
"Tapii......"
"Tapi apa?? Cepat kalau bicara..!! Jangan bertele-tele" tanya Bang Sanca tidak sabar.
"Kalau tidak salah Dan Garin membuang puntung rokok ke tong besi dan di dalam tong itu ada banyak kertas untuk alas makanan" jawab Om Hega.
"Gariin????" tanya Bang Sanca tidak percaya.
"Iya Dan.. tadi baru duduk bersama Dan Zaldi kemudian Dan Zaldi meminta Dan Garin membungkus makanan. Seingat saya beliau merokok"
"Gariiiiiiiinn..!!!!!!!!!!" Bang Sanca kembali kebakaran jenggot karena ulah sahabatnya itu dirinya sampai tidak selesai patroli.
"Abang.. sabar Bang.. Nafas dulu...!!" Bang Ibra membantu mendudukkan Bang Sanca lalu memijat keningnya agar tidak semakin marah.
"Dek.. tolong ambilkan ponsel Abang..!!"
Fia pun melangkah cepat mengambil ponsel Bang Sanca.
~
"Ada apa sih? Jangan berbelit..!! Memangnya gue anak kecil.. buang puntung rokok sembarangan. Gue buang puntung di tong besi samping rumahmu lah."
"Hedeeehh bodong.. Buang sih buang.. lu lihat nggak di sana banyak isi kertas, tisu.. banyak barang yang mudah terbakar" jawab Bang Sanca emosi.
"Mana gue tau San.. memangnya gue dukun? Main tebak" jawab Bang Garin sambil menikmati lauk hasil jarahan dari rumah Bang Sanca.
Bang Sanca bersandar mengusap dadanya, ia menarik nafas berusaha menjadi sesabar-sabarnya manusia.
"Sabaaaarrr.. gue masih waras..!!" gumam Bang Sanca pelan.
"Lu tau nggak rumah gue nyaris kebakaran..!!!!!!"
"Waaahh.. lu kemana aja San?? Makanya jangan mainan lempung aja lu" jawab Bang Garin..
"Astaga Tuhankuu.. dasar sontoloyo..!!!!!" bentak Bang Sanca kemudian mematikan sambungan telepon.
***
Bang Sanca masih memasang wajah tegangnya. Kekesalan nya masih terbawa di perasaan meskipun ia masih bisa memisahkan antara pekerjaan dan perasaan secara profesional.
"Beli lagi peralatan tenda yang baru. Saya yang akan tanggung jawab..!!" perintah Bang Sanca.
"Nanti kita patungan saja Bang. Ini khan acara kita berdua" kata Bang Ibra.
Berbeda dengan Bang Sanca. Wajah Bang Ibra jauh lebih kalem. Seluruh pekerjaan pun bisa di handle dengan baik.
"Terserah mu saja lah. Kepala Abang pusing. Nggak bisa mikir" jawab Bang Sanca tanpa basa-basi.
"Oya.. istri mu segera masuk kepengurusan kompi ya.. bantu Fia..!! Semua bentuk kepengurusan harus adil, tidak ada ongkang kaki dengan alasan apapun. Fia punya anak, Ola punya anak. Jadi apapun harus berunding dan kerjasama..!!"
__ADS_1
"Siap Bang. Insya Allah Ola paham" jawab Bang Ibra kemudian mengambil rokok dari saku seragamnya lalu menyodorkan pada Bang Sanca.
"Rokok Bang..!!!"
Bang Sanca mengambil sebatang rokok karena ternyata rokoknya pun sudah habis. Setelah menyulut rokoknya ia memperhatikan batang rokok di tangannya.
"Kenapa sulit sekali mau mengurangi merokok. Fia punya asma yang parah. Kadang Abang cemas juga kalau Fia kecapekan. Takut kambuh"
"Abang sudah perokok berat. Sulit sekali menghilangkan candu nya"
Bang Sanca menghela nafas, memang menghilangkan kebiasaan merokok masih sulit untuknya.
...
Fia mendorong baby inces. Udara dari pantai begitu panas hari ini. Merasa masih lelah, Fia duduk di taman kompi. Belum lama Fia duduk disana, dadanya terasa sakit menekan hingga ulu hati.
"Bu Sanca.. ibu kenapa?" Bu Salman kaget melihat Fia berpegangan pada sebatang pohon.
"Bu.. bisa saya minta tolong panggilkan suami saya?" pinta Fia.
~
"Duuuhh dek.. ngopo to Iki??" Bang Sanca mengangkat Fia pindah ke ruang kesehatan bersama Bu Salman yang mengasuh baby inces.
"Sebenarnya istri saya kenapa Bu?"
"Sepertinya saya lihat tadi ibu mengeluh dadanya sakit, jadi saya tadi langsung mencari bapak" jawab Bu Salman.
"Abang coba periksakan di rumah sakit saja. Disana khan pasti ada peralatan yang lebih memadai" saran dokter Alle.
"Fia ini nggak apa-apa Bang. Masa nggak boleh capek?" kata Fia.
"Ya nggak boleh donk. Kamu harus sehat..!! Kita hidup di dunia itu cari sehat, bukan undang penyakit" jawab Bang Sanca.
"Namanya baru belajar urus anak Bang. Mungkin badan Fia adaptasinya lama." Fia berusaha meyakinkan dan menenangkan Bang Sanca.
"Begini saja. Kalau Fia masih belum sehat juga.. kita ke rumah sakit. Rumah sakit manapun yang Abang mau"
"Kamu ini..!!" Bang Sanca menyentil dahi Fia, meskipun begitu.. rasa cemasnya sebagai seorang suami pastilah begitu besar.
-_-_-_-_-
Bang Ibra tersenyum melihat putri kecilnya menyusu dengan kuat.
"Anak Papi kuat sekali ya, Papi nggak minta kok sayang" ucapnya sambil melirik Ola.
"Kenapa pakai botol?" tanya Bang Ibra.
"ASI langsung dan botol bergantian Bang. Biar saat ada pertemuan.. Ola nggak perlu buka pakaian. Abang mau aset kesukaan Abang di lihat orang?" tanya Ola.
__ADS_1
"Ya nggak donk..!! Ya sudah begitu sana. Jangan sampai ada yang lihat selain Abang..!!" jawab Bang Ibra.
"Hmm.. besok kamu sudah siap untuk ikut kegiatan?"
"Insya Allah siap Bang. Tapi.. Ola hanya mendampingi Fia khan?" tanya Ola.
"Kamu memang mendampingi Fia tapi kalau Fia sedang berhalangan untuk mengambil keputusan atau butuh rekan untuk bertukar pikiran.. kamu juga harus aktif dek" jawab Bang Ibra menjelaskan.
"Apa Ola mampu Bang? Ola hanya akan membuat beban Abang" Ola mulai tidak percaya diri.
Bang Ibra mengambil kaca kecil di dalam nakas lalu menyerahkan pada Ola.
"Wajah siapa disana?" tanya Bang Ibra.
"Wajah Ola Bang"
"Viola.. Ola.. istri siapa??"
"Istri Abang" jawab Ola dengan polosnya.
"Nama Abang itu siapa?"
"Ibrani.. Lettu Ibrani" Ola menjawabnya dengan hati-hati.
"Kalau kamu sudah tak kalau kamu ini istri Abang.. maka kamu tegakan wajahmu di hadapan semua istri anggota yang lain. Ingatlah dengan jelas.. 'saya, istri Lettu Ibra'. Kamu paham?"
"Iya Bang. Ola paham"
"Pintar.. sekarang mana si cantiknya Papi? Papi mau gendong dulu..!!" Bang Ibra mengambil Nasya dari gendongan Ola.
Di mata Ola, terlihat jelas tanpa ada yang di buat-buat. Bang Ibra begitu menyayangi Nasya dengan tulus.
"Terima kasih banyak ya Bang. Abang mau menerima Nasya meskipun Nasya bukan putri Abang"
Seketika raut wajah Bang Ibra berubah.
"Kenapa kamu katakan itu? Memang tidak ada darah Abang yang mengalir untuk Nasya.. tapi tanpa darah itu, Abang mampu mencintainya. Setiap tetes keringat Abang akan menjadi nafas dan hidup Nasya. Jadi stop mengatakan kalau Nasya bukan putriku" nada Bang Ibra terdengar keras.
"Maaf Bang..!!" ucap Ola penuh sesal.
"Merenunglah sampai hatimu tenang. Apa faedahnya berkata seperti itu. Jangan membedakan anak sendiri. Ini hanya perbedaan dari siapa Nasya berasal, Abang yakin.. dia juga tidak ingin hadir kalau harus tau bagaimana perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Kalau dari keluarga setan itu tak mengakuinya hadirnya Nasya.. lihatlah, Daddy Mommy nya menerima dengan penuh cinta" Bang Ibra meninggalkan Ola dan membawa Nasya ke ruang tengah.
Doa dan sholawat ia panjatkan, bisik kata cinta ia perdengarkan untuk putri pertamanya itu.
"Jika seluruh dunia menolakmu, ingatlah.. Papi akan selalu ada untuk Nasya. Hidup Papi ini untuk Mami.. Nasya dan adik-adik kelak" kecupan hangat Bang Ibra berikan untuk selimut penghantar tidur putri tercinta.
.
.
__ADS_1
.
.