
Bang Sanca menarik sprei yang kotor dan membalik kasur busa miliknya. Fia masih bersandar di sofa masih memejamkan matanya. Sesekali Bang Sanca melirik istrinya.
"Setelah ini Abang antar pulang ya dek..!!"
"Abang mau pulangkan Fia setelah apa-apakan Fia?" tanya Fia.
"Lah terus karepmu piye? Abang nggak bisa bawa kamu pergi. Status kita di kantor masih belum jelas. Kalau kita kena razia kantor bagaimana? Mana Abang lagi DanPom nya" jawab Bang Sanca.
"Sabar sebentar lagi. Abang berusaha keras naikan statusmu di kantor. Sekarang kendalanya usiamu dek. Kalau sudah waktunya nanti Abang bawa kamu masuk asrama"
...
Bang Sanca mendapat teguran karena saat acara kenaikan pangkatnya, malah di pemilik acara menghilang begitu saja.
Bang Anjar menyerahkan tas milik Bang Sanca.
"Nih.. isi tas mu tercecer di lapangan. Buat apa kau beli pengaman sebanyak itu?"
"Bukan urusanmu..!!" jawab Bang Sanca.
"Kamu jangan permainkan Fia kalau masih ingin 'main' dengan perempuan di luar sana. Fia bukan seperti perempuan malam mu Black..!!" tegur keras Bang Anjar.
"Kau bisa menghapus masa lalumu atau tidak? Fia bukan milikmu lagi..!!"
"Selama Fia belum menikah, dia masih layak untuk di perjuangkan" kata Bang Anjar.
"Fia istriku.. Paham kamu sekarang...!!!!!!"
"Eeehh... sudah..!! Malu di lihat anggotamu..!!" tegur Bang Garin.
"Istighfar San. Jangan terlampau emosi.. dan kamu Anjar.. sudahi ulahmu mengejar Fia. Gadis itu sudah aman dalam penjagaan Sanca"
...
Mama Arnes melihat gelagat Fia yang berbeda. Putrinya itu lebih banyak mengurung diri di dalam kamar setelah pulang dari acara kenaikan pangkat.
Bang Sanca baru pulang dari kantor dan langsung mampir ke rumah Papa Zaldi untuk melihat keadaan Fia karena saat mengantarnya pulang tadi.. Fia masih terlihat lemas dan kesakitan.
Hatinya masih tidak tenang dan ragu, ia terus mengingat apakah ia menyelesaikannya di dalam atau di luar pasalnya tadi dirinya benar-benar terbuai dengan kecantikan istrinya.
Bagaimana kalau tadi aku melepaskannya di dalam?.
"Fiaaaaa...!!!!" jerit Mama Arnes dari arah kamar mandi. Bang Sanca pun segera berlari menghampiri suara mama mertuanya.
"Astagfirullah ma. Fia kenapa?" Bang Sanca mengangkat Fia dan membawanya ke kamar.
"Nggak tau San. Tiba-tiba pingsan. Atau mungkin Fia capek dengan tugas kampusnya?" kata Mama Arnes menerka-nerka.
"Biar saya yang jaga Fia ma..!!" pinta Bang Sanca.
Bang Sanca mengunci pintu kamarnya.
"Ayo sadar dek..!!" Bang Sanca menggenggam erat tangan Fia.
Sungguh ia begitu menyesal tidak bisa menahan diri hingga kebablasan. Tapi mau bagaimana lagi. Sikap Fia hari ini sangat menyiksa batinnya dan menantang nalurinya sebagai seorang pria. Berbulan-bulan sering menginap berdua di hotel untuk menghabiskan akhir pekan bukanlah hal yang mudah. Istrinya yang sering berseliweran memakai pakaian seksi menggoda juga bukan satu dua kali menguji keteguhan imannya. Hingga hari ini, sekuat-kuatnya dirinya sebagai seorang pria akhirnya roboh juga.
Perlahan mata Fia terbuka. Ada rasa campur aduk saat melihat Bang Sanca.
"Kamu kenapa dek? Kenapa bisa sampai begini?" tanya Bang Sanca.
"Fia malu.. Abang sudah lihat Fia dan kita sampai....." rasanya Fia sudah tidak punya muka, ia menarik selimut dan menutupi dirinya.
Bang Sanca mengusap wajahnya.
__ADS_1
Ya Allah neng. Abang nggak nyangka efeknya bisa sampai begini. Suami istri memang seperti itu. Natural saja. Kamu khan juga sudah lihat Abang tadi. Kalau pasangan kita yang lihat, nggak apa-apa dek. Makanya hubungan suami istri itu tertutup, rahasia, hanya kita saja yang tau dan tidak untuk di umbar. Bagian dari ibadah kita sebagai manusia. Itu nggak dosa. Sudahlah.. jangan banyak pikiran. Katanya mau ada dedek di perutmu?" bujuk Bang Sanca.
"Mudah-mudahan besok pagi.. dedek sudah ada di perut ya Bang..!!"
plaaakk..
Bang Sanca menepuk dahinya.
"Yowes karepmu lah, tapi kalau belum ada si junior jangan salahkan Abang ya. Kamu terlalu terburu-buru"
"Iyaa Abaang"
***
Bang Sanca sudah stress, lagi-lagi pengajuan nikahnya di tunda Danyon dengan alasan yang sama.
"Tunggulah beberapa bulan lagi sampai Fia benar-benar delapan belas tahun San"
"Yang benar saja Bang. Lima bulan itu bukan waktu yang sebentar. Fia bisa hamil duluan" protes Bang Sanca.
"Kalau nggak kamu apa-apakan ya nggak akan hamil lah San. Kecuali semua sudah terlanjur San. Kita dari Batalyon mau bilang apa?" kata Danyon.
"Dengan kata lain, Fia hamil.. saya bisa nikah khan Bang? Oke.. saya balik dulu..!!"
"Heh.. mau kemana San???" tanya Danyon cemas.
"Mau ngajakin bini silaturahmi"
"Heeii San.. jangan macam-macam kamu..!!!"
...
Fia membawakan kopi untuk Bang Sanca. Wajah Bang Sanca terlihat sangat tertekan memikirkan banyak hal. Bang Sanca mencium hangat perut Fia lalu mendongak menatap wajah sang istri.
"Sejak dulu Fia sudah siap. Kelihatannya Abang yang nggak siap"
"Seusia Abang mana mungkin Abang nggak siap. Tapi dalam hidup ini Abang juga nggak mungkin memikirkan diri sendiri. Hatimu sekarang mungkin memang sudah siap, tapi saat menjalaninya kamu belum tentu siap seperti ucapanmu" kata Bang Sanca.
Fia duduk di pangkuan Bang Sanca.
"Jangan banyak pikiran, kita jalani apa adanya Bang. Kalau memang Abang masih takut.. kita tunda saja" ucapnya lembut.
"Mama Papa nggak ada. Kita nonton film action yuk di kamar" bisik Bang Sanca.
"Ada bibi Bang?"
"Bibi khan di belakang" mata Bang Sanca mengerling nakal.
"Abaaaanngg..!!!!"
"Abang kangen kamu. Dua minggu belum peluk kamu lho" bujuk Bang Sanca.
//
Bang Sanca memeluk Fia dengan erat. Fia yang awalnya menolak, kini diam menurut dalam dekapannya. Perlakuan lembut dari sang suami membuat Fia sangat nyaman bahkan tak ingin lepas dari suaminya itu.
~
"Fia mana bi?" tanya Papa Zaldi.
"Ada di kamar sama Pak Sanca di kamar. Dari siang tadi nggak keluar kamar" jawab Bibi.
Papa Zaldi menghela nafas. Tapi mau bagaimana lagi, Sanca memang suami Fia. Papa Zaldi hanya bisa berharap Sanca tidak macam-macam di dalam sana.
__ADS_1
~
Bang Sanca membungkam bibir Fia.
"Pelankan suaramu dek. Kalau papa dengar nggak enak"
-_-_-_-_-_-
Malam itu saat semua sedang bersantai di ruang tv. Ada tamu yang menemui Papa Zaldi. Melihat Bang Anjar datang. Emosi Bang Sanca langsung memuncak. Darahnya seketika mendidih.
//
"Tahan San..!!!!" Opa Rinto sampai harus memegangi kedua bahu Bang Sanca yang terbakar emosi.
"Ijinkan saya melamar Fia Dan..!!"
"Matamu.. Saya sudah bilang ya, Fia itu istri saya" bentak Bang Sanca.
Papa Zaldi sampai terbengong bingung bagaimana harus menjelaskan pada keduanya.
"Mana buktinya San? Fia pun masih tujuh belas tahun" jawab Bang Anjar.
"Hhkk.." Fia berlari ke kamar mandi.
Pas banget.. entah kenapa istriku itu. Yang jelas semua ini pas.
"Buka itu matamu. Istriku hamil..!! Fia sudah kubongkar semua tanpa sisa. Mau apa kamu sekarang?????" tantang Bang Sanca.
"Sancaaa...!!" Papa Zaldi tak tau harus bagaimana lagi menenangkan dirinya sendiri.
Bang Anjar syok dan hanya bisa menunduk terdiam.
...
Papa Zaldi bernafas lega karena Mama Arnes mengatakan kalau putrinya hanya masuk angin saja.
"Huuhh.. Papa kira kamu sudah test drive San"
Bang Sanca terdiam tanpa bicara. Hanya Opa Menepuk bahu Bang Sanca agar suami Arnes itu bisa lebih tenang.
"Saya mau bawa Fia tinggal bersama saya Pa"
"Tapi San.."
"Saya tidak mau kejadian seperti ini terjadi lagi. Istri saya di lamar orang. Entah papa setuju atau tidak.. saya akan tetap bawa Fia pergi dan saya akan meminta Danyon meloloskan pengajuan nikah saya" ucap tegas Bang Sanca. Kini Papa Zaldi berhadapan dengan pria yang kaku, tegas dan tanpa bantahan sama seperti dirinya.
"Kita bicarakan ini dengan kepala dingin San...!!"
"Papa sukarela lepaskan Fia atau sekarang juga saya lakukan tugas saya sebagai seorang suami..!!" ancam Bang Sanca sudah berdiri menantang sang mertua.
"Baiklah San. Bawalah Fia pergi..!!" jawab Papa Zaldi pasrah.
"Terima kasih Pa."
Opa Rinto tersenyum geli mendengarnya. Pasalnya mau Fia ikut dengan Sanca atau tidak.. pasti Sanca sudah melakukan tugasnya itu, mana mungkin ada laki-laki yang tahan mendiamkan wanita begitu lama apalagi wanita itu sudah berstatus istri.
.
.
.
.
__ADS_1