menantunya itu sedikit berbeda tapi ia menepis semua itu karena dua bungkus rokok menantunya memang rokok berkelas.


//


"Kita mau kemana sih Bang?"


"Puncak..!!"


"Waaahh.. tempat dingin ya Bang?" tanya Fia.


"Lebih dingin lagi. Ini di tempat ibu. Hari Minggu siang kita pulang"

__ADS_1


"Iya Bang" Fia menoleh ke belakang. Di jok belakang itu ada oleh-oleh yang sama yang di belikan Bang Sanca untuk keluarganya.


Dalam perjalanan, Bang Sanca merogoh sakunya.


"Hhmm.. pakai ini.!!!" Bang Sanca menyerahkan kotak kecil berisi cincin pada Fia.


"Iihh.. Abang nggak bisa romantis ya. Masa kasih cincin begitu caranya"


"Kamu pengen Abang romantis tapi pengkhianat atau yang tidak bisa menghujanimu kata cinta tapi setia ?" tanya Bang Sanca.


"Bodoh tapi setia" jawab Fia.


"Kok bodoh?? Apa nggak bisa ngegombal itu bodoh??" protes Bang Sanca tidak terima.


"Ya kalau Abang nggak berusaha, keburu Fia di rayu orang"


Bang Sanca langsung membanting setir nya ke kiri.


"Siapa maksudmu?? Anjar??? Awas saja kalau dia berani merayu istri orang. Kamu juga..!! Jangan keganjenan sama laki-laki lain..!!!!!"


"Hwuuuu.. Abang cemburu ya..?" tanya Fia tanpa rasa bersalah.


"Jangan kamu pancing marahnya Abang. Harap diingat betul itu di kepalamu. Kamu istri dari Lettu Tohpati Sanca Trengginas" ancam Bang Sanca tidak main-main.


"Iyaa iihh.. Dasar ular sawah" gerutunya.


"Apa kamu bilang??? Abang sentil juga itu bibir. Beraninya ngatain suami" ucapnya memelototi Fia.


Bang Sanca mengambil cincin di pangkuan Fia lalu memakaikannya di jari manis istrinya.


"Jangan kamu lepas dan jangan sampai kamu hilangkan..!!"


"Kalau nggak cemburu bersiaplah Fia di incar ular lain"


Sempruull.. kamu ini gadis seperti apa Fia? Kamu itu terlalu lugu dalam kepintaranmu...!!


"Nggak akan ada yang berani mengusik barang kesayangan Sanca" ucap Bang Sanca mulai tergoda dengan tingkah Zafia. Tapi dirinya masih sedikit menghindar.


"Kenapa? Fia cuma anak-anak Bang" tatapan mata itu menusuk hingga menghujam jantung Bang Sanca.


"Anak-anak macam apa yang berani menggoda om-om?? Kurang ajar namanya" jawab Bang Sanca dengan gelisah, bibirnya sudah ingin menyambar disana sini.


dddrrtt.. ddrrrtt.. dddrrtt..


"C*k.. sopo sih??" umpat Bang Sanca kesal karena harus melihat siapa yang melakukan panggilan telepon. Bang Sanca memperbesar suara panggilan teleponnya.


"Kamu dimana pot?" tanya Bang Garin Litting Bang Sanca.


"Pulang ke tempat ibu, mumpung dapat libur. Kenapa?"


"Mau ku ajak mabuk, sekalian ngecengin cewek-cewek di Gang kupu"


Seketika Bang Sanca panik dan buru-buru mematikan speaker teleponnya. Belum lagi ponsel itu malah terlepas dari tangan dan menggelinding di bawah kaki Fia.


"Kenapa Abang suka mabuk dan main ke Gang kupu??" tanya Fia sudah melipat kedua tangan di depan dada.


"Nggak, itu.. Abang antar Garin aja kesana" jantung Bang Sanca berdebar tak karuan takut sang istri akan murka.


"Kamu pernah kesana dek?"

__ADS_1


"Ya sering lah, makanya kalau kesana Abang harus bawa Fia. Pedagang ciloknya.. Fia kenal semua" jawab Fia dengan mantap dengan ekspresi gayanya yang sok tau.


Bang Sanca kembali duduk bersandar seiring nafasnya mulai berangsur normal kembali.


"Terus Abang kesana cari apa sama Bang Garin?"


"Uhuuukk.." Bang Sanca sampai terbatuk saking kagetnya. Fia segera mengambilkan Bang Sanca air mineral yang tadi sempat di belinya.


"Uji nyali" jawab Bang Sanca setelahnya.


Fia diam saja karena tidak paham dengan maksud Bang Sanca.


-_-_-_-_-


Ibu Halimah senang sekali Fia berkunjung ke rumahnya sampai malam itu Bu Halimah memasak banyak makanan untuk menantu kesayangannya.


"Fia mau apa ndhuk? Mau tabokin? Atau rotinya Mak yam? disini ada ndhuk?" tanya Ibu Halimah saat memandangi Fia yang nampaknya malu menyantap masakannya.


"Adek nggak suka itu Bu. Nggak doyan dia makan tteokbokki atau roti maryam. Daritadi Dia minta gorengan" jawab Bang Sanca.


Ibu terbelalak kaget. Fia bisa di bilang putri seorang yang berada tapi selera makannya begitu sederhana.


"Jadi Fia pengen makan apa? Nggak mau ayam kecapnya ibu?"


"Pasti Fia makan kok Bu, tapi besok tempe penyet aja deh. Sepertinya enak" pinta Fia sambil menggenggam tangan ibu mertuanya.


Bu Halimah menoleh pada Bang Sanca. Bang Sanca pun mengangguk sambil menyomot tempe goreng di meja makan.


"Iya nak, besok ibu masak tempe penyet ya"


...


Malam hari saatnya tidur. Fia menggantung pakaiannya dan pakaian Bang Sanca. Saat itu Bang Sanca masuk ke dalam kamar dan tidak sengaja melihat rambut panjang Fia yang terurai. Pakaian Fia pun mengekspose lekuk tubuhnya karena Fia memakai dress yang menurutnya sangat seksi.


Mata Bang Sanca terus memandangi istrinya hingga tak sengaja jempolnya menendang kaki meja.


"Kenapa sih Bang.. jalan aja nabrak" tanya Fia heran.


Bang Sanca mulai salah tingkah, dress di atas lutut itu membuatnya gelisah. Bang Sanca duduk di atas ranjang. Pikirannya berkelana kemana-mana. Tanpa di duga, Fia berdiri tepat di depan kakinya yang terbuka, arah matanya tertuju pada satu titik di hadapannya. Uji kebatinan ini membuat Bang Sanca hampir mati rasanya. Dadanya sudah berdesir tidak karuan.


"Bang.. kita nikah sudah dua minggu lho" ucap bernada khas manjanya seorang wanita.


"Terus kenapa? Kamu pengen di apa-in sama Abang?" Bang Sanca sudah antara kuat dan tidak apalagi saat tangan Fia menyentuh belakang lehernya.


"Fia sudah test berkali-kali. Tapi kenapa Fia belum hamil juga ya Bang. Jangan-jangan Fia nggak sehat. Atau Abang yang nggak kuat?" Fia menyerahkan dua belas alat testpack yang semuanya tertera hasil negatif.


Bang Sanca mengacak-acak rambut cepaknya tak tau bagaimana caranya harus memulai.


"Yo ora iso to dek.. Sampai Abang botak juga nggak bakalan kamu hamil kalau Abang nggak............." ucapan itu terhenti karena Bang Sanca bingung menjelaskannya.


"Nggak apa Bang?? Kita khan sudah nikah" tanya Fia begitu menuntut.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2