Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu

Nyawa Di Senapan, Cinta Di Hatimu
15. Pengalaman pertama.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!


🌹🌹🌹


Fia memejamkan mata Bang Sanca mencium keningnya dengan hangat. Bang Dafa dan Bang Anjar terbelalak kaget. Bang Anjar langsung meninggalkan tempat sedangkan Bang Dafa menyembunyikan rasa terkejutnya. Rhea yang sedang duduk disana menunduk dan mengusap air matanya.


"Apa Abang ingin menunjukkan pada semua orang tentang hubungan kita?" tanya Fia pelan.


"Kalau ini memang cara yang terbaik agar tidak merugikanmu nantinya. Abang akan tunjukan pada semua orang, seluruh dunia ini kalau saat ini kamu adalah Nyonya Tohpati Sanca Trengginas. Istri sah Abang"? bisik Bang Sanca di telinga Fia.


Tepuk tangan riuh dari para anggota. Tak ada pikiran macam-macam dan hanya sebatas penyemarak suasana saja.


...


Fia meninggalkan tempat setelah melihat ponselnya.


"Mau kemana?" tanya Bang Sanca.


"Ke supermarket depan. Ada yang harus Fia beli disana untuk tugas kampus" jawab Fia.


"Abang antar..!!"


//


Saat membayar di kasir, Fia menyambar sesuatu bergambar strawberry.


"Eehh.. mau apa beli begituan???" tanya Bang Sanca saat Fia menambahkan benda yang disangka permen oleh istri kecilnya itu di kasir.


"Pengen yang manis Bang"


"Yang itu nggak manis. Ini saja..!!" Bang Sanca mengambil permen apapun yang ada di hadapannya karena khawatir kasir pria itu akan mendengarnya.


Setelah melewati sensor di kasir, Bang Sanca segera memasukan 'permen' itu kedalam tasnya sedangkan Fia dengan santai memasukan permen asli ke dalam tasnya.


Gawat betul istriku ini. Kalau Fia sampai buka bungkusnya di Batalyon, habislah aku.


...


Siang hari tiba. Bang Sanca mengendap menjauhi suasana kegiatan hari itu. Ia mengendap ke toilet, tangannya merogoh saku mencari rokoknya. Badannya sudah terasa ngilu dan menggigil. Apa yang dilihatnya sudah berbayang. Papa Zaldi mengambil sebagian obat miliknya hingga ia harus pintar mengatur dosis untuk dirinya sendiri agar tidak sakau di saat yang tidak tepat.


"Abaang.. pulang yuk..!!" ajak Fia yang entah sejak kapan muncul di belakang Bang Sanca. Mau tidak mau Bang Sanca menahan segalanya mati-matian dan tetap sadar sekuatnya agar sang istri tidak tahu keadaan yang sebenarnya.


"Abang sakit perut. Kamu kembali ke mess duluan..!! Bisa khan?" kata Bang Sanca.


"Maunya di antar Abang. Nanti Fia di lihatin om-om genit lho Bang" alasan Fia.


"Siapa yang mau genit sama kamu. Memangnya mereka mau mati di tembak bapakmu?" jawab Bang Sanca.


"Berarti hanya Abang yang genit sama Fia?" tanya Fia terus bergelayut di lengan Bang Sanca.


"Apa salah kalau suami yang genit?" Bang Sanca mulai gelap mata, ia menyentuh Fia penuh n***u setan.


Fia hanya menggigit bibirnya, takut bersuara. Ia juga masih menjaga nama baik sang suami di atas segalanya.


"Kita ke mess saja yuk Bang..!!" ajakan Fia terdengar jelas di telinga Bang Sanca.


"Mau apa? Kalau Abang pengen bagaimana?" tanya Bang Sanca seolah tidak ada yang ditutupi lagi.


"Nggak apa-apa. Asal.. Abang harus berusaha benar-benar sadar..!!"

__ADS_1


"Okee.. apapun maumu sayang..!!" jawab Bang Sanca.


...


Bang Sanca mengerjab berusaha sadar. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menggelinjang di lantai kamar messnya. Kini hanya ada mereka berdua.


"Keluar kamu dek..!!" pinta Bang Sanca.


Fia duduk di samping Bang Sanca lalu menidurkan Bang Sanca di pahanya.


"Sakit ya Bang? Fia ada disini. Kalau Abang nggak kuat, Abang bisa lepaskan semua. Fia istri Abang"


Bang Sanca menatap wajah sang istri. Tetes air mata itu pun menggores batinnya.


"Ini suamimu dek? Penuh noda hitam. Abang sudah rusak"


"Tidak ada manusia yang sempurna. Fia juga tidak sebaik itu Bang" jawab Fia.


"Keluarlah sekarang dek. Tinggalkan Abang sendiri. Abang tidak ingin menyakitimu......"


Secepatnya tangan Fia memasukan sesuatu di mulut Bang Sanca hingga pria itu tersedak. Tapi akhirnya obat itu tertelan juga.


"Apa ini dek..??????"


Fia tidak menjawabnya dan terus mendekap Bang Sanca. Meskipun Bang Sanca berontak dan mengerang. Fia tetap sekuat tenaga mendekapnya.


"Pergi Fia.. Abang nggak mau nyakitin kamu..!!"


"Nggak apa-apa Bang. Fia ikhlas"


Jemari Bang Sanca mengepal kuat. Sosok Fia benar-benar merasuk di dalam batinnya.


//


Fia membantu Bang Sanca membuka seragamnya. Jemari lentik itu begitu lincah mengurusnya. Mungkin karena merasa kesulitan.. Fia berpindah duduk di pangkuan Bang Sanca. Setelah pakaian Bang Sanca terlepas, Fia memeluk suaminya.


"Kapan Fia hamil Bang?" tanyanya pelan.


Pertanyaan itu semakin lama membuat Bang Sanca stress.


"Sabar to dek. Nanti kalau sudah waktunya pasti kamu hamil"


Bang Sanca membuka jilbab Fia. Posisinya yang tidak strategis membuatnya begitu tergoda, saat pikirannya masih bergelut.. Fia mengecup bibirnya. Bang Sanca pun tak kuasa menolak perlakuan manis sang istri. Tangannya mulai nakal membuka kancing baju Fia.. ternyata istrinya itu tidak menolaknya. Istrinya itu malah berdiri dengan lututnya dan mengurai rambut panjang di hadapannya.


Dengan nakalnya Fia 'memberikan' badannya untuk Bang Sanca hingga pria itu gelap mata. Semakin lama nalurinya semakin tertantang, ia pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti dan membebaskan tawanannya tanpa takut.


Fia melepaskan paggutannya.


"Bang, badan Fia rasanya aneh. Di perut Fia ada yang berdesir" ucapnya tanpa memahami.


Pria mana yang tidak goyah saat mendapatkan situasi seperti ini. Bang Sanca sudah menghamburkan pakaian Fia yang tidak merepotkan dirinya seolah pakaian yang dipilih Fia hari memang sengaja mempermudah dirinya.


"Kamu tau nggak, kelakuanmu ini sangat bahaya" ucapnya dengan suara berat.


"Darimana kamu belajar nakal seperti ini??"


"Fia lihat Drakor di ponsel Abang" jawabnya polos.


"Astagfirullah hal adzim.. Gustiiii.. lancangnya istri Abang" Bang Sanca tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.

__ADS_1


"Apa harus seperti itu biar Fia bisa hamil?" tanya Fia memasang wajah lugunya.


"Iya.. seperti itu. Kamu nggak takut??"


"Nggak.." jawab Fia mantap.


Bang Sanca mencari tas kecilnya, tapi sayang tas itu tertinggal di acara tadi. Padahal sesuatu yang ia cari ada di dalam tas kecil itu.


"B*****t.. cobaan apalagi ini..!!!!!" Bang Sanca sudah geram. Kepalanya nyut-nyutan seperti mau pecah rasanya.


"Baang.." suara Fia yang manja semakin mengusiknya.


"Halah mboh.. Samber wae..!!!! Wes nggak kuat deekk..!!!!!" Bang Sanca mengarahkan Fia agar menurut padanya.


"Jangan tegang..!!!!!!"


"Abaaaaaaaaang.. sakiiiit..!!!!!!!!!!!" pekik Fia.


Bang Sanca pun panik.. ia menyambar bibir Fia untuk menenangkan si cantiknya yang lugu.


:


Fia sesenggukan membuat Bang Sanca sebenarnya tidak sampai hati melanjutkannya. Si cantik Fia terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Maaf to.. Kamu juga terlalu takut. Katanya nggak takut. Kamu jangan banyak gerak. Tanggung nih dek. Kalau berhenti sekarang.. bisa mati Abang..!!" Bang Sanca membelai rambut Fia dengan sayang.


"Hapus semua itu Drakor Abang. Film sesat.. Fia sakit semua Bang..!!!" protes Fia kesal.


"Iyaa.. nanti Abang hapus. Sudah ya, jangan marah lagi" ucapnya sambil memeluk Fia yang mendorongnya kuat. Tugasnya belum selesai tapi Fia sudah ingin menyerah dan Bang Sanca tidak mungkin mengakhirinya di tengah jalan.


Disaat pikiran masih melayang terbang, si cantik Fia sudah berubah mode. Tenang.. dan begitu menikmati setiap sentuhannya tapi sesaat kemudian Fia kembali menangis.


Merasa sudah hampir lepas, Bang Sanca pun menarik diri. Fia yang merasakan sakit, tak sengaja malah menarik tengkuk Bang Sanca.


"Waduuhh.. kacau ini..!! Sebentar dek..!!!!"


Bang Sanca tak tega melihat raut wajah Fia. Wajah polos yang tidak tau apapun tentang kerasnya dunia luar. Tanpa sadar.. Bang Sanca membalas perlakuan Fia dan tepat saat itu ia merasa sensasi yang berbeda dari dirinya. Matanya terpejam sejenak antara menyesal juga bersyukur.


Astagfirullah hal adzim.. Ini tadi bagaimana? Kenapa aku sulit mengendalikan diri. Lepas dimana? Rasanya begitu ringan dan puas.. tapi...


Bang Sanca membelai rambut Fia dan menatap kedua bola matanya yang masih sembab. Nafasnya masih terengah. Ia berguling dan bergeser dari tubuh langsing Fia.


"Abang marah sama Fia?" tanya Fia.


"Kenapa Abang harus marah?"


"Karena selama ini Fia mengabaikan Abang, tidak melakukan kewajiban Fia sebagai seorang istri dengan benar. Fia terlambat menyadarinya. Maaf Fia tidak bisa melayani hasratt Abang dengan baik. Fia sungguh tidak tau harus seperti ini jadi seorang istri" jawab Fia penuh sesal.


"Nggak apa-apa. Abang lebih terima kamu terlambat menyadarinya karena semua ini menjadi hadiah terindah untuk Abang. Terima kasih kamu jadi istri yang manis sekali hari ini"


"Memangnya selama ini Fia nggak manis??" tanya Fia kesal.


"Istri Abang pasti paling manis, paling cantik paling seksi.. Kamu memang paling bisa buat Abang setengah mati kocar-kacir" ucapnya saat mulai terpancing lagi, tapi ia menahannya kuat. Fia belum sembuh dari rasa syoknya. Pengalaman pertama ini pasti sangat membekas dalam ingatan istrinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2