Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
25. Gara-gara kebobolan.


__ADS_3

Papa Zaldi dan Opa Rinto membantu Fia menjaga Bang Sanca di dalam kamar, takut pria itu tiba-tiba akan mengalami sakau dan membahayakan Fia.


Ternyata dugaan Papa Zaldi salah, Bang Sanca memang kambuh, tapi dirinya lebih pintar mengendalikan emosinya dan lebih pintar untuk sadar. Hanya saja hingga pagi menjelang, menantu papa Zaldi itu terus menyebut nama Fia hingga Papa dan Opa jengah mendengarnya.


"Bagaimana Pa. Kita tinggal atau tidak?" tanya Papa Zaldi meminta pendapat Opa Rinto.


"Kita beri obatnya dulu. Lalu awasi tiga puluh menit. Kalau Sanca tidak kesakitan.. baru kita tinggal" jawab Opa Rinto.


...


Fia menata kamar, tak banyak tenaga yang ia keluarkan mengingat kandungannya yang sudah semakin membesar. Tak lama terdengar suara dari ponsel Bang Sanca.


"Situs? Email? Punya siapa ini?" Fia mencoba membuka email itu. Sudah beberapa kali mencobanya tapi isinya tetap tidak bisa terbuka.


"www.6omb3Lz.com dan nelzi_97@gmail.com" Fia mencoba membobolnya.


Tak lama terbuka semua. Disana ada beberapa email tersembunyi dan data dari situs tersebut. Ia beralih mencari tas Bang Sanca dan menemukan beberapa kontrasepsi pria. Mata Fia berkilat murka. Ingin rasanya Fia mencincang pria di hadapannya.


Usai sholat subuh. Mata Bang Sanca perlahan terbuka dan langsung melihat tatapan mata murka tak bersahabat dari istrinya.


Apa salahku? Kenapa tatapan mata Fia begitu tajam menyeramkan?


Astaga.. ponselku di tangan malaikat maut. Mati sudah..


Ituu... Aduh.. kenapa Fia pegang k****m itu?


"Sejak kapan Abang ada hubungan sama Nelzi?" tanya Fia.


"Bukan ada hubungan dek? Abang hanya kenal sebatas.... percakapan saja, tidak lebih" jawab Bang Sanca hati-hati.


"Sejak kapaaan?????" tanya Fia lebih keras.


"Dua tahun dek..!!" Bang Sanca belum sanggup merasakan kemarahan Fia karena isi percakapan di dalamnya banyak terdapat kata vulgar dan beberapa foto dan video dari Nelzi yang tidak pantas untuk di lihat.


"Lima bulan kita menikah dan Abang tidak menutup hubungan dengan wanita lain. Lagi-lagi Abang tidak cerita sama Fia tentang masa lalu Abang" Fia begitu marah. Jika saja hanya sekedar mantan, mungkin ia akan lebih bisa mengatur perasaannya.. tapi ini sangat keterlaluan. Percakapan Bang Sanca dan Nelzi memang di luar batas kewajaran.


"Kamu bisa tenang dulu atau tidak? Ingat kandunganmu..!!" Bang Sanca cemas dan berusaha meraih tangan Fia. Istrinya itu menepisnya dengan kasar.


"Nggak usah sok baik perhatian Bang. Tawari saja si Nelzi burung gagak Abang yang gagah itu" Fia berlari keluar kamar dan menangis. Bang Sanca pun melepas sarungnya kemudian mengejarnya.


"Ada apa San?" tanya Papa Zaldi.

__ADS_1


"Fia tau tentang Nelzi pa" jawab Bang Sanca panik kemudian mengejar Fia lagi.


"Kok bisa San??? Kamu ini..!!!" Papa Sanca ikut panik.


"Nggak tau lah pa, semoga ngambeknya nggak parah"


:


"Dek.. jangan lari..!! kasihan Juno"


"Kalau Abang peduli dengan Juno, Abang nggak akan hubungi perempuan lain..!! Sudah berbuat apa saja Abang sama perempuan itu?"


Bang Sanca cemas, panik dan ketakutan luar biasa. Ia berusaha meraih kedua tangan Fia.


"Nggak ada, demi Allah..!!"


"Jangan bawa-bawa Tuhan Bang. Disini Fia yang buka paha demi memuaskan Abang tapi di belakang Fia.. Abang malah merayu wanita lain, pernahkah Abang merayu dan memuji Fia seperti itu? Itu juga Zina Bang" bentak Fia.


Seketika Bang Sanca berlutut dan memeluk kedua kaki Fia.


"Abang minta tolong, percaya sama Abang, beri Abang waktu untuk menjelaskan..!!"


"Sudah dek, kamu sudah lelah. Nanti kamu pingsan lagi..!!" kata Bang Sanca. Benar saja, Fia terhuyung lemas. Bang Sanca pun menahan tubuh Fia.


"Dek.. tuh khan..!! Begini ini yang buat Abang malas dinas luar, kalau cari info nggak bisa setengah jalan. Tapi kalau ketahuan pihak yang tidak semestinya.. beginilah jadinya" gerutu Bang Sanca sambil membawa Fia ke dalam kamar.


...


Di kamar Fia sudah berdiri Garin, Papa Zaldi, Bang Sanca dan Opa Rinto. Begitu Fia sadar, amarahnya langsung memuncak saat melihat Bang Sanca.


"Sabar dek.. ini Abang mau jelaskan. Tapi kamu harus janji harus jaga rahasia sekeras-kerasnya. Kejadian tadi, sangat mengancam rumah tangga kita, jadi Abang harus ceritakan sama kamu" kata Bang Sanca duduk di samping Fia dan mengusap perutnya yang mulai timbul.


"Setelah Abang kembali dari tugas luar sekitar tiga tahun lalu, Abang berkutat dengan dunia ini dan berusaha menarik perhatian Nelzi. Istri kepala separatis, pemberontak di negara ini. Email dan situs yang kamu lihat itu tersambung dengan Gandi dan Papa yang mengawasi secara langsung. Itu lihat, papamu ada disini sebagai saksi. Jadi yang nge chat semua hal gila itu si Garin. Yang menerima video dan foto tak senonoh itu juga Garin. Masa kamu nggak pahami bahasa Abang. Sama kamu aja Abang nggak bisa romantis, apalagi sama perempuan lain" jawab Bang Sanca berusaha menegaskan.


"Benar Fia, itu saya. Maklum lah Fia. Bujangan belum ada pelampiasan" jawab jujur Bang Garin.


"Terus kenapa k****m itu ada di tas Abang?" tanya Fia masih belum percaya.


"K****m lagi..!! Itu khan kamu yang beli dari jaman batu, waktu kamu nagih terus kapan hamil. Ya itu kontrasepsi yang kamu sangka permen strawberry" jawab Bang Sanca tak peduli rasa malunya asal rumah tangga nya aman.


Fia terdiam mendengarkan penjelasan Bang Sanca.

__ADS_1


"Ini kalau sampai saya ribut sama Fia gara-gara chat nggak ngarah.. lihat saja kamu ya..!! Kuhajar betul kamu. Saya sudah pernah bilang untuk chat yang wajar saja. Nggak malu kamu chat itu di ambil alih dinas?" tegur Bang Sanca pada Bang Garin.


"Ya maaf bro. Awalnya saya khan juga belajar dari mentor nya. Ternyata jadi playboy cap katak itu nyaman ya. Tapi kelas kakap selalu terdepan" jawab Bang Garin panjang lebar tanpa rasa bersalah.


"Astagfirullah hal adzim.. mulutmu minta di tabrak helikopter????" Bang Sanca melirik Fia yang ubun-ubun nya sudah kembali nyaris berasap.


"Bang Garin nggak salah. Buktinya Abang juga chat Sertu Adelina sampai sekarang." sambar Fia dengan ketus.


"Lailaha Illallah.. susah amat sih jadi pejantan. Masalah Nelzi belum selesai sekarang ada lagi si Adelina. Abang nggak ada maksud apa-apa dek"


"Kalau yang ini papa nggak ikutan ya. Meskipun papa tau Adelina itu seksi, bahenol, putih, mulus, cantik.. idaman para pria muka bumi ini" kata papa Zaldi semakin menyusahkan menantunya.


"Paaa.." tegur Mama Arnes agar suaminya itu diam.


"Benar ma, cantik sekali itu yang namanya Adelina, bodynya ma.... Mata Papa masih awas" ucap Papa Zaldi tanpa sadar menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Fia menangis sesenggukan saking kesalnya sampai memukuli Bang Sanca.


"Oohh.. mata papa masih awas???? Kalian ini dua pria sama saja" Mama Arnes sekarang benar-benar murka.


"Ampuun dek. Abang nggak begitu" Bang Sanca menyilangkan kedua tangan menghindari pukulan bumil kesayangan.


"Bohong. Abang itu memang jelalatan. Kalau sama Fia.. Abang maunya nyosor aja, nggak bisa lihat Fia diam" pekik Fia.


"Hussstt.. eehh.. jangan bilang aneh-aneh dek" Bang Sanca membungkam bibir Fia yang tanpa sadar membongkar rahasianya karena kepolosan sang istri.


"Emang khan, Biar papa mama tau Abang itu mata keranjang. Pagi siang sore maunya mantap-mantap terus" oceh Fia membuat seisi ruangan ternganga salah tingkah. Tapi tidak dengan Bang Garin yang tersenyum nakal meledek.


Baru setelah itu Fia tersadar ada ucapannya yang salah.


"Maksud Fia.. Abang maunya di temani makan" ucap Fia berusaha meralat ucapannya.


"Hhhhh.. ucapan itu nggak bisa di tarik. Dasar bibir los dooll. Iyalah mau di temani makan. Makan kamu ndhuk.. Selera Abang cuma kamu. Duuuh.. Duwe bojo siji wae marai ngelu. Suami dekati istri itu wajar. Masa mau dekati Adelina? Bisa-bisa Abang kamu bawakan parang dek..!!" jawab Bang Sanca kesal.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2