Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
77. Dunia dalam satu titik.


__ADS_3

"Tolong bacakan ayat Al-Quran untuk anak kita. Fia ingin persalinan Fia lancar."


"Itu saja kah mau mu?" tanya Bang Sanca memastikan tatapan mata Fia.


"Iya Bang."


Bang Sanca berdiri dan mengambil air wudhu setelah itu duduk di antara pengisi acara disana. Jika biasanya Fia mendengar suara ayat suci Al-Qur'an hanya di rumah nya saja. Kini ia bisa mendengarnya dengan suara yang lebih merdu. Entah kenapa suasana saat itu menjadi melow tetapi terasa tenang di dalam hati. Sejak kehamilan kedua Fia ini. Bang Sanca menjadi pribadi yang lebih mudah menangis.


:


Bang Deni memberikan beberapa tisu untuk Danki nya tersebut. Memang benar Danki mereka yang begitu kencang dan di takuti anak-anak bisa sampai menitikan air mata saat mambaca ayat suci Al-Qur'an.


Setelah dirasa cukup kuat, Bang Sanca mengucapkan beberapa baris kata mengungkapkan isi hatinya saat ini.


"Untuk istri Abang Dinasti Kana Zafia tersayang.. Terima kasih banyak atas segala pengorbanan mu yang sudah ikhlas dan tanpa mengeluh menerima cinta kasih yang Abang titipkan padamu. Lelah, letih, sakit.. kamu terima tanpa mengeluh. Maafkan Abang yang begitu menginginkan hadirnya si buah hati dari dirimu hingga membuatmu payah menjaganya. Abang paham.. sebagai seorang pria.. tidak akan bisa menggantikan arti pengorbanan seorang ibu.. juga seorang istri. Kini hanya doa yang bisa Abang panjatkan. Semoga lancar persalinan mu.. Sehat mamanya juga inces kesayangan Abang. Dalam lubuk hati Abang yang terdalam.. terselip kata cinta untukmu sayang..!! I love you ma.."


Para anggota dan ibu-ibu di sana meng'aamiin'i kata-kata hangat dari Danki mereka. Mendengar ucapan itu. Fia pun tak bisa menahan laju air matanya. Ia menyekanya kemudian membalas nya dengan manis.


"Untuk bapak Danki kesayangan Zafia.. Semoga Allah mendengar doa Abang yang mengena dalam hati Fia. Fia ikhlas dan ridho menerima cinta kasih Abang, memang sudah kodrat Fia melanjutkan garis keturunan yang Abang berikan. Bisa menjadi ibu dari anak-anak Abang merupakan anugerah terindah yang pernah Fia dapatkan.. memang sebagai ibunya, Fia yang berjuang tapi tiap tetes peluh Abang tak kenal panas, hujan dan lelah yang menjadi penghidupan mereka juga Fia. Maaf untuk tingkah istrimu yang kadang membuatmu susah. Terima kasih sudah menjadi imam terbaik bagi Fia. Jika istrimu ini tidak bisa membalas nya.. biar nanti Allah yang membalas kebaikan Abang."


Bang Sanca berdiri dari duduknya dan secepatnya memeluk Fia. Tangannya bergantian mengusap punggung dan perut Fia.


"Jangan bilang begitu.. Abang ikhlas melakukan apapun demi kamu"


Tepuk tangan dari para anggota menyadarkan Bang Sanca kalau mal ini mereka masih berada di muka umum.


:


"Kok nggak mau makan sih dek? Lapar donk si inces. Ini acaramu lho.. kamu yang minta makanan ini dan itu. Kenapa sekarang mogok makan?" Bang Sanca meletakan piring berisi makanan yang sudah di masak tadi siang.


"Fia maunya butiran suci aja sama mutiara laut"


"Ya Allah dek.. Abang masih kuat belikan kamu makanan yang lebih bergizi. Kenapa minta itu?"


"Ya sudah deh. Fia nggak jadi makan" jawab Fia sudah berwajah mendung.


"Duuuhh gustii.. Kalau kamu mogok makan, pingsan, Abang juga yang susah, lihat istri sakit itu nyerinya sampai ulu hati"


Sampai beberapa lama, Fia tetap hanya berdiam diri. Bang Sanca melihat hari semakin malam dan istrinya itu belum juga mau makan. Akhirnya dengan keterpaksaan.. Bang Sanca menghampiri Bu Cipto.

__ADS_1


"Bu.. saya minta nasi putih sama garam. Istri saya minta makan pakai itu saja"


"Oohh.. iya pak. Sudah pak, jangan di pikir terlalu dalam. Namanya ibu hamil memang banyak mau" kata Bu Cipto membesarkan hati Bang Sanca.


:


Malam itu Fia benar-benar hanya makan pakai nasi dan garam membuat Bang Sanca menangis sesenggukan. Hatinya sungguh sakit dan tak tega melihat istrinya menikmati makan malam dari tangannya sendiri. Fia yang memakannya terlihat bahagia tanpa beban namun berbeda dengan Bang Sanca yang sesekali menghapus air matanya sendiri.


"Makan yang benar lah dek. Abang sedih bener dah ini" ucap jujur Bang Sanca.


"Sudah pot.. biar saja yang penting anteng. Kamu belum tau aja setiap hari Esa nyemilin beras. Sudah macam burung aja dia, tapi aku biarin. Daripada aku bertengkar khan. Dia mah kalau mukul sakit" curhat Bang Garin sambil makan pisang molen camilan favoritnya.


"Ya nggak gitu juga kali Gar.. masa iya makan cuma nasi sama garam. Anak ku dapat gizi darimana coba" jawab Bang Sanca dengan mata masih memerah.


"Hahahaha.. cengeng banget. Mana Danki yang galaknya bukan main itu. Baru lihat istri makan pakai nasi garam aja mewek nya sudah kaya anak gadis aja San" ledek Bang Garin.


"Diem lu.. ini nggak ada hubungannya sama jabatan gue"


-_-_-_-_-


Bang Sanca memejamkan matanya bersandar di ranjang. Ia memperhatikan posisi tidur Fia yang begitu menantang. Dua bulan ini ia begitu berhati-hati menjaga Fia, lebih banyak mencari kesibukan, mengalah dan utamanya lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan.


Susah payah Bang Sanca bisa tidur. Hingga hari menjelang pagi, suara adzan subuh terdengar nyaring di telinga.


"Dek.. sayang..!! Sholat dulu.. sudah subuh nih"


Fia tak kunjung merespon nya.


Ia bangkit dan sholat. Usai sholat rasa kantuknya datang menyerang sampai lupa tidak membangunkan Bang Sanca yang akan melaksanakan semapta.


***


"Haduuhh dek..!! Masa komandan sampai telat bangun begini sih. Nggak disiplin itu namanya. Lima menit lagi apel nih" omel Bang Sanca yang hanya sempat menggosok gigi dan mencuci muka karena sudah benar-benar telat.


"Sarapan dulu Bang..!!"


"Nggak sempat.. Nanti saja. Hari ini Abang ada acara di kolam renang" ucapnya sembari mencium kening, pipi kanan kiri dan bibir manis Fia.


"Baik-baik di rumah.. Banyak istirahat dan jangan bertingkah. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Abang..!!"

__ADS_1


...


Karena pagi ini Bang Sanca belum sempat sarapan.. Fia memutuskan untuk memasak makanan kesukaan Bang Sanca dan membawanya ke lokasi kolam renang. Pandangan berkunang-kunang tak dirasa. Ia hanya ingin segera bertemu Bang Sanca disana.


:


Fia melihat Bang Sanca berenang dari ujung ke ujung menggendong rangsel dan senjata. Fia pun duduk menunggunya di sebuah gazebo sambil mengupas buah mangga untuk istrinya.


"Ijin Dan.. ada ibu, duduk di gazebo" kata Prada Hega melapor.


Senyum Bang Sanca mengembang, entah kenapa hari ini Fia terlihat begitu cantik. Bang Sanca segera naik dan menghampiri Fia dengan seragam yang masih basah kuyup.


"Bawa apa dek?"


Sapaan itu mengalihkan pandangan Fia. Suaminya terlihat tampan saat mengusap wajahnya yang basah. Tetesan air masih mengalir deras.


"Rendang paru sama bakwan jagung. Abang mau"


"Mau donk.. suapin..!!" Bang Sanca berjongkok di hadapan Fia dan secepatnya Fia menyuapi suaminya yang sudah berubah menjadi manja.


"Pakai tangan yank..!!" pinta suami Fia itu sembari sesekali mencium perut buncit Fia.


Bang Sanca mencomot risoles mayo padahal mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Lapar banget Bang?" tanya Fia.


"Isi tenaga" jawabnya singkat.


"Kamu bawa pakaian ganti nggak?"


"Bawa Bang. Di mobil khan selalu ada pakaian kita. Kenapa?" Fia masih terus menyuapi Bang Sanca.


"Abang ajari berenang. Sekalian ajakin inces mandi" ajak Bang Sanca.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2