
Awas kalau spoiler..!!!
🌹🌹🌹
"Bang.. disini sudah aman??" tanya Fia. Jantungnya masih belum normal karena ketakutan.
"Aman kalau kamu nurut" Bibir Bang Sanca sudah nyosor kemana-mana.
"Fia takut Bang, sampai rasanya dada ini ikut sesak" kata Fia dengan polosnya masih belum menyadari maksud dan tujuan licik Bang Sanca.
"Eehh Bang.. Abang kenapa daritadi bertingkah aneh?"
Bang Sanca memercing seolah menahan sakit.
"Eeegghh.. Ilmu Abang kurang kuat dek.. Aura kita nggak imbang"
"Fia harus gimana ini Bang?"
"Ini salahmu dek. Berapa lama kamu nggak mau Abang pegang? Makanya kalau suami mau netralkan aura negatif itu kamu harus nurut. Sekarang bagaimana nih?"
"Haaaaa.. ayo sekarang aja Bang..!! Fia takut" rengeknya. Wajahnya bersemu pucat.
"Tapi Abang lagi nggak bisa dek. Abang sudah di serang hal negatif. Badan Abang kaku semua" ucapnya memasang tampang penolakan penuh bualan padahal dalam dirinya sudah seribu persen siap siaga.
"Nggak.. Nggak boleh Bang.. Fia takut..!! Buat apa sih badan Abang besar begini kalau lembek sama 'begituan' " jawab Fia.
" 'Begituan' yang mana maksudmu? Ini kamu yang paksa lho yaa.. bukan Abang"
"Iyaaa.. ayo cepat Bang..!! Abang ini banyak bicara, keburu di sambar kita nanti" tanpa sadar Fia sendiri melucuti pakaian Bang Sanca.
Sebenarnya dalam hati.. Bang Sanca merasa kasihan sampai harus mengerjai istrinya yang lugu. Tapi tak ada pilihan lain selain mengajaknya berbaikan seperti ini. Berkasih sayang antara suami istri, adalah cara untuk melunturkan ego dan rasa marah yang terbaik.
"Biar Abang buka sendiri. Abang sudah nggak apa-apa. Kamu mau nurut Abang saja.. Abang sudah terima kasih banyak" tangannya meneruskan sendiri membuka pakaiannya.
Kecupan hangat mendarat manis di bibir Fia. Belai lembut dan sayang dari Bang Sanca membuatnya sesaat melupakan semua rasa kesalnya. Bang Sanca memberi jeda waktu pada Fia, ia tak bisa menahan diri.
"Mungkin Abang tidak menyentuhmu hanya dalam hitungan hari, tapi jujur.. Abang tipe laki-laki yang berat menjalaninya. Apa kamu kecewa atau keberatan dengan kelemahan Abang itu?" tanya Bang Sanca.
"Iinii.. Abang atau setan yang bicara?" tanya Fia terbata-bata.
Bang Sanca menghela nafas panjang.
"Ini suamimu yang bicara, mana ada setan disini. Semua aman"
Fia pun lega, hatinya perlahan tenang. Refleks ia mengalungkan kedua lengan di belakang leher Bang Sanca.
"Jangan pernah buat Fia kesal lagi.. atau Abang akan terima akibatnya"
"Siap Bu Komandan..!!"
"Jadiiii.. boleh khan?" tanya Bang Sanca.
__ADS_1
Fia menunduk, wajahnya jinak merpati.
"Baiklah.. Abang tidak akan mengecewakanmu" kata Bang Sanca. Perlahan Bang Sanca mendorong mundur langkah Fia hingga sampai ke ranjang.
Fia mengecup bibir Bang Sanca lebih dulu. Tangannya mulai berani menyenangkan Kapten kaku itu. Mata Bang Sanca sampai terbelalak mendapatkan 'hadiah' dari istri tercintanya.
"Fia juga bisa menjadi wanita dalam pikiran Abang. Fia ingin memanjakan mata Abang, Fia juga yang akan memenuhi kebutuhan Abang sampai Abang tidak menginginkan wanita lain lagi"
"Begitu juga denganmu. Hanya Abang yang akan memenuhinya. Bertingkah lah semau mu asal di hadapan Abang" perlahan Bang Sanca mendudukan Fia.
"Selama hamil. Kamu nggak boleh ambil kendali. Bisa kelepasan"
"Tapi Abang juga suka lupa"
"Jadii???" ucap mereka bersamaan.
...
Malam ini Fia sangat lelah dan tidak ingin pulang ke rumah, tapi pekerjaan Bang Sanca harus segera di selesaikan karena dirinya harus mempersiapkan kepindahannya untuk mengemban tugas yang baru.
Ponselnya berdering, Papa Zaldi menanyakan keberadaan menantunya karena tidak hadir dalam acara rapat sore tadi.
"Siap salah Dan..!!" jawab Bang Sanca secara resmi.
"Saya tau mungkin kamu ada urusan sendiri dengan Fia. Tapi ada tanggung jawab yang harus kamu selesaikan San..!!" tegur keras Papa Zaldi sekali lagi.
"Siap Salah" jawabnya sambil mengusap rambut Fia yang sejak tadi tidak melepaskan dekapan dari pinggangnya.
...
Suara klakson di belakangnya begitu mengganggu padahal Bang Sanca sudah mengambil letak jalan paling kiri agar pengemudi lain bisa menyelip.
"Kenapa sih itu orang??" gumam Bang Sanca sambil melirik dari spion dalam.
"Apa orang itu tidak tau cara mengemudi??"
Klakson itu semakin kencang. Bang Sanca Sampai terpancing emosi. Saat dirinya akan turun.. Mobil itu malah berlalu pergi.
"Wooo.. wong edan..!!"
"Abang kenal?"
"Nggak.. orang nggak genap kali dek" jawab Bang Sanca.
...
Fia meletakan sop kaki kambing yang sempat di belinya di jalan tadi di atas mangkok sedangkan Bang Sanca baru saja mandi dan mengeringkan rambutnya.
"Abang makan sekarang saja dek. Kelaparan, tenaga habis" pintanya pada Fia.
Fia pun dengan cepat mengambilkan nasi untuk suaminya makan di jam tengah malam dan kemudian makan bersama.
__ADS_1
Baru dua suap Fia makan, ada suara mobil berhenti. Tak lama pintu rumahnya di ketuk. Fia yang akan berdiri membuka pintu, masih sempat di cegah Bang Sanca.
"Habiskan makananmu. Biar Abang yang buka"
"Siapa tengah malam begini bertamu?" gumamnya sambil meninggalkan meja makan.
"Sancaaa..!!" seorang wanita langsung memeluk Bang Sanca, bahkan wanita itu dengan beraninya meraba Bang Sanca di sana sini sampai Bang Sanca harus menepisnya.
"Ya Tuhan.. alamaakk.. Mon*ok kali..! Isi betul kah itu?" tanya Bang Sanca.
"Iyaa lah, yang bahenol begini khan kesukaanmu. Tanggung jawab.. ini anakmu..!!" jawab wanita itu sambil tersenyum dan mencolek-colek Bang Sanca.
"Janeet??? Jaga sikapmu..!! Fia..........."
"Dia siapa Bang??" Bang Sanca menoleh dan memucat saat Fia sudah ada di belakangnya. Wajah Fia juga sudah menunjukan raut penuh amarah.
"Sabar dulu dek.. Duduk dulu sama Abang..!!" ajak Bang Sanca tapi sialnya tangan Bang Sanca yang akan menggapai tangan Fia malah di singkirkan wanita bernama Janet itu. Dengan genitnya Janet mengalungkan kedua lengannya pada leher Bang Sanca kemudian mengecup pipinya dan nyaris terkena bibir suami Fia itu.
"Dia hamil Bang?? Hamil anak Abang???" tanya Fia dengan mata yang mulai memerah.
"Dia ini..........." Bang Sanca hendak menjawabnya tapi terputus oleh sambaran Janet.
"Iya, hamil anak Bang Sanca"
"Setaann.. jangan bercanda macam ini. Fia nggak bisa di ajak bercanda..!!" tegur Bang Sanca.
Fia tak sanggup berucap apapun lagi. Seketika Fia memegangi dadanya. Nafasnya terasa berat dan sesak. Hatinya terasa begitu sakit merasakan pengkhianatan Bang Sanca padanya.
"Dek.. Adeekk..!!!" Bang Sanca melepas rangkulan Janet dan mendekap Fia yang tumbang tanpa kata. Tangannya mengepal, nafasnya sesak, suhu tubuhnya meninggi.
"Bodoh kau Janet..!!!!! Fia ini nggak bisa di bercandain hal seperti ini" Bang Sanca membopong Fia dan menidurkan di ruang tamu.
"Aku hanya bercanda" jawab Janet ikut cemas.
"Ada apa sih ribut sekali??" tanya Bang Garin. Bang Anjar pun ikut keluar dari rumah dan langsung nyelonong masuk rumah Bang Sanca.
"Lho.. ini khan????"
"Ini gimana San?? Aku panggil Mas Dwi ya???" tanya Janet panik tak peduli apapun lagi.
"Sempat aku ribut sama Fia, taruhannya laki lu itu" ancam Bang Sanca tak main-main pada Janet.
"Garin.. tolong hubungi Ryan sekarang..!!"
.
.
.
.
__ADS_1