Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
57. Berusaha tabah.


__ADS_3

Bang Sanca membuang rokoknya melihat bapaknya sedang mabuk di teras depan rumah. Amarah Bang Sanca langsung memuncak. Begitu menyadari sang putra datang, ibunya langsung menghadang langkah putranya.


"Jangan le, bagaimanapun dia bapakmu..!!" kata Ibu.


"Dia sudah menyakiti istriku Bu. Fia sampai hilang ingatan karena ulahnya. Dia sedang mengandung anak keduaku" ucap Bang Sanca sudah tidak sabar lagi.


Bapak menoleh melihat Bang Sanca berada disana.


"Kau kesini mau memberikan Fia untuk bapak? Gadis itu cantik sekali. Bapak langsung jatuh cinta"


"Tua bangka tak tau diri. Keempat istrimu kau sia-siakan, sekarang masih sempatnya kau mengincar istriku. Sudah bosan hidup kau rupanya..???" bentak Bang Sanca.


"Sudah le, itu bapakmu. Nggak baik berdebat dengan bapak" bujuk ibu Bang Sanca menenangkan putranya.


"Ingat itu bapakmu..!! Bapak nggak sengaja le"


"Nggak sengaja?? Ini sudah kebiasaan Bu, penyakit. Tidak puaskah dia dengan empat istrinya sampai masih harus mengincar Fia. Sekarang nyawa Fia dan putriku taruhannya. Apa tidak bisa rumah tanggaku tenang?? Aku lelah Bu, aku marasa gagal jadi suami" jawab Bang Sanca kalut dan terluka.


Bang Sanca melepaskan pelukan ibunya dan menghajar bapaknya habis-habisan hingga terkapar tanpa daya.


"Kalau sampai ada apa-apa, ibu akan bunuh diri..!!!" pekik ibu, mendengar itu Bang Sanca pun berhenti bertindak.


Bang Ibra, Bang Ryan, Bang Anjar, Bang Gio, Bang Edo dan Bang Garin yang baru datang langsung turun dan mencegah amukan Bang Sanca. Bang Ryan dengan cekatan memeriksa kondisi bapak Bang Sanca. Ia menoleh sekilas pada seluruh seniornya itu.


"Kritis Bang..!!"


"Bapaaakk.." Ibu Bang Sanca menghambur memeluk suaminya dan menangis sejadi-jadinya. Hati ibunya terluka karena Bang Sanca melukai suaminya.


"Pergi kamu Sanca. Ibu tidak ingin mengenalmu lagi..!! Seburuk-buruknya dia.. dia ini adalah bapakmu. Kamu tidak akan pernah ada di dunia ini tanpa bapakmu..!! Sekarang pergilah.. Aku tidak sudi punya anak sepertimu..!!!!" pekik ibu Bang Sanca.


Dada Bang Sanca terhantam kuat, rasanya ia mau mati saja tak sanggup menerima semuanya. Fia tidak mengingatnya dengan jelas, anaknya terancam hilang, kini ibunya pun menolaknya karena membela bapak bejat seperti bapaknya itu.


Bang Sanca merangkak di hadapan ibunya memohon maaf, tapi ibunya tidak mau menerima nya lagi.


"Saya punya tanggung jawab untuk melindungi keluarga saya. Anak dan istri saya. Jika bukan saya yang melindungi mereka.. siapa lagi?? Mereka nyawa saya Bu bahkan si kecil yang masih ada dalam kandungan.. belum mengerti apa yang di alami orang tuanya. Sebagai anak saya juga tidak terima ibu di perlakukan buruk oleh pria ini. Saya harap ibu mengerti."


"Sanca pergi Bu. Jaga diri ibu baik-baik..!! Sanca sayang ibu"


"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi" pekik ibu Bang Sanca.


Bang Garin dan Bang Ibra menarik bahu Bang Sanca agar menjauh sedangkan Bang Anjar dan Bang Ryan tinggal di tempat untuk menangani bapaknya.

__ADS_1


...


"Bahaya sekali emosimu pot. Bapakmu bisa mati..!!" tegur Bang Garin.


"Sadar kamu..!! Fia butuh kamu. Kalau kamu seperti ini, tega kah kamu sama dia??"


"Biar saja dia mati. Aku malu punya bapak seperti dia. Istriku sampai seperti itu karena ulahnya. Apa dia bisa di sebut manusia??" jawab Bang Sanca masih dengan emosinya.


Bang Ibra meletakan ponselnya. Ia baru membaca pesan singkat dari Bang Ryan.


"Bapak baik-baik saja. Sekarang sedang di bawa ke rumah sakit. Hanya saja bapak belum sadarkan diri"


...


Sampai di rumah ada Papa Zaldi dan Opa Rinto yang menunggu sedangkan kedua Oma sudah berada di kamar masing-masing karena hari memang sudah pagi.


Tanpa emosi kedua tetua itu langsung mendudukan Bang Sanca yang terlihat begitu lelah. Papa Zaldi mengangsurkan air minum agar menantunya itu lebih tenang.


"Sebentar lagi sholat subuh. Cepat mandi dan istirahatlah meskipun hanya sebentar agar hati dan pikiran mu tenang..!!" kata Papa Zaldi.


Bang Sanca masih menatap pandangan dengan tatapan kosong.


"Fia bagaimana pa? Apa sudah baikan?"


"Bawalah Fia bersamamu. Jaga dan lindungi dia sebagaimana kewajibanmu menjaga istri. Mungkin di tempat yang baru, hatimu akan jauh lebih tenang."


Mata Bang Sanca berkaca-kaca mendengarnya.


"Saya ini papamu. Lepaskan tangismu..!! Terkadang pria juga butuh mengungkapkan kejujuran, kita juga manusia biasa. Katakan apa yang mengganjal dalam hatimu.


Tak ayal tangis Bang Sanca lepas. Terlihat sekali seorang Sanca yang kuat bisa terlihat luruh dan hancur.


"Aku menikahi Fia bukan untuk menyakitinya seperti ini pa..!! Aku sungguh mencintainya..!!"


"Papa paham le.. Terima kasih untuk cintamu yang begitu besar untuk Fia." kata Papa Zaldi.


:


Bang Sanca kembali menangis dalam doanya. Papa Zaldi berniat menegur nya tapi Opa Rinto mencegahnya.


"Biarkan Sanca mengadu pada Allah dulu. Dia sedang benar-benar terluka. Masalah yang tak kunjung selesai pasti membuatnya begitu tertekan. Kita awasi saja dia dari jauh"

__ADS_1


Papa Zaldi dan Opa Rinto pun menjauh, mereka memilih duduk di ruang tamu sambil mengawasi Bang Sanca yang sedang berdoa di dalam mushola kecil rumah Papa Zaldi.


Baru beberapa menit saja, tiba-tiba terlihat Bang Sanca terkapar menggelinjang meremas dadanya dengan kuat.


"Sancaaa..!!"


:


"Aku sudah memberinya obat penenang pa. Jadi Abang nggak akan bisa ikut apel pagi"


"Haduuhh.. bagaimana ini? Lusa mereka akan menikah tapi Fia dan Sanca sama-sama drop. Lalu kenapa kamu kasih Abangmu obat penenang. Kamu khan tau Sanca itu masa 'pemulihan' " tegur Papa Zaldi.


"Nggak ada cara lain pa. Tingkat stress Abang tinggi sekali. Kita juga harus menjaga kestabilan warasnya pikiran Bang Sanca" kata Bang Ryan.


"Ya Tuhan.. aku bisa gila"


"Nanti ikutlah geser ke perbatasan bersama Abangmu. Biar Papa yang berunding dengan atasan" Papa Zaldi sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar situasi ini membaik.


"Papa bantu Zal" lanjut Opa Rinto.


...


Mata Bang Sanca terbuka, yang ia rasakan hanya pening berputar-putar di kepala. Perutnya terasa melilit dan mual. Jarum infus menancap di punggung tangan kirinya. Ia melihat di sekitar. Ternyata ia sedang berada di kamar tamu rumah Papa Zaldi.


Perlahan kakinya turun dari ranjang. Tapi badannya terasa sangat berat untuk di gerak kan.


"Aarrgghh.. kenapa rasanya badanku nggak karuan begini?" gumamnya.


"Bagus yeee yang mau kawin malah enak-enakan molor, kita jadi sibuk sendirian. Fia saja sudah fiting baju pengantin" sengaja Bang Garin menegur Bang Sanca secara halus.


"Dimana Fia sekarang?"


"Kerjamu tidur saja sih. Dia lagi bermesraan dengan lelaki lain di luar sana" kata Bang Garin.


"Setan.. berani-beraninya dia dekati Fia" dengan langkah berat, sekuatnya Bang Sanca bangun mencari keberadaan Fia.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2