Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
84. Cinta Tuhan dalam hitungan jam.


__ADS_3

Bang Sanca selesai berolahraga pagi dan meluruskan kakinya duduk di bawah pohon besar. Badannya terasa begitu lelah. Terus terang satu minggu ini dirinya kurang tidur. Kepalanya terasa berat, seluruh tubuhnya sakit. Bermain dengan baby Rara terasa begitu menyenangkan untuk nya sampai ia lupa waktu. Bang Sanca sungguh menikmati waktunya menjadi seorang ayah.


"Bang.. Abang baik-baik saja?" kenapa wajah Abang pucat?" tanya Bang Deni.


"Kamu ini berlebihan sekali." jawab Bang Sanca sembari memejamkan matanya.


"Eehh.. jangan sepelekan kesehatan Bang. Abang benar-benar pucat" Bang Deni menyentuh kening seniornya itu.


"Ceplok telur juga matang ini Bang. Panas bener badan Abang"


"Nggak apa-apa Den..!! Tolong ambilkan air minum saja. Abang haus sekali..!!"


Bang Deni segera berlari mengambil air minum di kardus yang ada di sudut lapangan lalu kembali lagi dan memberikan pada Bang Sanca.


"Ini Bang..!!" Bang Deni mengulurkan tangannya mengangsurkan air minum pada Bang Sanca tapi sebelum tangan Bang Sanca sempat menggapainya.. suami Fia itu lemas tanpa bertenaga tak bisa menggapai pemberian Bang Deni.


"Baang..!!"


"Eeehh.. kalian bantu saya bawa Danki ke ruangan..!!!!" perintah Bang Deni.


...


"Duuhh Den.. kenapa pakai di sambung selang segala sih?" protes Bang Sanca saat menyadari tangannya terpasang jarum infus.


"Itu hanya vitamin kok Bang. Abang kurang istirahat jadi kecapekan begitu. Memangnya mbak Fia belum sembuh Bang?" tanya Bang Deni.


"Sudah lebih baik, tapi Fia lebih butuh banyak istirahat daripada Abang. Pemulihan badannya tidak secepat itu Den. Kalau Abang yang sakit mungkin masih bisa tahan, tapi kalau istri yang sakit jelas nggak tega lah" jawab Bang Sanca.


Bang Deni mengangguk saja karena belum memahami arti saling mendukung dalam rumah tangga.


"Oke lah.. Abang istirahat dulu. Tunggu infusnya habis baru boleh pulang. Lumayan satu atau dua jam istirahat Bang"


"Iya Den. Terima kasih ya..!!"


"Siap.. santai lah Bang"


***


Bang Ibra memasang selambu di kamar Ola. Ia takut bumil itu di serang kawanan nyamuk nakal karena kontrakan Ola berada di dekat kebun yang rimbun.


"Pakai obat nyamuk saja Bang"


"Iya.. tapi baunya itu nggak baik kamu hirup. Kalau sudah menjelang malam, kamu masuk ke dalam kamar. Jangan keluar masuk kamar kalau tidak ada perlunya" kata Bang Ibra yang kemudian memasukan barang yang tadi mereka beli ke dalam ranjang yang sudah tertutup selambu.


:


"Itu bukan kaos dalam Bang, tapi alas bayi kalau mau makan biar makanan nya tidak mengotori pakaian" Ola menjelaskan pada Bang Ibra fungsi barang-barang yang sudah di beli Bang Ibra tadi.


"Kalau ini apa? sabuk?"

__ADS_1


"Itu bando Bang" Ola sampai tertawa melihat ekspresi Bang Ibra yang serba ingin tau.


Baru malam ini juga Bang Ibra melihat senyum cantik Ola yang seketika menyentuh hatinya yang terdalam.


"Ola ke kamar mandi dulu ya Bang" Ola turun dari ranjang melewati Bang Ibra.. aroma wangi khas wanita yang begitu lembut seakan melayangkan angannya, deru dalam dadanya bergetar hebat. Dirinya gelisah tak menentu.


"Hati-hati..!!"


"Cckk.. aku kenapa sih. Dekat perempuan bisa tegang begini. Hhfffttt" gumam Bang Ibra sembari mengatur nafasnya yang berantakan.


Tak lama Ola kembali ke kamarnya dan melihat Bang Ibra masih melihat barang yang baru di belinya itu.


"Ini kenapa potongan bajunya miring begini? Anak ku bisa masuk angin nih" Bang Ibra kembali bergumam.


Air mata Ola langsung mengalir. Sungguh kehamilannya tidak pernah di anggap oleh keluarga suaminya tapi malah dirinya dan calon bayinya di perlakukan bagai ratu oleh seorang pria yang baru di kenalnya.


"Lhoo dek.. Kenapa?? Ada yang sakit? Terpeleset???" Bang Ibra langsung beranjak dari ranjang dan menghampiri Ola untuk melihat keadaan bumil di hadapannya.


"Abang kembalilah pulang. Nanti keluarga Abang mencari" kata Ola yang sebenarnya belum tau tentang identitas Bang Ibra yang sebenarnya. Ia hanya mengira Bang Ibra adalah junior almarhum Mas Basri.


"Abang sudah dewasa, pulang pagi pun tidak ada yang mencari" Jawab Bang Ibra.


"Abang nggak apel malam?" tanya Ola.


"Nggak.."


"Bang.. nggak enak di lihat orang. Kita tidak ada hubungan dalam hal apapun" ucap Ola yang akhirnya menyadarkan Bang Ibra.


"Abang minta maaf, seharusnya Abang juga lebih peka dan sadar dengan keadaan. Abang kembali ke mess dulu ya..!! Baik-baik kamu disini"


:


Ola menangis memeluk erat baju bayi yang di belikan Bang Ibra.


"Jangan beri perhatian untuk Ola lagi Bang. Ola sedang tidak baik-baik saja saat ini. Ola takut berharap lebih dari perhatian Abang sedangkan Ola sadar diri.. Ola hanya bekas orang, tak pantas untuk Abang" gumamnya terisak sesak.


Tanpa Ola sadari, Bang Ibra bersandar duduk di bawah jendela kamar Ola. Sejak mengenal wanita itu.. ia tidak berani jauh dari Ola, bumil yang ia temui di mushola ujung perbatasan desa.


Mata Bang Ibra terpejam, ada rasa tidak tega, sedih, sakit dan sesak di dada bercampur aduk menjadi satu.


Ya Tuhan, jika Bang Sanca merasakan cinta satu malam pada Fia.. bisakah aku menyelamatkan perasaanku ini. Mataku, hatiku.. tak bisa ku kendalikan hanya dalam 60 jam pertemuan ku dengan Ola. Jika memang Kau antarkan pengganti Rinka untuk pengobat rasa sakit itu, maka aku bersedia menjadi obat untuk Ola, mungkin pertemuan yang Engkau berikan ini adalah jawaban doa sepertiga malam ku.


***


"Abang baru pulang? Ini sudah malam" Fia mengambil tas kecil yang di tenteng Bang Sanca.


"Banyak kerjaan sayang. Rara tidur?" tanya Bang Sanca kemudian mengecup Fia seperti biasanya.


"Iya Bang. Dari tadi nangis terus"

__ADS_1


"Kenapa? Apa demam?" tanya Bang Sanca lagi.


"Nggak tau Bang, Maunya di gendong terus" jawab Fia.


"Abang mandi dulu ya.. Badan Abang lengket. Nanti gantian Abang gendong dedek" kata Bang Sanca.


Fia pun menyiapkan makan malam untuk Bang Sanca. Meskipun masih ada rasa sakit yang ia rasakan tapi melayani suami adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


:


"Nggak usah masak lah dek, beli saja.. nanti Abang minta tolong anak-anak beli makan. Kamu mau makan apa?"


"Ini sudah mau matang Bang. Ayam asam manis sama sop merah." jawab Fia.


"Waahh.. enak itu dek. Abang jadi lapar nih" ucapnya sambil menggendong Rara.


"Sini Fia suapin..!!"


Fia mengambil dua centong nasi untuk ukuran suaminya yang tidak bisa makan dalam porsi kecil menyesuaikan badan gagah Bang Sanca.


Rara kecil sama sekali tidak rewel seperti apa yang di cerita kan Fia tadi. Mungkin putri kecil Bang Sanca itu sedang merindukan papanya.


"Papa makan dulu..!!" Fia menyuapi Bang Sanca. Suaminya itu tak pernah sekalipun tidak menyukai masakannya.


"Besok papa mau di masakin apa?"


"Boleh request nih ma?"


"Apa papaaa??" tanya Fia.


"Masakin lodeh terong sama ikan asin" jawab Bang Sanca.


"Oke Abang" senyum Fia dihadapan Bang Sanca.


"Habis Bang, tambah lagi nggak?"


"Cukup sayang.. Abang kenyang"


Fia meletakan piringnya di meja belakang. Sekilas ia menghapus air matanya kemudian kembali tersenyum.


"Waahh.. kebetulan Fia buat beras kencur. Abang mau?"


"Iya.. mana dek..!!"


Fia segera menuang beras kencur untuk Bang Sanca. Ia sengaja menyiapkan semua ini karena tau Bang Sanca sedang tidak sehat karena sedang sakit tapi dirinya pura-pura tidak tahu karena paham.. Bang Sanca tidak pernah suka terlihat lemah di hadapan istrinya. Tiga hari ini, Bang Sanca sudah berusaha keras memanjakan nya. Kini Fia yang akan memanjakan suami tercintanya meskipun seolah dirinya tak tau apapun tentang hari ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2